SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 82 - SANG PEBINOR


__ADS_3

Keesokan hari nya, Arvin yang masih merasa belum enakan, dia pun enggan pulang dari rumah Melisa. Dia masih tidur di kamar saat ini, sedangkan Melisa sudah bangun dan mandi, beres-beres juga. Sekarang, dia sedang berada di luar untuk membeli sayuran. 


"Pagi, Neng.." Sapa Bu Ratmi sambil tersenyum kecil, lalu di balas oleh senyum manis dari Melisa.


"Pagi kembali, Bu." 


"Rencana mau masak apa nih, Neng?" Tanya Bu Ratmi. 


"Sup ayam, Bu." Jawab Melisa. Itu permintaan Arvin tadi, dia ingin makan yang hangat dan berkuah. Meskipun sedang tak enak badan, tapi Arvin menolak untuk memakan bubur. 


"Hmmm, jadi kamu resmi bercerai dengan Dion, Neng?" Tanya Bu Amel, Melisa tersenyum lalu menganggukan kepala nya.


"Iya, Bu. Karena masing-masing dari kami sudah tidak ada kecocokan lagi, di lain sisi juga saya tidak mau di duakan." Jawab Melisa membuat ibu-ibu yang ada disana manggut-manggut mengerti. Mereka paham benar bagaimana rasa nya menjadi Melisa. 


Sudah bertahan dengan suami yang tempramen dan arrogant, lalu pelit dan tukang selingkuh. Dia juga di permalukan oleh kelakuan pria yang kini resmi menjadi mantan suami nya. 


"Iya, Neng. Semoga ke depan nya, Neng Meli dapat jodoh yang jauh lebih baik ya." Ucap Bu Ratmi sambil mengusap lembut punggung Melisa. 


"Iya, Bu. Semoga saja, tapi mungkin dengan status saya saat ini akan sedikit sulit ya. Mau bagaimana pun, saya wanita yang pernah gagal." Melisa mengatakan hal itu dengan lirih. Meskipun dia sudah memiliki Arvin di sisi nya, tetap saja karena restu dari orang tua pria itu belum dia dapatkan. 


Dia ragu, bagaimana kalau orang tua Arvin tidak setuju dengan nya? Apalagi setelah mengetahui status nya yang sudah pernah gagal membina rumah tangga? Meskipun Arvin mengatakan akan memperjuangkan nya, tapi tetap saja rasa ragu itu tetap ada. 


"Tuh, Arvin udah nungguin kamu menjanda. Dia kayak nya naksir berat sama Neng Meli." Celetuk salah satu ibu-ibu yang membuat Melisa terkejut. Apa sikap Arvin terlalu mencolok hingga orang-orang curiga?


"Apa iya? Gak mungkin, dia kan masih bujangan. Ya masa mau sama aku." Ucap Melisa.


"Jodoh kan gak ada yang tahu, Neng." 


"Iya, kalau udah jodoh gak mungkin bisa di tolak, Neng." Ucap Bu Ratmi sambil terkekeh pelan. Melisa terdiam, yaps jodoh takkan kemana. Tapi, hal itu tidak membuat rasa ragu nya hilang. Justru sekarang malah terasa semakin mengisi hati nya.


"Kalau janda nya kayak Neng Meli, bujangan juga gak bakalan nolak kali."


"Iya, inget gak sih? Arvin dulu pernah bilang kalau Neng Melisa itu sosok wanita idaman, istri idaman dan termasuk tipe nya Arvin." Ucap Bu Amel membuat ibu-ibu mengingat kalau Arvin memang pernah mengatakan hal itu dulu, saat Melisa dan Dion baru-baru pindah ke lingkungan ini.


"Wahh iya, sekarang Neng Meli udah janda. Gimana nih? Pasti dia bakalan gerak cepat tuh." 


"Aahhh ibu-ibu, bisa saja kalau Arvin mengatakan hal itu hanya untuk bercanda kan?" Ucap Melisa, dia tak mau ibu-ibu terus membicarakan tentang Arvin. Cemburu? Iya, dia cukup cemburu. Apalagi kalau ibu-ibu itu memuja muji sosok Arvin yang memang bisa di bilang sempurna.


"Hmmm, iya juga sih ya."


"Tapi, kalau Arvin benar-benar serius mengatakan hal itu gimana, Neng? Lagian Arvin anak nya baik kok."


"Iya, kalau sudah jodoh nya gapapa kok." Jawab Melisa sambil tersenyum kecil. 


Tak lama kemudian, Abang tukang sayur pun datang. Ibu-ibu langsung menyerbu gerobak nya dan memilih sayuran yang akan mereka masak untuk menu sarapan, makan siang, juga makan malam.


Melisa membeli sayap, juga ceker untuk dia buat sup. Sedangkan daging nya akan dia buat ayam rica-rica nanti, karena Arvin sangat menyukai ayam rica-rica buatan nya.


"Bawang merah sama bawang putih nya seperempat, bang." Ucap Melisa, kebetulan bumbu dapur yang satu itu habis di rumah.


"Siap, Neng."


"Cabe rawit setan nya seperempat juga, cabe merah besar nya juga." 


Dia ingin membuat ayam rica-rica, artinya dia membutuhkan banyak cabai untuk memasak menu yang satu itu. Apalagi Arvin yang kalau makan harus selalu ada sambel, meskipun ayam nya sudah pedas tapi tetap saja harus ada sambel juga kerupuk. 


"Bang, kemiri, kencur satu ons aja." 


"Ada lagi, Neng?" 


"Sebentar, bingung bang. Lupa lagi mau beli apaan." Jawab Melisa sambil terkekeh, dia terlihat berpikir untuk membeli bumbu dapur apa lagi. 


"Cumi asin aja deh, bikin sambel cumi." Jawab Melisa akhirnya. 


"Sambel cumi pake pete, Neng. Mantep." Usul Bu Ratmi, tapi Melisa tidak yakin kalau harus membeli pete juga, karena dia belum tahu apa Arvin akan menyukai nya atau tidak. Tapi, untuk sambel cumi Melisa yakin kalau Arvin menyukai nya karena dia sudah membuat sambel itu beberapa kali dan Arvin terlihat sangat menyukai nya, bahkan hingga menambah nasi beberapa kali jika makan dengan sambel itu.


"Enggak deh, lagi gak mau makan pete." Jawab Melisa, dia pun selesai berbelanja dan membayar nya. Total belanjaan nya hari ini cukup banyak, dia menghabiskan delapan puluh ribu untuk belanja semua kebutuhan yang sekira nya dia butuhkan di rumah. 

__ADS_1


"Saya duluan ya, Bu ibu." 


"Iya, Neng." Melisa pun tersenyum manis, lalu pulang ke rumah nya. Melisa kembali tersenyum saat melihat Arvin tertidur di sofa, dia masih belum pulang dari rumah nya. 


"Sudah selesai belanja nya, yang?" Tanya Arvin, dia membuka kedua mata nya dan bangkit dari rebahan nya. 


"Sudah, sayang. Kenapa gak pulang?"


"Kamu ngusir aku, Bby?" Tanya Arvin pada Melisa yang sudah tersenyum geli. 


"Bukan gitu, sayang." 


"Terus?"


"Aku kan cuma nanya, sayangku. Kamu sensitif bener deh. Aku masakin sup ayam ya?"


"Sayap sama ceker kan, Bby?"


"Iya, sesuai permintaan calon suami." Jawab Melisa yang membuat Arvin tersenyum manis, dia senang bukan main saat Melisa memanggil nya calon suami.


"Aaaahhh, senang nya dalam hati." 


"Yaudah, aku ke dapur dulu. Masih demam?" Melisa mendekat dan menyentuh kening Arvin, demam nya sudah turun namun wajah pria itu masih terlihat sangat pucat saat ini.


"Ngikut.." Rengek Arvin dengan manja, membuat Melisa menggelengkan kepala nya. 


"Duduk saja ya, kamu baru mendingan kan?"


"Siap, ibu bos." Jawab Arvin, dia pun duduk di salah satu kursi yang kosong di area dapur. Melisa mengeluarkan belanjaan nya dan mencuci daging nya dengan air mengalir. Dia juga langsung mencuci sayuran nya lalu menyimpan nya di kulkas.


"Habis berapa belanja nya, Bby?" Tanya Arvin penasaran.


"Delapan puluh dua ribu, yang."


"Masih ada uang buat belanja besok?" Tanya Arvin.


"Ada, yang kamu kasih masih tersisa cukup banyak." Jawab Melisa sambil menatap wajah tampan Arvin yang juga tengah menatap nya dengan hangat. 


'Pafahal dia lagi sakit, tapi wajah nya tetep nakutin gini.' Batin Melisa.


"Hey, kenapa diam saja, sayang?"


"Aaaa, iya iya, sayang. Aku nurut aja apa kata kamu." Jawab Melisa sambil tersenyum yang terlihat cukup di paksakan. 


Dia pun memulai acara memasak nya, karena Arvin belum sarapan, begitu juga dengan nya. Melisa juga memasak sambel cumi kesukaan Arvin. 


"Ehh, kamu suka pete gak sih, yang?" Tanya Melisa.


"Kalau ada ya aku makan, Bby." Jawab Arvin seadanya, dia memang tidak banyak pantangan jika makan. Yang tersaji di depan mata, dia akan makan apapun kecuali kayu dan batu. 


"Ohh, tadi padahal kalau aku beli di sambel enak, yang." 


"Ya terus kenapa kamu gak beli?" Tanya Arvin sambil fokus memetik tangkai cabe dan memindahkan nya ke wadah dan menutup nya, lalu menyimpan nya ke dalam kulkas.


"Aku ngira nya kamu gak suka, sayang."


"Hmm, lain kali tanya dulu dong."


"Iya, sayang. Jadi nya aku gak beli, takut gak suka. Nanti kamu malah jadi badmood kan gak lucu, Bby." Jawab Melisa, dia menambahkan bumbu ke teflon berisi sup ayam pesanan Arvin.


"Sayang, apa masih lama? Laper, hehe."


"Sebentar lagi matang kok, sabar ya?"


"Iya, sayang." Jawab Melisa, dia pun kembali memasak sup nya. Hingga beberapa menit kemudian, akhirnya sup nya pun matang dan Melisa langsung menyajikan nya di depan Arvin. 


Pria itu makan dengan lahap, tak lupa sambel dan kerupuk kesukaan nya, membuat makan nya jauh lebih lahap dari biasa nya, apalagi saat ini dia sedang demam. 

__ADS_1


"Pelan-pelan makan nya, sayang."


"Hehe, laper banget. Masakan kamu juara deh, enak banget." Puji Arvin sambil tersenyum, Melisa hanya membalas senyuman pria tampan itu dengan senyuman manis juga. 


"Yaudah, kalo enak nambah lagi nasi sama sayur nya. Tapi, jangan kebanyakan makan sambel, nanti sakit perut." Peringat Melisa, Arvin pun mengangguk. Tapi, seperti nya dia tidak mau menuruti Melisa, dia malah menambahkan satu sendok sambel lagi di piring nya.


"Sayang.."


"Enak, Bby. Aku pusing, kalo makan sambel gini pusing nya berkurang." Jawab Arvin sambil tersenyum manis. Akhirnya Melisa pun membiarkan saja, karena kalau kepedasan dia pun akan berhenti.


"Yang, pengen makan bakso deh."


"Nanti aku beliin, Bby."


"Makasih, ayang." Jawab Melisa, Arvin tak pernah menolak kalau dia ingin memakan sesuatu apapun. Dia sangat memanjakan Melisa, memenuhi semua kebutuhan nya. 


Setelah menghabiskan sarapan nya, Arvin pun pulang untuk membersihkan tubuh nya, Melisa mengiyakan. Dia juga harus mencuci pakaian hari ini, juga ada pekerjaan yang lain harus dia kerjakan hari ini. 


Di rumah nya, Arvin sedang menghubungi Jo, asisten nya. Mereka terlihat terlibat perbincangan yang cukup serius mengenai proyek yang sedang perusahaan Arvin bangun. 


'Iya, Tuan. Proyek pembangunan cabang perusahaan, sudah hampir selesai.' Lapor Jo, ya jika pekerja nya benar pasti cepat selesai nya. Kalau pekerja nya gan becus, yang ada cuma korupsi doang tapi pekerjaan malah berantakan. 


"Ya, baguslah kalau begitu. Bagaimana keadaan ayah ku, Jo?"


'Cukup baik, hanya saja kata Pak Mario beliau sering menanyakan tentang anda, Tuan muda.' Jelas Jo.


"Minggu depan, aku akan mengunjungi nya bersama Melisa." Jawab Arvin yang mungkin saja membuat Jo terkejut bukan main.


'Bersama Melisa, tuan muda?'


"Ya, dia sudah resmi bercerai sekarang. Aku akan ke rumah sambil mengenalkan wanita ku pada papa." Jawab Arvin sambil tersenyum, aahhh dia tak sabar untuk mengenalkan Melisa pada papa nya.


'Itu kabar yang sangat baik, Tuan muda. Saya akan memberitahukan berita ini pada Pak Mario.'


"Ya, bilang padanya untuk menyambut calon istriku dengan baik. Jangan lupa jemput aku nanti, Jo."


'Baik, Tuan muda.' 


"Bagaimana dengan Ares?" Tanya Arvin, dia sampai lupa menanyakan kasus pria itu. 


'Sidang masih berjalan, Tuan muda. Tapi, Mario bisa meyakinkan kalau Ares akan di penjara.'


"Baguslah, kalau begitu. Bagaimana dengan Irfan?" Tanya Arvin lagi.


'Baik, Tuan muda. Kinerja nya sangat bagus, perusahaan mengalami kenaikan pesat setelah Irfan memimpin menggantikan Ares di bawah perintah anda, Tuan.'


"Baguslah kalau begitu, aku matikan dulu telepon nya." Ucap Arvin, panggilan pun selesai dengan Arvin yang mematikan sambungan telepon nya secara sepihak. Jo yang sudah terbiasa pun hanya bisa maklum dengan kebiasaan tuan muda nya itu.


Arvin pun tersenyum puas, perusahaan nya sudah mengalami kemajuan lagi sejak dia meminta Irfan untuk menggantikan Ares di bawah nama nya. Karena dia masih berada dalam pelarian dari sang papa, dia juga nyaman dengan kehidupan sederhana nya di desa karena disana ada Melisa, wanita pujaan nya yang sangat cantik. 


"Kita akan bersama, Melisa. Aku mencintai mu. Aaaa, rasa nya tak sabar saat aku membawa mu ke rumah papah." Gumam Arvin sambil tersenyum. Dia pun mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya. Setelah itu, dia akan pergi lagi ke rumah Melisa untuk bermanja dengan wanita cantik itu. 


Di rumah nya, Melisa juga baru saja selesai dengan segudang pekerjaan rumah tangga nya. Setelah selesai mencuci pakaian, Melisa juga melanjutkan dengan mencuci piring bekas tadi makan, lalu mandi dan sekarang dia sedang menonton televisi sambil memakan cemilan yang dia buat dari kentang. 


"Capek juga rasa nya, pinggang berasa mau patah." Gumam Melisa sambil memijit pinggang nya sendiri. Tak lama, Arvin datang dan langsung mengambil alih pekerjaan tangan Melisa di pinggang nya.


"Sakit ya?"


"Hehe, iya sayang."


"Besok, aku bantuin kamu beresin kerjaan rumah, oke?"


"Makasih, sayang." Jawab Melisa sambil tersenyum manis. Melisa menikmati pijatan lembut dari tangan Arvin di pinggang nya, terasa sangat nyaman membuat nya mengantuk.


"Ngantuk? Bobok siang yuk?" Ajak Arvin, Melisa pun mengangguk. Dia menyimpan wadah berisi cemilan dan menutup nya, kedua nya pun masuk ke dalam kamar dan tidur siang bersama.


Arvin memeluk pinggang Melisa, lalu mengecup kening nya dengan lembut. Sangat mendukung situasi, hujan juga turun dengan lebat nya, membuat kedua nya larut dalam tidur nyenyak mereka.

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2