SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 104 - SANG PEBINOR Ending


__ADS_3

"Neng, hati-hati di jalan ya. Kami bakalan rindu sama Neng Melisa, Arvin, Baby Naren." Ucap Bu Amel sambil berkaca-kaca. Mereka akan melepaskan Melisa untuk pulang kembali ke kota. Sudah lima hari mereka disini, jadi hari ini Arvin mengajak sang istri dan putri nya untuk pulang. Karena perusahaan tak ada yang mengurus. 


"Iya, Bu. Maafin ya, kalo selama saya tinggal disini, saya ada salah sama ibu-ibu semua. Yang di sengaja atau tidak di sengaja." Ucap Melisa. Arvin juga berada di samping sang istri hanya tersenyum menatap interaksi sang istri dengan tetangga nya.


"Kami sangat memaafkan apapun kesalahan Neng Meli." 


"Terimakasih, ibu-ibu semua." Kali ini Arvin yang membuka suara nya.


"Sama-sama, Nak. Hati-hati di jalan, jangan sakiti Neng Meli ya? Dia sudah terlalu banyak menderita selama ini, jadi kami sebagai sesama wanita, menitipkan Neng Meli sama Nak Arvin ya?"


"Pasti, saya akan menjaga istri saya dengan baik, Bu." Jawab Arvin dengan tegas. Kedua mata Melisa berkaca-kaca, berat rasanya meninggalkan tetangga seperti mereka. 


"Kalau ada waktu, main kesini ya? Kami akan dengan senang hati menyambut kedatangan kalian."


"Iya, Bu. Pasti kami akan sering main kesini, rumah ini juga tidak akan saya jual. Itung-itung buat tempat tinggal kalau kami berkunjung kemari." Jawab Arvin.


"Iya, Nak Arvin."


"Kalau begitu, kami bertiga pamit dulu ya? Keburu siang, kasian Naren nanti."

__ADS_1


"Iya, hati-hati ya." Ibu-ibu itu pun langsung memeluk Melisa, wanita itu menangis. Dia merasa sangat dekat dengan semua nya, karena mereka orang-orang yang sangat baik. 


"Sehat-sehat ya, ibu-ibu semua. Kalau ada waktu, kami pasti akan datang kesini."


"Iya, Neng." 


Ibu-ibu itu pun melepaskan kepergian Melisa dan Arvin, juga bersama Jo. Mereka melambaikan tangan saat mobil milik Arvin mulai menjauh. 


Melisa terus menatap ke belakang, membuat Arvin merasa tak tega dengan sang istri yang terlihat sangat berat meninggalkan lingkungan ini. 


"Jangan sedih, sayang. Besok-besok, kalau aku ada waktu cuti, kita kesini lagi ya? Ketemu sama Bu Ratmi, Bu Amel, sama ibu-ibu lain." 


Singkat nya, keesokan pagi nya mobil yang membawa Melisa dan Arvin pun sampai di rumah besar milik Darren. Pria paruh baya itu langsung keluar dari rumah. Dia tersenyum saat melihat putra, menantu dan cucu nya pulang.


"Sayang, akhirnya kalian pulang juga. Papah kangen sama kalian berdua, sama Naren juga. Kenapa lama sekali kalian disana? Papa kesepian disini." Ucap Darren, dia mengambil alih cucu nya dari gendongan Melisa dan menimang nya dengan penuh kasih sayang. Melisa tersenyum manis, dia bahagia karena akhirnya papa mertua nya mau menerima dirinya bahkan menyayangi nya seperti layaknya anak sendiri. 


"Utututu, cucu kakek yang lucu ini semakin berat. Habis dari mana eum?" Ucap Darren sambil mencolek-colek hidung mancung Naren yang sedang terlelap. 


"Ayo masuk, sayang." Ajak Arvin, Melisa menganggukan kepala nya. Dia menggandeng tangan suami nya, kedua nya pun masuk ke dalam rumah besar itu. 

__ADS_1


Wanita itu tersenyum manis saat melihat Darren yang mengajak Naren bermain, bayi kecil itu juga nampak sangat anteng bermain bersama kakek nya. Sesekali dia tersenyum hingga membuat Darren bersorak kegirangan.


"Aaaa, lihatlah sayang. Dia tersenyum sama papah." Ucap Darren yang membuat Arvin terkekeh. Kenapa tingkah papah nya yang dulu dingin, kini seolah mencair setelah kehadiran Melisa dan Naren. 


"Papah ini.." Ucap Arvin sambil menggelengkan kepala nya. Dia pun ikut duduk di samping Darren dan melihat kalau Naren memang tersenyum ceria bersama sang kakek. 


Melisa masih berdiri sambil melihat kedua pria itu bermain dengan sang putra. Sungguh demi apapun, dia tidak menyangka kalau dia akan mendapatkan kebahagiaan sebesar ini. 


Sudah banyak rasa sakit yang dia dapatkan selama ini untuk bisa mendapatkan kebahagiaan. Dan, janji Tuhan padanya tidak salah. Kini dia mendapatkan kebahagiaan yang begitu besar dari orang-orang terdekat nya. Biarlah rasa sakit itu menjadi kenangan yang pahit dan akan selalu dia simpan di dalam hati nya yang paling dalam. 


Ke depan nya, dia akan menikmati kebahagiaan bersama suami dan papa mertua nya. Dirinya yang memang kehilangan kasih sayang dari sosok seorang ayah karena sang ayah yang meninggal saat dia masih kecil, membuat Melisa tidak sulit untuk bisa dekat dengan Darren. 


Tak terasa, setetes cairan bening mengalir dari sudut mata nya. Buru-buru, Melisa mengusap nya agar suami nya tidak curiga. Bahagia? Ya, dia benar-benar sangat bahagia. Dia juga bersyukur karena di kelilingi oleh orang-orang baik, selain orang terdekat nya, orang-orang di tempat dia tinggal dulu pun sangat baik. 


Melisa menghembuskan nafas nya dengan kasar, lalu dia juga ikut duduk di samping sang suami dan bermain bersama dengan putra nya.


-TAMAT-


🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2