
"Hallo, sayang.."
'Hallo, kamu dimana? Udah sampe, sayang?' Tanya suara lembut di seberang sana, siapa lagi kalau bukan suara Melisa. Ya, Arvin tengah menghubungi sang pujaan hati.
"Sudah, sayang. Ini lagi di kantor, lagi kerja. Ayang lagi ngapain?" Tanya Arvin lagi.
'Lho kok nelpon sih kalo lagi kerja? Kerja yang bener, biar cepet kamu pulang nya.'
"Haha, iya sayang ku. Kamu belum jawab pertanyaan aku lho." Ucap Arvin.
'Pertanyaan yang mana, sayang?" Tanya Melisa.
"Kamu lagi ngapain disana, sayang?"
'Lagi rebahan, tadi nya mau tidur tapi aku gak bisa.'
"Kenapa gak bisa, yang?" Tanya Arvin.
'Pengen tidur nya di pelukan ayang.' jawab Melisa yang terdengar seperti rengekan bagi Arvin. Pria itu termenung, dia juga sangat ingin beristirahat sambil memeluk sang pujaan hati. Tapi, mau bagaimana lagi dia sedang berada jauh dari wanita cantik nya.
Wanita yang nyatanya adalah istri pria lain, tapi mampu membuat hati nya nyaman. Meskipun salah, tapi perasaan cinta nya pada Melisa itu benar-benar nyata. Ini bukan sekedar obsesi, tapi cinta. Hatinya selalu berdebar ketika mengingat Melisa, bahkan hanya membayangkan nya saja mampu membuat Arvin tersenyum manis.
"Maaf ya, sayang. Aku gak bisa temenin aku beberapa hari ini, tapi pas aku pulang, aku pastikan aku akan menemani tidur kamu." Jawab Arvin.
'Iya, sayang. Kamu lagi kerja kan? Semangat kerja nya, ayang.'
"Siap, sayang. Biar cepet selesai, terus aku bisa pulang buat ketemu kamu." Jawab Arvin, Melisa mengiyakan. Setelah nya telepon nya pun selesai. Melisa melanjutkan dengan tidur siang, sedangkan Arvin harus pergi untuk melihat beberapa tempat bersama Jo.
Jo membukakan pintu mobil untuk Arvin, setelah pria itu masuk, Jo ikut masuk dan mulai melajukan kendaraan roda empat itu menjauhi perusahaan besar yang dia pimpin.
"Jo.." Panggil Arvin, membuat pria itu menoleh ke arah sang tuan.
"Iya, Tuan muda." Jawab Jo, lalu kembali memfokuskan pandangan nya ke depan.
"Kau pernah merasakan jatuh cinta, pada wanita?" Tanya Arvin lagi.
"Hmm, iya Tuan. Saya pernah merasakan nya saat saya jatuh cinta pada istri saya."
__ADS_1
"Jadi, apa itu cinta, Jo?" Tanya Arvin, membuat kening pria itu mengernyit.
"Cinta? Apa itu cinta? Hmm, saya tidak tahu, Tuan muda. Karena perasaan itu tak bisa di jelaskan dengan kata-kata, hanya mampu di rasakan."
"Di rasakan ya, lalu apa yang kau rasakan pada istrimu itu, Jo?" Tanya Arvin lagi, dia benar-benar penasaran dengan definisi cinta versi Jo.
"Dulu, saya tak bisa melihat siapapun selain istri saya. Saat bertemu dengan nya, wajah saya sering memerah, hati saya berdebar tak karuan, bahkan jantung saya berdetak kencang saat melihat dia tersenyum. Itu terjadi hingga saat ini, Tuan." Jelas Jo panjang lebar.
'Aku merasakan itu semua pada Melisa, saat ini.' Batin Arvin. Jadi, benarkan kalau ini cinta? Bukan hanya sekedar perasaan nyaman atau obsesi nya hanya untuk bisa memiliki Melisa yang notabene nya adalah istri pria lain.
"Ada apa, Tuan? Apa anda jatuh cinta pada seseorang? Wah, siapa wanita beruntung karena bisa menaklukan seorang Arvino Sanjaya?" Tanya Jo. Karena dia sudah cukup lama bekerja bersama Darren, sedikit banyak dia mengetahui bagaimana Arvino.
Dari beberapa tahun bekerja bersama Darren, tak pernah sekalipun dirinya melihat Arvin bersama perempuan atau membawa perempuan ke rumah. Tidak sekali pun, saat Darren mengatakan kalau dia akan menjodohkan putra nya dengan seorang gadis putri rekan bisnis nya, Arvin murka dan tanpa berpikir panjang dia meninggalkan kediaman mewah nya.
Bahkan, Jo sempat berpikir kalau tuan muda keluarga Sanjaya itu tidak normal. Tapi, saat ini dia bertanya tentang cinta.
"Hmmm, aku menyukai seorang wanita yang cantik dan sederhana." Jawab Arvin membuat Jo penasaran akan sosok wanita yang berhasil meluluhkan hati seorang Arvino.
"Mungkin kau tau siapa wanita itu, Jo. Karena kau beberapa kali bertemu dengan nya."
"Siapa? Apa wanita yang menghuni rumah di samping rumah mu, Tuan Muda?" Tanya Jo lagi, Arvin melirik sekilas lalu menganggukan kepala nya.
"Diamlah, kau tahu kalau dia wanita bersuami, Jo?" Tanya Arvin membuat pria itu menginjak pedal rem secara mendadak. Kalau saja Arvin tidak mengenakan seat belt, pasti dia sudah terdorong ke depan mengenai dashboard mobil nya.
"Kau bosan bekerja dengan ku, Jo?" Tanya Arvin sinis.
"Maaf, Tuan muda. Itu tadi refleks." Jawab Jo pelan.
"Jadi, apa yang membuat mu begitu terkejut hah?"
"Apa tuan benar-benar mencintai istri orang?" Tanya Jo sambil melirik ke arah Arvin kilat. Jujur saja, dia tak berani berlama-lama menatap mata Arvin. Karena biasa nya mata Arvin terlalu tajam, hingga membuat nya merasa terintimidasi hanya dengan tatapan saja.
"Hmm, memang nya kenapa? Istri orang lebih menggoda dari pada perawaan atau janda sekalipun." Jawab Arvin dengan tenang.
"Apa tuan sanggup dengan segala konsekuensi nya?"
"Tentu, karena aku punya kau!" Jawab Arvin membuat Jo menelan ludah nya dengan kepayahan. Lagi-lagi, dia yang di korbankan. Tuan muda nya yang membuat masalah dengan menyukai istri orang, tapi tetap dia yang jadi taruhan nya.
__ADS_1
"Kenapa kau diam? Kau sudah tak ingin bekerja dengan ku lagi, Jo?"
"Bukan begitu, Tuan muda. Tapi.."
"Tapi? Suami nya pria lemah yang tau nya hanya menyiksa fisik dan batin istrinya, maka dari itu aku ingin melindungi nya, Jo."
"Maksud anda, Tuan muda?" Tanya Jo, seperti nya dia mulai tertarik dengan kisah cinta tuan muda nya.
Arvin pun menjelaskan semua nya dari awal saat dia bertemu dengan Melisa, lalu luka-luka yang dia lihat di tubuh wanita itu, bahkan lebam-lebam bekas tamparan di wajah Melisa menunjukkan semua nya. Menunjukkan kalau Melisa tidak bahagia dengan pernikahan nya, karena apa? Suami nya ringan tangan.
"Dia pria yang pelit dan ringan tangan, aku sering melihat luka-luka di tubuh wanita ku, melihat dia menangis juga. Maka dari itu, aku bertekad untuk merebut nya dari suami nya. Terlebih sekarang, suami nya juga selingkuh. Bukankah itu adil? Kami sama-sama selingkuh sekarang, kita satu sama." Jelas Arvin membuat Jo manggut-manggut mengerti akan penjelasan Tuan muda nya itu.
"Jadi, aku rasa merebut nya bukanlah kesalahan bukan?" Tanya Arvin.
"Kesalahan atau bukan, itu membutuhkan jawaban dari berbagai sisi, Tuan. Tapi, menurut cerita anda, saya rasa tindakan anda sudah cukup benar dengan tetap menjadikan pundak Anda sebagai sandaran wanita itu, Tuan muda."
"Tapi, aku ingin mendapatkan nya untuk diriku sendiri, Jo."
"Bersabarlah, Tuan. Semua akan ada waktu nya." Jawab Jo, membuat Arvin mendengus. Dia menyedekapkan kedua tangan nya di dada, tatapan mata nya lurus ke depan.
"Kita kemana sekarang, Jo?"
"Ke salah satu proyek pembangunan yang saya rasa, harus ada tinjau sendiri kemajuan nya." Jawab Jo.
"Ada masalah juga disana?"
"Mandor nya doyan uang, Tuan. Sama seperti Ares, dia juga menyalah gunakan kekuasaan nya untuk mengambil uang perusahaan." Jelas Jo, membuat kedua tangan Arvin terkepal erat hingga buku-buku tangan nya memutih karena amarah yang dia rasakan saat ini.
"Sialan, merugikan sekali." Gumam Arvin.
"Kita harus membereskan tikus-tikus kecil itu, Tuan. Maka dari itu saya mengajak anda ke sana, agar tuan bisa melihat secara langsung bagaimana proyek itu."
"Baiklah, Jo." Jawab Arvin. Dia pun kembali menatap lurus ke depan dengan tatapan tajam nya. Hingga, laju mobil sedan mewah itu berhenti di proyek pembangunan yang harus nya progres nya sudah hampir 90%, nyata nya baru sekitar 50% saja. Lalu, kemana semua dana yang perusahaan gelontorkan untuk pembangunan proyek ini?
Mata Arvin menajam, dia melihat mandor yang terlihat hanya berleha-leha, bahkan bahan-bahan disini jauh dari standar pembangunan yang sesuai. Seperti besi, harusnya menggunakan besi berukuran delapan sentimeter, tapi yang terlihat di sekitar proyek hanya besi-besi kecil berukuran empat sentimeter, sangat jauh perbedaan nya bukan?
"Hey, kau!" Pekik Arvin, membuat mandor yang tengah makan sambil mengangkat sebelah kaki nya angkuh, langsung berdiri dengan wajah terkejut nya.
__ADS_1
.......
🌻🌻🌻🌻🌻