SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 38 - SANG PEBINOR


__ADS_3

Kedua sejoli itu masih berciuman dengan panas di dapur, tangan nakal Arvin juga masih meremaas gundukan lemak di dada Melisa dengan lembut. Hingga akhirnya, Arvin terpaksa harus melepaskan ciuman nya saat mendengar pintu depan terbuka dengan sedikit kasar.


"Sayang, siapa itu?" Bisik Arvin.


"Gak tau, kamu sembunyi aja disitu." Ucap Melisa dengan sedikit panik, dia tak siap jika hubungan nya dengan Arvin terbongkar saat ini. Lalu, siapa yang datang dan tiba-tiba saja masuk ke dalam rumah?


"Mel.."


"Eehhh, iya Mas." Jawab Melisa, dia berpura-pura kembali mencuci piring, dia berusaha menetralkan ekspresi wajah nya seolah tak terjadi apapun. Meskipun hati nya berdebar tak karuan.


"Dari mana aja, kok lama?" Tanya Dion sambil meletakan wadah bekal di meja makan.


"Dari pasar, terus smoothing rambut mumpung promo." Jawab Melisa, dia berbalik dan seketika itu membuat Dion yang tengah minum tersedak air yang sedang dia minum.


Uhukk.. uhukk..


"Lho, kenapa sih Mas?" Tanya Melisa, dia berjalan mendekat. Namun, begitu dia melihat ke bawah, dia ingat kalau ada Arvin disini. Dia juga perlu menjaga perasaan nya, karena pria itu begitu menjaga perasaan nya. Jadi, dia hanya mengulurkan segelas air putih. 


Dion langsung menenggak nya hingga tandas, setelah batuk nya mereda dia kembali menatap istri nya yang jauh berbeda dari segi penampilan nya. 


"Kau Melisa bukan?"


"Iya, aku Melisa. Kamu tidak hilang ingatan kan? Kenapa melupakan istri mu sendiri." Tanya Melisa.


"T-tidak, bukan begitu. Hanya saja kau nampak berbeda sekarang." Jawab Dion, dia tidak menyangka hanya karena rambut nya di luruskan dan di tambahi poni akan membuat penampilan Melisa berubah drastis.


"Lalu, memang nya kenapa? Aku terlihat aneh dengan penampilan ini, mas?" Tanya Melisa. 


Sedangkan di bawah meja, Arvin merutuki pertanyaan wanita nya. 


'Dion buta kalau mengatakan penampilan kamu aneh, sayang.' Batin Arvin, dia yang mengeluarkan uang untuk menyulap istri orang yang awalnya kucel dan di benci istrinya menjadi seorang putri.


"Enggak, kamu cantik." Jawab Dion pelan, lalu pergi dari dapur dengan wajah yang memerah. 


Melisa menganga, dia tak menyangka kalau suami nya akan memuji nya. Tentu nya, ini membuat hati nya berdebar karena ini adalah pujian pertama yang di berikan Dion padanya. Tapi ingat, jangan baper! Karena Arvin lah yang menyulap dirinya hingga bisa seperti ini.


Wanita itu berjongkok, lalu mengusap wajah tampan Arvin, dia tersenyum manis lalu mencium singkat bibir pria itu.

__ADS_1


"Mumpung aman, kamu pulang ya, sayang? Takut nya nanti keburu Mas Dion kesini lagi."


"Iya, kamu jangan macam-macam deh ya sama suami kamu itu. Aku takut, soalnya dia muji kamu cantik." Ucap Arvin lirih.


"Iya, sayangku. Pulanglah, nanti malam datanglah seperti biasa." Arvin menganggukan kepala nya, dia pun keluar dari persembunyian nya dan keluar dari pintu belakang dengan cepat, keburu Dion kembali ke dapur dan memergoki nya, bisa berabe nanti urusan nya.


"Mel, kopi.." 


"Iya, Mas." Jawab Melisa, wanita itu pun membuatkan kopi untuk suami nya. Sedangkan Dion, dia masih saja berbalas pesan dengan kekasih alias selingkuhan nya. Meskipun saat ini, setelah melihat penampilan istri nya yang baru hati nya mulai ragu. 


"Ini kopi nya, Mas." Melisa menyimpan secangkir kopi hitam yang masih mengepul karena masih panas.


"Makasih." Melisa pun memilih duduk di sofa yang tersedia, posisi nya bersisian.


"Mel.."


"Iya, Mas."


"Dari mana kamu punya uang buat smoothing rambut, padahal uang yang aku kasih selalu pas-pasan?" Tanya Dion.


"Apa itu penting, Mas? Aku rasa tidak, sudahlah."


"Astaga, atas dasar apa Mas menuduh ku melakukan hal itu?" Tanya Melisa sedikit kaget dengan ucapan Dion. Ya, meskipun mungkin ucapan Dion tak sepenuh nya salah. 


Karena apa? Dia memberikan tubuh nya pada Arvin dan pria itu memberikan nya uang, jadi itu bisa di kategori kan menjual tubuh juga kan, hanya saja berlandaskan atas nama cinta. 


"Tidak, hanya saja beberapa hari ini kau terlihat cukup aneh. Kau membeli skincare, masker, sekarang pake smoothing rambut segala." 


"Aku melakukan nya karena aku ingin, Mas. Aku menabung dari sisa uang belanja dari mu, apa itu cukup untuk menjawab pertanyaan mu itu Mas?" Tanya Melisa, dia sedikit emosional saat menjawab pertanyaan Dion yang terdengar sangat merendahkan nya.


"Mel.."


"Apa lagi, Mas? Belum puas kamu merendahkan aku? Cukup, Mas. Selama ini aku diam karena aku merasa kamu akan berubah, tapi nyata nya? Kamu gak pernah berusaha membuka hati kamu buat aku, bahkan setelah pernikahan kita berusia tiga tahun, apa pernah kamu menghargai aku sedikit saja?" Tanya Melisa lirih, namun mampu membuat Dion bungkam. 


"Mel.."


"Sudahlah, Mas. Jangan anggap aku ada, seperti biasa nya. Aku berubah, hanya karena aku ingin." Ucap Melisa, lalu pergi ke kamar dan membanting pintu nya dengan keras hingga membuat Dion terlonjak kaget.

__ADS_1


Aneh, dulu kalau Melisa melakukan hal ini dia akan marah besar dan akan melampiaskan nya dengan cara menyakiti fisik istri nya. Tapi sekarang? Dia seolah tunduk pada Melisa, dan Melisa berubah menjadi sosok yang berbeda saat ini. 


"Kenapa aku jadi lemah begini?" Gumam Dion sambil merenung, kenapa dia bisa seperti ini sekarang. Padahal, dari awal dia yang mendominasi istri nya. Tapi sekarang, justru malah seperti kebalikan nya.


"Sial.." Gumam Dion, dia pun jadi tak fokus untuk membalas pesan-pesan dari selingkuhan nya. Sedangkan Melisa, dia memilih tidur di sore hari yang cukup mendung ini. Pikiran nya terlalu mumet saat ini, harus nya bertemu Arvin lah obat nya. Namun, sekarang ada suami nya di rumah, jadi dia tak bisa kemana-mana. Kalau pun keluar, pasti tak bisa lama-lama karena itu akan memancing kecurigaan suami nya.


Arvin juga melakukan hal yang sama, namun bukan karena pikiran nya mumet banyak pikiran, tapi dia tengah menyiapkan tenaga untuk berbuka puasa nanti malam bersama Melisa, sang wanita pujaan nya. 


Melisa tak tahan, dia memejamkan mata nya dan berusaha untuk tidur tapi tak bisa juga. Akhirnya, dia keluar dan tak melihat suami nya di ruang tengah, dia juga mencari nya ke dapur dan ke kamar mandi, tapi tak ada tanda-tanda keberadaan pria itu di sekitaran rumah. 


Akhirnya, Melisa keluar dan melihat kalau motor suami nya tak ada di teras, berarti dia pergi kan? Tapi kemana? Dan kenapa dia tak mendengar suara deru mesin motor suami nya, padahal suami nya menggunakan knalpot yang cukup bising.


"Dia pergi kemana ya?" Gumam Melisa, namun saat menyadari kalau jaket yang biasa nya ada di gantungan raib tak berbekas, artinya suami nya pasti pergi untuk waktu yang cukup lama.


"Ckkk, kau pergi ke rumah gundik mu itu kan, Mas? Baiklah, aku juga akan pergi ke rumah kekasih gelap ku." Gumam Melisa, dia mengunci pintu, menutup jendela dan gordeng nya, tak lupa menyalakan lampu dan keluar lewat pintu belakang. 


Pintu belakang rumah Arvin tak pernah di kunci, jadi dia bisa dengan bebas masuk ke dalam rumah pria itu. Dia masuk ke dalam rumah, dan celingukan karena pria itu tak ada di ruang tamu.


"Pasti tidur di kamar." Gumam Melisa, dia pun melangkah dengan perlahan ke arah kamar Arvin, membuka pintu nya dan masuk. Wanita itu kembali menutup pintu nya dengan sangat perlahan, agar tidak mengganggu tidur Arvin yang nampak sangat lelap. 


Dengkuran halus terdengar lirih dari mulut nya, wajah Arvin nampak sangat teduh saat tertidur, beda lagi jika dia terbangun. Sudah mah pecicilan, mesuum lagi. Tapi, dia memang tampan apalagi saat tersenyum. 


Namun, jika mengingat bagaimana cara dia memukuli pria yang menggoda nya tadi siang, itu membuat bulu kuduk nya merinding seketika. Arvin seolah menjelma menjadi orang lain ketika sedang marah. 


Melisa berencana untuk menggoda Arvin, dia menyusup kan tangan nya ke dalam celana kolor yang di gunakan oleh Arvin dan memainkan junior nya, mengusap nya lalu memutar-mutarkan telunjuk nya di helm junior nya, membuat Arvin sedikit terusik.


Belum cukup sampai disana, Melisa naik ke atas tubuh Arvin dan menciumi leher dan dada bidang pria itu membuat Arvin akhirnya terbangun juga, meskipun sepertinya dia enggan untuk bangun.


"Lho, kok.."


"Hmmm, apa sayang?" Tanya Melisa sambil tersenyum menggoda. 


"Kok kamu disini sih, yang?"


"Kenapa, gak boleh ya aku kesini? Kalo gitu, aku balik lagi aja." Ucap Melisa, dia bersiap turun dari tubuh Arvin, namun dengan cepat tangan besar pria itu memeluk nya. 


"Gak, sekali kesini kamu gak boleh pulang lagi." Jawab Arvin tegas, senyuman nya nampak aneh, membuat Melisa menciut. Rasa nya, keputusan nya untuk menggoda Arvin tadi adalah keputusan yang akan dia sesali.

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2