
Arvin melingkarkan kedua tangan nya di pinggang Melisa, menumpukan dagu nya di pundak sang wanita dengan manja. Saat ini dia tengah mengajak Melisa jalan-jalan di taman untuk menenangkan pikiran nya setelah mendapatkan kabar yang benar-benar buruk.
Tadi, Arvin mengusulkan pada Melisa untuk ke taman menenangkan pikiran sekalian jalan-jalan. Melisa pun mengiyakan, dia merasa cukup shock dengan apa yang dia alami hari ini karena hal tadi sangat mengejutkan bagi nya.
"Sayang, kenapa bengong hmm?" Tanya Arvin, di taman pun tak terlalu banyak orang. Hanya ada beberapa pasangan saja yang sedang menikmati senja bersama orang terkasih. Begitu juga Melisa dan Arvin, kedua nya terlihat sangat mesra sebagai pasangan.
"Enggak kok, aku cuma kepikiran sama masalah tadi."
"Bukan nya menenangkan pikiran dong kalo kesini kamu masih ingat sama masalah itu, sayang." Ucap Arvin sambil mendusel manja di ceruk leher Melisa. Dia acuh saja dengan pandangan orang lain, toh dia merasakan perasaan nyaman saat bersama Melisa, jadi dia hanya perlu izin dari wanita itu saja. Selebih nya dia tak peduli.
"Eehh, iya iya maaf, sayang."
"Hmmm, kita jalan-jalan kesana yuk?" Ajak Arvin ke arah yang berlawanan.
"Boleh, sayang."
"Yuk, kita jalan-jalan." Ajak Arvin, dia pun menggenggam tangan Melisa dengan erat, kedua nya pun melangkah pelan. Beberapa kali, Arvin menatap wajah Melisa yang terlihat lebih cerah, hingga tatapan mereka bersirobok dan akhirnya Arvin canggung karena ketahuan memerhatikan wanita di samping nya.
"Kenapa sih, kok natap aku nya gitu banget, yang?" Tanya Melisa sambil tersenyum kecil.
"Kamu cantik, hehe."
"Ini yang ke berapa ratus kali nya kamu mengatakan aku cantik hmm?"
"Gak tahu, sayang. Tapi kamu keliatan berkali lipat lebih cantik sekarang." Jawab Arvin sambil tersenyum manis. Senyuman yang manis nya bahkan melebihi gula satu kilo.
"Hmm, apalagi kalau aku sudah resmi menjanda ya?"
"Heh, aku gak bakalan biarin kamu menjanda. Begitu selesai masa Iddah, aku bakalan langsung nikahin kamu." Sewot Arvin membuat Melisa tergelak.
"Apa iya? Serius nih, kamu gak keberatan sama status janda ku?" Tanya Melisa menggoda.
__ADS_1
"Enggak sama sekali, aku gak perlu status kok. Itu gak penting buat aku, sayang."
"Tapi gimana dengan tanggapan orang tua kamu, sayang?" Tanya Melisa lirih, jujur saja dia merasa tak siap jika harus berjuang lagi karena dia sudah lelah dengan yang namanya berjuang. Masih mending kalau berjuang bersama-sama, kalau berjuang sendirian seperti yang sudah-sudah, dia akan memilih menyerah saja.
"Kalau semisal orang tua aku gak memberikan restu nya, kita akan kawin lari saja. Aku tak peduli apapun, asal aku bisa bersama mu, aku akan menentang apapun." Jawab Arvin tegas, sorot mata nya tak menyiratkan keraguan sedikit pun. Dia sudah sangat yakin dengan perasaan nya pada Melisa, dia benar-benar tulus menerima Melisa apa ada nya. Tak peduli apapun status nya dia akan menerima nya.
"Jujur, aku lelah berjuang, sayang."
"Kalau kamu gak mau berjuang, biar aku yang memperjuangkan kamu, sayang." Jawab Arvin, membuat Melisa menoleh lalu menatap wajah tampan Arvin dengan tatapan sendu.
"Kamu benar-benar serius dengan hal ini, sayang?"
"Apa wajah ku terlihat sedang bercanda, sayang?" Tanya Arvin, memang tak ada raut bercanda di wajah pria tampan itu, yang ada hanya raut keseriusan di wajah nya.
"Tidak, tapi justru wajah kamu yang lagi serius gini nambah tampan deh." Ucap Melisa sambil memainkan alis nya naik turun dengan genit.
"Kalo kamu kayak gini, aku jadi pengen ngajakin kamu ngamar deh, yuk?" Ajak Arvin membuat Melisa terkekeh.
"Aku bisa bikin kamu nafssu kok, yuk aahh kita check in di hotel. Kamu kan belum pernah main di hotel, sayang?"
"Iya, belum pernah sih yang."
"Yaudah, ayo sayang." Ajak Arvin lagi. Sambil menarik-narik tangan Melisa.
"Sayang plis, aku lagi gak mau. Kamu jangan maksa aku dong, nanti gak enak lho main nya."
"Hmmm, yaudah iya sayang. Besok-besok aja lagi main nya." Jawab Arvin pasrah.
Melisa hanya tersenyum, lalu kedua nya kembali berjalan, sesekali Arvin akan menggerakan tautan tangan mereka ke depan dan ke belakang, membuat Melisa tertawa pelan karena gerakan tangan pria tampan itu.
"Sayang.."
__ADS_1
"Iya, kenapa sayang?" Tanya Arvin.
"Kamu bantuin aku nyiapin berkas-berkas buat mengajukan perceraian dong."
"Boleh, nanti aku tanya-tanya sama temen aku yang kerja di KUA, apa saja persyaratan nya." Jawab Arvin.
"Wah, makasih banget sayang. Kamu punya banyak temen ya?"
"Hmmm, cuma beberapa sih. Tapi tersebar, ada yang dokter, pengusaha, pengacara bahkan sama CEO." Jawab Arvin membuat Melisa menganga.
"CEO itu pemilik perusahaan kan?" Tanya Melisa, Arvin menganggukan kepala nya sambil tersenyum.
"Woaahh, hebat banget kamu bisa berteman sama pria sekelas mereka, sayang."
"Haha.." Arvin hanya tergelak menanggapi ucapan Melisa.
'Bagaimana bisa aku tidak mengenal CEO nya, kalau itu adalah aku sendiri? Bahkan kamu lebih hebat karena bisa meluluhkan hati seorang CEO, sayang.' Arvin membatin, sedangkan Melisa hanya keheranan melihat Arvin yang senyam-senyum sendiri.
Setelah menyelesaikan jalan-jalan nya, Melisa dan Arvin pun memilih untuk kembali ke rumah dengan berboncengan sepeda motor.
"Kamu gak mau nyaksiin suami kamu nikah lagi, sayang?" Tanya Arvin pada Melisa.
"Apa harus, sayang?"
"Tidak sih, tapi ya kamu apa gak mau lihat gitu."
"Apa aku yakin bisa menyaksikan suami ku menikah lagi dengan wanita lain?" Tanya Melisa lirih. Apa dia sanggup? Itulah yang jadi pertanyaan saat ini. Bagaimana kalau dia malah merasakan sesak di dada nya hanya karena melihat pria itu menikahi perempuan lain?
Ya meski pun selama ini Dion tak pernah memperlakukan nya dengan baik seperti layaknya seorang suami pada istri nya, tapi tetap saja rasa nya akan menyakitkan bukan?
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1