
Arvin masih menunggui wanita nya, ini sudah hampir dua jam, tapi Melisa belum kunjung siuman juga. Tapi, Arvin bertekad kalau dia takkan kembali tidur sebelum memastikan kalau wanita nya baik saja. Padahal, jam di dinding masih menunjukkan pukul dua dini hari, tapi Arvin tidak mengantuk sama sekali.
"Sayang, kamu pingsan apa keterusan tidur?" Tanya Arvin lirih sambil mengusap rambut wanita nya yang masih belum juga sadarkan diri.
"Sayang, bangunlah dulu. Ada kabar baik yang harus sampaikan." Ucap Arvin lagi, dan seperti sebuah keajaiban, Melisa pun tersadar dari pingsan nya. Dia melirik ke arah Arvin yang menatap nya dengan tatapan penuh ke khawatiran.
"Sayang, kamu baik-baik saja? Ada yang sakit?" Wanita itu menggelengkan kepala nya, dia memang tidak merasakan sakit apapun, hanya sedikit pusing saja.
"Hanya pusing saja, Bby. Kenapa kamu terlihat khawatir?" Tanya Melisa, masih berani wanita itu bertanya demikian? Ya tentu saja karena dia mengkhawatirkan keadaan nya, itu saja.
"Aku khawatir sama kamu, Bby. Tiba-tiba aja pingsan gitu, aku pikir kamu kenapa."
"Ya, memang nya aku kenapa sih? Perasaan aku baik-baik aja kok." Jawab Melisa, dia belum mengetahui kalau sebenarnya dia tengah mengandung saat ini.
"Yakin?"
"Yakin, memang nya kenapa sih?" Tanya Melisa lagi, dia penasaran tapi seperti nya Arvin belum mau memberitahukan nya tentang keadaan yang sebenarnya, lebih tepatnya untuk menggoda nya.
"Kamu tidak merasa ada yang aneh dengan tubuh mu akhir-akhir ini, Bby?"
"Enggak tuh, kecuali nafsuu makan ku yang bertambah dari biasa nya." Jawab Melisa. Memang, Arvin juga merasakan hal itu. Melisa jauh lebih banyak makan dari biasa nya.
"Kamu ada merasa telat datang bulan, Bby?"
"Hmmm, kayaknya enggak deh. Soalnya terakhir aku menstruasi itu bulan kemarin deh kalo gak salah."
"Tapi, kamu hamil, sayang." Ucap Arvin yang membuat kedua mata Melisa membeliak seketika. Apa, hamil?
"H-amil, sayang?"
"Iya, tadi aku memanggil dokter untuk memeriksakan keadaan kamu dan ternyata kamu hamil, sayang."
"Benarkah? Jangan bercanda, sayang!"
"Siapa yang bercanda? Aku serius, sayang. Kalau kamu masih tidak percaya padaku, tanyakan saja pada Jo besok. Dia juga ada disini tadi saat dokter memeriksa keadaan kamu." Jelas Arvin membuat Melisa langsung menutup mulut nya dengan kedua tangan nya.
Terkejut? Ya, dia benar-benar terkejut. Satu kata yang tidak pernah dia duga, hamil? Tapi kapan, padahal bulan kemarin dia masih kedatangan tamu bulanan nya meskipun rasa nya lebih menyakitkan dari biasa nya.
"J-adi ini beneran, sayang?" Arvin menganggukan kepala nya, membuat air mata Melisa jatuh sudah.
Dengan cepat, Arvin memeluk sang wanita dengan erat. Dia juga ikut terharu, karena ini adalah hal yang paling dia tunggu selama dia hidup. Melisa hamil, artinya sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah? Ohh, bayangkan saja akan ada anak kecil yang memanggil nya dengan sebutan papah, bayangkan seperti apa kebahagiaan Arvin nanti nya. Dia tak sabar untuk hal itu.
Beberapa menit kemudian, Arvin melerai pelukan nya. Dia menciumi kening Melisa dengan mesra lalu menyandarkan kepala wanita cantik itu di dada nya.
__ADS_1
"Terimakasih, sayang. Aku sangat bahagia, besok kita periksa ke dokter kandungan ya? Aku penasaran, sejak kapan dia hadir disini sampai-sampai kita tidak menyadari nya." Ucap Arvin sambil mengusap-usap perut Melisa yang masih rata.
"Iya, sayang. Aku juga sangat bahagia, kita jaga bayi ini bersama-sama ya?"
"Tentu saja, sayang." Jawab Arvin, dia pun tersenyum manis ke arah Melisa lalu kedua nya kembali berpelukan.
"Kita lanjutkan tidur ya? Ini masih terlalu dini hari untuk kita beraktivitas." Ajak Arvin, Melisa pun mengangguk dan dia merangsek memeluk tubuh besar Arvin lalu menduselkan wajah nya di dada bidang pria tampan itu. Arvin sendiri tidak pernah keberatan dengan apapun yang di lakukan wanita nya, justru dia akan melakukan sesuatu yang membuat Melisa semakin nyaman.
Kedua nya pun kembali melanjutkan tidur mereka dengan saling memeluk satu sama lain, berbagi kehangatan di bawah selimut yang sama. Seperti nya, agenda untuk pulang ke kampung esok hari akan tertunda. Arvin tak mungkin ngotot mengajak wanita nya pulang, apalagi naik bus. Dia khawatir kalau Melisa akan mabuk perjalanan nanti nya.
Keesokan hari nya, Arvin dan Melisa pergi ke rumah sakit untuk melajukan pemeriksaan kandungan di dokter yang terpercaya. Tentu nya dengan di antarkan oleh Jo, meskipun Arvin tidak menghubungi pria itu tapi pagi-pagi sekali dia sudah datang ke apartemen dan siap untuk mengantarkan nya ke rumah sakit tanpa di minta.
Arvin dan Melisa pun masuk ke dalam ruang pemeriksaan, mereka duduk berhadapan dengan seorang dokter yang nampak cantik dengan balutan seragam putih nya.
"Selamat pagi, tuan dan Nona."
"Pagi, dok."
"Ada keluhan apa?" Tanya nya dengan ramah.
"Tidak ada, dokter. Kami hanya ingin memeriksakan kehamilan saja, melakukan USG."
"Ohh, baiklah. Silahkan berbaring di sana, Nona." Melisa pun menurut dan dia berbaring di brankar yang tersedia, tentu nya dengan Arvin yang selalu siap membantu sang istri.
"Kita mulai ya, Nona. Maaf, pakaian nya saya angkat sedikit."
Tampak di layar itu ada dua bulatan, yang satu besar dan satu nya lagi kecil. Arvin dan Melisa hanya menatap nya saja tanpa tahu apa arti dari gambar yang ada di hadapan mereka.
"Bulatan yang besar ini adalah rahim, Nona. Dan bulatan yang kecil ini adalah janin yang sedang berkembang di dalam rahim, Nona." Jelas dokter itu, membuat kedua nya saling melempar pandangan satu sama lain.
"Sekecil itu, dok?" Tanya Arvin. Dia tidak percaya kalau janin nya sekecil itu.
"Belum, tuan. Usia kandungan nya masih 16 minggu, seiring bertambah nya usia kehamilan, maka janin nya juga akan semakin besar." Jelas dokter itu sambil tersenyum manis.
"16 minggu, dok?" Kali ini Melisa yang bertanya.
"Iya, menurut perhitungan dari terakhir kali Nona menstruasi."
"Tapi dok, bulan kemarin saya masih menstruasi. Tak mungkin saya hamil sudah berjalan empat bulan, rasa nya sedikit mustahil." Jawab Melisa. Bagaiman bisa dia hamil empat bulan, sedangkan dia baru mengalami menstruasi bulan kemarin.
"Apa ada yang terasa sedikit aneh? Seperti periode rasa sakit nya, atau waktu nya yang lebih singkat?"
"Maksud nya apa, dok?" Tanya Melisa, dia agak loading saat ini.
__ADS_1
"Biasa nya, waktu ideal menstruasi itu empat sampai tujuh hari. Bulan kemarin, apa menstruasi Nona berakhir lebih cepat dari biasa nya?"
"Iya dok, hanya dua hari saja. Sisa nya hanya keluar flek, dan juga rasa nya lebih sakit." Jawab Melisa apa adanya.
"Itu bukan menstruasi, Nona. Dalam dunia kedokteran, itu disebut pendarahan implantasi. Gejala nya sama saja seperti menstruasi pada umum nya, hanya saja darah yang keluar lebih sedikit jika di bandingkan dengan menstruasi biasa nya. Juga waktu nya yang bisa di bilang lebih singkat."
"Apa itu berbahaya, dok?" Tanya Arvin. Dia khawatir kalau Melisa ada penyakit yang membuat nya pendarahan.
"Tidak, tidak sama sekali, tuan. Ini sudah biasa terjadi, ada banyak kasus seperti ini. Hamil tapi masih menstruasi, tidak masalah. Tapi, kalau semisal darah yang keluar itu banyak dalam jangka waktu yang panjang, harus segera di periksakan. Di khawatirkan ada kelainan dengan kehamilan yang bisa membahayakan janin juga ibu nya." Jelas dokter itu lagi.
"Kalau yang terjadi pada istri saya, bagaimana dok?" Tanya Arvin, tanpa sadar dia mengatakan kalau Melisa adalah istrinya.
"Tidak ada masalah, tuan. Saya sarankan, agar Nona selalu beristirahat yang cukup, jangan terlalu banyak berpikiran yang membebankan. Selalu makan makanan yang sehat, seperti buah, daging, ikan, sayur, telur dan susu khusus ibu hamil. Juga rutin meminum vitamin, tuan."
"Ohh begitu ya, baiklah kalau seperti itu, dok."
Dokter itu mengangguk, lalu mengusap gel di perut Melisa dengan tissu basah dan kembali menutup pakaian yang di kenakan wanita itu.
"Ini saya resepkan vitamin, silahkan di tebus di bagian farmasi."
"Baik, dok. Terimakasih."
"Sama-sama, selamat berjumpa di bulan selanjutnya." Kedua nya mengangguk dan keluar dari ruangan dokter wanita itu.
Setelah selesai dengan serangkaian pemeriksaan, kedua nya pun memutuskan untuk pulang. Sesampai nya di apartemen, Melisa langsung makan dengan lahap sedangkan Arvin menonton televisi.
Disaat sedang fokus menatap layar kaca yang menayangkan pertandingan sepak bola, terdengar bel apartemen berbunyi beberapa kali. Dengan malas, Arvin bangkit dari duduknya dan membukakan pintu.
Pandangan kedua nya bertemu, Arvin yang awal nya terkejut dengan cepat menetralkan ekspresi nya. Jujur saja, dia muak saat melihat wajah yang seolah tanpa dosa pria paruh baya yang berdiri tegap di depan nya.
"Arvin.."
"Mau apalagi anda kesini? Kedatangan anda, sangat tidak di harapkan!"
"Papah kesini untuk bicara, Arvin." Ucap Darren.
"Aku rasa, di antara kita sudah tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Sekarang, pergilah dari sini. Jangan membuat mood ku semakin berantakan."
"Sayang, husstt gak boleh gitu." Ucap Melisa membuat Arvin membalikan badan nya dan menatap Melisa.
"Silahkan masuk, pah." Ucap Melisa mempersilahkan Darren masuk ke dalam apartemen, Arvin hanya mendengkus lalu memutar mata nya jengah dan menutup pintu nya.
'Ckkk, mau apalagi sih dia kemari? Mengganggu saja!' Rutuk Arvin di dalam hati, dia tidak berani mengatakan itu secara langsung karena ada Melisa. Dari pada kena amukan wanita cantik itu, lebih baik dia diam dan pasrah saja. Toh, diam lebih baik dari pada mati bukan?
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻