SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 36 - SANG PEBINOR


__ADS_3

Setelah selesai nyalon, kedua nya juga sempat mampir untuk makan bakso di kedai yang terkenal dengan rasa bakso nya yang enak, terlihat dari pengunjung yang cukup ramai. 


"Yahh, antri yang." Keluh Melisa lirih, perut nya sudah sangat lapar saat ini. Sudah terlambat untuk makan siang, karena sekarang sudah pukul dua siang. Tadi, mereka berangkat jam tujuh pagi, selesai jam setengah dua, dan saat ini malah harus mengantri di tukang bakso.


"Nyari tukang bakso lagi atau mau nunggu disini aja?" Tanya Arvin, dia takkan tega membiarkan wanita nya kelaparan. Namun sekarang, penampilan Melisa jauh lebih cantik dari biasa nya dengan poni ala Korea yang menghiasi kening nya. Tak sia-sia Arvin mengeluarkan uang hampir satu juta rupiah demi menyulap penampilan wanita nya agar lebih cantik.


"Penasaran disini, yang." 


"Yaudah, tahan sebentar ya?" Ucap Arvin sambil mengusap puncak kepala Melisa dengan lembut. Melisa mendongak, lalu menganggukan kepala nya. Wanita itu menyandarkan kepala nya di perut Arvin, karena Melisa duduk di kursi yang tersedia, sedangkan Arvin memilih berdiri sambil merangkul mesra kepala wanita cantik itu.


"Yang.."


"Iya, kenapa sayang?" Tanya Arvin lirih.


"Haus.." 


"Iya, sebentar ya sayang. Mau minum apa?"


"Es jeruk, kayak nya seger." Jawab Melisa sambil tersenyum kecil. 


"Dimana ya? Kamu tunggu disini ya, aku nyari tukang jus dulu. Kalo udah di panggil, kamu pesen aja dulu." 


"Iya, jangan lama. Aku takut." 


"Iya, sebentar kok, yang." Ucap Arvin menenangkan wanita nya. Melisa pun mengangguk, Arvin pun pergi dengan motor nya untuk mencari tukang jus yang paling dekat.


Melisa pun duduk sendirian, dia celingukan. Jujur saja, dia selalu merasa khawatir jika berada di tempat yang ramai sendirian. Dia berani meninggalkan rumah karena ada Arvin bersama nya, tapi sekarang dia meninggalkan nya ya meskipun itu karena ulah nya sih, pake minta es jeruk segala. 


"Hay, Nona.." Sapa seorang pria tinggi, bertatto dan wajah nya nampak sangar.


"Si-apa ya?" Tanya Melisa.


"Hmm, saya ingin berkenalan." Jawab nya dengan senyuman yang nampak mengerikan bagi Melisa. Wanita itu memilih memalingkan wajah nya ke samping, dia membiarkan saja pria itu bicara sendiri tanpa menghiraukan nya.

__ADS_1


"Sendirian aja, Neng?" Tanya nya lagi, namun Melisa memilih diam saja. Dia tak mau menjawab pertanyaan pria yang sok akrab itu.


"Neng."


"Saya sama pacar saya, maaf bisa gak jangan ganggu saya, saya risih!" Jawab Melisa, akhirnya kesabaran nya runtuh juga ketika pria itu terus saja memanggil nya.


"Wiss, gak usah galak-galak dong cantik." Ucap nya sambil mencolek dagu Melisa dengan lancang.


"Jangan kurang ajar ya!" Pekik Melisa sambil berdiri, dia merasa pria di depan nya begitu merendah kan nya.


Mendengar suara Melisa, jelas saja semua tatapan orang yang berada disana menatap ke arah Melisa dan pria itu. 


"Ada apa ini?" 


"Sayang.." Melisa langsung berlari dan memeluk Arvin yang baru saja datang. 


"Lho, kamu kenapa yang?"


"Dia godain aku, yang!" 


Arvin melangkah mendekat dan tanpa ragu langsung memukul wajah pria itu dengan kuat, hingga membuat nya tersungkur ke tanah. Arvin meraih kerah kemeja yang di pakai pria itu dan kembali melayangkan pukulan di wajah nya.


"Berani sekali kau menyentuh wanita ku! Katakan, tangan mana yang kau gunakan untuk menyentuh nya hah?" Teriak Arvin, saat dia seperti bukan Arvin yang Melisa kenal. Arvin yang saat ini terlihat seperti orang yang berbeda. 


"Sa-yang, sudah.." Melisa berusaha menenangkan Arvin yang sudah di kuasai oleh amarah dengan menarik tangan nya.


"Apa yang dia sentuh, sayang?"


"Tidak apa-apa, hanya dagu saja." Jawab Melisa sambil terus menarik lengan sang kekasih agar mau melepaskan tangan nya dari kerah pria yang sudah mengganggu nya. Sungguh demi apapun, reaksi Arvin sangat di luar dugaan. Dia tidak menyangka kalau Arvin akan semarah itu hanya karena pria itu memegang dagu nya saja.


"Apa? Brengseek!"


"Sayang, sudah cukup." 

__ADS_1


"Sialan! Kalau bukan karena wanita ku, aku sudah membunuh mu brengseek!" 


Arvin pun melepaskan cekalan tangan nya di leher pria itu lalu menarik Melisa pergi dengan amarah yang menggebu-gebu, bahkan wajah putih nya memerah sepenuh nya saat ini. Rahang nya mengeras menahan amarah yang merasuki nya, dia tak terima saat wanita nya di sentuh tangan pria lain. 


"Sialan, kalau saja dia berani melawan pasti aku sudah membunuh nya."


"Sayang, kamu sudah keterlaluan. Menghajar orang lain hanya karena dia menggoda ku." 


"Hah, hanya? Kamu bilang hanya? Aku tak terima ada pria lancang yang menyentuh wanita ku! Tak ada yang boleh menyentuh wanita ku kecuali aku!" Tegas Arvin membuat Melisa menciut.


"A-ku minta maaf, sayang."


"Maaf? Untuk apa?" Tanya Arvin, dia berbalik dan menatap wajah Melisa yang nampak tertunduk.


"Kalau saja aku tak ikut, mungkin ini semua takkan terjadi, dan kamu tidak perlu mengotori tangan mu." Ucap Melisa lirih. 


"Justru aku yang minta maaf, sayang. Kalau saja aku tak meninggalkan mu, pasti ini takkan terjadi. Kamu pasti takkan di rendahkan pria lain."


"Ayo, kita pulang saja. Aku lelah, ingin tidur."


"Bukan nya kamu lapar, sayang?" Tanya Arvin.


"Tidak, aku pusing, yang."


"Ini es jeruk nya." Arvin memberikan es jeruk pada Melisa. Dengan senyum manis, wanita itu langsung menerima nya dengan cepat.


"Makasih, ayang." 


"Sama-sama, sayang. Maaf ya, kamu gak jadi makan bakso."


"Iya, gapapa kok. Pulang aja yuk?" Ajak Melisa. 


"Iya, sayang." Arvin mengangguk dan mereka pun pulang tanpa makan siang terlebih dulu. Tadi, mereka juga sempat singgah di pasar untuk membeli celana pesanan Dion, juga Arvin membeli beberapa kaos dan celana pendek, sedangkan Melisa membeli dalaaman dan baju dinas atas rekomendasi Arvin.

__ADS_1


......


🌻🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2