SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 56 - SANG PEBINOR


__ADS_3

Di rumah, Melisa melakukan pekerjaan rumah seperti biasa. Meski hari-hari nya terasa ada yang berbeda tanpa kehadiran Arvin di sisi nya, kehadiran Arvin dengan tingkah absurd nya merupakan hiburan bagi Melisa. Saat dia tak ada, membuat hati nya terasa sepi. Dia merindukan pria itu sekarang. 


Ini, sudah tiga hari sejak Arvin pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Mereka sering bertukar kabar memang, tapi tetap saja rasa nya jauh berbeda dengan bertemu secara langsung. 


Hari ini adalah puncak dimana Melisa merindukan sosok Arvin yang perhatian. Entah kenapa, hari ini dia merasa tak enak badan. Tubuh nya terasa lemas, dia juga demam. Tapi seperti biasa, Dion tak peduli dan memilih pergi. Bahkan, saat dia tahu istrinya sakit pun, malam hari nya dia tak pulang.


"Arvin, aku kangen. Kapan kamu pulang?" Gumam Melisa, tiba-tiba saja air mata nya luruh membasahi pipi nya. Beberapa hari ini dia jadi lebih sensitif, bahkan saat makan saja dia menangis. Perasaan nya jadi lebih gampangan sekarang, entah kenapa. 


Di seberang sana, Arvin juga merasakan hal yang sedikit mengganjal di hati nya. Pikiran nya selalu tertuju pada satu nama, yakni Melisa. Wanita kesayangan nya, itu terjadi sejak kemarin, hati nya merasa tak tenang.


"Ada apa dengan hati ku? Apa Melisa sakit ya?" Gumam Arvin, saat ini dia tengah meninjau proyek pembangunan bersama Jo.


Arvin pun membuka ponsel nya, dia pun menghubungi Melisa dengan panggilan video. Hanya beberapa detik saja, Melisa langsung mengangkat nya. Dengan wajah kuyu nya, Melisa menatap sang kekasih yang berada jauh di luar sana.


"Sayang.." Panggil Arvin.


'Iya, sayang..' Jawab Melisa lemah.


"Kamu kenapa, ayang?" 


'Demam doang, yang.' Jawab Melisa, hanya mengatakan hal itu saja air mata nya sudah luruh. Dia benar-benar merindukan Arvin hingga se sensitif ini. 


"Suami kamu?" Tanya Arvin khawatir. Meskipun, dia tak bisa mengharapkan pria bernama Dion itu, tapi saat ini dialah yang berada dekat dengan Melisa, juga berstatus sebagai suami nya.


'Gak ada, dia semalam juga gak pulang, yang.'


"Jadi, kamu demam dari kemarin, sayang?"


'Iya, sayang.' Jawab Melisa membuat Arvin mengepalkan tangan nya. Dia tak habis pikir dengan pria bernama Dion itu, bisa-bisa nya dia mengabaikan istri nya yang sedang sakit. Padahal, saat dia sakit siapa yang merawat nya kalau bukan Melisa. Benar-benar definisi pria yang halal untuk di racun. 


"Sayang, besok aku pulang. Kamu sabar ya?"


'Benarkah, sayang?' Tanya Melisa, wajah nya seketika berbinar saat mendengar kalau pria pujaan nya akan pulang esok hari. 


"Iya, sayang. Mau oleh-oleh apa?" Tanya Arvin sambil tersenyum. Dia juga sudah sangat merindukan Melisa, pekerjaan nya juga belum sepenuhnya selesai. Tapi, rasa rindu nya pada Melisa, membuat Arvin harus begadang malam ini untuk menyelesaikan semua nya. Untuk masalah Ares dan mandor yang doyan duit itu, biarlah Jo dan Mario yang mengurus nya. 


Dia tak khawatir kalau ada Jo dan Mario, kedua nya adalah pekerja yang terbaik, namun manusia, tetaplah manusia. Jangan terlalu percaya dengan manusia, karena kita tak tau seperti apa hati manusia. Meskipun kita sudah menganggap nya saudara, bisa saja dia menikam dari belakang. 


'Gak perlu bawa apa-apa, sayang. Kamu pulang saja, aku sudah bahagia.' Jawab Melisa membuat Arvin tersenyum kecil. 


"Baiklah kalau begitu, sabar ya sayang. Aku sih ngarep nya besok kamu sudah sembuh."


'Jatah aman kok, yang. Kalau kamu minta jatah, aku pasti kasih. Tapi aku gak bisa memimpin, jadi paling di bawah saja.' Jawab Melisa membuat Arvin terkekeh pelan.

__ADS_1


"Oke kalau begitu, aku tutup dulu telepon nya ya. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan dulu, agar besok bisa pulang kesana siang." 


'Iya, hati-hati sayang. Aku mencintaimu.' Ucap Melisa membuat hati Arvin berbunga-bunga, terasa ada ribuan kupu-kupu di perut nya saat ini. 


"Aku juga mencintaimu, Melisa ku sayang." Balas Arvin, membuat Melisa tersipu. Akhirnya panggilan video pun selesai, Melisa menyimpan ponsel nya di bawah bantal. Karena Dion belum mengetahui kalau dia punya ponsel dari Arvin, karena semenjak Arvin pergi pria berstatus suami nya jarang pulang.


Arvin langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri Jo yang sedang duduk sambil meminum kopi miliknya.


"Jo.."


"Iya, Tuan muda.."


"Kau tak keberatan kan kalau aku pulang besok? Hanya tinggal mengawasi pembangunan proyek dan kasus Ares." 


"Kenapa, Tuan?"


"Melisa sakit, suami brengsek nya tidak peduli padanya. Dia tak mengurusi istrinya sendiri, malahan tidak pulang ke rumah, Jo. Aku khawatir dengan Melisa." Jawab Arvin membuat Jo menganggukan kepala nya.


"Rebut saja kalau begitu, Tuan muda. Saya mendukung anda kalau suami nya seperti itu." Ucap Jo.


"Hmmm, jadi besok pagi-pagi antar aku pulang ya, Jo? Biar sampai kesana nya siang." 


"Baik, Tuan muda." Jawab Jo. 


Sesampainya di kantor, Arvin langsung berkutat dengan pekerjaan nya. Setelah selesai, barulah dia memanggil Irfan ke ruangan nya. 


"Permisi, Tuan muda.."


"Irfan, besok aku harus kembali. Besok, kau mulai bekerja sebagai kepala cabang yang baru. Bekerjalah dengan giat, jangan kecewakan aku!" Tegas Arvin.


"Ada urusan mendadak, Tuan?" Tanya Irfan, Arvin menganggukan kepala nya. Baginya, urusan tentang Melisa adalah yang terpenting saat ini. Apalagi saat ini dia tengah sakit dan sialnya malah di biarkan sendiri, bagaimana kalau bukan sekedar demam biasa?


"Baiklah, Tuan. Meskipun saya merasa tidak pantas di posisi ini."


"Ada Mira yang akan membimbing mu dalam pekerjaan ini, Irfan." Ucap Arvin.


"Baik, Tuan." Jawab Irfan sambil membungkuk ke arah Arvin sebagai tanda hormat. 


"Kau bisa keluar." Irfan pun mengangguk dan keluar dari ruangan itu dengan langkah pelan. Jujur saja, setiap masuk ke dalam ruangan itu dia merasa tertekan apalagi saat melihat wajah Arvin yang datar. Takut? Tentu saja. Dia tak pernah bermimpi untuk berada di posisi ini saat ini, tapi tiba-tiba saja Arvin menunjuk nya untuk menggantikan Ares. 


Keesokan hari nya, pagi-pagi sekali Arvin dan Jo sudah memulai perjalanan agar sampai di kampung nya siang hari. Arvin merasa tak sabar ingin bertemu dengan Melisa, wanita pujaan nya. 


Namun, ternyata hari itu Melisa sedang merasakan sesak di dada nya. Karena apa? Yaps, Dion membawa Gia ke rumah dan parah nya, dia mengenalkan Gia sebagai teman seprofesi nya. 

__ADS_1


"Melisa.." Ucap Melisa sambil mengulurkan tangan nya pada Gia. Wanita itu juga menyambut uluran tangan Melisa. 


"Giana." Jawab Gia dengan senyum yang nampak sinis. Melisa pun segera menarik tangan nya, lalu pergi ke dapur menyusul suami nya. 


"Mas.."


"Hmm, kenapa Mel? Kenapa wajah mu asam seperti itu? Kau tak suka aku membawa teman kerja ku ke rumah ini?" Tanya Dion sewot sedangkan Melisa sebisa mungkin harus menahan amarah nya. Dia sudah tahu dari lama, kalau Gia itu adalah selingkuhan Dion. Namun, dia tak menyangka kalau Dion akan berani membawa selingkuhan nya ke rumah dan mengenalkan nya langsung pada nya. Ya, meskipun hanya di kenalkan sebagai teman seprofesi. 


"Kalau iya, memang nya kamu mau apa, Mas?" Balik tanya Melisa dengan wajah datar nya. Baru juga dia mendingan dari sakit nya, eehh sekarang sudah di buat darah tinggi dengan kelakuan suami laknat nya. 


"Elah, kamu tuh ya baper amat. Dia cuma temen sepekerjaan doang, Mel."


"Yakin? Teman sepekerjaan atau teman seranjang?" Tanya Melisa, membuat wajah Dion memucat. Wanita itu menunggu jawaban suami nya dengan kedua tangan yang bersedekap di dada, mata nya menatap intens ke arah Dion yang nampak gelagapan.


"Apa maksud kamu sih, Mel?"


"Gak usah pura-pura, Mas. Kamu jelas tahu apa maksud pertanyaan aku tadi. Kamu guru, gak mungkin sebodooh itu kan?" Tanya Melisa membuat wajah Dion memerah, seperti nya dia tersinggung dengan pertanyaan Melisa.


"Mel, kamu ini kenapa sih? Perasaan kamu berubah akhir-akhir ini."


"Aku berubah? Tidak, Mas. Aku hanya menyesuaikan diri dengan lingkungan baru ku." Jawab Melisa. 


"Mel.."


"Bawa selingkuhan atau teman mu itu pergi dari rumah ini, atau aku akan memberitahukan semua aib mu pada warga disini." Ancam Melisa.


"Memang nya aib apa?"


"Masih bertanya? Sejak kapan kamu berteman dengan wanita? Terlebih dia janda yang kekurangan belaian? Jangan beralasan yang tidak masuk akal, Mas. Aku tak sebodooh yang kamu kira, kok. Otak ku masih bisa berpikir logis!" Tegas Melisa. 


"Melisa.." 


"Pergilah, atau kamu akan menanggung malu." Jawab Melisa, mau tak mau pun akhirnya Dion harus membawa selingkuhan nya pergi dari rumah nya. 


"Ayo pergi.." ajak Dion pada Gia.


"Lho kenapa?"


"Jangan banyak tanya!" Ketus Dion. Akhirnya Gia pun hanya mengekor di belakang Dion tanpa banyak bertanya. 


........


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2