SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 57 - SANG PEBINOR


__ADS_3

Melisa hanya menatap sinis kepergian kedua manusia tak beradab itu. Katanya teman, tapi pas boncengan motor kok tangan wanita nya meluk pinggang sih? Ketahuan bohong nya itu mah. Untung saja, dia sudah lebih tahu kalau Gia itu bukan teman biasa tapi teman seranjang suami nya sendiri.


Jujur, dia ingin sekali menjambak rambut Gia, tapi tubuh nya terasa lemas karena baru saja dia mendingan dari sakit nya. Tak lama kemudian, dia melihat Bu Ratmi keluar lalu berjalan mendekat.


"Neng Meli.."


"Iya, Bu. Ada apa?"


"Maaf nih, tadi yang sama suami mu siapa?"


"Katanya sih teman sepekerjaan." Jawab Melisa dengan wajah datar nya. 


"Tapi kok dia meluk pinggang suami kamu, Neng? Hati-hati lho, di jaman ini pelakor berkeliaran." 


"Saya sih tidak masalah, Bu. Kalau dia memang pria terhormat seperti pekerjaan nya, dia takkan melakukan hal semacam itu meskipun saya tak pernah di anggap sebagai istri nya sama sekali. Tapi, kalau memang hal itu terjadi berarti itu menunjukkan kualitas nya." Jawab Melisa panjang lebar, namun dengan santai bahkan bisa tersenyum kecil saat mengatakan kata terakhir.


"Neng Meli bijak sekali, salut saya."


"Belajar dari pengalaman, Bu." Jawab Melisa. Dia pun mengambil sapu dan menyapu teras nya. 


"Tukang jamu gendong lewat gak sih hari ini, Bu?" Tanya Melisa.


"Biasa nya sih lewat, mungkin sebentar lagi, Neng." Jawab Bu Ratmi. 


"Ya sudah, temenin yuk hehe." 


"Boleh, neng." Jawab Bu Ratmi sambil terkekeh. 


"Sebentar, saya ambilin cemilan." 


"Eehh, gak usah Neng."

__ADS_1


"Gapapa kok, Bu." Jawab Melisa, dia pun masuk ke rumah dan tak lama kemudian sudah kembali dengan sepiring bolu kukus oreo yang tadi sempat dia buat. Tadi nya sih untuk menyambut kedatangan Arvin, tapi dia tak tahan untuk memakan nya.


"Wahh, neng Meli bikin bolu?"


"Iya, bolu kukus, Bu. Iseng aja tadi, mari di coba." 


Bu Ratmi pun mencomot satu potong kue bolu buatan Melisa, lalu memakan nya lalu tersenyum. 


"Enak lho ini." Puji nya sambil memakan nya dengan lahap.


"Benarkah? Terimakasih, pujian nya Bu."


"Lembut banget ini bolu nya, gak kemanisan lagi. Suka ibu mah kalo bolu lembut kayak gini." 


"Yaudah, Bu. Ini di bawa aja, aku bikin banyak kok tadi."


"Hehe, jadi malu." Ucap Bu Ratmi sambil terkekeh.


"Gapapa dong, Bu. Kayak sama siapa aja deh." 


Memang ada Arvin, tapi dia tak enak jika apa-apa harus meminta pada pria itu. Apa sih status nya? Hanya selingkuhan, pacar gelap nya saja bukan suami. Jadi, dia merasa tak bisa jika harus bergantung pada nya. 


"Duh, modal nya Bu." Jawab Melisa sambil terkekeh pelan.


"Kedepan nya kali ya, semoga ada buat modal nya ya, Neng." Ucap Bu Ratmi sambil tersenyum. 


"Iya, Bu. Semoga aja ada rezeki nya ya." Bu Ratmi menganggukan kepala nya lalu tersenyum kecil.


Tak lama kemudian, tukang jamu gendong keliling datang. Melisa pun meminta mbok jamu itu berhenti dan membeli jamu wangi rapet, membuat Bu Ratmi mengernyitkan kening nya.


"Ciee, neng Meli.."

__ADS_1


"Biar suami gak selingkuh, Bu." Jawab Melisa sambil terkekeh. Padahal, dia meminum jamu ini untuk persiapan karena Arvin akan pulang. Suami nya? Dia lebih betah bersama selingkuhan nya, di bandingkan istri nya sendiri. Ibarat kata, rumput tetangga memang lebih menggoda, itu benar adanya. Karena dia juga lebih tergoda dengan Arvin sekarang.


Melisa pun meminum jamu nya, lalu membayar dan setelah itu Bu Ratmi pulang, begitu juga Melisa yang masuk ke rumah untuk makan siang. Hari ini, rasa nya dia tak perlu memasak untuk makan siang karena masakan yang tadi pagi saja masih utuh, belum tersentuh sama sekali karena Dion hanya pulang untuk mengenalkan Gia lalu pergi setelah Melisa usir. 


Melisa makan dengan lahap, dia harus sembuh. Setidaknya tidak lemas, agar bisa menyambut kepulangan Arvin dengan senyum merekah. Entahlah, mengingat Arvin akan pulang sekarang, hatinya berdebar tak karuan. 


Tengah hari, tiba-tiba saja Melisa terbayang dengan es jeruk. Pasti akan sangat menyegarkan di tengah hari yang panas ini. 


"Arvin dimana ya?"


Melisa mengambil ponsel dan menghubungi Arvin. Tak butuh waktu lama, Arvin langsung mengangkat panggilan sang pujaan hati.


'Hallo, sayangku.'


"Masih dimana, Ay? Jadi pulang gak?" Tanya Melisa dengan harap-harap cemas. Bagaimana kalau Arvin tak jadi pulang hari ini?


'Jadi, ini masih di jalan, yang. Kenapa? Mau apa?' Tanya Arvin peka, ya pria ini terlalu peka.


"Boleh pesen es jeruk gak?" 


'Es jeruk doang, sayang?' Tanya Arvin. 


"Iya, sayang."


'Yaudah, nanti aku beliin.' 


"Makasih ya, sayang. Di banyakin es nya."


'Iya, sayangku.'


"Hati-hati di jalan nya, sayang." Ucap Melisa, Arvin pun mengiyakan. Panggilan pun selesai, Melisa tersenyum manis. Arvin selalu bisa di andalkan kapan pun.

__ADS_1


......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2