
"Sayang.." Panggil Melisa, dia memeluk Arvin yang sedang memasak di dapur dari belakang, menautkan kedua tangan nya di pinggang pria tampan itu.
Arvin tersenyum lalu mengusap tautan tangan sang wanita, lalu menoleh ke samping dan mengecup mesra kening Melisa.
"Sudah bangun, sayang?"
"Heem, udah. Gak nyaman bobo nya." Jawab Melisa dengan manja, Arvin terkekeh lalu mengusap puncak kepala Melisa dengan gemas.
"Ganti lagi pembalut nya, nanti bocor."
"Udah kok, yang."
"Yaudah, tunggu sebentar ya. Ini masakan nya sebentar lagi mateng kok."
"Ayang masak apa?" Tanya Melisa sambil mengintip dari balik punggung tegap Arvin.
"Nasi goreng doang."
"Tapi wangi nya kok bikin laper ya."
"Bagus dong, berarti masakan aku ada potensi rasa nya bakalan enak kalo wangi nya bikin laper."
"Hehe iya, laper yang."
"Sabar ya, sebentar lagi kok." Melisa mengangguk dan membiarkan Arvin memasakan untuk nya. Baru kali ini ada seseorang yang memasak untuk nya, biasa nya kalau pun dia sedang sakit, tak ada yang mau membantu nya. Tapi sekarang, ada Arvin yang selalu membuat nya speechless dengan semua tindakan nya.
Dulu, Dion tak pernah melakukan hal seperti ini. Karena apa? Dia berpikir kalau melakukan semua pekerjaan rumah adalah tugas istri, termasuk memasak. Sedangkan tugas nya, hanya bekerja saja. Padahal bukan begitu, tugas seorang istri hanya mengandung dan melahirkan lalu melayani suami nya dengan baik, sedangkan pekerjaan rumah harus nya di lakukan bersama-sama.
Tapi, gengsi Dion terlalu besar. Jadi, dia tak pernah menyentuh pekerjaan rumah, bahkan untuk sekedar memegang sapu atau kain pel pun tidak pernah sama sekali, dia menyerahkan semua nya pada Melisa.
"Ada yang harus aku bantu, yang?" Tanya Melisa.
"Gak ada, kamu duduk aja sana. Kamu kan lagi sakit." Jawab Arvin.
"Sakit? Aku cuma datang bulan, sayang."
"Tapi sakit kan? Sudahlah, kamu tunggu saja, sayang. Sebentar lagi nasi goreng nya siap."
"Hmmm, yaudah kalo gitu. Makasih ya udah masakin buat aku."
"Sama-sama, sayangku." Jawab Arvin, dia pun membiarkan Melisa melepaskan pelukan nya dan duduk di kursi yang kosong. Tak lama kemudian, Arvin menyajikan sepiring nasi goreng yang terlihat sangat menggugah selera, membuat cacing di perut Melisa semakin meronta meminta di isi.
"Selamat makan, sayang. Pelan-pelan aja makan nya ya, masih panas soalnya."
"Iya, selamat makan juga." Arvin tersenyum, Melisa terlihat tak sabar. Dia langsung menyendok nasi nya, meniup nya sebentar lalu menyuapkan nya dengan lahap.
"Enak?" Tanya Arvin.
"Mantul.." Jawab Melisa sambil mengacungkan kedua jempol nya sambil tersenyum.
"Aaahh syukurlah kalau kamu suka."
"Masakan kamu selalu enak, yang." Jawab Melisa yang membyat Arvin terkekeh, wajah nya berbinar cerah karena senang saat Melisa memuji masakan nya.
"Terimakasih, sayangku."
"Sama-sama, ayo makan lagi." Arvin mengangguk, kedua nya pun makan dengan lahap. Sesekali di iringi dengan candaan yang membuat suasana di meja makan itu terasa lebih hangat.
Bersama dengan Arvin, mampu membuat Melisa melupakan semua masalah yang sedang dia alami. Berkat pria itu juga Melisa bisa membuat langkah besar untuk berpisah dengan Dion, dia yang selalu menguatkan dan memberi nasihat yang membuat Melisa bisa berpikir lebih logis demi kebahagiaan nya. Dia tak mungkin selama nya bertahan dengan hubungan yang tak di inginkan. Bertahan dengan pria yang sama sekali tak pernah menganggap nya berharga, bukanlah hal yang benar.
Kedua nya pun menyelesaikan makan mereka, setelah menghabiskan nasi goreng nya, mereka pun menonton televisi bersama dan tidur dengan saling memeluk satu sama lain layaknya sepasang suami istri, tapi beda nya status mereka bukan suami istri. Karena sang wanita masih terikat dengan suatu hubungan.
"Selamat tidur, sayangku."
"Iya, selamat tidur juga sayang. Have a nice dream, baby."
"Isshh manggil nya jadi baby." Ucap Melisa yang membuat Arvin terkekeh.
"Terserah aku dong, mau manggil kamu apa itu hak aku."
"Iya iya, yaudah yuk bobo." Melisa semakin menduselkan wajah nya di dada bidang Arvin yang polos. Sudah kebiasaan kalau tidur, Arvin tidak pernah berpakaian, hanya mengenakan celana pendek atau bahkan hanya boxer saja. Susah kalau memang sudah kebiasaan.
"Geli, ayang. Kamu mau tidur, apa mancing hasraat aku hmm?"
__ADS_1
"Eehhh, maaf ayang. Habis nya aroma kamu wangi banget, bikin aku nyaman."
"Iya, tapi gerakan kamu itu bikin aku bernafssu, ayang. Nih liat si junior udah bangun, tanggung jawab."
"Tapi, aku kan lagi datang bulan."
"Hisshh, bete deh. Terus ini gimana? Berdenyut kepala atas bawah."
"Aku usap aja ya, mau?"
"Mendingan kamu tidur aja cepet, sebelum aku berubah pikiran dan masukin si junior ke mulut kamu." Jawab Arvin yang membuat Melisa langsung memejamkan mata nya.
Arvin yang melihat itu tergelak saat melihat tingkah Melisa yang sangat menggemaskan bagi nya. Arvin pun mengusap punggung Melisa dengan lembut, dia juga mengecup singkat kening sang wanita dan memeluk nya dengan erat, sesekali dia menarik Melisa agar posisi nya semakin dekat dengan nya.
"Aku mencintaimu, Melisa." Bisik Arvin, lalu kedua nya pun tertidur dengan lelap.
Sedangkan di rumah lain, Dion sedang duduk melamun. Gia yang melihat hal itu pun merasa heran dengan tingkah suami nya. Sepulang dari sidang tadi siang, Dion hanya diam saja tak banyak bicara. Tak seperti biasa nya.
"Mas, kenapa?" Tanya Gia sambil meletakan secangkir kopi di meja, dekat dengan posisi Dion yang sedang duduk termenung.
"Tidak."
"Ayolah, cerita padaku, Mas."
"Kalau aku bilang, aku tak ingin bercerai dari Melisa bagaimana pendapat mu, Gi?" Tanya Dion yang membuat Gia mendengus. Dia sudah tidak tahan untuk pergi dari Dion, justru dia berharap Dion dan Melisa segera bercerai lalu dirinya tinggal menunggu tiga bulan sampai masa Iddah nya selesai, setelah itu dia akan meminta cerai karena dengan begitu tugas dan kesepakatan yang dia buat bersama Arvin selesai sudah.
"Kamu pikir wanita akan suka saat suami nya punya istri lain, Mas? Menurut ku tidak. Kalau Mbak Melisa ingin bercerai, sebaiknya kalian bercerai saja, Mas."
"Kenapa kau bisa mengatakan hal demikian, Gi?" Tanya Dion dengan datar.
"Bukankah rasa nya percuma jika satu orang saja yang menginginkan nya? Jika kamu ingin mempertahankan rumah tangga mu, maka Mbak Melisa kan sebaliknya. Apa kamu mau berjuang sendirian seperti Mbak Melisa selama ini, Mas?"
"Hmmm, entahlah tapi rasa nya aku sangat berat jika harus melepaskan Melisa."
"Ayolah, kamu punya aku sekarang, Mas." Ucap Gia membujuk Dion.
"Hmmm, baiklah. Kau takkan meninggalkan aku kan, Gi?"
"Tentu tidak, memang nya aku mau kemana? Aku disini bersama kamu, Mas." Jawab Gia yang membuat Dion tersenyum kecil, dia sudah terlalu percaya dengan Gia tanpa mengetahui tujuan nya yang sebenarnya. Hanya demi uang, itu saja tidak lebih.
"Ya, ceraikan saja agar kamu bisa fokus hanya padaku, lagi pula aku gak suka berbagi, sayang." Jawab Gia yang membuat Dion luluh lantah seketika. Mulut Gia sangat manis, hingga mampu membuat Dion yakin kalau Gia memang mencintai nya. Padahal tidak sama sekali, ini hanya hubungan bisnis bagi Gia.
"Ohh, sayangku. Baiklah, aku akan menceraikan Melisa." Jawab Dion, dia pun tersenyum lalu merangkul pundak Gia dengan mesra.
"Kalau kamu sudah setuju untuk menceraikan Mbak Melisa, harus nya kamu jangan mempersulit semua nya. Pasrah saja, biarkan Mbak Melisa menang dalam sidang."
"Hmmm, ya baiklah."
"Baguslah, sekarang jangan melamun terus. Kita tidur saja, mau?"
"Aku mau jatah ku, sayang." Ucap Dion yang membuat bulu kuduk Melisa meremang seketika. Jujur saja dia mulai malas melayani Dion, karena apa? Main nya hanya sebentar, dia juga tidak puas karena ukuran junior milik Dion yang kecil membuat nya tidak bisa masuk lebih dalam dan menyentuh titik denyut nya.
"Aku sedang datang bulan, sayang."
"Hmmm, baiklah kalau begitu. Nanti saja setelah selesai kamu datang bulan ya?" Tanya Dion membuat Gia berbinar, artinya dia takkan di sodok oleh Dion selama seminggu depan, yuhuu dia senang sekali.
"Iya, sayang." Jawab Gia, kedua nya pun beranjak dari duduk nya dan masuk ke dalam kamar lalu tidur dengan saling memeluk, lebih tepat nya Dion yang memeluk Gia dari belakang. Karena selama ini kalau tidur, Gia selalu berbaring miring membelakangi Dion.
Awalnya Dion memang merasa tak nyaman karena di rumah, biasa nya Melisa akan tidur sambil miring ke arah nya, atau berbaring terlentang. Tapi, Gia berkilah kalau ini sudah kebiasaan nya. Kalau tidak miring, dia takkan bisa tidur. Jadi, Dion pun hanya pasrah saja. Sampai sekarang, jika tidur mereka selalu seperti ini.
Keesokan hari nya, Melisa menjalani pagi nya seperti biasa nya, Arvin juga sudah pulang ke rumah nya untuk berlari pagi tadi. Sedangkan dia langsung beres-beres rumah, lalu belanja ke tukang sayur dan memasak.
Siang hari nya, saat Melisa tengah bersantai sambil berkirim pesan dengan Arvin karena pria itu sedang ada di kerjaan saat ini, jadi tak bisa datang ke rumah. Maka dari itu mereka berkirim pesan saat ini, agar Melisa juga tidak merasa khawatir.
Saat sedang asik berbalas pesan, Melisa mendengar ada yang mengetuk pintu dengan lirih dari arah luar.
Tok.. tok.. tok..
"Siapa ya?" Gumam Melisa, dia meletakan ponsel nya di atas meja lalu beranjak dari duduknya dan membukakan pintu.
"Siap.." Ucapan Melisa terpotong kala melihat siapa yang sudah mengetuk pintu rumah nya.
"Ibu.." Lirih nya, sedangkan wanita paruh baya itu hanya tersenyum kecil saat melihat Melisa yang terlihat terkejut dengan kedatangan nya.
__ADS_1
"Melisa? Ini kamu kan?"
"I-iya, ini Melisa, Bu." Jawab Melisa sedikit terbata, kedatangan nya terlalu mengejutkan bagi Melisa.
"Kamu terlihat banyak berubah dan terlihat semakin cantik, sayang."
"Aaa, ibu terlalu berlebihan. Mari masuk, Bu." Ajak Melisa, wanita paruh baya itu pun mengangguk dan masuk ke dalam rumah. Melisa juga ikut masuk dan menutup pintu dengan perlahan.
"Mau minum apa, Bu?"
"Teh hangat saja, Nak."
"Sebentar ya, Bu." Melisa pun pergi ke dapur untuk membuatkan minum. Tak butuh waktu lama, secangkir teh hangat tersaji di depan mata.
"Kamu apa kabar, Mel?"
"Baik kok, Bu. Ibu sendiri apa kabar?" Balik tanya Melisa dengan ramah.
"Ibu juga baik."
"Dari sana jam berapa, sama siapa, Bu?"
"Tadi Ibu dari rumah jam empat pagi, Nak. Sendirian aja naik bus, udah kangen banget sama kamu."
"Heemm, baiklah Bu." Melisa merasa bingung, entah harus berekspresi apa di depan ibu mertua nya. Yaps, yang datang saat ini bukanlah ibu nya Melisa, melainkan ibu nya Dion.
"Bagaimana hubungan kamu dengan Dion, apa ada perubahan?" Wanita paruh baya itu menatap Melisa dengan tatapan yang tak biasa.
Melisa mendongak menatap balik wajah ibu mertua nya, lalu menggeleng pelan dan tersenyum getir.
"Tidak ada yang berubah, Bu."
"Lalu, sekarang kemana dia?" Tanya Sarah, ibu nya Dion.
"Mungkin masih mengajar di sekolah, Bu."
"Kok mungkin?"
"Soalnya dia udah beberapa hari gak pulang, Bu."
"Maksud kamu?" Tanya Sarah lagi, membuat Melisa di menunjukkan wajah sendu nya.
"Mas Dion punya istri lain, Bu."
"H-ah, gimana-gimana?"
"Ya, mereka menikah seminggu yang lalu, Bu."
"Kenapa bisa?" Tanya Sarah lagi, dia begitu shock mendengar semua ini. Dia mengira rumah tangga anak nya baik-baik saja, tapi apa ini? Sungguh di luar dugaan.
Melisa pun menjelaskan semua nya dari awal, membuat Sarah terkejut berkali-kali lipat.
"Astaga, nak.."
"Ya, begitulah. Maafin Melisa ya, Bu. Tapi sekarang, Melisa udah gak kuat lagi." Ucap Melisa yang membuat Sarah seketika terdiam. Yang dia herankan, kenapa Dion bisa menduakan Melisa? Padahal, menurut nya Melisa adalah istri yang sempurna untuk Dion. Tapi, ya itulah Manusia terkadang tak pandai bersyukur. Di kasih istri yang cantik, pandai memasak, mengurus nya dengan baik, masih aja cari yang lebih. Ehh, bukan nya dapat yang lebih malah dapat nya yang jauh di bawah istri pertama.
"Ibu heran sama Dion, kenapa bisa dia mencari istri lain? Apa kurang nya kamu sih, sayang?"
"Melisa tidak tahu, tapi ya sudahlah, Bu."
"Lalu, sekarang kamu gimana, Nak?"
"Melisa capek sama sikap Mas Dion, Bu. Maafin Melisa ya, Melisa udah nyerah sama pernikahan ini. Jadi, Melisa mengajukan gugatan cerai ke pengadilan dan saat ini sudah sidang pertama." Lirih Melisa yang membuat hati Sarah terasa sangat sakit.
"Nak, maafin Ibu ya.."
"Kenapa harus minta maaf, Bu. Tidak apa-apa, Melisa baik-baik saja kok." Jawab Melisa yang membuat air mata Sarah tumpah seketika. Betapa bijak dan tabah nya seorang Melisa, perasaan dia tak salah memilihkan istri untuk putra nya, tapi kenapa semua nya jadi begini? Astaga.
"Kalau itu memang yang terbaik, dan perpisahan adalah solusi yang terbaik, Ibu hanya bisa mendukung keputusan kamu. Maafin ibu ya, Nak. Sungguh, ibu merasa bersalah sama kamu karena kesalahan putra ibu." Lirih Sarah yang membuat hati Melisa juga ikut terasa sakit.
"Tak apa-apa, Bu. Tak ada yang harus di maafkan." Melisa tersenyum, Sarah pun langsung memeluk Melisa dengan erat, kedua nya sama-sama menangis tergugu.
.....
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻