
Keesokan hari nya, Arvin tersenyum saat melihat Melisa sedang berjalan ke arah nya. Ya, tepat nya sih bukan ke arah nya, tapi ke arah tukang sayur yang berhenti di dekat rumah nya.
"Pagi, Neng Mel.." Sapa ibu-ibu itu, Melisa hanya menjawab dengan senyuman manis nya.
"Mau masak apa hari ini, Bu ibu?" Tanya Melisa dengan senyum manis nya yang membuat ibu-ibu itu menyukai Melisa, karena dia sosok yang ramah dan mudah tersenyum.
"Ibu mau masak sup tahu di campur sama gambas, request bapak nya anak-anak." Jawab Bu Amel sambil tersenyum kecil. Mendengar hal itu, entah kenapa hati nya merasa sedikit ngilu. Bukan tentang karena dia tak punya suami, tapi kata anak-anak. Ya, dia memang menginginkan seorang anak dari pernikahan nya dengan Dion, tapi hingga bercerai pun dia tak kunjung hamil juga.
Mungkin, Tuhan kasian dengan Melisa karena dia punya sosok suami seperti Dion, hingga tak mau memperikan nya seorang anak pun dari Dion.
"Kenapa, Neng? Apa kata-kata ibu ada menyinggung kamu?" Tanya Bu Amel.
"Aahhh enggak kok, Bu." Jawab Melisa sambil tersenyum, tapi Arvin yang notabene nya tahu akan perubahan ekspresi Melisa merasa ada yang tak beres dengan wanita itu. Tak biasa nya dia langsung terdiam saat mendengar perkataan orang lain, kalau bukan hal yang menyakiti nya.
"Masak apa, Mbak Mel?" Tanya Arvin pada Melisa membuat wanita itu sedikit mendongakkan kepala nya menatap wajah tampan pria itu.
"Masih belum tau nih, bingung mau masak apa." Jawab Melisa.
"Kenapa gak masak udang saus asam manis aja, mbak?" Usul Arvin.
"Aku agak alergi kalau makan udang, bibir aku pasti bengkak." Jawab Melisa.
"Wahh, seriusan neng?" Tanya Bu Ratmi.
"Iya, Bu. Lagian, saya juga gak terlalu suka makan udang."
"Iyalah kalau alergi pasti gak bakalan doyan, neng."
"Tapi kalau makan lobster sih gapapa kek nya, meskipun lobster itu masih jenis udang kan ya? Apa beda?" Tanya Melisa sambil terkekeh.
"Kayaknya sih iya, sama."
"Yaudah, jadi nya mau masak apa, Neng?" Tanya Abang sayur itu. Akhirnya, dia pun akan memasak ati ampela pedas saja. Arvin juga menyukai itu, jadi bisa di pastikan pria itu akan makan di rumah nya lagi.
"Cabe rawit nya seperempat."
"Yang kemarin apa habis, Neng?" Tanya salah satu ibu-ibu yang nampak keheranan, karena baru kemarin lusa Melisa membeli cabe setan seperempat, tapi sekarang sudah beli lagi.
"Habis, Bu. Kan di sambel, sekarang tinggal sedikit lagi itu sambel nya." Jawab Melisa, dia melirik kilas ke arah Arvin. Karena pria itu adalah yang menghabiskan sambel cumi nya kemarin.
"Sambel cumi kan ya?"
"Iya, kesukaan aku jadi nya makan aja terus, hehe." Jawab Melisa sambil tertawa kecil.
"Pantesan, jadi sekarang mau masak sambel ati ampela?"
"Iya, di makan sama kerupuk aja udah enak banget." Jawab wanita cantik itu.
"Sambel Mbak Mel enak gak ada dua nya." Celetuk Arvin, membuat pusat perhatian para ibu-ibu kini tertuju pada nya.
"Kenapa? Orang aku kan suka di kasih sambel nya sama Mbak Mel, jadi tahu rasa sambel nya." Jawab Arvin sesantai mungkin. Agar tak ada yang curiga, meskipun mungkin dalam hati mereka mulai mencurigai tingkah polah Arvin yang cukup mencurigakan.
"Ohh, iya juga sih ya."
"Yaudah, Bang. Ati ampela nya seperempat aja, cabe nya juga seperempat, tomat satu ons, bawang daun sama kencur. Jadi berapa?" Tanya Melisa.
"Total nya jadi empat puluh ribu, Neng."
"Ini uang nya, bang." Melisa mengulurkan uang seratus ribu, tapi karena Abang sayur nya tidak punya kembalian jadi dia mengembalikan uang nya pada Melisa.
"Gak ada kembalian, Neng. Baru juga keluar, belum ada kembalian."
"Yahh, gimana dong?"
"Punya saya berapa total nya, Bang?" Tanya Arvin.
"Total nya jadi tiga puluh lima ribu."
"Yaudah, ini uang nya sekalian bayarin sama punya Mbak Mel, kembalian nya ambil aja buat Abang. Makasih bang, duluan ya." Setelah memberikan uang nya, Arvin pun pulang ke rumah nya. Dia masuk dan menutup pintu nya.
"Belum juga bilang terimakasih." Gumam Melisa.
"Ciee, di bayarin sama mbeb ya, Neng?" Goda Bu Amel sambil menyenggol pelan lengan Melisa, membuat wajah wanita itu memerah karena malu.
"Apaan sih, Bu? Enggak kok."
"Wajah nya merona tuh, ciee malu ya?" Ibu-ibu itu semakin gencar menggoda Melisa yang wajah nya sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Udahh ahh, ibu-ibu mah suka gitu."
__ADS_1
"Ehhh, omong-omong kita nyobain sambel buatan kamu dong, Neng. Beli maksud nya." Ucap salah satu ibu-ibu yang juga sedang berbelanja di Abang sayur itu.
"Iya, jualan sambel aja. Katanya sambel kamu enak kan? Jual aja, neng. Lumayan kan nambah-nambah penghasilan." Usul Bu Ratmi sambil tersenyum.
"Harus di pikir-pikir dulu sih ini, belum modal nya ya."
"Ehh iya, ini uang arisan yang waktu itu belum ibu anter, kelupaan terus." Ucap Bu Amel sambil membuka dompet nya. Lalu memberikan sejumlah uang pada Melisa. Sisa dua juta lagi uang arisan milik Melisa yang belum di berikan karena di pinjam dulu oleh Bu Amel untuk biaya sekolah anak nya di kota.
"Makasih, Bu. Aku kok bisa kelupaan ya ini uang sebesar ini, hehe."
"Maaf ya, Neng. Ngembaliin nya agak lama."
"Gapapa kok, Bu." Jawab Melisa sambil tersenyum manis.
"Nah, uang itu aja pake modal, neng." Usul ibu-ibu lain. Seperti nya mereka penasaran, seenak apa sih sambel buatan Melisa? Sampai-sampai Arvin mengatakan kalau sambel itu enak, karena semua orang tahu kalau Arvin jarang memberikan label makanan enak, meskipun sering dari mereka membagi makanan dengan nya. Tapi, hanya sambel buatan Melisa yang di bilang enak oleh Arvin. Aneh bukan?
"Nanti saya pikir-pikir dulu ya."
"Iya, jangan lama. Penasaran soalnya."
"Siap, nanti saya kasih tester dulu. Kalo beneran enak, baru beli ya." Jawab Melisa sambil terkekeh.
"Oke, nanti liwetan yuk?"
"Wah, boleh tuh. Bawa sambel nya ya neng?"
"Ohh, boleh. Jam berapa, Bu?" Tanya Melisa.
"Pas makan siang aja gimana?"
"Boleh, kalo gitu saya pulang dulu ya. Mau beres-beres sekalian masak dulu, nanti saya ke rumah Ibu."
"Oke, di tunggu ya."
Ibu-ibu itu pun bubar dari Abang sayur, setelah selesai berbelanja tentu nya. Melisa juga pulang ke rumah nya, tapi saat di dapur dia dibuat terkejut saat melihat siapa yang sudah duduk di kursi sambil menatap nya tajam.
"Lho, kok kamu udah disini aja, Yang?"
"Ngapain aja di tukang sayur lama banget, hmm? Calon suami udah laper lho ini." Ucap Arvin dengan tatapan tajam nya, membuat Melisa merinding seketika. Dia menggaruk tengkuk nya yang padahal tidak terasa gatal sedikit pun.
"Ngobrol dulu sama ibu-ibu, sayang."
"Bagus, sampai lupa waktu. Ngomongin apaan?" Tanya Arvin lagi, membuat Melisa cengengesan.
"Hmmm, jadi?"
"Ya ngobrol aja, sayang. Jangan posesif gitu deh, aku kan jadi nya gemes." Ucap Melisa membuat Arvin mendelik.
"Ngobrolin apaan? Aku tanya."
"Mereka ngusulin aku buat jualan sambel cumi sama sambel ati ampela nya, tapi aku masih pikir-pikir dulu."
"Kalau kamu mampu, bikin aja. Kalau enggak, jangan. Setelah menikah nanti, aku gak bakalan minta kamu buat kerja, biar aku yang kerja." Jawab Arvin membuat Melisa tersenyum kecil, saat ini dia sedang mencuci ati ampela yang tadi dia beli dengan air bersih yang mengalir. Tak lupa, dia menambahkan jeruk nipis agar tidak terlalu bau amis.
Setelah mendiamkan nya beberapa menit, Melisa pun langsung merebus nya. Dia juga menambahkan sereh dan juga daun salam, agar lebih wangi saja. Arvin bangkit dari duduk nya lalu memeluk pinggang Melisa sambil menumpukan dagu nya di pundak Melisa dengan manja.
"Kenapa? Mendadak jadi manja gini, hmm? Apa karena kamu lagi lapar, sayang?" Tanya Melisa. Arvin menggeleng, entahlah dia ingin bermanja-manja dengan wanita nya saat ini. Mood nya sangat buruk sekarang, apalagi setelah mendengar berita di perusahaan.
"Aku capek.." Keluh Arvin dengan suara lirih nya.
"Capek? Kamu nya terlalu gila kerja sih, jadi nya capek."
"Hmm, bukan karena kerjaan kok, Bby."
"Terus, karena apa?" Tanya Melisa tanpa menoleh ke arah pria yang berada di samping nya.
"Capek gak bisa bebas mesra-mesraan sama kamu, Bby."
"Astaga, gombal rupa nya. Aku kira kamu kenapa, sayang." Melisa mencubit gemas tangan Arvin yang berada di perut nya, bukan nya meringis kesakitan, Arvin malah tertawa.
"Sayang.."
"Iya, kenapa?" Tanya Melisa, kali ini dia menatap wajah tampan pria itu.
"Besok kita pergi, temen aku yang bakalan jemput." Ucap Arvin membuat jantung Melisa seolah berhenti berdetak saat itu juga.
"Hmmm, i-iya.."
"Kamu masih ragu?"
__ADS_1
"E-eemm, sedikit." Jawab Melisa, raut wajah gugup tersirat jelas dari wajah nya saat ini.
"Gapapa, ada aku. Gak usah takut, aku akan melindungi kamu, sayang."
"Iya, sayang."
"Jadi, apa yang bisa aku bantu?" Tanya Arvin.
"Pisahin cabe dari tangkai aja, kayak kemarin. Terus potong-potong tomat sama bawang daun ya."
"Oke, sayangku." Arvin pun melepaskan pelukan nya dan melakukan apa yang di minta oleh Melisa. Wanita itu tersenyum, pekerjaan sederhana seperti itu saja mampu membuat mood nya membaik. Tidak perlu belanja setiap hari untuk membuat mood wanita membaik, hal sesederhana ini saja mampu membuat mood nya membaik.
"Sayang, nanti siang ibu-ibu ngajakin liwetan."
"Yaudah, gabung aja."
"Kamu makan siang nya gimana, yang?"
"Aku bisa makan sendiri kok, gapapa sayang."
"Bener? Gak marah nih?" Tanya Melisa membuat Arvin gemas sendiri.
"Iya, sayangku. Buat apa sih aku marah? Kayak nya, aku gak bakalan bisa deh marah sama wanita semenggemaskan kamu, sayang."
"Astaga, tiba-tiba saja aku merasa mual.."
"Lho kenapa? Bukan nya tadi kamu baik-baik saja, Bby?" Tanya Arvin panik, dia khawatir saat Melisa mengatakan kalau dia tiba-tiba mual.
"Aku mual denger gombalan kamu itu, sayang."
"Haha, kamu bikin aku khawatir aja." Ucap Arvin sambil tertawa.
"Ohh iya, ini uang dari Bu Amel. Sisa arisan yang waktu itu, yang." Melisa mengeluarkan uang dari saku celana nya dan memberikan nya pada Arvin.
"Kenapa kamu kasih ke aku, Bby?" Tanya Arvin dengan kening yang berkerut heran.
"Itu kan uang kamu, selama ini yang bayar arisan nya kan kamu."
"Beliin aja, beli perhiasan. Atau kamu mau jadikan modal usaha kecil-kecilan? Kayak jualan sambel gitu." Usul Arvin membuat Melisa merasa dilema. Dia bingung, haruskah uang itu dia gunakan untuk berjualan sambel saja?
Tapi, kalau dia gunakan uang itu untuk membeli perhiasan, dia akan terus bergantung pada Arvin dan dia tak mau hal itu terjadi. Belum juga menikah, tapi Arvin sudah banyak sekali membantu nya. Sudah tak terhitung berapa kali pria itu meluangkan waktu nya hanya untuk menolong nya.
"Kok diem, kenapa? Bingung ya?" Tanya Arvin, dia paham benar arti kebungkaman Melisa saat ini.
"Hehe, iya.."
"Yaudah, kalau kamu usaha ya gapapa. Aku bakalan dukung kamu, sayang. Tapi, kalau kamu masih ragu sebaiknya uang itu kamu simpan saja dulu."
"Iya, aku pikir-pikir dulu. Apa aku bakalan kuat bikin stok sambel nya atau enggak." Jawab Melisa. Dia pun mulai memotong-motong ati ampela itu menjadi potongan kecil-kecil lalu menyatukan nya dengan cabe yang sudah di blender oleh Arvin. Ya, Arvin membelikan nya blender kemarin, karena dia merasa tak tega saat melihat Melisa harus mengulek bumbu nya secara manual. Itu akan membuat tangan nya memerah dan Arvin tak mau itu terjadi.
"Iya, sayangku."
Arvin pun kembali mendekat, dia memeluk Melisa seperti tadi, meskipun sepanjang acara memasak sambel itu di warnai dengan bersin dan batuk-batuk. Tapi, Arvin teguh dengan pendirian nya, dia tetap berdiri sambil memeluk Melisa dari belakang. Meskipun beberapa kali Melisa berusaha berontak agar pria itu melepaskan pelukan nya, tapi Arvin yang keras kepala tidak mendengarkan sama sekali.
Setelah matang, kompak kedua hidung mereka memerah karena terlalu banyak bersin-bersin. Arvin terkekeh saat melihat hidung Melisa yang memerah, dia belum menyadari kalau hidung nya juga sama merah nya.
"Kenapa ketawa?"
"Hidung kamu merah, Bby." Jawab Arvin, dia masih terkekeh pelan.
"Dih, gak nyadar apa? Hidung kamu juga merah tuh, yang!" Ketus Melisa membuat Arvin heran, dia mengambil ponsel dan berkaca di layar nya. Benar saja, hidung nya juga memerah.
"Haha, gara-gara sambel ya.."
"Iya, sekarang kita makan yuk?" Ajak Melisa, Arvin pun mengangguk dan seperti biasa wanita itu melayani Arvin lebih dulu sebelum dirinya.
Kedua nya pun makan dengan lahap, meskipun sambel nya terasa sangat pedas tapi itu malah menambah selera makan mereka berdua, kedua nya memang sama-sama menyukai makanan yang pedas, sambel adalah salah satu nya.
Setelah selesai, Melisa langsung mencuci piring nya. Arvin juga berpamitan pulang, setelah selesai beres-beres Melisa pun keluar rumah untuk liwetan bersama para tetangga nya. Ternyata, mereka sudah berkumpul di rumah Bu Amel, nasi liwet nya juga sudah matang.
"Wahh, aku terlambat ya? Maafin, hehe."
"Gapapa, Neng. Sini duduk." Melisa pun mengangguk dan duduk di samping Bu Ratmi.
"Ini sambel cumi nya, cobain dulu ya. Yang ini sambel ati ampela nya."
Mereka pun mulai makan dan hasilnya, semua ibu-ibu yang ikut dalam acara liwetan itu memuji sambel buatan Melisa yang memang sangat enak.
"Lain kali, pake pete, neng. Pasti lebih mantap, jualan aja. Ini pasti laku, di jamin." Melisa tersenyum kecil, seperti nya dia akan berjualan sambel saja. Dengan uang yang di berikan Bu Amel tadi pagi, akan dia jadikan modal pertama.
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻🌻