SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 37 - SANG PEBINOR


__ADS_3

Sesampai nya di rumah, Melisa langsung rebahan di atas ranjang. Namun, perut nya berdemo meminta segera di isi, akhirnya dengan malas dia pun kembali beranjak dari kasur empuk itu ke dapur. Dia membuka tudung saji dan seketika merasa shock saat melihat tak ada apapun disana.


Padahal tadi, seingatnya dia memasak cukup banyak untuk sekalian makan siang, tapi sekarang malah tudung saji itu kosong melompong. Bahkan di magic com pun tak ada nasi sedikit pun. 


"Astaga, kemana pergi nya nasi dan lauk yang aku masak tadi?" Gumam Melisa, dengan lemas dia pun harus memasak nasi lagi. Melisa membuka kulkas, lalu mengambil beberapa sayuran dan bahan lain nya, dia akan memasak tumis sayur saja yang simpel dan cepat.


"Sayang.." panggil Arvin, pria itu masuk ke dalam rumah dari pintu belakang seperti biasa nya.


"Iya, sayang."


"Lagi masak apa, yang?"


"Tumis sawi aku campur sama telur, lapar banget aku, yang. Mana di rumah gak ada nasi, lauknya juga raib." Jawab Melisa sedikit kesal, dia mengaduk masakan di wajan dengan sedikit emosional.


"Lho, pada kemana? Gak mungkin di makan kucing kan, yang?" Tanya Arvin heran.


"Apa iya kucing bisa buka magic com, yang?" Balik tanya Melisa, membuat Arvin terdiam. Benar juga, apa bisa kucing membuka magic com? 


"Lalu, kemana?"


"Di bawa Mas Dion ke rumah gundik nya kali." Jawab Melisa ketus.


"Hmmm, kebiasaan egois nya gak ilang-ilang. Padahal jangan di habisin, gak mikir istrinya belum makan." Arvin juga ikut kesal mendengar ucapan Melisa. Dion memang benar-benar harus di beri pelajaran agar isi kepala nya sedikit mencair biar gak beku-beku amat.


"Sudahlah, kamu udah makan belum, yang?" Tanya Melisa, dia menyajikan tumis sawi dan telur di atas piring, lauknya cukup untuk berdua. Tak lupa, Melisa juga masih punya stok sambal cumi buatan nya.


"Sebentar, aku ada ayam goreng di rumah." Arvin pun berlari ke rumah dan mengambil ayam goreng yang tadi dia buat sebelum berangkat nyalon bareng Melisa. Untung saja, kalau tidak kasian sekali wanita nya. 


"Ini, sayang. Ayo makan." Ucap Arvin sambil meletakan piring berisi ayam goreng buatan nya.


"Kamu gak makan?" Tanya Melisa.


"Sudah, aku sudah makan, sayang. Kamu saja, aku nemenin aja ya."


"Hmmm, kenapa makan duluan?" Tanya Melisa lagi, dia mengambil nasi secukupnya lalu duduk di samping Arvin.


"Maaf ya, besok kita makan bareng. Atau makan malam nanti, gimana?" 


"Lihat nanti aja ya, yang. Kalau situasi nya memungkinkan, aku nginep lagi di rumah kamu. Kangen, pengen di peluk hehe." Jawab Melisa sambil cengengesan.


"Sama, aku juga kangen, yang. Pengen anu lagi, boleh ya? Aku dah puasa lho kemaren."


"Baru satu hari lho, belum lagi nanti kalo aku datang bulan, puasa nya satu minggu." Ucap Melisa sambil terkekeh, sedangkan Arvin sudah menekuk wajah nya. Tak terbayangkan jika nanti dia harus berpuasa satu minggu, cukup lama juga. Karena seminggu itu tujuh hari, kalau cuma tiga hari mungkin masih oke.


Dimana memang nya ada satu minggu yang hanya tiga hari? Perasaan gak bakal ada. 

__ADS_1


"Aku gak mau kalo seminggu nya tujuh hari, yang. Tapi kalo seminggu nya cuma sehari sih oke." Jawab Arvin.


"Lho, dimana memang nya ada yang seminggu cuma sehari? Ngaco kamu mah, yang." 


"Kalo tujuh hari kan kelamaan, aku mana kuat." Jawab pria itu sambil menelungkupkan kepala nya di atas meja.


"Biasa nya juga kan gak main, atau kamu suka beli di luar sana? Soalnya pas pertama aja kamu udah pro banget main nya." 


"Idih, fitnah itu. Mana ada! Aku gak suka jajan begituan, apalagi bekas orang. Jijik aku!" Jawab Arvin dengan ketus.


"Ya kan siapa yang tahu, soalnya kamu keliatan udah pro gitu main nya."


"Aku cuma nonton di hape, kalo lagi pengen paling main solo aja di kamar mandi." Jawab Arvin sambil terkekeh.


"Heh yang bener? Main pake tangan gitu?"


"Iya, tapi kalo sekarang aku lebih milih masukin ke punya kamu aja. Rasa nya lebih enak masuk langsung, dari pada pakai tangan." Jawab Arvin, membuat Melisa mendelik.


"Kenapa, kok gitu? Mulai sekarang, di larang mendelik sama calsu." 


"Calsu apaan?" Tanya Melisa, dia mana paham dengan istilah itu.


"Calon suami dong, apalagi."


"Isshh, emang nya aku mau nikah sama kamu?" Goda Melisa.


"Ehhh iya, aku belum konsultasi tentang kontrasepsi sama kamu." 


"Hmm, maksud kamu?" Tanya Arvin pelan. 


"Gini, aku kan sekarang gak pakai KB. Menurut kamu, aku pake KB suntik atau pil aja ya?" 


"Jadi, kamu gak pakai KB yang?"


"Pake sih, tapi sejak berhubungan sama kamu, aku gak pake KB lagi. Menurut kamu, aku mendingan pake KB aja sekarang?"


"Kalau aku pinta kamu jangan pakai KB gimana?" Tanya Arvin. Meskipun dia tak setuju jika sang wanita mengenakan kontrasepsi, karena jujur saja dia sudah ingin punya anak yang lucu dan menggemaskan.


"Tapi, aku kan punya suami, yang."


"Lalu?" Tanya Arvin.


"Eemmm…" Melisa bingung, dia harus mengatakan apa pada Arvin.


"Kalau pun semisal nya itu bukan anak aku, tapi anak kamu sama suami kamu, aku gak akan pernah mempermasalahkan itu sayang. Tapi ya, syukur-syukur kalau itu anak aku sendiri." Jelas Arvin.

__ADS_1


"Jadi, gimana?"


"Kamu gak usah pake kontrasepsi apapun, sayang. Aku ingin punya anak, tapi jika kamu belum mau, aku gak bakalan maksa kok." Jawab pria itu dengan bijak. Dia tak bisa memaksa Melisa untuk mau mengandung anak nya, apalagi status mereka saat ini. Melisa juga masih sah menjadi istri pria bernama Dion.


"Cara kamu yakinin diri sendiri, kalau itu beneran anak kamu gimana?"


"Aku gak peduli, sayang. Meskipun itu bukan anak kamu sama aku, yang penting dia lahir dari rahim kamu, aku bakalan menyayangi dia seperti anak aku sendiri, sayang." 


"Beneran ya ini?"


"Beneran lah, tapi emang nya kamu mau punya anak sama suami kampreet mu itu, yang?" Tanya Arvin sambil mengambil kacang yang ada di dalam toples dan mengambil nya, sedangkan Melisa baru saja selesai makan.


"Semoga aja sih enggak, aku gak mau. Apalagi dia nya selingkuh sekarang, makanya itu aku selalu pake KB. Tapi setelah berhubungan sama kamu, aku enggak pake KB lagi kebetulan waktu itu habis, malah kelupaan sampe sekarang. Tapi, aku belum di sentuh lagi sama Mas Dion kok." Jelas Melisa panjang lebar.


"Hmmm, yaudah. Aku gak larang kamu berhubungan sama suami kamu kok, cuma aku saranin setelah bersetubuuh ada baiknya kamu langsung pipisin aja." 


"Aku nya yang gak mau, yang. Kok sekarang jadi gak nafssu, gitu."


"Ya jelas gak nafsuu lah, burung nya kecil. Kamu kan udah ketagihan punya aku yang gede kayak terong ungu." Jawab Arvin sambil tersenyum menggoda. Ya bener juga sih, toh gapapa lah. Kalau pun dosa karena sudah berselingkuh dan tak mau melayani suami nya sendiri, lihat dulu suami nya macam apa? Dia juga suami tak setia.


"Dih kamu tuh ya."


"Btw, suami kamu kemana, yang?" Tanya Arvin, sejak dia datang kemari tadi tak melihat keberadaan pria itu di rumah. 


"Gak tau, ke rumah selingkuhan nya kali. Ngabisin lauk sama nasi, padahal kan harusnya kalo mau selingkuh modal sendiri jangan ngambil yang ada di rumah." 


"Hmm, gapapa lah. Kita bisa bebas ngobrol gini, eehh bibir aku gatel." Ucap Arvin sambil berjalan mendekat ke arah Melisa yang sedang berdiri membelakangi nya, karena saat ini dia tengah mencuci piring bekas nya makan.


Arvin memeluk Melisa dari belakang, menyandarkan dagu nya di pundak wanita itu dengan manja.


"Bibir kamu gatel kenapa?"


"Makan kacang." Jawab Arvin.


"Kamu alergi itu, sudah tau alergi kenapa tetep di makan, yang?" Tanya Melisa heran dengan kelakuan Arvin.


"Hehe, sengaja." Jawab Arvin, tangan nya mulai beraksi dengan menyusup ke dalam pakaian yang di kenakan oleh Melisa.


"Sengaja biar apa, hmm?" 


"Biar bisa ciuman dong." Jawab Arvin, dia membuat wajah Melisa melirik ke arah nya, dengan cepat Arvin mencium bibir Melisa dengan lembut, melumaat nya dan menyusupkan lidaah nya untuk mengabsen setiap inchi di dalam mulut Melisa. 


"Hmpphh…" Melisa meronta, namun tangan kekar Arvin memeluk nya dengan sangat erat, hingga membuat Melisa akhirnya pasrah saja saat Arvin terus saja mencium nya dengan liar, tangan nya juga ikut beraksi dengan meremaas lembut buah kenyal milik Melisa, memilih puncak kecoklatan nya dengan gemas, membuat Melisa bergerak-gerak tak karuan karena kegelian.


.......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2