SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 79 - SANG PEBINOR


__ADS_3

Melisa tertidur berbantalkan tangan Arvin, tidur nya terasa lebih nyenyak malam tadi karena Arvin memeluk nya dengan erat, semakin nyaman saja dia di buat nya di tambah lagi hujan yang mengguyur cukup deras di luar sana, seolah sangat mendukung kedua sejoli itu untuk berbagi kehangatan di bawah selimut yang sama.


Hingga beberapa detik kemudian, ponsel milik Melisa yang tergeletak di atas nakas berdering cukup nyaring, membuat wanita itu terbangun dari tidur nya. Dengan mata yang masih terasa berat, Melisa pun mengambil ponsel nya dan menggeser ikon berwarna hijau dan menyelipkan ponsel nya di telinga, tanpa melihat nama siapa yang menelpon nya sepagi ini.


'Hallo, Nona..'


"Iya, siapa ya?"


'Saya pengacara Nona.'


"Ohh, iya iya, Pak. Ada apa ya?" Tanya Melisa sambil beranjak dari tidur nya, membuat Arvin sedikit terganggu karena pelukan nya mengendur di tubuh Melisa. 


'Hari ini jadwal sidang kedua, tapi jika Nona tidak bisa hadir tak masalah, saya bisa mewakilkan nya. Paling nanti di sidang ketiga, Nona harus hadir untuk membubuhkan tandatangan.'


"Baik, pak. Kebetulan hari ini saya sedang tidak enak badan, jadi tolong wakilkan saja." Jawab Melisa, memang karena efek datang bulan nya, dia jadi merasa tidak enak badan. 


'Baik, Nona.'


"Terimakasih, Pak." 


Sambungan telepon pun selesai, Melisa meletakan kembali ponsel nya ke atas nakas dan bersiap untuk bangun. Tapi, tangan Arvin malah kembali melingkar erat di pinggang nya.


"Kenapa, sayang?" Tanya Melisa saat melihat Arvin tengah menatap nya dengan tatapan berkabut.


"Mau kemana?" Balik tanya Arvin dengan suara berat nya.


"Ke dapur, masak sarapan."


"Gak boleh, sini peluk aku." Ucap Arvin yang membuat kening Melisa mengerut. 


"Sayang, ini sudah pagi."


"Aku tahu, tapi aku masih pengen peluk kamu, sayang." Jawab Arvin, sambil meraih Melisa ke dalam pelukan nya dengan erat. 


Mama mertua Melisa sudah pulang dua hari yang lalu, jadi Melisa bisa kembali bersama Arvin. Saat ini pun, Melisa sedang berada di kamar Arvin. Tadi malam, dia menginap di rumah pria itu dan tidur bersama.


"Tapi, nanti kita makan gimana?" Tanya Melisa, Arvin malah sudah nemplok di punggung nya. Sambil meremaas gunung nya dengan gemas, juga menempatkan wajah nya di ceruk leher Melisa.


"Gapapa, nanti aja, sayang."


"Isshh kamu tuh ya.."


"Lagi pengen, yang. Boleh?" Tanya Arvin dengan senyuman manis namun terlihat sangat mesuum. Pria tampan itu memang mesuum, tapi dia tak bisa bohong kalau wajah pria itu memang sangat tampan dan sikap nya juga sangat baik. Hanya saja tetap ada minus nya, yakni mesuum. 


"Pengen apa?"


"Masukin kamu, boleh?" Tanya Arvin lagi yang membuat Melisa terkekeh.


"Masukin lewat mana?"


"Ayang isshh.." Rengek Arvin, yang membuat Melisa tergelak.


"Boleh, satu kali aja ya? Setelah selesai, aku mau masak terus mandi, oke?"


"Oke, ayang." Jawab Arvin, dia pun menarik Melisa dan menindih tubuh nya, dia menyibak daster berbahan satin yang di kenakan oleh Melisa dan menurunkan segitiga nya dengan cepat. Dia juga meraba-raba buah kenyal milik Melisa dengan lembut, karena jika tidur biasa nya Melisa tak pernah mengenakan braa untuk menjaga kesehatan payudaaara nya, juga agar tetap kencang. 


Arvin menguluum putting nya dengan rakus seperti bayi kehausan, dia menyesap nya terlalu kuat hingga membuat buah ceri itu terasa kebas karena Arvin menyesap nya terlalu kuat. 


"Aasshh, ayang pelan-pelan dong.." 


"Enak, rasa nya manis sekali." Jawab Arvin sambil tersenyum manis hingga mata nya menyipit seperti bulan sabit. Melisa mengusap pipi Arvin yang terlihat sedikit menggembung. 


"Manis apa nya, sayang?" 


"Ini kamu, rasa nya manis sekali."


"Aku kadang suka heran deh sama kamu, kenapa doyan banget nyusu ya? Padahal gak ada air nya." Ucap Melisa yang membuat Arvin tersedak. 


Uhukk.. uhukk.. 


"Ya ampun, sayang. Kamu kenapa sih?" Melisa menepuk-nepuk punggung Arvin secara perlahan. 


"Kamu sih ngomong nya gitu, aku suka susu."


"Iya, aku tahu kamu suka susu. Tapi, susu aku gak ada air susu nya."


"Ya gapapa, ini mah sumber susu nya." Jawab Arvin yang membuat Melisa terheran-heran, pria itu selalu ada-ada saja jawaban nya. 


"Mau lagi, yang."


"Terserah kamu aja, tapi jangan keras-keras, sakit plus ngilu juga, yang." 


"Iya, sayang." Jawab Arvin. Melisa pun membiarkan Arvin kembali menyusu di dada nya. Wanita itu bahkan membantu pria nya menaikan daster nya agar pria itu lebih leluasa menyusu di dada nya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Arvin sudah memulai penyatuan nya, dia bergerak cepat di atas tubuh Melisa. Kali ini, Arvin tak membuka pakaian wanita itu, hanya menaikan nya saja. Wanita itu mendesaah nikmat di bawah kungkungan Arvin, tubuh pria itu di penuhi keringat. 


"Aaahhh, sayang.. Pelan-pelan.." Pinta Melisa, tapi Arvin tak menuruti permintaan wanita itu dan tetap bergerak dengan cepat karena dia akan mendapatkan pelepasan nya.


"Sayang, a-aku mau.."


"Bersama, sayang." Ucap Arvin, dia pun kembali menggerakan pinggang nya lebih cepat dan akhirnya mereka berhasil mendapatkan klimaaks bersamaan.


"Aaahhh.." Melisa mendesaah cukup keras saat Arvin memasukkan senjata nya sedalam mungkin yang dia bisa, menyemburkan kecebong-kecebong milik nya agar memenuhi rahim sang wanita.


"Enak sekali, beban dalam kepala ku terasa hilang seketika." Ucap Arvin yang membuat Melisa mendelik. 


"Ada-ada aja kamu ini, masa iya langsung hilang? Pasti masih ada sisa nya dong." 


"Hehe, iya sih masih ada dikit beban. Tau gak apa?"


"Apa memang nya?" Tanya Melisa.


"Beban aku tuh, nabung duit sebanyak mungkin, buat nikahin kamu. Buat wujudin keinginan kamu, nikah ala putri disney." Jawab Arvin, dia menatap wajah Melisa dengan serius.


"Kamu serius mau wujudin keinginan aku, sayang?"


"Dua rius malah." Jawab Arvin yang membuat Melisa tersenyum kecil.


"Kalau gak ada uang nya, gapapa kok. Kita nikah biasa aja, kalau punya uang lebih baik di tabung aja buat bekal masa depan kita nanti." 


"Enggak, aku bakalan usaha semaksimal mungkin buat bisa bikin kamu jadi ratu sehari nanti. Itu janji aku sama kamu, Bby." Ucap Arvin, nada suara nya sangat serius, bahkan tatapan nya juga. 


"Sayang.."


"Itu janji aku, kamu gak perlu banyak pikiran, aku yang akan memikirkan semua nya. Aku janji akan membahagiakan mu, dan membuat moment itu akan selalu kamu ingat saking berkesan nya." 


"Ya, baiklah kalau itu memang kesanggupan kamu, aku bisa apa kan? Kamu tidak suka di bantah." 


"Nah itu tahu, ayang aku memang paling mengerti."


"Iya iya, sekarang kamu turun. Aku mau masak terus mandi." Arvin pun menurut, dia berguling ke samping dan membiarkan Melisa bangun lebih dulu. 


"Pinjem handuk." 


"Buat apa?" Tanya Arvin dengan wajah bodoh nya.


"Mandi lah, emang nya buat apa lagi kalo bukan buat mandi?" 


"Idih, air di kamar mandi masih banyak kali." 


"Biasa nya juga di lap pake tissu basah, sayang." Goda Arvin yang membuat Melisa memutar mata nya dengan jengah.


"Mana handuk nya?"


"Itu di gantungan." Tunjuk Arvin ke gantungan yang terletak di belakang pintu. Melisa mengambil nya lalu keluar kamar. Dia mengambil beras dari wadah nya dan membersihkan nya, lalu memasak nya di magic com dan dia tinggal mandi sebentar. 


Hanya butuh beberapa menit saja, kini Melisa sudah keluar dengan rambut yang dia gulung dengan handuk kecil. Aroma sabun menguar lembut dari tubuh nya, dia pun membuka kulkas dan mengambil beberapa bahan untuk dia memasak menu hari ini. Di kulkas ada ayam dan ikan, Melisa memilih ikan. Dia akan memasak ikan kuah kuning. 


"Ayang, masak apa?" Tanya Arvin, dengan wajah bantal nya, rambut nya masih acak-acakan karena dia belum sempat menyisir rambut nya. 


"Ikan kuah kuning." 


"Wah, seger tuh." Jawab pria itu sambil melingkarkan kedua tangan nya di pinggang Melisa.


"Kamu suka?"


"Suka, apalagi kalau kamu yang masakin."


"Kalau kamu suka, ayo bantuin. Jangan cuma ngerecokin aku doang."


"Hehe, siap sayangku." Jawab Arvin, dia pun membantu mengiris daun bawang dan tomat juga bawang bombay, tapi Arvin malah menangis mungkin karena mata nya pedih.


"Malah nangis, kenapa sih?"


"Pedih, yang." Jawab Arvin, wajah nya berlinangan air mata, membuat Melisa terkekeh. 


"Baru di suruh gitu juga udah nangis, yang." 


"Pedih, salahin nih bawang nya, jahat banget sama aku." 


"Tapi itu kan bawang bombay, bukan nya yang jahat itu bawang merah?" Tanya Melisa tersenyum menggoda, membuat Arvin mencebikan bibir nya.


"Iya deh iya, terserah ayang aja."


"Gak mandi dulu?" Tanya Melisa, Arvin menggelengkan kepala nya.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Nanti aja, sekarang kan aku lagi bantuin ayang meski sambil bercucuran air mata." Jawab Arvin membuat Melisa tertawa, ada-ada saja memang pria ini. 


"Kayak habis di aniaya aja kamu, yang."


"Kenapa ya bawang itu nyakitin?"


"Mana aku tahu, kan bukan aku yang nyuruh bawang nyakitin kamu." 


"Iya, aku tahu itu bukan kamu." Jawab Arvin lagi, dia mendengkus kesal. Setelah selesai memotong-motong daun bawang dan tomat, pria itu pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya dari keringat sisa-sisa percintaan nya dengan Melisa beberapa menit sebelum nya.


Setelah semua masakan siap, Melisa pun akhirnya bisa sarapan bersama Arvin. Setelah sarapan, dia pun berpamitan untuk pulang. Di rumah, ada banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Arvin ingin membantu, tapi Melisa tidak mengizinkan karena itu sudah rutinitas nya sendiri, dia bisa melakukan nya sendirian.


Arvin melihat dari jendela rumah nya saat Melisa tengah beres-beres di rumah nya, menyapu, mengepel dan mengerjakan beberapa pekerjaan rumah lain nya. Dalam hati, dia mengatakan kalau setelah dia menikahi Melisa nanti, dia takkan membuat Melisa bekerja seperti ini, dia akan menyewa banyak maid agar Melisa bisa santai.


"Setelah kita menikah, aku berjanji takkan membuat kamu kelelahan, sayang." Gumam Arvin. Sidang kedua sudah terlaksana hari ini, tinggal sidang ketiga yakni sidang putusan. Terasa sangat lama bagi Arvin, belum lagi ada yang nama nya masa Iddah selama tiga bulan, itu terasa sangat menyiksa bagi dirinya karena dia ingin segera bersatu dengan Melisa dalam ikatan suci pernikahan.


Waktu memang akan terasa lebih lambat jika di tunggu, karena Arvin sangat menunggu moment dimana Melisa dan suami nya bercerai, bahkan dari awal sebelum dia berhasil meluluhkan hati Melisa agar mau berselingkuh dengan nya. Cukup sulit untuk membuat wanita itu mau berpaling dari suami nya, meluluhkan hati Melisa sangat sulit bagi nya. Maka dari itu, setelah mendapatkan nya dia takkan menunggu lama-lama, dia akan langsung menikahi nya begitu masa Iddah nya selesai. 


Tak lama kemudian, Melisa sudah selesai dia pun keluar sambil membawa mangkuk karena ada tukang siomay yang lewat. Buru-buru, Arvin juga akan membeli nya mengikuti Melisa.


"Bang, siomay nya sepuluh ribu aja. Ini mangkuk nya." Melisa memberikan mangkuk nya.


"Iya, neng." 


"Aku juga sepuluh ribu, bang. Ini piring nya." Jika Melisa menggunakan mangkuk, maka Arvin menggunakan piring. 


"Wah, neng Meli tumben jajan." Celetuk Bu Amel sambil terkekeh.


"Lagi pengen aja nih, Bu."


"Iya, yaudah jajan yang banyak Neng." Ucap nya lagi sambil terkekeh. 


"Ini, punya Mbak Mel saya aja yang bayar." Arvin mengeluarkan uang lima puluh ribu dari saku belakang nya. 


"Sekalian atuh, Vin."


"Yaudah, itu ada kembalian tiga puluh. Beliin aja sama siomay." Jawab Arvin terlihat datar.


"Wah, makasih ya. Padahal cuma bercanda."


"Gapapa, kalo gitu saya pulang dulu." Jawab Arvin sambil membawa piring berisi siomay nya. Melisa juga melakukan nya, dia pulang ke rumah sambil tersenyum kecil. Nyata nya, Arvin tidak pulang ke rumah nya sendiri, tapi malah menyelinap masuk ke rumah lewat pintu belakang.


"Ngapain disini?" Tanya Melisa.


"Pengen aja, makan sama ayang pasti rasa nya bakalan jauh lebih enak." Jawab Arvin sambil tersenyum manis yang membuat Melisa terkekeh.


"Sayang.." panggil Melisa membuat Arvin menoleh seketika.


"Ada apa? Apa siomay nya gak enak, yang?"


"Enak kok, yang." 


"Terus, kenapa?" Tanya Arvin lagi, kening nya mengernyit.


"Enggak, aku cuma heran kenapa ya datang bulan aku cuma tiga hari? Biasa nya kan seminggu." 


"Itu sih aku gak tahu, yang. Seperti nya, tubuh kamu kasian sama aku karena lama gak dapet jatah." Jawab Arvin yang membuat Melisa refleks menepuk pelan lengan Arvin dengan gemas.


"Kamu mah isshh, bukan nya kasih solusi."


"Ya kamu nya, aku ajakin ke rumah sakit buat periksa aja gak mau."


"Tapi kan gak harus ke rumah sakit juga, sayang." Jawab Melisa.


"Pokoknya besok, kita ke rumah sakit buat periksa. Aku khawatir kalau ada yang mengganjal."


"Kamu sih yang selalu mengganjal aku." 


"Astaga, gantian nih sekarang kamu yang gak serius."


"Hehe, maafin." Melisa terkekeh pelan sambil menyuapkan siomay ke dalam mulut nya.


"Porsi sepuluh ribu kok dikit ya, gak kenyang." Ucap Melisa. Arvin tergelak, lalu menggeser piring milik nya untuk Melisa.


"Nah, ini makan punya ku, sayang."


"Terimakasih, peka banget deh. Love you." Ucap Melisa sambil mengecup pipi kanan Arvin sekilas.


"Love you too, sayang." Balas Arvin, dia tersenyum melihat Melisa kembali memakan siomay itu dengan lahap. Arvin mengusap rambut panjang Melisa lalu memainkan ujung rambut nya, menggulung nya dengan gemas. 


........


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2