SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 83 - SANG PEBINOR


__ADS_3

Akhir-akhir ini sering sekali hujan, hingga membuat Melisa harus sering mengelap teras karena air hujan membanjiri teras membuat nya becek. Melisa sedang membersihkan nya saat ini, meninggalkan Arvin sendirian di kamar karena dia masih tertidur lelap. 


Setelah selesai, Melisa masuk dan kembali ke kamar, hari sudah mulai petang tapi Arvin masih betah larut dalam tidur nyenyak nya.


"Ayang, bangun udah petang." Ucap Melisa sambil mengguncang pundak Arvin. Tapi hasilnya, bukan nya bangun tapi Arvin malah menarik nya ke dalam pelukan. 


"Sayang.." Pekik Melisa, Arvin malah menduselkan wajah nya di leher Melisa dengan acuh, dia tak peduli dengan reaksi Melisa yang mungkin saja sedang kesal saat ini. 


"Sayang, isshh bangun.."


"Kamu kenapa sih? Aku masih ngantuk ini, Bby."


"Tapi udah mau petang lho, gak mandi?" Tanya Melisa, Arvin menggelengkan kepala nya. Dia malas mandi, sangat malas sekali. 


"Males, air nya dingin." Jawab Arvin. 


"Kalau emang niat, kan bisa hangatin dulu air nya di panci." 


"Enggak deh, gapapa kan aku gak mandi?"


"Iya itu sih terserah kamu, kalau aku gak masalah. Kamu gak mandi seminggu aja, kayaknya wangi badan kamu bakalan tetep enak di cium." Jawab Melisa sambil terkekeh.


"Terus, sekarang kamu minta apa lagi hmm?"


"Idih, siapa yang minta? Aku enggak tuh, cuma minta kamu bangun doang. Itu aja." 


"Aku gak mau bangun, nyaman banget tidur disini, Bby." Jawab Arvin dengan suara berat nya. 


"Yaudahlah, terserah kamu. Aku mau ke dapur, masak buat makan malam."


"Mau masak apa, Bby?" Tanya Arvin, tangan nya sudah nakal merayap kemana-mana.


"Tadi nya mau masak ayam rica-rica." 


"Wihh, enak tuh." Ucap Arvin berbinar. Itu adalah salah satu menu kesukaan nya jika Melisa yang memasak nya, bagi nya masakan Melisa selalu enak, apapun itu. 


"Iya dong, jadi lepasin aku dulu."


"Hmmm, yaudah tapi sun dulu." Pinta Arvin dengan senyuman nakal nya. 


"Kan tadi udah, yang."


"Kapan?" Tanya Arvin berpura-pura lupa, padahal tadi sebelum tidur mereka sempat berciuman mesra, sebelum akhirnya terbang bersama-sama ke alam mimpi. 


"Tadi lho, sebelum tidur. Jangan berlagak lupa kamu, yang! Lihat nih, bibir aku masih bengkak kek gini, itu karena ulah kamu."


"Ya itu kan tadi, sayang. Sekarang beda lagi."


"Udah, jangan bikin author nya kesel ya. Dia lagi puasa lho." Ucap Melisa membuat Arvin nyengir seolah tanpa dosa. 


"Cuma cium doang, janji."


Cup.. 


Melisa mencium kilat pipi kanan dan kiri lalu kening Arvin, juga bibir nya. Setelah itu dia langsung pergi ke dapur meninggalkan Arvin yang tergelak karena merasa lucu dengan tingkah manis Melisa. 


"Hmmm, wanita itu semakin lama semakin menggemaskan." Gumam Arvin, dia tersenyum lalu menatap lurus ke atas, tepat nya ke langit-langit kamar. Disana ada satu lampu kecil yang menggantung untuk penerangan di kamar ini. 


Arvin mengangkat sudut bibir nya ke atas, kalau di kamar nya bukan lagi lampu bohlam seperti ini yang menerangi kamar nya, tapi lampu besar yang terlihat seperti kaca menggantung di atas kamar nya. 


Tapi, dia memilih meninggalkan semua kemewahan itu untuk hidup sederhana di tempat ini. Karena apa yang ingin dia dapatkan dari sana sudah tidak ada lagi. Kehangatan yang dia harapkan dari sebuah rumah, tidak dia dapatkan disana. 


Dia malah mendapatkan kenyamanan di tempat ini, tempat kecil, desa yang cukup tertinggal menjadi tempat tinggal nya sekarang ini. Dia nyaman hidup sederhana seperti ini, apalagi sekarang ada Melisa yang membuat nya betah. Wanita itu kini menjadi rumah bagi Arvin, tempat dia pulang. 


Melisa, sosok wanita sempurna yang di sia-siakan oleh suami nya. Dia wanita lembut dan keibuan, membuat Arvin sangat nyaman saat berada di dekat wanita itu. Itulah, kenapa Arvin selalu bersikap manja pada Melisa. 


Selain karena dia memang suka di manjakan oleh sang kekasih, Melisa juga seperti ibu di mata Arvin. Semanja dan serewel apapun dirinya, dia tidak marah atau meninggikan suara nya. Benar-benar definisi wanita idaman.


Kalau masalah pintar memasak, beberes rumah, itu sudah tak harus lagi di pertanyakan, Melisa bisa melakukan segalanya termasuk melayani suami nya di atas ranjang. Arvin sudah merasakan kehebatan wanita nya sendiri, jadi bisa di pastikan Arvin akan sangat bahagia jika memiliki Melisa. 


Ada banyak alasan Arvin untuk kekeuh memiliki Melisa, salah satu nya karena dia adalah sosok wanita idaman. Tapi, meskipun begitu perjuangan nya untuk meluluhkan hati nya bukan lah hal yang mudah. Sekarang, tinggal bagaimana cara nya agar papah nya memberikan restu untuk nya menikahi Melisa. 


Kalau memang sang papa tidak memberikan restu nya, dia sudah bertekad untuk menikah tanpa izin orang tua nya. Dia tak peduli, pokoknya dia harus bersama Melisa. Itu saja.


"Malah melamun, bukan nya bangun, Bby." Ucap Melisa membuat lamunan Arvin buyar seketika. 


"Hehe, iya ini bangun, sayang ku. Kamu bawel sekali." 


"Aku bawel karena aku punya dua bibir, sayang." Jawab Melisa datar, tanpa peduli dengan ekspresi Arvin yang terlihat berfikir. 


"Dua bibir? Dimana?" Tanya Arvin dengan wajah bodoh nya.


"Pake tanya dimana, ya disini sama disini." Jawab Melisa, sambil menunjuk bibir atas dan bibir bawah nya, membuat Arvin tergelak.

__ADS_1


"Iya juga ya, haha.." 


"Dih, sendiri nya doyan tapi gak nyadar." Ketus Melisa, dia mengambil lotion dan mengusapkan nya di tangan dan kaki nya. Rupa nya, Melisa bukan nya memasak, dia malah mandi terlebih dulu. 


"Habis mandi, Bby?" Tanya Arvin sambil berjalan mendekat dan memeluk Melisa dari belakang, dia mengendus aroma manis yang menguar lembut dari tubuh sang wanita.


"Iya, baru aja. Kamu bau asem gini, mandi gih?"


"Katanya meskipun aku gak mandi seminggu, wangi aku enak di cium."


"Aku tarik kata-kata aku, yang." Jawab Melisa sambil terkekeh. 


"Hemm, yaudah deh aku mandi. Tapi tolong hangatin air ya?"


"Siap, aku juga udah bikinin kopi buat kamu. Di meja ya." Jawab Melisa, membuat Arvin tersenyum. Melisa selalu saja bisa membuat hati nya menghangat dengan perhatian-perhatian kecil yang mungkin saja bagi orang lain tidak berarti, tapi tidak bagi Arvin. Ini adalah yang dia inginkan, benar-benar dia inginkan dari sosok seorang wanita. 


"Terimakasih calon istri."


"Iya, calon suami." Jawab Melisa, wanita itu pun lebih dulu keluar dari kamar, di ikuti Arvin di belakang nya, mengekor di belakang Melisa. 


"Lagi bikin bumbu, Bby?"


"Iya, lagi bikin bumbu buat ayam rica-rica nya."


"Biar aku aja yang ngulek, Bby."


"Gak usah, biasa nya juga aku yang ngulek." Jawab Melisa melarang, karena dia tak yakin kalau Arvin bisa mengulek bumbu di dalam cobek. Dia khawatir kalau bumbu nya muncrat kemana-mana, berantakan nanti kan harus kerja dua kali. Ngulek bumbu, plus ngepel karena bumbu di dalam cobek itu kebanyakan cabai, pasti panas kalau tak sengaja terduduki.


"Ya, aku biasa nya kan ngulek kamu."


"Heh, apaan?"


"Hehe, enggak kok yang." Arvin cengengesan, membuat Melisa mendelik kesal. 


"Yang, kopi nya pahit.." 


"Lho, kan emang biasa nya kopi hitam tanpa gula kan?" Tanya Melisa membuat Melisa sedikit terkejut, padahal biasa nya kan pria itu sendiri yang selalu meminta kopi hitam tanpa gula. Tapi, kenapa sekarang dia protes karena kopi nya pahit?


"Iyalah pahit, kan manis nya habis sama kamu, Bby. Hehe."


"Dihh, ngegombal ternyata." Melisa tergelak, bisa-bisa nya dia terkecoh dengan Arvin. Padahal kan sudah biasa kalau pria di depan nya ini tukang gombal.


"Gak gombal berasa gak hidup." Celetuk nya sambil tersenyum. 


Tring.. 


Arvin merogoh ponsel nya, ada notifikasi pesan dari Jo. Dia membuka nya dan membalas pesan-pesan dari sang asisten kepercayaan nya dengan serius. Melisa juga melihat hal itu, tapi dia pikir tak masalah mungkin saja ada masalah dengan pekerjaan nya, makanya Arvin terlihat sangat serius saat ini.


"Sial.." Gumam Arvin sambil mengepalkan tangan nya. 


"Kenapa bisa? Padahal kemarin, sudah ada peningkatan, lalu apa ini semua?" Gumam nya lagi. Arvin pun mengatakan kalau Jo ataupun Irfan harus segera menemukan titik kesalahan di perusahaan secepatnya. Bahaya kalau perusahaan terus-menerus mengalami kerugian seperti ini, bisa-bisa perusahaan nya bangkrut. 


Beberapa menit kemudian, dia pun meletakan ponsel nya dan kembali meminum kopi nya, namun seketika itu juga dia mengernyit saat merasakan kalau kopi nya sudah dingin. Ada yang kurang dengan rasa nya jika meminum kopi yang sudah dingin. 


"Makanya, kopi tuh jangan terlalu lama di anggurin, jadi nya dingin." 


"Hehe, kan ngurusin kerjaan, yang."


"Kerja sih kerja, tapi jangan di meja makan juga kali. Tuh air nya sudah hangat, mandi dulu sana." Ucap Melisa, Arvin nyengir lalu membawa air panas di dalam panci itu ke kamar mandi dan mencampurnya dengan air dingin, lalu dia pun membersihkan tubuh nya dengan cepat. 


Hanya membutuhkan waktu selama lima belas menit, akhirnya Arvin keluar dari kamar mandi dengan rambut kelimis nya, bisa di pastikan kalau dia habis keramas.


"Wangi.."


"Iyalah, aku dah mandi sekarang, sayangku." Jawab Arvin sambil mengecup singkat pipi kanan Melisa. 


"Nyosor aja terus, Bby!"


"Gapapa dong, bentar lagi kita sah kok."


"Sah apa nya?"


"Sah jadi suami istri." Jawab Arvin sambil tersenyum manis. 


"Hmm, kamu yakin mau sama aku?"


"Huffttt, kenapa harus ada pertanyaan seperti ini sih di dunia ini?" Ucap Arvin sambil menyugar rambut nya dengan frustasi. 


"Hahaha, iya iya. Maafin ya?"


"Kamu kek nya gak pernah bosen ya nanya seperti ini?" Tanya Arvin.


"Ya aku masih ragu aja gitu, Bby." 

__ADS_1


"Ragu apa? Kamu masih ragu sama aku, apa gimana?"


"Aku ragu sama restu papa kamu."


"Lusa kita kesana, sayang." 


"H-ahh? Kok di majuin sih? Katanya minggu depan, kok jadi lusa sih?" Tanya Melisa, dia benar-benar terkejut saat mendengar ucapan pria itu.


"Bukan nya bagus kalau kita lebih cepat, sayang? Jadi, kamu gak bakalan ragu lagi dengan jawaban papa." Jawab Arvin membuat Melisa tersenyum kecil. Tapi, hatinya masih ragu. Kira nya, akan seperti apa reaksi papa nya Arvin ya?


"Hmm, entahlah."


"Ayolah, ya?"


"Baiklah, aku akan bersiap. Berapa hari kita disana? Biar aku mengemas pakaian ku secukup nya." Jawab Melisa.


"Tak perlu membawa pakaian ganti, sayang. Aku akan membelikan nya disana nanti."


"Tapi, disini saja pakaian nya masih banyak, sayang." 


"Ya gapapa dong, yang." 


"Huftt, ya sudahlah. Kalau sudah begini, apa aku bisa menolak? Rasa nya tidak, bukan?"


"Haha, iya tentu saja." Jawab Arvin sambil tergelak. 


Hingga tak terasa, masakan Melisa pun matang dan dia menyajikan ayam rica-rica di depan Arvin, ada telur ceplok dan sayuran juga tentu nya. Nasi nya juga sudah matang, Melisa memindahkan nya ke dalam piring dan meletakkan nya di depan Arvin.


"Silahkan makan, sayang."


"Iya, terimakasih." Arvin pun memulai acara makan malam nya dengan lahap. Masakan Melisa benar-benar makanan kesukaan nya. 


"Nambah?" Tanya Melisa, Arvin nyengir lalu menyodorkan kembali piring yang sudah kosong. Melisa kembali mengisi nya dengan nasi dan lauk nya, dia sangat senang saat melihat Arvin makan dengan lahap. 


"Makan kamu selalu lahap deh, Bby." 


"Hehe, iya dong. Soalnya makanan nya enak, sayang." 


"Aku bakalan lebih sering masakin kamu, tapi nanti."


"Kok nanti? Kenapa gak sekarang-sekarang aja, Bby?" Tanya Arvin dengan kerutan di kening nya.


"Nanti, setelah aku resmi jadi istri kamu. Uhuyy.."


"Dihh, ayang bisa aja. Kan aku salting." Ucap Arvin, benar saja wajah nya memerah karena ulah Melisa.


"Haha, gantian. Aku juga bisa tuh gombalin kamu."


"Iya, tapi sekali nya gombal kamu bikin aku jantungan, Bby."


"Hahaha, kamu ini yang. Ada-ada aja deh." Melisa terkekeh mendengar ucapan Arvin.


"Makan lagi, yang kenyang."


"Okey." Jawab Arvin, dia pun melanjutkan makan nya dengan lahap. 


Setelah beberapa menit, mereka pun selesai makan malam. Melisa pun mencuci piring dan peralatan lain yang tadi sudah dia pakai. 


"Duluan aja, Bby. Kalau mau bobok." 


"Nunggu ayang aja." Jawab Arvin, Melisa pun mengangguk. Dia tersenyum sambil terus mencuci piring nya sesekali dia berbalik untuk menatap sang pria yang sedang anteng memainkan ponsel nya.


Melisa menggelengkan kepala nya saat melihat Arvin lagi-lagi terlihat sangat fokus dengan ponsel nya, Melisa mengerti kalau ini pasti ada hubungan nya dengan pekerjaan, tapi entahlah dia tak suka saat melihat pria yang terlalu gila dengan pekerjaan hingga melupakan dunia.


"Sayang, ayo tidur."


"Ohh, sudah selesai cuci piring nya, Bby?" Tanya Arvin, Melisa menganggukan kepala nya karena memang pekerjaan nya sudah selesai.


"Sudah, sayang." Jawab Melisa. Arvin pun memasukkan kembali ponsel nya ke dalam saku celana nya, dan menggandeng tangan nya untuk ke kamar dan beristirahat.


"Yang, kamu biasa nya kerja lembur ya?"


"Iya, biasa nya aku begadang kalau gak tidur sama kamu, Bby."


"Kenapa kalau gak sama aku kamu begadang, yang?" Tanya Melisa.


"Gak tahu, Bby. Kalau sama kamu, bawaan nya ngantuk terus aku tuh."


"Hmmm, gombal lagi. Udahlah, ayo kita tidur." Ajak Melisa. Akhirnya kedua nya pun tidur dengan saling memeluk satu sama lain seperti biasa nya.


.......


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2