SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 44 - SANG PEBINOR


__ADS_3

"Mel.." Panggil Dion lagi, namun nihil tak ada jawaban apapun. Hanya keheningan saja, bahkan tak ada tanda-tanda keberadaan wanita itu di rumah ini.


"Isshh, dia kemana sih? Aneh, sekarang dia sering menghilang tanpa pamit dulu." Gerutu Dion, dia mundar mandir mencari keberadaan istri nya. Dia pun membuka pintu dan pergi ke rumah Arvin, siapa tahu pemuda itu tahu dimana keberadaan istrinya, atau sempat melihat saat Melisa keluar dari rumah. 


Dion mengetuk pintu rumah Arvin, namun pria itu juga seperti nya tak ada di rumah, sudah sore hari pun lampu rumah nya masih padam, gordeng nya juga belum di tutup sama sekali. Kira nya kemana Arvin dan Melisa pergi? Kenapa bisa barengan gak ada di rumah nya?


"Eeh, Mas Dion.." sapa Bu Ratmi pada Dion yang celingukan di depan pintu rumah Arvin. 


"Iya, Bu."


"Lagi ngapain disitu?" Tanya Bu Ratmi, jangan heran kalau dia kepo, karena di daerah ini semua orang sudah tahu kalau Bu Ratmi adalah orang yang paling kepo. 


"Ini nyari Arvin, tapi gak ada." 


"Ohh, nak Arvin pergi tadi. Motor nya juga belum balik." Jawab Bu Ratmi, tadi dia melihat Arvin pergi membawa motor nya menjauhi rumah nya, tepat nya ke arah jalan raya. 


"Yaudah deh, makasih ya Bu."


"Iya, sama-sama. Memang nya kenapa nyariin Nak Arvin?"


"Tadi nya mau nanyain, kali aja lihat Melisa pergi gitu." Jawab Dion.


"Tadi pagi, Neng Meli memang pergi. Dari sini nya barengan sama Nak Arvin. Tapi, dia sudah pulang kok tadi, gak lama pergi nya. Belum lihat dia keluar lagi." Jelas Bu Ratmi membuat Dion mengernyit.


"Kemana, Bu?" Tanya Dion.


"Kata nya sih ke pasar, mau beli perhiasan. Soalnya, kan habis menang arisan di Bu RT." Jawab wanita paruh baya itu, membuat Dion semakin heran. Jadi istri nya ikut arisan di Bu RT? Tapi, kenapa dia tak mengatakan hal itu, dia juga tak meminta atau mengeluh yang yang di berikan kurang, atau minta tambahan. 


Istri nya semakin membuat nya heran, dari mana dia punya uang untuk membayar arisan? Masalah yang smoothing dan membeli skincare saja belum menemukan jawaban nya, sekarang malah tambah lagi dengan arisan. Dari mana Melisa punya banyak uang untuk membeli semua itu?


"Kalau boleh tahu, istri saya ikut berapa nomor arisan nya, Bu?" Tanya Dion penasaran. 


"Kalau gak salah sih ikut empat nomor deh, soalnya setiap hari minggu, Neng Meli tuh bayar nya seratus ribu." 


"Ohh, ya sudah. Terimakasih ya, Bu."

__ADS_1


"Iya, Mas." Jawab Bu Ratmi. Dion pun masuk ke dalam rumah dan menutup pintu nya dengan perlahan. Kira nya, dari mana istri nya memiliki uang untuk membayar uang arisan setiap minggu nya, tapi yang membuat semakin aneh itu kenapa dia tak meminta uang pada nya? Jadi, dari mana Melisa mendapatkan semua uang itu?


Penampilan istri nya juga berubah drastis, bahkan hampir berubah seratus delapan puluh derajat. Tak ada Melisa yang kucel dan dekil, bau dapur atau bau minyak angin sekarang. Wanita itu selalu wangi lotion dan parfum saat dia pulang, pakaian nya juga berbeda-beda setiap kali dia pulang pasti selalu memakai baju yang baru.


"Melisa, kau membuat aku pusing. Tak mungkin kau selingkuh dari ku, kan?" Gumam Dion sambil menggelengkan kepala nya. Tak habis pikir dengan sosok wanita itu, tak mungkin kan kalau Melisa menggunakan pesugihan, lalu dia yang akan di jadikan tumbal nya? Membayangkan nya saja, Dion sudah bergidik, bulu kuduk nya tiba-tiba saja berdiri seketika.  


"Tidak, tidak mungkin kalau Melisa menjadikan aku tumbal pesugihan kan?" 


Sempat-sempat nya, Dion berpikir demikian padahal masih banyak kemungkinan, perselingkuhan misalnya. Seperti yang dia lakukan. Beda nya, Melisa di berikan uang oleh Arvin. Kalau Dion, memberikan uang pada Gia, selingkuhan nya yang cantik. 


Dion tak mau banyak berpikir, dia pun memilih pergi mandi saja. Dia akan mengguyur tubuh nya dengan air dingin agar lebih segar dan bisa berpikir lebih jernih. 


Kesempatan itu, di gunakan oleh Arvin untuk keluar dari kamar Melisa dan secepat kilat pulang ke rumah nya, sebelum Dion keluar lagi dari kamar mandi. 


Sebelum keluar dari rumah Melisa, Arvin juga sempat mengecup mesra kening Melisa, wanita itu juga tahu kalau Arvin pulang karena dia tak sepenuh nya tertidur. Tapi, dia kelelahan jadi memilih tetap berbaring saja di kamar itu. 


Setelah selesai membersihkan tubuh nya, Dion pun masuk ke kamar dan berpakaian. Dia makan malam sendirian, namun dia di buat heran saat melihat Melisa baru keluar dari kamar.


"Dari mana aja kamu, Mel?"


"Tadi aku berganti pakaian dari sana, kamu gak ada, Mel. Aku nyariin kamu lho, tapi kamu gak ada."


"Emang kenapa nyariin aku, Mas? Biasa nya juga kamu gak peduli sama aku." Jawab Melisa datar, dia duduk di hadapan Dion. Wanita itu bahkan dengan berani menatap langsung ke arah suami nya, padahal biasa nya Melisa tak berani melakukan hal itu.


Benar-benar, Melisa menjelma seperti orang lain saat ini. Apa penyebab nya? Entahlah, hanya Melisa yang tahu. Namun, yang Dion khawatirkan adalah bagaimana jika Melisa berontak dari cengkraman nya? Hanya itu saja, dia takkan rela jika seandainya Melisa meninggalkan nya sebelum dia puas membuat nya menderita.


"Ini, uang gaji dari sekolah." Dion menyodorkan amplop coklat berisi uang satu juta ke depan Melisa. Wanita itu menerima nya dan langsung membuka nya, kening nya mengernyit saat menghitung jumlah uang nya jauh berkurang.


"Kenapa hanya segini, Mas? Ini hanya setengah gaji mu, kemana separuh nya lagi?" Tanya Melisa lirih, namun tatapan nya terlihat sangat tajam.


"Ada masalah di sekolah, Mel. Jadi, gaji nya di tahan separuh nya." Jawab Dion beralasan. Padahal, tanpa harus berbohong pun Melisa tahu kalau yang setengah nya lagi sudah Dion berikan pada selingkuhan nya.


"Ohh, ya sudah. Ini aku simpan buat kebutuhan sehari-hari, kalau kurang nanti aku minta lagi."


"Iya, Mel."

__ADS_1


"Tumben kamu ngasih gaji kamu ke aku? Padahal, biasa nya kamu cuma ngasih ke aku seperlu nya." Cetus Melisa dengan sindiran yang membuat Dion mendelik kesal. 


"Pengen aja, pusing aku ngasih kamu setiap hari. Kalo udah aku kasih segitu, tinggal pandai-pandai nya kamu aja ngatur uang nya biar cukup."


"Segini mana cukup buat sebulan." Ucap Melisa sedikit ketus, lalu beranjak dari duduk nya lalu masuk ke kamar untuk menyimpan uang itu. Dia khawatir kalau Dion akan mengambil nya lagi karena bujukan selingkuhan nya, jadi dia menyimpan nya di tempat yang paling aman. 


"Mel.."


"Ya, kenapa Mas?" Tanya Melisa saat melihat suami nya datang mendekat. 


"Kamu sedang bersih kan?"


"Memang nya kenapa?" Tanya Melisa sambil mundur ke belakang saat suami nya semakin mendekat. 


"Pake nanya, ya mas pengen jatah malam."


"Enggak dulu, aku lagi menstruasi." Jawab Melisa beralasan. Padahal, dia merasa lelah setelah bermain dengan Arvin.


"Kamu serius? Tapi, ini masih awal bulan kan. Biasa nya kamu menstruasi itu akhir bulan."


"Ya, mana aku tahu kalau bakalan datang sekarang, Mas. Kan gak bisa di prediksi kapan datang nya." Jawab Melisa lagi.


"Ohh, yaudahlah kalo gitu. Aku tidur saja." Jawab Dion lesu. Dia pun langsung berbaring di atas ranjang.


"Masa habis makan langsung tidur sih? Buncit nanti perut kamu, Mas."


"Biarin." Jawab Dion acuh, dia asik memejamkan mata nya dan akhirnya tertidur dengan nyenyak tanpa menghiraukan apapun. Dia tidur dengan cepat, mungkin karena efek ke kenyangan makan dan efek kebanyakan berbohong nya.


"Cihh, pake bilang di tahan segala. Tau nya di pake biayain selingkuhan, modus kamu udah ketahuan, Mas. Aku tertawa jahat aja dari sini." Gumam Melisa sambil tersenyum jahat. 


Dia pun memilih pergi ke dapur untuk makan malam, namun dari jendela dia melihat Arvin juga tengah makan. Akhirnya kedua nya pun makan dengan saling berhadapan, meskipun terhalang jendela dan tembok rumah, tapi kemesraan kedua nya tak bisa di lewatkan. Maklum lah, kedua nya sedang berada di masa-masa bucin. Jadi, harap di maklumi.


......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2