
"Udah liwetan nya, Bby?" Tanya Arvin, saat melihat Melisa datang sambil membawa mangkuk yang tadi nya berisi sambel cumi dan sambel ati ampela dalam keadaan kosong.
"Udah, kamu kok udah disini lagi aja?" Tanya Melisa sambil menyimpan mangkuk nya ke wastafel untuk di cuci nanti.
"Aku sengaja nungguin kamu, Bby."
"Ada apa? Apa ada masalah, sayang? Kamu terlihat sangat serius." Tanya Melisa, dia pun duduk di samping Arvin dan menatap wajah tampan pria itu dengan seksama.
"Besok kita berangkat, sayang."
"Kan iya, terus ada apa?"
"Gak ada apa-apa sih, cuma ngasih tahu itu doang. Hehe."
"Astaga, kamu mah cari-cari alesan buat bisa ketemu aku kan? Ngaku!"
"Ya, itu kamu tahu. Aku kangen terus sama kamu, Bby." Jawab Arvin sambil cengengesan, Melisa hanya mendengus lalu beranjak dari duduk nya.
"Mau kemana, Bby?"
"Tidur siang." Jawab Melisa datar, Arvin pun tersenyum lalu mengekor di belakang sang wanita. Melisa juga membiarkan saja pria itu mengintil di belakang nya.
"Hehe, pengen di peluk dong?"
"Iya, kan biasa nya juga kita pelukan. Mau panas atau dingin, malam atau siang, kita tetap tidur sambil berpelukan." Jawab Melisa, dia menarik selimut dan memeluk pinggang Arvin, begitu juga dengan pria tampan itu. Dia menjadikan sebelah tangan nya untuk di jadikan bantal oleh Melisa, sebelah tangan nya lagi mengusap lembut punggung sang wanita, membuat nya nyaman dan akhirnya rasa kantuk pun tiba.
Kedua nya pun tertidur dengan lelap, udara nya memang mendukung untuk tidur, mendung tapi tidak hujan hanya saja angin yang berhembus cukup kuat, membuat udara semakin terasa sejuk.
Malam hari nya, Melisa terbangun lebih dulu. Dia langsung pergi ke dapur untuk memasak makan malam, Arvin masih tertidur di kamar. Seperti biasa, dia kalau sudah tertidur pasti tak ingat dunia.
Tapi, begitu mencium aroma masakan Melisa, ajaib nya Arvin bisa langsung terbangun dari tidurnya. Buru-buru dia beranjak dari posisi nya dan langsung keluar menyusul wanita pujaan nya.
Melisa sedang berdiri di depan meja kompor sambil mengaduk-aduk masakan di wajan, bagi Arvin itu adalah pemandangan yang menyejukkan di malam hari. Bagaimana tidak? Selama dia berhubungan dengan Melisa, belum pernah sekali pun masakan wanita itu mengecewakan nya. Tidak pernah, karena semua makanan yang di masak oleh nya selalu enak dan memanjakan lidah nya dengan sangat baik.
"Sayang, kenapa gak bangunin aku?" Tanya Arvin dengan suara manja nya, dia langsung menyelipkan kedua tangan nya di pinggang Melisa, dan menyandarkan kepala nya di pundak wanita itu.
"Susah kalo bangunin kebo." Jawab Melisa sambil tersenyum tipis, membuat Arvin mencebikan bibir nya.
"Kamu kok gitu sih ngomong nya?"
"Ya terus, kan bener? Kamu tuh kalo udah tidur pasti susah di bangunin nya." Jawab Melisa, dia mencicipi masakan nya apa sudah pas atau belum.
"Mau juga.." Rengek Arvin, Melisa menyendok sayur di wajan dan membiarkan Arvin memakan nya, tentu nya setelah dia meniup-niup nya terlebih dulu agar dingin.
"Udah pas belum bumbu nya?"
"Udah, enak banget ini mah." Puji Arvin membuat Melisa tersenyum manis, pria ini selalu bisa membuat hati nya senang.
"Yaudah, kita makan sekarang ya? Sana cuci muka dulu."
"Iya, Bby." Jawab Arvin, dia menurut dan pergi ke kamar mandi dengan langkah cepat nya karena dia tak suka membuat Melisa menunggu. Karena dia tahu sendiri, menunggu adalah hal yang paling membosankan.
Tak lama kemudian, Arvin keluar dari kamar mandi dengan wajah yang basah. Dia duduk manis di kursi yang kosong sambil menunggu wanita nya menyajikan makanan untuk nya.
"Silahkan di makan, sayang."
"Terimakasih, calon istri." Jawab Arvin sambil tersenyum. Wajah Melisa merona begitu mendengar ucapan Arvin, calon istri? Aaaa, dia sangat senang. Hati nya berbunga dengan kupu-kupu yang berterbangan.
"Kenapa senyam-senyum gitu, Bby?" Tanya Arvin, pria itu tersenyum menggoda membuat wajah Melisa semakin merona saja di buat nya.
"Eehh, enggak kok. Ayo di makan, sayang." Arvin pun mengangguk dan dia makan dengan lahap. Capai seafood adalah menu masakan Melisa malam ini, dia memang menggunakan udang, tapi hanya untuk Arvin. Selebihnya dia menggunakan cumi, agar dia juga bisa memakan seafood nya.
__ADS_1
"Enak banget ini.."
"Kalau enak, berarti makan nya harus tambah dong."
"Siap, aku nambah deh." Jawab Arvin, dia tersenyum hingga mata nya menyipit seperti bulan sabit.
"Sayang.."
"Hmm, ada apa sayangku?" Tanya Arvin.
"Besok kita berangkat jam berapa?"
"Jo jemput nya jam sembilan, jadi kamu siap-siap nya dari pagi aja. Biar pas nyampe, kita tidur di apartemen dulu. Setelah itu baru ke rumah, buat ketemu papah." Jelas Arvin.
Dia sudah menghubungi Jo untuk menjemput nya jam sembilan besok pagi, pria itu setuju dan akan berangkat malam ini untuk menjemput tuan muda nya.
"Dari sini kita pake motor dulu, apa gimana?"
"Gak usah, ribet Bby. Mending langsung pake mobil temen aku aja, ya?"
"Temen kamu punya mobil, yang?" Tanya Melisa, dia terlihat terkejut. Dia khawatir kalau teman Arvin ternyata orang yang berpengaruh.
'Mobil itu milik ku, Jo hanya memakai nya saja untuk kendaraan bisnis.' Arvin membatin.
"Heii, sayang.."
"Ehh, iya kenapa?" Tanya Arvin dengan wajah cengo nya.
"Di tanya bukan nya jawab malah bengong."
"Hehe, maafin sayang. Iya, temen aku yang waktu itu jemput kesini punya mobil." Jawab Arvin.
"Enggaklah, jangan memikirkan ucapan orang lain, sayang."
"Hmmm, baiklah." Jawab Melisa, mereka pun melanjutkan makan malam mereka dengan lahap.
Keesokan hari nya, pagi-pagi sekali Melisa sudah beres-beres rumah, memastikan tak ada yang kotor sedikit pun agar saat pulang nanti rumah nya tidak makin kotor. Masakan yang semalam juga sarapan dia berikan pada tetangga nya, dari pada mubadzir ya kan mending di kasih orang biar di makan.
Tepat pukul sembilan pagi, Jo datang dengan mobil sedan hitam yang terlihat sangat kinclong. Hati Melisa berdegup kencang, dia gugup begitu melihat mobil itu sudah terparkir rapi di depan rumah Arvin. Seketika rasa ragu kembali menghantui nya, bagaimana ini? Dia tak mungkin mengundur lagi bukan? Karena kelihatan sekali kalau Arvin sudah ngebet ingin menikah.
Kalau saja tak ada masa Iddah yang tiga bulan itu, tidak menutup kemungkinan kalau Arvin bisa saja menikahi nya sepulang dari pengadilan hari itu. Melisa tahu benar kalau Arvin itu tipe pria yang nekat dan ambisius, kalau ada hal yang ingin dia miliki maka harus dia miliki apapun cara nya.
"Bby.." Panggil Arvin, Melisa pun langsung membuka pintu dan melihat kalau Arvin sudah terlihat siap dengan kemeja lengan panjang berwarna hitam, celana bahan hitam dan sepatu yang terlihat mengkilat.
"Kamu kok pake baju kayak gini, Bby?" Tanya Melisa.
"Kenapa memang nya? Apa tidak cocok?" Tanya Arvin membuat wajah Melisa merona, bukan seperti itu. Tapi sungguh, penampilan Arvin saat ini terlihat sangat tampan.
"E-enggak, bukan gitu."
"Terus?"
"Kamu keliatan lebih ganteng, hehe." Jawab Melisa sambil tersenyum kecil.
"Haha, kamu ini. Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang."
"Itu temen kamu apa gak di kasih waktu istirahat dulu?" Tanya Melisa, tapi dia tak melihat ada orang di rumah Arvin.
"Nyari apa?"
"Temen kamu, yang." Jawab Melisa, dia celingukan tapi tetap saja tak terlihat ada orang di dalam rumah pria itu.
__ADS_1
"Di mobil, dia udah stay disana. Yuk, berangkat sekarang." Ajak Arvin, Melisa pun mengunci pintu dan mengekor di belakang Arvin. Pria itu membukakan pintu mobil untuk Melisa, setelah memastikan dia duduk dengan nyaman, barulah Arvin juga ikut masuk dan duduk di samping wanita cantik itu.
"Udah?"
"Yo, udah." Jawab Arvin, pria yang akrab di sapa Jo itu pun mengemudikan kendaraan roda empat itu dengan perlahan, karena jalanan desa yang cukup membuat kesal karena jelek seolah tak pernah tersentuh oleh aspal.
"Ini jalan amburadul gini deh, kalo bawa orang hamil pasti keguguran ini mah." Celetuk Jo, membuat Arvin bereaksi.
"Haha, ada-ada aja lu kalo ngemeng!"
"Beneran, ini batu nya sampe berserakan di tengah jalan begini. Parah banget." Cetus nya lagi, membuat Arvin mengangguk. Jalan nya memang rusak parah sekarang, batu-batu dan kerikil tersebar rata di seluruh jalanan.
"Ini pasti anggaran nya udah ada, tapi biasa lah."
"Hmm, ya pasti ada main di atas nya." Jawab Arvin datar. Tapi tangan nya terus saja menggenggam tangan Melisa dengan erat. Dia bisa merasakan kalau tangan wanita itu terasa sangat dingin dan berkeringat sekarang mungkin karena efek gugup yang sedang dia rasakan.
'Gugup banget, sampe mules gini.' Batin Melisa, perut nya terasa bergejolak saat ini. Dia gugup sampai perut nya terasa mulas.
"Kamu kenapa dari tadi diem aja, Bby?" Tanya Arvin sambil merangkul Melisa, dan menarik nya hingga posisi mereka sangat dekat. Arvin menyandarkan kepala Melisa di dada nya, lalu mengusap rambut nya dengan penuh kelembutan.
"Aku gugup, yang.."
"Gak usah gugup, ada aku."
"Hmm, aku tahu kok. Kamu bakalan selalu ada buat aku kan?"
"Tentu saja, kamu bisa marah jika aku mengingkari kata-kata ku sendiri." Jawab Arvin yang membuat Melisa mendusel manja di dada bidang pria tampan itu.
Jo yang melihat hal itu dari kaca spion pun mendengus, tuan muda nya sedang di landa bucin. Hingga tak bisa membedakan yang salah dan benar, mana yang membuat orang kesal atau tidak.
'Tuan muda, janganlah bermesraan disini. Saya lagi berjauhan sama istri saya lho ini, astaga. Cobaan banget deh.' Batin Jo. Nasib nasib, kenapa harus dia yang menjemput Tuan muda? Kenapa bukan yang lain saja. Jadi, dia tak harus menutup mata dan telinga agar tak melihat atau mendengar kemesraan kedua nya di bangku belakang.
"Sabar-sabar, Jo. Harus keliatan profesional ya, Lo kerja disini." Gumam Jo lirih, sambil mengusap dada nya. Ingin nya memang dia merutuki kelakuan tuan muda nya itu, tapi dia masih belum siap untuk kehilangan pekerjaan nya. Mau di kasih makan apa istri dan anak nya di rumah? Bisa-bisa dia juga di talak oleh sang istri yang galak nya macam singa.
Dulu, istrinya pribadi yang lemah lembut. Tapi, semenjak punya dua anak kembar, dia menjelma jadi wanita yang galak. Ya, mungkin dia sering di pusingkan oleh anak-anak nya, belum suami nya yang terkadang rewel juga karena kurang kasih sayang. Tapi tak apa, meskipun istri nya galak, dia tetap mencintai nya. Dia adalah wanita yang mampu membuat nya jatuh cinta untuk pertama kali nya.
"Jo, di rest area berhenti dulu ya."
"Oke." Jawab Jo datar, tanpa menoleh sedikitpun. Untuk apa dia menoleh? Yang ada nanti sakit mata. Karena saat ini pria itu sedang bermanja-manja di dada Melisa.
"Jo, besok-besok beli gordeng terus pasang disini."
"Oke oke.." Jawab Jo.
"Karena sekarang gak ada gordeng nya, jadi tutup saja telinga dan mata mu, Jo."
"Hmmm, sudah kuduga."
"Heh, kenapa?"
"Tidak, silahkan lanjutkan." Jawab Jo, dia pun benar-benar harus menutup telinga nya rapat-rapat dari suara-suara gaib yang berasal dari bangku belakang, membuat mobil itu sedikit bergoyang karena ulah seorang Arvino yang mesuum nya gak ketulungan.
"Astaga, telinga ku.." Gumam Jo, dia pun sengaja mempercepat laju kendaraan nya itu.
"Pelan-pelan bawa mobil nya, Jo!"
"Baik, tuan muda." Jawab Jo keceplosan, membuat Arvin menatap ke arah Melisa. Tapi, wanita itu sudah terlanjur tidak fokus karena apa yang sudah di lakukan oleh Arvin pada tubuh nya, jadi dia tak ngeuh saat mendengar Jo memanggil Arvin dengan panggilan Tuan Muda.
.......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1