
"Hey, kau!" Pekik Arvin saat melihat mandor yang terlihat sedang berleha-leha itu langsung beranjak dari duduk nya. Wajah nya langsung memucat begitu melihat siapa yang berdiri tegak di parkiran dengan berkacak pinggang. Belum lagi ada Jo yang berdiri tegap di samping Arvin, menambah suasana mencekam bagi pria itu.
"Tu-an Arvin.." pria itu membungkukan setengah badan nya saat Arvin berjalan mendekat, tentu nya dengan Jo yang berada di samping nya.
"Sejak kapan besi nya jadi sekecil ini?" Tanya Arvin, mata nya menyorot tajam ke arah pria itu. Membuat nya ketakutan, tapi kalau berani berbuat, pasti harus berani bertanggung jawab bukan?
"Semen nya kenapa jadi merek ini? Apa yang sudah kau perbuat hah? Kau ingin menyabotase pembangunan ini, kau ingin menghancurkan aku hah? Sialan!" Arvin murka, dia menendang kaki mandor itu hingga membuat nya jatuh berlutut.
"Tuan muda, kendalikan emosi anda." Ucap Jo dari samping. Selama ini, semarah apapun Arvin tak pernah menyakiti siapapun. Andai saja Jo tahu kalau Arvin pernah menghajar seorang pria yang menyentuh wanita nya.
"Aku tak peduli. Kau berani melakukan hal ini, berarti kau siap bertanggung jawab atas perbuatan mu ini kan? Brengseek!"
"M-aafkan saya, Tuan Arvin. Tapi, saya tak punya pilihan lain."
"Tak punya pilihan lain? Tentu ada, hidup selalu di hadapkan dengan pilihan, sialan. Kalau kau tak menikah lagi, kau pasti takkan terus kekurangan uang." Ucap Arvin sinis, membuat pria itu mendongakan kepala nya. Dari mana dia tahu kalau dirinya mempunyai dua istri saat ini? Padahal, dia tak berada di kota ini.
"Tu-an.."
"Kembalikan semua yang yang sudah kau ambil dari perusahaan ku, atau ku pastikan kedua istri mu terpenggal sia-sia." Ancam Arvin membuat wajah pria itu memucat seketika. Jantung nya seolah berhenti berdetak seketika, itulah yang membuat wajah nya memucat karena kekurangan pasokan darah.
"Jangan lakukan itu, Tuan Arvin. Mereka tak bersalah, Tuan."
"Kembalikan uang ku, besok!" Tegas Arvin.
__ADS_1
"Dari mana saya mendapatkan uang sebanyak itu, Tuan? Tolong, berikan saya keringanan."
"Lusa, aku tunggu di kantor. Kalau uang nya tak ada, bersiaplah mendekam di penjara dan aku pastikan istri-istri mu akan berseteru!" Jawab Arvin lalu berbalik bersiap untuk pergi.
"Ingat, jangan coba-coba melarikan diri. Karena aku pasti akan menemukan mu meskipun kau bersembunyi di lubang semut pun! Kalau kau berani melakukan hal itu, aku pastikan istri dan anak-anak mu tewas di tangan ku!" Ancam Arvin membuat dada pria itu terasa sesak.
"Kau di pecat!" Arvin berbalik dan berjalan tegap di ikuti oleh Jo di belakang nya. Sedari tadi, Jo hanya mendampingi saja tanpa ikut bicara. Tapi, hanya karena melihat wajah sangar nya saja mampu membuat orang terintimidasi.
Arvin tidak pernah main-main dengan ucapan nya, lalu apakah harus istri dan anak-anaknya jadi korban akan ke serakahan nya? Ya, mandor itu baru saja menikahi istri baru nya. Dia mengambil banyak keuntungan dari proyek milik Arvin untuk menyenangkan sang istri muda, sedangkan istri tua? Hanya seperlu nya saja.
Sekarang, dari mana dia akan mendapatkan uang sebanyak itu untuk mengganti rugi semua nya?
"Kau!" Tunjuk Arvin pada salah satu operator alat berat. Dia langsung mendekat ke arah Arvin dan membungkukan setengah badan nya dengan hormat.
"Robohkan bangunan ceker ayam itu, sekarang!" Perintah Arvin tak bisa di ganggu gugat, meskipun akan memakan banyak waktu dan biaya. Tapi, yang sudah di bangun saat ini bisa di katakan gagal total karena bahan-bahan yang di gunakan jauh dari kata layak untuk standar pembangunan.
"B-baik, Tuan muda." Jawab nya, Arvin pun pergi dari tempat proyek itu, meninggalkan segudang pekerjaan dan beberapa pengawal nya untuk memantau jalan nya kerja.
"Jo, cari mandor baru yang kompeten dalam pekerjaan."
"Baik, Tuan muda. Esok hari mandor baru akan berada disini." Jawab Jo.
"Ya, terimakasih. Kau memang selalu bisa di andalkan. Hari ini, antarkan aku ke apartemen. Aku lelah, ingin beristirahat." Ucap Arvin, Jo menganggukan kepala nya lalu mengantar Arvin ke apartemen miliknya yang sudah lama kosong. Sejak Arvin pergi dari rumah, apartemen ini tak pernah ada yang mengisi. Hanya sesekali saja ada orang yang akan membersihkan apartemen ini dari debu-debu, agar tetap bersih.
__ADS_1
"Selamat beristirahat, Tuan muda." Ucap Jo, setelah dia selesai mengantar Arvin ke unit apartemen nya.
"Ya, terimakasih atas kerja keras mu, Jo."
"Sama-sama, Tuan muda. Saya permisi dulu, ada pekerjaan yang harus saya lakukan sekarang."
"Hati-hati, Jo." Ucap Arvin, Jo mengangguk dan segera undur diri dari hadapan Arvin. Dia mengendarai mobil nya dengan kecepatan sedang, dia harus secepatnya mencari mandor pengganti agar proyek nya bisa segera di selesaikan. Tapi, mencari mandor itu tidaklah mudah. Apalagi mendadak begini.
Tapi, Jo mengatakan hal demikian agar Arvin tidak khawatir akan proyek ini, sudah cukup dia kelelahan karena seharian berada di jalanan, lalu di pusingkan dengan Ares, lalu sekarang dengan mandor sialan yang suka uang.
Arvin merebahkan tubuh nya di atas ranjang, dia menatap ke atas langit-langit kamar nya, namun yang terlintas dalam benak nya adalah Melisa. Selalu Melisa dan Melisa. Pikiran nya selalu di penuhi dengan sosok cantik itu bermata coklat itu.
"Aaahhh, belum juga 24 jam aku berpisah dengan mu, aku sudah sangat merindukan mu, Mel." Gumam Arvin, dia memejamkan mata nya lalu menghembuskan nafas nya dengan kasar. Dia benar-benar merindukan Melisa, rindu akan tawa nya yang terdengar renyah dan membuat hati nya berdebar tak karuan.
"Aku harus menghubungi nya.." Arvin mengeluarkan ponsel nya, dia mencoba untuk menghubungi Melisa, namun hingga beberapa kali tak kunjung di angkat juga. Entah kenapa dia tak mengangkat nya.
"Isshh, kenapa gak di angkat ya? Apa ada Dion di rumah, atau Melisa belum bangun tidur?"
"Gak tau aku kangen apa? Hmmm, Melisa.." Gumam Arvin lagi, lalu dia pun menyimpan ponsel nya di samping tubuh nya. Sedangkan dia memejamkan mata nya, berusaha mengistirahatkan tubuh nya yang terasa sangat lelah.
......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1