SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 73 - SANG PEBINOR


__ADS_3

"Hallo, Pak. Ada apa ya?" Tanya Melisa, pagi-pagi dia sudah terbangun saat mendengar ponsel nya berdering nyaring. 


'Ini dengan Nona Melisa Prameswari?' Tanya suara seseorang di sana, tapi dari suara nya Melisa tahu benar kalau itu laki-laki tapi entah siapa. 


"Iya, saya sendiri."


'Datang ke pengadilan hari senin untuk sidang perceraian yang pertama.' Ucap pria itu yang ternyata adalah pengacara yang di sewa oleh Arvin. 


"Baik, Pak. Apa harus bersama suami, aahh maksud saya mantan suami?" Tanya Melisa, dia ketar-ketir sendiri saat mengatakan suami, karena Arvin langsung menatap nya begitu dia mengatakan hal itu. Tapi harus nya itu tak salah bukan? Mereka belum resmi bercerai, jadi status Dion sekarang masih suami, bukan? Tapi entahlah, hal itu malah mengundang delikan sebal dari Arvin. 


'Tidak perlu, Nona. Tapi, kalau beliau bersedia hadir, itu lebih baik karena sidang pertama ini masih proses mediasi.' Jelas nya, Melisa pun mengiyakan dan telepon pun berakhir. 


Melisa meletakan ponsel nya di nakas, lalu berbalik menatap Arvin yang sudah menunjukkan wajah asam nya. 


"Lho, kenapa wajah asem gitu sih, yang?" Tanya Melisa, dia heran dengan mood Arvin akhir-akhir ini. Mudah bete, mudah sedih, tapi beberapa menit kemudian dia berubah jadi manja. Aneh kan?


"Sebel aku, kamu masih anggap si Dion itu suami kamu."


"Ya kan, karena aku belum cerai sama dia, sayang." Jawab Melisa.


"Isshh, kamu mah. Dahlah, aku bete." Jawab Arvin merajuk, sambil berbalik memunggungi Melisa. Membuat wanita itu menggaruk tengkuk nya yang padahal tidak gatal sama sekali.


"Kamu gampangan aahh.." ucap Melisa, tapi Arvin tidak menanggapi, dia malah menutupi seluruh tubuh nya dengan selimut. Tapi sedetik kemudian, Melisa mengernyit saat mendengar isakan lirih dari arah Arvin yang sedang berbaring miring.


"Lho, sayang.." Melisa membuka selimut yang menutupi tubuh polos Arvin, benar saja kalau pria tengah menangis sesenggukan di balik selimut. 


"Astaga, kok kamu nangis sih?" Tanya Melisa, dia membingkai wajah Arvin yang bersimbah air mata. 


"Aku se-bel.."


"Iya iya, sayang. Maafin aku ya? Janji, enggak lagi kok." Ucap Melisa, Arvin pun memeluk wanita nya dengan erat, begitu juga dengan Melisa. Dia mengusap-usap punggung Arvin dengan lembut, berusaha menenangkan pria itu agar tidak menangis terus.


'Tingkah Arvin semakin hari semakin menggemaskan, kok jadi gemesin gini ya? Padahal pas awal-awal kenal, aku kira dia datar dan dingin. Tapi kok jauh dari perkiraan ya, untung aja sayang.' Batin Melisa sambil tersenyum kecil, sambil mengusap kepala belakang Arvin yang tersuru di dada kenyal nya.


"Eehh, kok jadi nyusu.." Ucap Melisa sambil berusaha menjauhkan mulut Arvin dari dada nya. Dia memang belum sempat berpakaian setelah semalam tertidur tanpa memakai pakaian dulu karena ulah Arvin yang menghajar nya habis-habisan. Niat nya ingin menenangkan, tapi kok jadi malah ngambil kesempatan ya?


"Haus, yang. Habis nangis." Jawab Arvin.


"Isshh, udah aahh jangan gitu." 


"Diem, aku haus pengen minum susu langsung dari sumber nya." Jawab Arvin tanpa melepaskan kuluuman nya dari putting buah kenyal milik Melisa yang sudah menegang. 


"Aassshhh, jangan di gigit dong. Ngilu ish." 

__ADS_1


"Hehe, enak yang. Kenyal-kenyal bikin betah." Jawab Arvin, tangan sebelah nya tak menganggur, dia meremaas buah kenyal milik sang wanita dengan gemas.


"Isshh, punya laki kayak kamu auto gak masuk angin sih."


"Iya dong, aku doyan banget sama susu segar, langsung dari sumber nya begini, sayang." Jawab Arvin membuat Melisa mendelik sebal melihat tingkah pria tampan itu. 


"Terserah kamu aja, asal jangan nangis lagi ya."


"Hehe, iya yang." Jawab Arvin sambil tersenyum kecil, tanpa melepaskan mulut nya dari putting milik Melisa.


"Hari senin aku sidang pertama, yang." 


"Heem, terus kenapa yang?" Tanya Arvin, dia melepaskan mulutnya lalu beralih tangan nya lah yang sekarang bermain di buah kenyal dan ranum itu dengan lembut. 


"Ya gapapa sih, cuma ngasih tahu doang." Jawab Melisa.


"Tenang aja, aku bakalan dampingin kamu kok. Tapi, mungkin dari tempat yang agak jauh, biar Dion gak curiga sama kita berdua." Jelas Arvin sambil tersenyum kecil.


"Beneran ya? Jujur aja, aku agak gugup sebenarnya, yang." 


"Gapapa, besok kamu pergi aja dari sini aku tunggu di tempat biasa ya. Aku anter ke pengadilan, aku tunggu di kedai kopi." Ucap Arvin lagi, Melisa mengangguk mengiyakan.


"Iya, yang. Gak nyangka ya, aku bakalan berani ngambil langkah ini." 


"Harus nya dari dulu kali, kamu ngambil langkah ini." Jawab Arvin datar, bahkan sedikit ketus.


"Kamu sudah terlalu sering mengalah, jadi sekarang biarkan kamu melawan sekali saja, sayang." 


"Iya, sayang. Terimakasih kamu sudah mendampingi aku sampai sejauh ini, sayang." Lirih Melisa yang membuat Arvin memberikan senyuman termanis nya.


"Tentu, aku akan selalu mendampingi kamu dalam situasi apapun, sayang. Setelah kamu bercerai, mari ikut aku bertemu orang tua ku." Mendengar itu, Melisa menganga.


Apa ini tidak terkesan terlalu terburu-buru? Membawa nya untuk bertemu dengan orang tua nya? Ini membuktikan kalau Arvin benar-benar serius bukan? Dia tidak sekedar bermain-main dengan perasaan nya. 


"Apa itu tidak terlalu cepat?" Tanya Melisa.


"Tidak, aku rasa hubungan kita harus segera di resmikan. Aku tak mau menunggu lama, bukankah niat baik harus nya di percepat, sayang?" 


"Ya, iya sih. Tapi aku ragu, sayang. Apa orang tua kamu bakalan setuju? Mengingat status aku yang.."


"Sshhtt, apa sih beda nya janda atau perawaan? Menurut aku sih sama aja, sama-sama wanita yang harus di hormati. Di cintai sepenuh hati, hal itu tidak membeda-bedakan status sosial, sayang." Potong Arvin. 


"Tapi, sayang. Itu kan versi kamu, menurut orang lain kan beda. Aku janda, berarti aku pernah gagal membina rumah tangga."

__ADS_1


"Apa itu salah mu? Bukan, sayang. Siapa sih yang mau jadi janda, aku rasa setiap wanita gak bakalan ada yang mau kek gitu. Mereka pasti bermimpi kalau akan menikah cukup sekali seumur hidup, begitu bukan? Termasuk kamu, sayang. Tapi, jika memang sudah tidak ada lagi yang bisa di pertahankan, untuk apa?" Ucap Arvin panjang lebar, dia mengutarakan nasehat yang panjang kali lebar, membuat Melisa menundukan kepala nya.


"Hmmm, iya sayang. Terimakasih ya."


"Gak usah berterimakasih terus, aku cuma lakuin apa yang menurut aku benar, itu saja." Jawab Arvin membuat Melisa tersenyum kecil.


"Apa merebut istri orang itu di benarkan, sayang?" Goda Melisa sambil menaik turunkan alis nya.


"Ya, bener menurut aku." Jawab Arvin sambil tertawa. 


"Kamu ini ada-ada aja deh, udah sana bangun jangan manja-manjaan terus."


"Mandi bareng yuk, aku pengen nyabunin kamu." Ajak Arvin, Melisa yang tak mencurigai ada nya niat terselubung dari pria itu pun mengiyakan ajakan Arvin. Kedua nya pun masuk ke dalam kamar mandi, awalnya memang tidak terjadi apa-apa hingga satu menit kemudian ada yang aneh dengan sentuhan Arvin.


"Sayang.." Panggil Melisa dengan nafas tersengal karena sentuhan Arvin yang tepat mengenai titik sensitif nya.


"Ssshhh.." Melisa mendesis pelan saat tangan Arvin meraba miliknya di bawah sana. 


"Enak?"


"Kamu mesuum, tadi katanya cuma mandi kok sekarang jadi main raba-raba sih?" Tanya Melisa sambil menahan gairaah nya yang tiba-tiba saja memuncak karena sentuhan-sentuhan tangan Arvin yang nakal di area sensitif milik nya.


"Hehe, kalo ada kesempatan kan gak boleh di sia-siakan, sayang." Jawab Arvin sambil tersenyum mesuum. Akhirnya, Melisa pun takluk di bawah sentuhan Arvin. 


Arvin tersenyum nakal, dia pun mengerjai Melisa di dalam kamar mandi. Hingga membuat acara mandi berlangsung cukup lama, sekitar satu jam. Kedua nya baru keluar setelah Arvin puas menyalurkan hasraat nya. Wajah nya cerah berbinar, tapi berbeda dengan Melisa yang menunjukkan wajah asam nya. 


Tangan Melisa keriput saking lama nya dia berada di kamar mandi, dia kesal dengan Arvin yang selalu saja bisa memanfaatkan kesempatan nya sebaik mungkin. Dan dia hanya menjadi korban disini, ada-ada saja memang. Ya walaupun dia ikut menikmati nya, tetap saja dia kesal karena kelakuan pria itu.


"Udah, kok cemberut gitu sih?" 


"Sebel banget deh sama kamu." Jawab Melisa sambil mencebikan bibir nya.


"Tapi enak kan? Bukti nya, kamu mendesaah tadi, keluar berapa kali tadi coba?" Tanya Arvin membuat wajah Melisa memerah.


"Aisshh, kesel ahhh." 


"Haha, sayang. Jangan ngambek dong."


"Males lah, kamu mah nakal banget." 


"Ya kan gak nakal bukan Arvin nama nya."


"Kamu mah bukan nakal lagi, tapi mesuum." Ketus Melisa sambil mengambil pakaian nya dan langsung memakai nya secepat kilat, keburu Arvin melakukan hal-hal yang tak terduga.

__ADS_1


......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2