
Arvin memeluk Melisa dengan erat, saat ini wanita itu berada di atas tubuh Arvin. Arvin tersenyum nakal, lalu dengan cepat menarik kepala Melisa dan mencium bibir nya.
Melisa pun hanya pasrah saja menerima dan menikmati perlakuan Arvin pada nya, toh dia juga menyukai saat Arvin melakukan ini. Tangan besar Arvin meraup gundukan kenyal di dada Melisa dan memainkan nya.
Wanita itu melingkarkan kedua tangan nya di leher Arvin, posisi nya saat ini sangat menguntungkan bagi Arvin.
"Sayang.." lirih Arvin, mata nya mulai berkabut karena gairaah yang mulai mengambil alih nya.
"Iya, kenapa sayang?" Tanya Melisa, sambil mengusap lembut rahang tegas milik Arvin yang sedikit di tumbuhi bulu-bulu halus.
"Panas.."
"Buka baju nya, sini aku bantu." Melisa pun membantu Arvin membuka kaos nya.
"Ngapain sih, tumben tidur nya pake baju, yang?" Tanya Melisa setelah Arvin menanggalkan pakaian nya.
"Tadi berasa agak dingin, yang." Jawab Arvin.
"Hmmm, sekarang udah gak panas?"
"Masih panas, ini bukan udara nya yang panas."
"Lalu?" Tanya Melisa dengan kening berkerut, karena dia keheranan. Kalau bukan udara nya yang panas, lalu apa?
"Ini aku yang panas, sayang." Jawab Arvin sambil menunjukkan junior milik nya yang sudah berdiri tegak seperti tongkat.
"Nanti malem aja, aku lupa gak bawa baju dinas yang kita beli tadi."
"Gapapa, gak perlu pake baju begituan, yang. Ujung-ujung nya di buka juga." Jawab Arvin, Melisa pun tak bisa berbuat banyak saat tubuh besar Arvin mengungkung tubuh nya.
"Berat, yang."
"Tahan, sayang." Jawab Arvin, dia pun mulai mencumbu leher Melisa dan meninggalkan bekas kemerahan yang membuat leher Melisa seperti macan tutul.
"Ssshhh.." Melisa mendesis pelan saat Arvin menggigit kecil permukaan kulit leher nya dengan gemas.
"Pelan-pelan, yang." Setelah beberapa saat, Arvin pun nekat untuk membuka pakaian yang di pakai oleh Melisa. Wanita itu pun hanya diam saja, membiarkan Arvin melakukan apapun yang dia inginkan.
Arvin menyudahi semua nya, dia langsung mengecup kening Melisa dengan lembut.
"Kita bermain sekarang atau nanti?"
"Sekarang aja, aku sudah basah, yang." Jawab Melisa, Arvin pun tersenyum. Dia membuka seluruh pakaian nya hingga polos, begitu juga Melisa. Dia melucuti pakaian nya sendiri, hingga kedua nya saat ini sama-sama polos.
Arvin kembali menindih tubuh Melisa, dia membelai lembut wajah cantik wanita itu. Melisa juga melingkarkan kedua tangan nya di leher kokoh Arvin. Pria itu menunduk dan kembali mencium bibir wanita itu yang sudah sedikit bertambah volume nya.
"Hmmpphhh.." Melisa sedikit meronta, saat Arvin menekan senjata miliknya masuk ke dalam inti nya dengan perlahan.
__ADS_1
"Aassshhh.." Wanita itu memekik saat junior milik Arvin memasuki inti nya.
"Kenapa, yang? Kamu selalu saja kaget saat dia masuk, padahal ini bukan yang pertama kali nya, sayang." Ucap Arvin, membuat wajah Melisa.
"Aku tetap saja tak terbiasa dengan ukuran nya yang terlalu besar, juga panjang. Ini sesak, sayang." Jawab Melisa sambil tersenyum.
"Tapi, kamu menyukai nya?"
"Tentu, aku menyukai nya. Karena dia selalu saja membuat aku berteriak keenakan."
"Baiklah, ayo kita main." Jawab Arvin, dia pun langsung menggerakan tubuh nya dengan kecepatan sedang, tangan nya juga tak tinggal diam, dia meremaas buah ranum milik Melisa yang ikut terguncang karena gerakan Arvin.
"Aaahhhh…" Melisa mendesaah kuat saat dia berhasil meraih pelepasan nya, padahal baru saja beberapa menit berlalu tapi Melisa sudah keluar.
"Hmmm, hangat.." Lirih Arvin, sambil tersenyum menggoda. Membuat wajah Melisa semakin merona saja di buat nya, dia memalingkan wajah nya tak mau menatap wajah Arvin karena rasa malu nya.
"Tatap aku, sayang." Ucap Arvin, sambil meraih wajah Melisa agar mau menatap nya.
Arvin pun terus memainkan senjata nya dengan kecepatan tinggi, hingga membuat Melisa meremaas seprai karena gerakan Arvin terlalu dalam menusuk milik nya.
"Aaaahhhh, sayang!" Lagi, Melisa mendapatkan klimaaks nya. Belum apa-apa, tapi Melisa sudah keluar dua kali di posisi seperti ini. Padahal, masih banyak gaya-gaya yang ingin Arvin praktekan bersama Melisa hari ini.
"Jangan lemas dulu, sayang. Aku ingin mencoba gaya baru dengan mu."
"Gaya baru apa, sayang?" Tanya Melisa, begini saja sudah sangat membuat nya kewalahan karena junior milik Arvin yang terasa menyodok lubang nya sedalam mungkin.
Pria itu kembali memasukkan senjata nya, lalu kembali bergerak dengan cepat, membuat Melisa menjerit nikmat saat junior milik Arvin terasa mengobok-obook miliknya dengan cepat dan dalam.
"Aaahhh… aahhhh… Sayang!" Melisa mendesaah dengan keras, kedua mata nya terpejam rapat, tangan nya memeluk pinggang Arvin dengan kuat.
"Enak, sayang?"
"Hmmm, di posisi ini milik ku terasa penuh, sayang." Jawab Melisa.
Kedua nya pun menikmati penyatuan mereka dengan gaya-gaya baru yang di praktekan oleh Arvin, membuat Melisa kewalahan saat ini. Bahkan lutut nya terasa bergetar saat ini, dia merasakan lemas di sekujur tubuh nya, dia sudah keluar banyak kali tapi Arvin masih belum mendapatkan pelepasaan nya.
Sedangkan di rumah selingkuhan Dion, pria itu juga baru saja selesai menyalurkan nafssu nya pada Gia, janda muda nan cantik yang dua mingguan ini mengisi kekosongan Dion.
Wajah nya cantik, dengan postur tubuh yang nyaris sempurna, goyangan nya juga mantap. Itulah kata orang, kalau goyangan janda lebih menggoda, karena Gia saja begitu pandai memanjakan Dion. Meskipun dia sering mengeluh, karena apa? Karena pria itu selalu bermain cepat, paling lama hanya lima belas menit saja.
"Sayang, kapan kamu gajian?" Tanya Gia, saat ini dia tengah bersandar manja di pelukan Dion, sambil mengusap dada berbulu pria itu.
"Dua atau tiga hari lagi, kenapa sayang?"
"Aku pengen beli skincare, yang." Jawab Gia sambil tersenyum.
"Beli aja, berapa sih?"
__ADS_1
"Lima ratus ribu." Jawab Gia, membuat Dion terhenyak.
"Hah, mahal amat yang?"
"Ya, kalau mau cantik harus di modalin, yang." Jawab Gia pelan.
"Yaudah, aku gajian nya kan cuma dua juta. Aku kasih kamu tubuh ratus ribu, sisa nya buat Melisa."
"Lho, kok gedean Mbak Melisa sih, yang?" Tanya Gia, dia merasa tak terima saat bagian Melisa lebih besar dari pada dirinya. Padahal, disini dia harus sadar diri karena disini, status nya hanya sebagai selingkuhan. Tidak lebih, jadi otomatis istri sah lebih berhak atas uang suami nya.
"Ya, karena Melisa istri aku, yang. Dia lebih berhak menerima uang itu, lagi pula aku sarapan, makan siang, makan malam juga di rumah, karena kamu gak bisa masak. Kamu cuma bisa muasin aku di ranjang, itu aja." Jawab Dion.
"Jadi, selama ini aku cuma pelampiasan hasraat kamu doang Mas?" Tanya Gia, dia bangkit dari rebahan nya, menatap wajah Dion dengan amarah.
"Ya, bukan begitu sayang. Gini deh, aku bagi dua aja ya? Biar adil, biar kamu gak iri." Ucap Dion akhirnya. Tentu nya, hal inilah yang di inginkan oleh Gia. Dia juga merasa berhak atas uang pria itu, karena dia juga ikut membantu Melisa melayani suami nya.
"Nah, gitu dong."
"Hmmm, ya sudah. Aku mau mandi dulu, lalu pulang."
"Lho, kok pulang sih?" Tanya Gia, dia beranjak dari kasur dan memeluk Dion dari belakang. Meskipun tubuh Dion menguarkan aroma khas, tapi bagi Melisa aroma tubuh Arvin yang maskulin sangat menenangkan.
"Nanti Melisa curiga, yang."
"Enggak, kamu gak boleh pulang dong. Nanti aku tidur sendiri, cukup ya semalam aku udah biarin kamu pulang, Mas."
"Ya sudah iya, jangan merajuk dong. Kamu gemesin kalo lagi gini tuh, aku mandi dulu ya?"
"Yes, makasih sayang." Gia tersenyum manis, dia pun membiarkan Dion masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya yang terasa lengket oleh keringat setelah bermain dengan Gia.
'Mbak Mel, aku membantu tugas mu agar lebih ringan. Setelah ini, aku akan membuat Dion berpaling sepenuh nya dan meninggalkan mu. Lihat saja nanti, aku akan merebut Mas Dion dari mu.' Batin Gia.
Tapi sepertinya, Melisa pun takkan melarang jika Gia untuk merebut Dion dari nya. Karena, dia sudah punya Arvin yang secara tidak langsung jauh lebih baik dalam segala hal dari pada Dion. Jadi, silahkan ambil saja Dion untuk mu, Gia.
........
🌻🌻🌻🌻🌻
VISUAL
Arvino Sanjaya
Melisa Prameswari
__ADS_1
.