
"Nak, kemarilah.." Darren memanggil menantu nya, membuat perasaan wanita itu bercampur aduk. Jujur saja, dia selalu gugup saat harus bicara dengan papah mertua nya ini.
Melisa pun menurut, dia duduk yang sofa yang berseberangan dengan Darren. Pria paruh baya itu terkekeh pelan saat melihat wajah Melisa yang terlihat pucat, jelas sekali kalau dia sedang di landa kegugupan saat ini.
"Jangan gugup, aku takkan menyakiti mu, Nak."
"E-ehh, bukan begitu, Pah. Melisa hanya belum terbiasa saja." Jawab Melisa sambil tersenyum yang terlihat di paksakan. Lagi-lagi, Darren tersenyum lalu menggelengkan kepala nya.
"Kemarilah, duduk di samping papah." Melisa menurut, dia duduk di samping Darren. Pria itu terlihat mengambil sesuatu dari laci yang ada di bawah meja.
Sebuah album poto, Darren mengusap nya dengan perlahan. Lalu tersenyum dan memberikan album poto itu pada menantu nya.
"Apa ini, pah?"
"Ini album poto berisi masa kecil Arvin, Nak." Melisa nampak terkejut, lalu tersenyum dan mulai membuka lembar perlembar album poto itu. Dia mengusap kertas itu dengan lembut.
"Itu papah dan Mama. Saat itu, papah ingat betul kalau Mama ingin melakukan pemotretan saat dia sedang mengandung delapan bulan." Jelas Darren sambil tersenyum. Dia tiba-tiba saja merindukan sosok cantik sang istri.
"Mama sangat cantik ya, Pah."
"Iya, dia sangat cantik. Sama seperti mu, selain cantik wajah nya, hati nya juga cantik." Jawab Darren.
"Ini, Arvin?" Tanya Melisa sambil menunjuk poto bayi yang terlihat sangat menggemaskan.
"Iya, ini Arvin. Poto ini papah ambil saat dia baru saja lahir, lucu bukan?"
"Iya Pah, lucu sekali." Jawab Melisa, dia kembali membuka slide Poto nya dengan perlahan.
__ADS_1
"Wahh, apa ini?"
Sambil terkekeh, Darren menjelaskan kenangan di balik poto itu.
"Arvin memecahkan bedak milik Mama nya, padahal itu bedak nya belum di pakai sama sekali. Jadi, Mama nya menghukum Arvin untuk makan sendiri, tapi ya itu yang terjadi." Jelas Darren. Ya, di poto itu terlihat bayi kecil yang sedang duduk dengan makanan yang mengelilingi nya. Maklum lah ya, nama nya juga bayi. Bisa nya apa sih selain nangis atau menyusu.
"Arvin ternyata senakal ini.."
"Masih ada lagi, nak. Coba saja lihat." Melisa kembali membuka halaman berikutnya, selanjutnya dia dibuat terkekeh oleh poto yang menunjukkan Arvin sedang bermain lumpur. Lumpur yang basah itu di tempel-tempelkan ke tembok rumah.
"Lihat saja, mama nya marah besar saat itu, Nak."
"Tentu saja, kalau Melisa juga pasti marah ini." Jawab Melisa sambil tersenyum.
"Arvin memang nakal, dari semasa dia bayi kenakalan nya sudah terlihat jelas. Lalu saat dia semakin besar, ada-ada saja ulah nya. Dia pernah di lempari botol minum karena iseng memencet bel rumah tetangga, tentu saja itu membuat para tetangga protes sama mama, papah." Jawab Darren, Melisa yang mendengar nya tertawa.
"Ini, pah?"
"Itu saat Arvin di hukum di sekolah karena dia memukul teman sekelas nya, saat itu Mama sudah sakit-sakitan. Hanya berselang dua bulan saja setelah kejadian itu, Mama pergi." Jelas Darren, membuat Melisa mendongak menatap wajah pria paruh baya itu.
Tatapan sendu nya membuat Melisa merasa sakit, gurat kesedihan masih tergambar jelas di wajah tua nya. Terlihat benar, kalau Darren memang sangat mencintai wanita ini.
"Papah sangat mencintai mama nya Arvin, dulu papah tidak punya semua ini. Tapi, mama datang dan mengulurkan tangan nya. Disaat papah terpuruk, hanya dia yang bisa membuat papah bangkit lagi. Tapi, setelah semua berhasil papah dapatkan, dia malah pergi." Lirih Darren.
"Papah.."
"Entahlah, Nak. Sudah puluhan tahun Mama meninggalkan papah, tapi rasa sakit saat di tinggalkan nya masih begitu terasa hingga terkadang membuat papah tak bisa tidur. Papah sudah berusaha untuk melupakan sosok wanita cantik yang terlihat seperti bidadari di mata papah, tapi semua nya gagal."
__ADS_1
"Papah juga sudah beberapa kali mencoba membuka hati untuk wanita lain, tetap saja yang ada di pikiran papah itu adalah Mama. Di tambah lagi dengan Arvin yang tidak setuju, memperkuat niat papah untuk tidak menikah lagi sampai kapan pun." Ucap Darren dengan lirih, kepala nya tertunduk dalam.
Hati nya benar-benar terasa sesak saat ini, Melisa mengusap punggung Darren dengan lembut. Dia pun turut merasakan sakit atas kepergian sang mama mertua yang sudah beberapa tahun silam.
"Papah mencintai Mama kan?"
"Harus nya, kamu tak perlu bertanya lagi, Nak. Jawaban nya, kamu sudah tahu."
"Jangan membebani diri papah sendiri, coba papah pikir kalau Mama melihat papah yang seperti ini, apa Mama akan senang? Tentu tidak kan? Mama takkan senang melihat pria yang di cintai nya seperti ini." Ucap Melisa lirih.
"Cobalah untuk berdamai dengan masa lalu, karena kalau papah terus mengingat-ingat semua nya, papah akan semakin merasa sakit."
"Bukan artinya papah tidak boleh mengingat Mama, tapi jangan terlalu. Karena papah juga harus memikirkan kondisi papah saat ini, fokus sama kesehatan papah aja ya? Tentu nya, papah mau kan main sama cucu papa?" Tanya Melisa. Sejauh ini, Darren memang tidak mau berobat karena dia merasa putus asa.
Tapi, saat mendengar ucapan Melisa. Dia tiba-tiba saja ingin kembali sembuh, ya dia ingin bermain dengan cucu-cucu nya nanti.
"Ya, papah akan berobat agar bisa cepat sembuh."
"Nah, begitu dong. Papah harus sehat pokok nya." Ucap Melisa sambil tersenyum.
Darren menganggukan kepala nya, dia tersenyum manis ke arah sang menantu. Pantas saja Arvin menyukai Melisa, ternyata dia benar-benar di penuhi oleh energi fositif. Putra nya tidak salah memilih pasangan, sudah cantik, pengertian pula.
Melihat Melisa, Darren merasa seperti dia melihat mendiang istri nya. Senyum nya, bahkan wajah nya hampir mirip. Hanya saja, nama dan usia nya yang berbeda.
......
🌻🌻🌻
__ADS_1