
Melisa memasak untuk Arvin, seperti biasa nya pria itu akan mendusel manja di ceruk leher sang wanita, tak peduli meskipun Melisa sedang memasak sekali pun. Arvin memang sangat manja pada Melisa.
"Wangi banget nasi goreng nya, yang. Bikin perut aku laper."
"Sebentar lagi mateng kok, sabar ya?"
"Siap, ayang. Aku memang sabar kok, selalu sabar." Jawab pria itu lagi sambil terkekeh pelan. Melisa juga terkekeh, memang Arvin selalu sabar dalam hal apapun.
"Lepasin dulu, aku mau mindahin nasi goreng nya."
"Iya, sayang." Jawab Arvin, dia menurut dan melerai pelukan nya dengan Melisa. Lalu duduk nyaman di kursi, menunggu sang wanita menyajikan makanan untuk nya.
Tak lama kemudian, Melisa datang dengan sepiring nasi goreng buatan nya. Wanita itu meletakan nya di depan Arvin.
"Terimakasih, sayangku."
"Sama-sama, di makan. Aku buatin kopi dulu."
"Iya." Jawab Arvin, dia pun memakan nasi goreng nya dengan lahap, meskipun harus sabar tiap kali menyuap karena nasi goreng nya masih panas.
"Ini kopi nya, sayang."
"Makasih, ayang." Ucap Arvin lagi dengan senyum yang merekah di bibir nya. Melisa ikut duduk di samping Arvin, dia tersenyum begitu melihat pria nya makan dengan lahap meskipun sesekali mengeluh karena nasi nya masih panas.
"Kamu gak makan?"
"Enggak, yang. Aku masih kenyang." Jawab Melisa.
"Hmmm, yaudah. Nasi nya aku habisin aja kalo gitu."
"Ya habisin aja sih." Jawab Melisa, wanita itu tergelak pelan saat Arvin mengatakan itu. Dia memang hanya memasak satu porsi untuk Arvin saja, karena dia tak mau makan lagi saat ini.
"Sayang.."
"Iya, kenapa sayang?"
"Apa kamu ada kepikiran untuk cerai sama suami kamu?" Tanya Arvin pelan di sela makan nya.
"Tentu ada, sayang. Tapi untuk waktu nya aku gak tau kapan, hubungan aku dengan Mas Dion masih terlihat baik-baik saja bagi orang kebanyakan."
"Kenapa harus peduli dengan pendapat orang, sayang?" Tanya Arvin.
"Hmmm, entahlah. Memang aku yang merasakan semua nya."
"Iya, berarti kamu tak harus peduli dengan apa yang orang lain pikirkan, kamu hanya perlu peduli dengan diri kamu sendiri. Kamu berhak bahagia, sayang. Apa kamu yakin kalau kebahagiaan kamu ada sama Dion?" Tanya Arvin sedikit emosional.
__ADS_1
Melisa menatap Arvin, ya kebahagiaan nya ada pada pria itu. Dia bahagia saat bersama Arvin, bukan saat bersama Dion karena pria itu terlalu sering menyakiti nya, fisik juga batin nya di hajar habis-habisan.
"Aku bahagia nya sama kamu." Jawab Melisa lirih.
"Jadi?"
"Alasan apa yang harus aku pakai agar bisa lepas dari Dion, yang?"
"Aku tak tahu, tapi mungkin nanti akan ada alasan yang tepat untuk kamu bisa meminta cerai dari pria itu, sayang."
"Kenapa kamu seyakin itu, sayang?" Tanya Melisa, dia tidak tahu menahu tentang rencana Arvin. Dia hanya menjawab dengan senyuman kecil nya lalu menggeleng pelan.
"Tidak, aku tidak seyakin itu kok."
"Hmmm, mencurigakan. Apa kamu menyembunyikan sesuatu dari aku, sayang?" Tanya Melisa sambil menatap wajah tampan pria itu. Arvin tergelak kencang mendengar tuduhan yang di layangkan oleh Melisa.
"Aku nyembunyiin apa sih dari kamu? Gak ada, sayangku. Seriusan."
"Ya sudahlah kalo begitu, ayo selesai kan makan nya. Aku pengen tidur di pelukan kamu lagi, sayang."
"Oke siap." Jawab Arvin, dia pun buru-buru menyelesaikan makan nya lalu kedua nya pun pergi ke kamar.
"Sayang, kamu betah sama ponsel yang aku kasih?" Tanya Arvin sambil memeluk Melisa yang tidur terlentang. Tangan nya sesekali merayap nakal ke arah dada Melisa yang nampak sangat kenyal juga besar karena hasil kerja keras tangan nakal nya selama ini. Padahal, saat pertama kali mereka bertemu ukuran nya tak sebesar ini.
"Betah kok, yang. Aku kembalikan aja ya?"
"Gak usah, sayang. Ini aja masih bagus, masih kinclong gini." Jawab Melisa sambil menunjukkan ponsel berwarna hitam dengan tiga kamera di bagian atas dan di tengah-tengah nya ada logo apel di gigit.
"Yaudah, berarti ponsel kita couple. Punya aku juga kayak gini." Arvin mengambil ponsel nya di atas nakas lalu menunjukkan nya pada Melisa. Sama persis, hanya berbeda di bagian wallpaper nya saja.
"Wahh, sama ya."
"Iya, sama." Jawab Arvin lagi, dia menjawil manja hidung Melisa lalu mengecup kening nya dengan mesra.
"Ehh, omong-omong aku rasa ini kamu makin gede deh. Apa cuma perasaan aku aja ya?" Tanya Arvin sambil meremaas lembut buah kenyal milik Melisa.
"Hmmm, cup nya naik sayang. Ini kan karena ulah tangan nakal kamu itu, jadi nya membesar." Jawab Melisa sedikit ketus.
"Serius, awalnya berapa gitu?" Tanya Arvin penasaran.
"Awalnya kan 36A, sekarang 36B." Arvin sontak tertawa mendengar jawaban Melisa, artinya tangan nya berhasil membuat buah dada Melisa mengembang.
"Bagus dong, jadi usaha aku selama ini gak sia-sia, sayang."
"Aku ribet bawa nya, kalo kegedean sayang." Jawab Melisa.
__ADS_1
"Gapapa, enak pas di mainin. Udah gitu kamu keliatan gemoy."
"Gemoy apaan deh?" Tanya Melisa sedikit tersipu.
"Ini gak kegedean kok, udah pas sama proporsi tubuh kamu yang sintal dan berisi. Segini mah udah jauh dari kata ideal, sayang."
"Apa tubuh aku bagus menurut kamu, yang?" Tanya Melisa.
"Gak usah tanya, udah bagus banget ini mah, sayang." Jawab Arvin sambil mengusap perut rata Melisa.
"Kenapa ngusap-ngusap perut aku, yang?"
"Aku berharap banget kalau di dalam sini ada janin yang berkembang, sayang." Jawab Arvin lembut, membuat Melisa sedikit terhenyak dengan apa yang di katakan oleh Arvin.
"Kamu benar-benar mengharapkan nya, sayang?"
"Iya, sangat. Usia ku sudah pas punya anak satu." Jawab Arvin sambil tersenyum manis.
"Kalau begitu kita harus lebih giat bikin nya, iya kan?"
"Iya, malam ini mau main?" Tanya Arvin sambil tersenyum mesuum.
"Enggak, hehe." Jawab Melisa, dia tersenyum nakal membuat Arvin mendengus pelan.
"Kamu ini gimana sih? Bukan nya kita harus sering ya usaha nya?"
"Iya sih, tapi besok aja deh. Perut aku berasa gak enak gini, pengen makan seblak." Jawab Melisa membuat Arvin bangkit dari rebahan nya.
"Seblak jam segini? Sudah pada tutup, sayang."
"Hmmm, besok aja deh."
"Iya sayang, besok aku beliin yang porsi jumbo biar kamu nya kenyang plus senang." Ucap Arvin membuat Melisa tersenyum kesenangan.
"Wahh, makasih sayangku."
"Iya, cantik. Sekarang kamu tidur ya?" Ucap Arvin, Melisa pun mengangguk lalu mendusel di dada bidang sang pria. Arvin mengusap lembut puncak kepala Melisa yang tersuruk manja di dada nya.
'Besok, kamu harus menyiapkan hati mu, sayang. Maafkan aku karena aku egois, aku ingin memiliki dirimu sendirian.' Batin Arvin sambil tersenyum smirk.
Dirinya memang terkesan sangat jahat dan egois karena dirinya menyuruh orang untuk menyabotase hubungan Melisa dan suami nya hanya karena dia tak rela berbagi dengan pria lain. Dia ingin memilki Melisa sendirian.
Kalau saja Dion memperlakukan Melisa dengan baik, mungkin Arvin akan lebih bersabar. Tapi pria semacam Dion apa masih pantas untuk di pertahankan? Rasanya tidak, hanya Melisa saja yang mampu bertahan dengan pria semacam Dion.
......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻