SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 81 - SANG PEBINOR


__ADS_3

"Sayang.." Panggil Arvin, setelah dia yakin kalau Dion sudah pergi. Melisa terlihat sangat terkejut, dia menyangka kalau kekasih gelap nya itu sudah pulang, tapi nyata nya masih ada di rumah.


"Kamu belum pulang?" Tanya Melisa, dia mengusap lembut tautan tangan Arvin yang melingkar erat di perut rata nya.


"Enggak, aku sembunyi di dapur. Aku takut kalau Dion nyakitin kamu, Bby." Jawab Arvin, membuat Melisa tersenyum kecil. Nyata nya, dia lah yang menyakiti Dion dengan perkataan dan perbuatan nya. 


"Aku bisa jaga diri aku sendiri sekarang, kamu gak perlu khawatir ya?"


"Ya tetap saja, mau bagaimana pun kamu itu wanita yang harus di lindungi, sayang." Jawab Arvin, ekspresi wajah nya benar-benar terlihat menyiratkan ke khawatiran nya pada Melisa. 


"Iya iya, sayang. Tapi, kamu bisa lihat sendiri kan kalau aku baik-baik saja?"


"Iya, syukurlah kalau kamu tidak apa-apa. Aku senang mendengar nya, sayang." Jawab Arvin, sambil mengusap lembut wajah cantik Melisa lalu mengecup kening nya. 


"Tapi kok kamu bisa kepikiran sembunyi di dapur, yang?" 


"Masa ngumpet di kamar, kan gak mungkin. Jadi aku rasa dapur itu tempat yang paling aman, jadi aku sembunyi disana. Niat hati, pengen keluar pas denger suara nya meninggi, tapi pas liat kamu cekal tangan nya, aku mengurungkan niat aku." Jelas Arvin panjang lebar.


"Hmmm, ya seperti yang kamu bilang kalau aku harus berani melawan."


"Iya, harusnya dari awal kamu lakuin itu, sayang."


"Kamu tahu alasan aku, sayang." Jawab Melisa lirih.


"Sekarang ada aku, rumah kamu sekarang bukan Dion lagi, tapi aku. Aku yang akan selalu melindungi kamu sekarang." Ucap Arvin sambil membingkai wajah cantik Melisa.


"Terimakasih, karena tak membiarkan aku berjalan sendiri."


"Ya, sama-sama." Arvin tersenyum lalu meraih Melisa ke dalam pelukan nya. Hingga, dia melihat berkas-berkas yang berserakan di meja.


"Ini berkas apa, sayang?"


"Aku lupa berkas apa, tapi inti nya Dion sudah menandatangani semua nya." 


"Serius?"


"Iya, lihat aja sendiri." Arvin melerai pelukan nya dan mengambil berkas-berkas itu dan melihat tanda tangan yang di bubuhkan oleh Dion. Dia tersenyum kecil, artinya di sidang terakhir sudah bisa di pastikan mereka akan resmi bercerai, karena dengan tanda tangan itu artinya Dion sudah setuju untuk bercerai.


"Kamu kenapa senyum aneh gitu, Bby?" Tanya Melisa saat dia melihat senyuman aneh yang tersungging dari sudut bibir Arvin.


"Hehe, enggak kok. Aku seneng banget ini, artinya kamu bakalan resmi bercerai dengan Dion kan?"


"Iya, kenapa?"


"Kamu masih nanya kenapa? Astaga." Arvin meremat rambut nya dengan frustasi, wanita nya ini cukup tidak peka juga. Melisa terkekeh, dia mengerti tapi ingin menggoda pria di depan nya ini.


"Iya iya, aku tahu kok."


"Hmmm, nakal ya kamu." Ucap Arvin, dia mendekat dan menggelitik perut Melisa, membuat wanita itu tertawa karena rasa geli.


"Aaaahhh, ampun sayang. Maaf, aku salah, geli.." 


"Ini hukuman karena kamu udah nakal, Bby!"


"Iya maaf, ampun." Arvin pun berhenti dan langsung memeluk Melisa dan mengecupi wajah nya. 


"Setelah resmi, aku takkan menunggu lagi. Kita akan langsung ke kota, kamu harus bertemu ayah ku." Ucap Arvin lirih, membuat Melisa membulatkan kedua mata nya.


"Tapi, yang. Aku rasa ini terlalu cepat."


"Tidak, aku takkan membuang kesempatan untuk memiliki kamu seutuhnya, sayang." 


"Sayang, kamu terlalu serius."


"Kamu gak mau aku seriusi, sayang?" Tanya Arvin dengan kening yang mengernyit heran.


"Mau, hehe. Tapi, apa gak terlalu cepat?" 


"Tidak, aku gak mau ya sampai keduluan orang lain lagi. Pokoknya aku harus gercep, aku yakin banyak pria di luaran sana yang nungguin kamu cerai sama Dion!"


"Haha, mana ada sih?"


"Heleh, orang kamu nya cantik begini. Pasti banyak tuh orang yang ngantri buat bisa nikahin kamu." Cetus Arvin yang membuat Melisa terkekeh.


"Astaga, kamu ini kenapa menggemaskan sekali sih?" Melisa mengunyel-unyel pipi Arvin lalu mengecup nya dengan mesra.


"Iya iya, aku gak bakalan melupakan siapa yang sudah memodali aku."


"Janji ya?"

__ADS_1


"Astaga, iya iya, sayangku!" 


"Aku tenang kalau begini, syukurlah kalau begitu." Jawab Arvin, dia pun kembali memeluk Melisa. Mana mungkin Melisa berpaling pada pria lain, sedangkan saat ini saja dia sudah berada di tahap bucin pada Arvin. 


"Aku ngantuk, Bby. Nginep disini ya?"


"Oke, sayang." Jawab Arvin, kedua nya pun masuk ke kamar dan tidur bersama, seperti biasa dengan saling memeluk satu sama lain. Berbagi kehangatan di bawah selimut yang sama. 


Sedangkan di luaran sana, Dion sedang melamun di teras rumah Gia. Dia merenungkan kembali kesalahan-kesalahan nya pada Melisa dulu, hati nya merasa belum rela untuk berpisah dengan wanita itu. Tapi, kenapa penyesalan itu datang sekarang? Kenapa tidak datang sebelum Melisa memiliki pria lain di hati nya? 


Arvin, tetangga pria yang selama ini Dion anggap sebagai saudara ternyata malah diam-diam menikung nya dari belakang. Dia ternyata menyukai Melisa dan mengambil kesempatan dalam kesempitan dan kerenggangan rumah tangga nya dengan Melisa bisa di manfaatkan oleh Arvin dengan baik untuk merebut hati Melisa. 


"Aaaahhh, kenapa selama ini aku tak menyadari kalau Arvin menyukai Melisa? Selama ini aku tutup mata dengan semua perhatian pria itu pada Melisa. Tapi, aku benar-benar tak menyangka kalau pria yang di maksud oleh Melisa itu adalah Arvin." 


Benar-benar di luar dugaan, dia sama sekali tak menyangka kalau pria yang berhasil merebut hati Melisa adalah Arvin, pria yang tinggal bertetangga dengan mereka. 


Tapi harus nya, Dion juga sadar diri. Dia tak ada apa-apa nya jika di bandingkan dengan Arvin. Itu juga sepenuh nya kesalahan nya, karena sudah menyia-nyiakan istri sebaik Melisa hanya demi mengejar nafssu dunia. Tapi, setelah mendapatkan Gia pun sekarang rasa nya hambar. 


Dia malah sering berfantasi kalau yang sedang bersama nya adalah Melisa, bahkan saat bercintaa sekali pun, Dion membayangkan kalau yang sedang mendesaah di bawah nya adalah Melisa. Padahal nyata nya, itu adalah Gia. 


Wanita yang baru saja masuk ke dalam kehidupan nya dengan cara yang cukup memalukan. Pernah sekali, saat dia meraih puncak nya Dion malah keceplosan melenguuhkan nama Melisa. Saat itulah perang dunia ketiga di mulai, Gia marah dan butuh banyak modal untuk membujuk nya, karena jika Gia merajuk dia pasti akan banyak meminta di belikan barang. 


Mengingat semua itu, Dion menghembuskan nafas nya dengan kasar, lalu masuk ke dalam rumah Gia. Lalu kembali menutup pintu rumah itu dan tak lupa mengunci nya. Dia masuk ke dalam kamar, dan seperti biasa melihat Gia yang sedang tidur dengan nyenyak. Seperti biasa, Gia selalu tidur lebih dulu tanpa menunggu nya, berbeda dengan Melisa yang akan selalu menunggu nya dulu.


Hufftt, dia merindukan Melisa sekarang. Dia merindukan sosok istri pengertian, perhatian seperti Melisa. Tapi, sekarang bukan nya sudah terlambat? Yaps, semua nya sudah sangat terlambat sekarang, bahkan penyesalan pun tiada guna nya karena hati Melisa terlanjur sakit dan sudah ada yang mengisi kekosongan nya. 


Beberapa hari berlalu, hari ini adalah hari yang paling tidak di inginkan oleh Dion, namun berbeda dengan Melisa yang memang sedari awal dia ingin berpisah dengan Dion. Terutama Arvin, dia sangat senang saat Melisa mengabarkan kalau hari ini dia harus ke pengadilan untuk sidang terakhir, yakni sidang putusan. 


Melisa hadir dengan kemeja putih dan rok hitam panjang. Rambut nya di biarkan tergerai, gincu berwarna merah muda menghiasi bibir mungil nya, nampak sangat cantik bagi Dion. Dia diam-diam melirik ke arah Melisa, meskipun wanita itu sama sekali tidak menatap ke arah nya. 


Hati nya bergemuruh hebat saat tak sengaja tatapan mata nya malah bertemu dengan tatapan Arvin yang menatap ke arah Melisa dengan tatapan penuh cinta.


"Hubungan mereka sudah cukup jauh ternyata." Gumam Dion, ingin sekali dia memberitahu semua orang kalau Melisa juga berselingkuh, tapi tidak bisa. Dia tak boleh melakukan kesalahan apapun lagi sekarang. 


Dia tak mungkin harus mempersulit laju nya sidang putusan ini, sidang ketiga perceraian nya dengan Melisa. Meskipun tak rela, tapi dia harus belajar mengikhlaskan. Terkadang alur hidup memang tak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Meskipun saat ini hatinya merasakan sesak yang luar biasa di ulu hati nya. Apalagi saat melihat Arvin yang menatap Melisa dengan hangat.


Tak lama, sidang pun di mulai. Melisa nampak tegang, dia meremat kedua tangan nya sedangkan Dion nampak biasa saja, bahkan sedari tadi tak memalingkan wajah nya dari Melisa. 


Hakim pun membacakan semua tuntutan dari awal, Dion memejamkan mata nya saat mendengarkan putusan nya. 


"Hari ini, pihak pertama dan pihak kedua resmi bercerai." 


Ketukan palu membuat semua nya berakhir, Melisa memejamkan mata nya. Dia merasa lega karena akhirnya dia bebas dari Dion, tapi berbeda dengan Dion yang meneteskan air mata nya. Dia merasa semua ini seperti mimpi. Dia tak menyangka kalau dirinya dan Melisa akan berakhir di seperti ini. 


Arvin datang dan langsung menggenggam tangan Melisa, membawa nya dari ruang persidangan. Dion yang melihat hal itu pun berlari mengejar, tapi sudah terlambat karena Arvin sudah membawa Melisa pergi dengan motor besar nya. 


"Melisa.." Gumam Dion saat melihat punggung wanita itu menjauh dari gedung pengadilan. 


Dengan langkah gontai, dia pun ikut pergi juga dari pengadilan karena tak ada lagi yang harus dia lakukan di tempat ini. Dia mengendarai motor nya dengan kecepatan yang cukup tinggi. 


Sedangkan di tempat lain, Melisa dan Arvin baru saja sampai di rumah masing-masing. Melisa langsung membuka pakaian nya dan membersihkan diri. Begitu juga Arvin, siang tadi terasa sangat panas hingga membuat keringatan. Jadi, mereka mandi lagi sesampai nya di rumah. 


Melisa menyelesaikan mandi nya, dia dibuat tertawa saat melihat kalau di rumah nya sudah ada Arvin yang terduduk dengan gaya santai nya. Dengan pakaian andalan nya, dia sudah menunggu Melisa sambil bermain ponsel.


"Ngapain udah disini lagi, yang?"


"Kenapa? Gak boleh memang nya?" Balik tanya Arvin sambil tersenyum. 


"Ya, bukan nya gak boleh. Tapi heran aja, kita baru berpisah tapi kamu udah disini lagi." 


"Kangen soalnya." Jawab Arvin yang membuat Melisa tak tahan untuk tidak tertawa.


"Ada-ada aja kamu, udah mandi?"


"Udah, Bby." Jawab Arvin, dia mengekor di belakang Melisa yang masuk ke kamar untuk berpakaian. Melisa juga tak keberatan seperti nya, toh mereka sudah biasa saling melihat tubuh masing-masing.


"Sayang.."


"Iya, kenapa?" Tanya Melisa, saat ini dia sedang mengenakan pakaian nya dengan Arvin yang melihat nya dari belakang sambil duduk di sisi ranjang. 


"Tadi aku gak denger, apa ada masa Iddah ya?"


"Ada dong, tiga bulan." Jawab Melisa yang membuat Arvin mendengus kesal.


"Lama ya.."


"Memang nya kenapa?"


"Kamu nanya?"

__ADS_1


"Dihh, sebel." Melisa mendelik kesal ke arah Arvin, yang membuat pria itu terkekeh pelan.


"Ya kamu tahu sendiri kalo aku ngebet sama kamu, Bby." Jawab Arvin.


"Sabar, tiga bulan gak lama kok."


"Hmmm, iya sih. Jadi, Minggu depan kita ke rumah aku ya? Ketemu sama papah."


"T-api, sayang.."


"Kenapa lagi?" Tanya Arvin, dia menatap Melisa dengan tatapan tajam yang membuat Melisa ketakutan. Dia pun langsung menggelengkan kepala.


"Enggak kok."


"Hmmm, siapin aja mental kamu dari sekarang."


"Lho kok?"


"Ya gapapa, soalnya papah aku agak galak, hehe." 


"Isshh, takut.." Ucap Melisa, Arvin pun terkekeh. Ayah nya memang agak sedikit tegas, tapi kalau untuk masalah kebahagiaan putra nya, mungkin dia takkan mungkin menolak. Kalau pun dia menolak, Arvin akan berjuang untuk Melisa. Dia bersedia menentang papah nya lagi untuk wanita pujaan nya, apapun cara nya dia harus bersama Melisa, itu janji nya.


"Enggak dong, sayang. Ada aku, jadi kamu gak perlu takut apa-apa, oke?"


"Oke deh." Jawab Melisa, dia pun ikut duduk bersama Arvin di sisi ranjang. Arvin langsung merebahkan kepala nya di pangkuan Melisa, sambil menduselkan wajah nya di perut rata Melisa.


"Geli dong, yang."


"Kepala aku sakit, Bby." Keluh Arvin, Melisa pun memijit kepala Arvin dengan perlahan, membuat pria itu memejamkan mata nya menikmati sentuhan tangan lembut Melisa di kepala nya. 


"Kamu panas, sayang. Kamu demam?"


"Hmmm, demam cinta." Refleks, Melisa mencubit gemas pipi Arvin hingga membuat pria itu mengaduh kesakitan.


"Sakit, sayang.." Ringis Arvin sambil meraba pipi nya yang memerah karena ulah tangan Melisa.


"Jawab nya yang bener dong!" Kesal Melisa, membuat Arvin terkekeh.


"Iya, aku memang agak gak enak badan dari kemarin, Bby."


"H-ahh? Dari kemarin? Kenapa gak bilang sih?"


"Aku gak mau bikin kamu khawatir, Bby." Jawab Arvin yang membuat Melisa kesal.


"Harus nya kamu bilang sama aku, jadi nya tadi aku bakalan berangkat sendiri." 


"Hmmm, iya aku minta maaf ya, Bby." Ucap Arvin lirih.


"Nyebelin.."


"Jangan merajuk lah, Bby. Aku minta maaf."


"Iya, kali ini aku maafin. Tapi lain kali, aku gak bakalan maafin kamu kalo kamu menyembunyikan hal semacam ini dari aku." 


"Iya, sayang."


"Udah minum obat?"


"Belum, yang." 


"Sebentar, kamu harus minum obat ya?" Ucap Melisa. Arvin langsung menggelengkan kepala nya.


"Gak mau minum obat, Bby. Pahit."


"Mau sembuh gak? Atau kamu mau aku marah, hmm?" Tanya Melisa yang membuat Arvin langsung beranjak dari rebahan nya.


"Iya-iya, aku mau." 


"Nah, gitu dong. Harus nurut sama calon istri."


"Hehe, iya." Jawab Arvin sambil cengengesan. Dia pun pergi mengambil obat nya di nakas dan memberikan nya pada Arvin.


"Pahit.." Arvin menyengir setelah menelan obat itu. Melisa langsung mencium bibir Arvin dan memindahkan rasa pahit ke dalam mulut nya.


"Sudah enggak kan? Aku sudah menyedot nya sebagian."


"Hehe, iya sayang." Jawab Arvin, Melisa pun tersenyum lalu kembali memijit kepala Arvin dengan lembut hingga pria itu tertidur di pangkuan Melisa.


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2