
Arvin terus menggenggam tangan Melisa yang terasa dingin saat ini, bahkan berkeringat. Pria itu mengerti benar kalau saat ini wanita nya pasti sedang merasakan kegugupan yang luar biasa. Bagaimana tidak gugup? Dia akan bertemu orang tua dari pria yang dia cintai.
"Tenanglah, sayang."
"Iya, sayang." Jawab Melisa lirih, Jo mengendarai kendaraan beroda empat itu dengan fokus. Sesekali dia mendengarkan pembicaraan kedua sejoli di bangku belakang itu.
Hingga hampir setengah jam kemudian, mereka pun sampai. Jo memarkir mobil nya di parkiran, pria itu keluar lebih dulu dan membukakan pintu untuk Arvin.
Arvin keluar dari mobil, lalu berjalan memutar dan membukakan pintu untuk wanita pujaan nya. Melisa menghela nafas nya, mencoba mengusir segala kegugupan dan ke khawatiran yang menghantui nya sekarang ini.
Pria itu menyambut Melisa dengan mengulurkan tangan dan senyuman manis nya. Seolah mengatakan kalau semua nya akan baik-baik saja, dia yang akan melindungi Melisa, apapun cara nya.
Melisa menerima uluran tangan Arvin dan dia keluar dari mobil, Jo dengan sigap menutup kembali pintu mobil. Pasangan itu berjalan dengan perlahan, Melisa terlihat takjub dengan bangunan yang berdiri megah di depan nya.
Rumah bernuansa serba putih dengan dua lantai. Terlihat sangat bersinar saat tersinari matahari, Melisa bahkan sempat akan membuka sendal nya kalau saja Arvin tidak mencegah nya.
"Sayang, jangan begitu. Pakai saja sendal nya."
"Tapi, ini bersih sekali. Apa tidak apa-apa pakai sendal ke dalam?" Tanya Melisa, Arvin tersenyum lalu menggelengkan kepala nya. Dia menunjuk maid yang berlalu lalang, mereka bahkan punya sepatu khusus untuk bekerja.
"Iya kan?"
"Hmmm, ya sudahlah." Jawab Melisa, Arvin pun kembali membawa wanita itu masuk ke dalam rumah mewah itu. Di ruang tamu, seorang pria paruh baya sudah duduk dengan cangkir kopi di depan nya.
"Arvin.."
"Selamat siang, pah." Jawab Arvin dengan datar. Pria paruh baya itu beranjak dari duduk nya dan memeluk putra nya, tapi Arvin tidak membalas pelukan sang papa sama sekali, tangan nya malah terus menggenggam tangan Melisa dengan erat. Meskipun Melisa meronta meminta di lepaskan, tapi kekuatan tangan Arvin jauh lebih kuat hingga akhirnya dia pun pasrah menerima perlakuan Arvin.
"Kau pulang, Nak?"
"Ya, aku pulang untuk sementara waktu. Aku pulang bukan tanpa tujuan." Jawab Arvin, membuat Darren mengernyit. Lalu tatapan nya beralih pada sosok wanita yang berdiri dengan canggung di samping putra nya.
"Siapa wanita ini, Vin?"
"Dia Melisa, calon istri Arvin." Jawab Arvin tegas, membuat kedua mata Darren membeliak.
"Maksud mu?" Tanya Darren, pikiran nya mendadak tidak bisa berpikir rasional.
"Tegakan wajah mu, sayang." Ucap Arvin, perlahan Melisa mendongakan kepala nya. Dia memberanikan diri menatap wajah Darren yang menatap nya dengan tajam.
"Jangan menatap wanita ku seperti itu!"
"Kau memilih dia? Lalu bagaimana dengan Dara?" Tanya Darren. Dara adalah wanita yang di pilihkan oleh Darren untuk mendampingi putra nya. Ya, Dara adalah gadis yang di jodohkan dengan Arvin dan memicu kemarahan Arvin hari itu.
"Aku tidak menyukai nya, aku menyukai Melisa." Jawab Arvin.
"Lalu, bagaimana dengan orang tua nya? Papah tak sanggup mengatakan nya, papah malu, Arvin. Sekarang kau membawa wanita seperti dia yang sudah jelas-jelas berbeda dengan kita? Entah dari mana kau mendapatkan wanita seperti ini." Ucap Darren, membuat Melisa mendongak seketika. Sakit? Ya, dia sakit saat mendengar perkataan orang tua Arvin. Harus nya, dia sudah bisa menduga hal ini karena perbedaan antara mereka sangat jauh.
"Dari awal, aku tak meminta papah untuk menjodohkan aku. Aku bisa mencari wanita idaman ku sendiri, papah tak berhak menentukan aku harus menikah dengan siapa karena hati ku bisa memilih sendiri wanita seperti apa yang aku inginkan!" Tegas Arvin.
"Cukup Arvin, jangan bertindak egois seperti ini."
"Niat ku kesini hanya untuk mengenalkan Melisa sebagai calon istri ku, bukan untuk berdebat, pah."
"Bagaimana bisa kamu membawa wanita sedangkan papah sudah memilihkan wanita yang tepat untukmu, Arvin!"
"Jangan pernah meninggikan suara mu di depan ku! Aku tak takut dan takkan pernah takut dengan semua yang sudah kau katakan. Cukup selama ini kau selalu mencampuri urusan ku, tapi untuk masalah hati aku punya pilihan sendiri." Jawab Arvin membuat Darren mengepalkan kedua tangan nya.
"Sekali lagi kau mengatakan hal semacam itu padaku, aku tak segan mencoret nama mu dari kartu keluarga dan daftar warisan, Arvin!"
"Lakukan saja, dari awal aku tak suka menjadi pewaris mu. Lakukan saja apa yang kau inginkan, aku tak peduli. Aku mencintai Melisa dan akan menikahi nya segera setelah masa Iddah nya selesai." Kedua mata Arvin menyalak tajam menatap sang papah.
Darren terlihat seperti terkejut, saat mendengar perkataan Arvin tentang masa Iddah, itu artinya wanita yang di bawa oleh putra nya itu berstatus janda?
"Dia janda, Arvin?"
"Lalu?" Tanya Arvin membuat Darren tak habis pikir dengan apa yang ada di pikiran putra nya, kenapa dia bisa memilih seorang janda dari pada wanita pilihan nya yang masih berstatus gadis?
"Menikahlah dengan Dara, agar kehidupan mu lebih terjamin, Arvin. Kau terbiasa hidup dengan bergelimang harta, apa kau bisa hidup tanpa semua itu?"
"Aku bisa melakukan apapun asal itu bersama Melisa." Jawab Arvin tegas.
__ADS_1
"Jangan di butakan cinta, Arvin. Hidup tak se simple itu, kau juga harus menafkahi istri mu itu. Dari mana kau akan memberikan wanita itu makan jika tidak punya pekerjaan?"
"Aku akan membuktikan kalau aku bisa menghidupi istri ku dengan cara ku sendiri." Jawab Arvin membuat Darren murka.
"Cukup Arvin, papah tak suka kamu yang keras kepala seperti ini. Tinggalkan wanita itu atau papah takkan menganggap mu sebagai anak."
"Never, aku takkan pernah meninggalkan Melisa hanya karena ancaman konyol mu itu." Jawab Arvin, dia mengeratkan genggaman tangan nya pada tangan Melisa. Melisa menatap wajah tampan Arvin dari samping, pria ini terlihat sangat memperjuangkan dirinya bahkan dari sang ayah.
"Baiklah, kalau begitu lebih baik kau pergi dari rumah ini dan jangan pernah menginjakkan kaki mu disini."
"Dengan senang hati, hiduplah sendiri dengan harta mu, karena bagi mu harta dan kekuasaan lebih penting dari pada kebahagiaan anak mu sendiri. Jika kau sakit, aku harap kau bisa mengurus dirimu sendiri dan jangan mencari aku." Ucap Arvin sebelum dia keluar dari rumah dengan menarik tangan Melisa untuk keluar dari rumah mewah namun tak pernah ada kehangatan disana.
"Sayang.."
"Besok kita pulang ke desa, maaf karena perkataan dia tadi. Aku akan mengganti nya dengan seribu kebahagiaan." Jawab Arvin, dia pun kembali masuk ke dalam mobil dan Jo dengan sigap langsung mengemudikan nya.
Arvin memeluk Melisa terus menerus, keadaan nya sangat tak baik saat ini. Dia merasa marah pada sang papah. Apapun yang terjadi, dia takkan pernah meninggalkan Melisa meskipun dia harus kehilangan semua yang dia miliki sekarang.
"Tuan muda.."
"Berhenti memanggil aku dengan sebutan itu, Jo. Dia sudah tidak menganggap aku sebagai anak nya karena keputusan yang aku ambil." Jawab Arvin membuat Jo membulatkan kedua mata nya.
"Apa maksud anda, tuan?"
"Dia tidak suka kalau aku bersama Melisa, dia masih egois dan menginginkan aku menikah dengan Dara."
Jo benar-benar tidak menyangka kalau Darren akan bersikap demikian, dia menyangka hati nya sudah melunak tapi nyata nya tidak sama sekali.
"Kau harus bekerja di bawah orang lain setelah ini, aku akan mengundurkan diri dari perusahaan itu, Jo."
"Tolong, tuan muda. Jangan melakukan hal yang tidak perlu, mungkin Tuan besar mengatakan hal itu karena emosi." Saran Jo, dia berusaha menengahi permasalahan antara tuan muda dan papah nya itu.
"Tetap saja, Jo. Aku tak mau mengikuti apapun perintah nya sekarang, aku akan melakukan apapun yang menurut ku benar."
"Tuan muda.."
"Panggil saja aku Arvin, Jo."
"Bukankah aku sering kali menguji kesabaran mu, Jo?"
"Itu sih sering, kadang saya juga di buat kesal oleh tingkah laku anda, tapi semua itu tidak membuat saya membenci anda, tuan muda."
"Haha, syukurlah kalau begitu, Jo. Selamat bekerja bersama atasan mu yang baru."
"Kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungi saya, Tuan muda." Ucap Jo membuat Arvin tersenyum, Jo adalah anak buah nya yang paling setia.
"Tentu saja, Jo. Jadi biasakan memanggil aku dengan nama ku saja, jangan tuan muda karena sekarang aku bukan siapa-siapa, hanya orang biasa."
"Tidak, selama nya anda adalah tuan muda bagi saya. Jadi, saya akan memanggil anda tuan muda."
"Ya, sebetah nya kamu aja." Jawab Arvin, dia pun membiarkan saja Jo memanggil nya apapun.
"Tuan muda.."
"Hmm, ada apa Jo?" Tanya Arvin lagi, sedangkan Melisa menyembunyikan wajah nya di dada bidang Arvin.
"Apa anda akan berkunjung ke perusahaan terlebih dulu?"
"Tidak, untuk apa? Perusahaan itu bukan milik ku, Jo. Antarkan saja aku ke cafe, wanita ku belum makan siang." Ucap Arvin, Jo pun menganggukan kepala nya. Dia pun melajukan kendaraan nya dengan kecepatan sedang, lalu berhenti di sebuah cafe yang terlihat penuh oleh pengunjung.
"Sayang.."
"Hmmm, kenapa?" Tanya Melisa.
"Ayo kita makan dulu." Ajak Arvin, Melisa pun mengangguk dan mengekor di belakang sang pria, dengan tangan yang saling bertaut mesra.
Jo juga mengikuti di belakang Arvin dan Melisa, hati nya juga ikut merasakan apa yang mungkin di rasakan oleh Melisa saat ini. Kata-kata Darren pasti sangat menyakitkan bagi Melisa, bagaimana pun perasaan wanita sangat lembut dan harus di jaga.
Lagi pun, Jo merasa ada yang aneh dengan penampilan Melisa. Terlihat seperti berbeda dari terakhir kali dia melihat nya. Mata dan perasaan nya mungkin tidak salah, karena dia sudah punya istri dan anak. Semoga saja penglihatan nya ini tidak salah, kalau benar pasti Arvin akan sangat senang, dia tahu benar kalau tuan muda nya itu sudah menginginkan seorang anak.
Arvin dan Melisa duduk di sebuah meja, Jo juga duduk di meja yang berseberangan dengan pasangan itu. Dia juga lapar, jadi dia memesan beberapa menu sekaligus hanya untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Mau makan apa, sayang?"
"Eemmm, ini apa?"
"Steak, sayang."
"Apa itu?" Tanya Melisa, ya harap di maklumi. Meskipun dia sering memasak, tapi steak adalah makanan yang baru dia dengar dan lihat pertama kali nya.
"Daging sapi, sayang. Mau coba?"
"Mau sih, tapi harga nya."
"Tak apa, sayang ku. Aku mampu membeli nya."
Arvin pun memesan tiga porsi steak, dua untuk Melisa dan satu untuk nya. Dia yakin, wanita nya takkan kenyang jika hanya makan satu porsi steak.
Tak lama kemudian, pesanan mereka pun datang. Arvin memotong-motong daging steak nya hingga seukuran satu suapan, lalu mendorong nya hingga ke depan Melisa.
"Di makan, sayang."
"Terimakasih, sayang." Jawab Melisa, Arvin menganggukan dan tersenyum manis membalas ucapan sang pria. Melisa pun memakan nya dengan lahap, ini pertama kali nya dia mencoba makanan ala orang barat itu dan dia langsung menyukai nya. Apalagi saus nya yang terasa sangat enak.
"Kamu suka, Bby?" Tanya Arvin, Melisa menganggukan kepala nya dengan cepat. Dia menyukai makanan ini, sangat.
"Makan yang banyak, ini aku pesan dua porsi untuk kamu, sayang." Kembali, Arvin memotong-motong daging steak nya dan Melisa kembali memakan nya lahap. Arvin tersenyum manis, dia senang karena Melisa makan dengan lahap. Tapi, saat kedua nya sedang asik makan, sebuah suara membuat kedua nya menoleh.
"Arvin.." Melisa menatap heran ke arah seorang gadis yang terlihat sangat modis. Dari atas hingga ke bawah, wajah nya kecil dengan bola mata yang bulat, hidung bangir dan bulu mata yang lentik. Satu kata yang bisa Melisa sematkan untuk menilai gadis itu, cantik.
"Dara?"
"Hai, apa kabar?" Sapa gadis yang di panggil Dara oleh Arvin. Artinya, gadis yang kini berdiri di depan nya adalah gadis yang di jodohkan oleh Darren pada Arvin. Jika di bandingkan dengan nya, Dara terlihat jauh lebih cantik dengan tubuh yang berisi.
"Aku baik." Jawab Arvin datar, dia melirik ke arah Melisa yang sudah menunduk.
"Hmm, baguslah. Siapa dia?" Tanya Dara sambil menunjuk ke arah Melisa dengan dagu nya.
"Perkenalkan, dia Melisa. Calon istriku."
"What? Calon istri? Aahhh syukurlah kalau kau sudah punya calon istri." Ucap Dara terlihat kesenangan.
"Hai, salam kenal. Aku Dara." Dara mengulurkan tangan nya membuat Melisa mendongak dan menerima uluran tangan gadis cantik itu.
"Pinter juga kamu milih calon istri, cantik sekali." Puji Dara.
"Ya, Melisa memang sangat cantik." Jawab Arvin dengan senyuman bangga nya.
"Bolehkah aku duduk disini?"
"Duduk saja." Jawab Arvin datar. Dara pun memilih duduk di samping Melisa.
"Heyy, kenapa kamu menunduk terus?"
"Biasa, dia insecure. Padahal dia cantik." Bukan Melisa, tapi Arvin lah yang menjawab nya.
"Isshh, jangan insecure. Kamu cantik lho, Mel."
"Terimakasih."
"Aaahh suara nya sangat lembut, dimana kau menemukan Melisa, Vin?"
"Di tempat pelarian, Melisa adalah wanita yang di sia-siakan suami nya sendiri." Jawab Arvin, membuat Dara terlihat sangat terkejut.
"Dia, janda?"
"Hmmm.."
"Astaga, pria semacam apa yang tega menyia-nyiakan wanita secantik ini? Aku rasa mata nya pasti sudah rabun." Ucap Dara membuat Melisa menatap gadis itu tak percaya, dia kira Dara akan meledek nya.
"Ya, dia memang pria bodooh."
......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻