SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 75 - SANG PEBINOR


__ADS_3

Arvin tersenyum saat melihat Melisa makan dengan lahap, bahkan hingga beberapa kali dia mengusap sudut bibir wanita nya dengan tissu karena belepotan.  Tapi, dia senang saat melihat nafssu makan wanita nya. Setelah selesai makan, Melisa menghabiskan dua mangkuk mie ayam begitu juga dengan Arvin. Mereka pun memutuskan untuk pulang. 


Arvin mengendarai kuda besi nya dengan kecepatan sedang, Melisa pun memeluk pinggang Arvin dengan erat. Beberapa kali dia juga meringis karena perut nya sakit setelah kebanyakan makan seperti nya, juga karena dia sedang menstruasi hari pertama.


"Sabar ya, sayang. Sebentar lagi kita sampai." 


"Iya, sayang. Mana harus jalan lagi ya?"


"Gak usah, aku anter sampe ke rumah aja." 


"Sayang.."


"Gapapa." Jawab Arvin, dia mengusap tautan tangan Melisa di pinggang nya dengan lembut, mengambil sebelah tangan wanita itu dan mengecup punggung tangan nya dengan lembut. 


Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya motor besar yang di kendarai oleh Arvin pun sampai di halaman rumah Melisa. Pria itu membantu Melisa turun dari motor nya yang cukup tinggi, dengan perlahan dan penuh kelembutan.


"Kamu pucat banget, mbak." Ucap Arvin, jika di tempat seperti ini dia akan mengubah panggilan nya menjadi mbak, seperti biasa nya.


"Perut aku sakit banget ini, Vin." Jawab Melisa sambil meringis, dia memegangi perut nya yang terasa mulas melilit. 


"Nak Arvin, Neng Meli kenapa?" Tanya Bu Amel. 


"Sakit perut, Bu. Lihat, bibir nya sampe pucat gini." 


"Terus kamu dari mana? Kok bisa barengan dateng nya?" Tanya nya lagi.


"Tadi saya habis ketemuan sama teman saya, di pertigaan ketemu sama Mbak Mel. Katanya habis dari pengadilan." Jawab Arvin mengarang, tapi ya kebohongan nya masih bisa di terima oleh akal sehat.


"Ohh, neng Melisa kenapa?" Tanya Bu Amel sambil melihat ke arah Melisa yang sudah terlihat pucat.


"Sakit perut, Bu. Tadi habis makan mie ayam kebanyakan deh, terus lagi datang bulan juga hari pertama."


"Wahh, nyeri datang bulan itu luar biasa sih. Yaudah, sini biar saya bantu masuk ke rumah ya, Neng." Melisa pun mengangguk, Arvin juga tak bisa apa-apa. Dia hanya membiarkan Bu Amel membopong wanita nya ke dalam rumah dengan perlahan. Dia tak boleh memancing kecurigaan sekarang, apalagi status Melisa belum sepenuh nya resmi menjanda saat ini.


Arvin pun pulang ke rumah nya setelah memastikan Melisa sudah berada di dalam rumah dengan aman. Di rumah, Melisa tengah berbaring di atas ranjang nya. Bu Amel sudah pergi keluar rumah nya setelah membantu Melisa berbaring. 


Di rumah nya, Arvin merasa bingung sendiri. Dia ingin pergi ke rumah Melisa dan mengobati perut nya yang sakit, tapi dia khawatir kalau di dalam sana masih ada Bu Amel. Bisa-bisa berabe kalau ibu-ibu rempong itu tahu. 


Arvin mengambil ponsel dan mencoba menghubungi wanita nya, pria itu menempelkan ponsel mahal nya di telinga. Hanya butuh beberapa detik saja untuk Melisa mengangkat panggilan dari sang pujaan hati.


'Iya, sayang.' 

__ADS_1


"Di rumah ada siapa?" Tanya Arvin to the point, lagi pula dia tak suka berbasa-basi. 


'Gak ada, aku sendirian.' Jawab Melisa.


"Bu Amel?"


'Udah pulang dari tadi.' Jawab Melisa lagi, suara nya terdengar sangat pelan, mungkin sambil menahan rasa sakit.


"Yaudah, aku kesana ya." 


'Iya, cepetan.' Pinta Melisa, Arvin pun mengiyakan dan panggilan pun selesai. Arvin buru-buru mengganti pakaian nya dan pergi ke rumah Melisa. Tak lupa, dia juga membawa teh jahe hangat yang dia beri perasan jeruk lemon agar lebih segar. 


Seperti biasa Arvin bisa masuk lewat pintu belakang, setelah masuk dia pun langsung ke kamar depan yang sekarang selalu Melisa tempati. Dia tak pernah tidur di kamar belakang lagi sekarang, mungkin dia benar-benar tak ingin mengingat moment apapun saat dirinya masih bersama Dion. 


"Sayang.." Ucap Arvin, membuat Melisa yang tengah tengkurap sambil memegangi perut nya itu berbalik dan menatap wajah tampan pria nya.


"Ayang, sakit.." Rengek Melisa dengan manja, membuat Arvin langsung mendekat dan memeluk Melisa yang sudah duduk di sisi ranjang.


"Sabar ya, kamu kan wanita kuat. Masa kalah sama sakit datang bulan? Nih, aku buatin teh jahe." Ucap Arvin sambil memberikan teh buatan nya pada Melisa. Wanita itu pun meminum nya secara perlahan karena teh nya masih panas.


"Asem.."


"Aku kasih perasan jeruk lemon biar agak seger gitu."


"Sini, perut nya aku usap-usap ya biar agak enakan."


"Iya, usap pelan-pelan, sayang." Jawab Melisa, Arvin pun mengangguk dan mulai mengusap perut wanita nya yang terasa lebih hangat dari biasa nya.


"Aasshh.."


"Kenapa, Bby?" Tanya Arvin saat melihat Melisa meringis.


"Rembes gak?" 


Arvin melihat ke bagian bawah, dia melotot saat melihat bagian bawah sang wanita ternyata di penuhi cairan kemerahan.


"Astaga, apaan ini, sayang? Kenapa banyak sekali keluar nya?" Tanya Arvin heran, dia langsung beranjak dari duduk nya. Bukan jijik atau apa, tapi dia merasa tak tega saat melihat wanita nya kesakitan dengan darah yang terus mengucur dari inti nya.


Ini memang terjadi pada setiap wanita kan? Tapi dia tak tega melihat wanita nya seperti ini. Sungguh demi apapun, dia ingin menggantikan semua rasa sakit yang di rasakan oleh Melisa saat ini. Dia rela menggantikan nya. 


"Aku kalo menstruasi hari pertama ya gini, yang."

__ADS_1


"B-banyak sekali keluar nya, Bby." 


"Iya, udah biasa. Tapi sekarang sakit nya agak beda, padahal biasa nya gak sesakit ini." Jawab Melisa.


"Gimana kalo kita periksa ke dokter, sayang? Aku khawatir kalau ada kelainan dengan rasa sakit di perut kamu itu."


"Gak usah, sayang. Aku gak mau minum obat, percuma juga kamu ngeluarin uang nya kalau obat nya gak aku minum sama sekali." Jawab Melisa.


"Biar kita tahu, sayang. Aku khawatir."


"Gapapa, sayang. Mungkin ini cuma perasaan aku aja, kamu jangan khawatir berlebihan." Melisa berjalan perlahan, dia mengambil pembalut cadangan di dalam lemari dan mengganti pembalut sekaligus celana nya.


Arvin berbalik, sekali lagi dia tekankan disini kalau dia tidak jijik sama sekali, tapi merasa tak tega saat melihat darah yang terus keluar dari inti sang wanita. Bagaimana bisa ada laki-laki yang menyakiti wanita, padahal mereka menderita setiap bulan nya dengan menstruasi. Kalau tidak sakit sih tidak masalah, tapi ini terasa sangat sakit sekali. 


"Kamu jijik ya? Maafin aku, gak seharusnya kamu lihat aku lagi kek gini."


"Enggak, aku gak jijik sama sekali. Tapi aku gak tega, Bby. Sungguh, aku gak tega lihat kamu kesakitan gini.".


"Gapapa kok, ini kan memang sudah kodrat aku sebagai wanita. Menstruasi setiap bulan nya, mengandung dan melahirkan itu adalah takdir seorang wanita." Jawab Melisa yang membuat Arvin menatap wanita nya dengan sendu.


"Apa aku bakalan tega ya liat kamu kesakitan pas melahirkan?"


"Ya kamu harus tega, itu pun kalo kamu pengen punya anak." Jawab Melisa sambil tersenyum.


"Kamu nya mau juga?"


"Ya mau dong, aku mau banget punya baby yang lucu." Jawab Melisa. 


"Tapi.."


"Isshh kamu ini, gapapa kali yang. Udah lah, aku mau tidur. Temenin ya?"


"Iya, sayang. Nanti kita bangun nya pas makan malam aja."


"Huum, kunci pintu nya, yang." Pinta Melisa, Arvin pun langsung mengunci pintu nya dan kembali berbaring sambil mengusapi perut Melisa. Wanita itu juga merasakan kenyaman dari usapan tangan sang pria di perut nya. 


Arvin juga beberapa kali menciumi perut Melisa, juga wajah nya. Dia mengusapi perut wanita nya hingga dia tertidur. Arvin menatap wajah damai Melisa yang sedang tertidur, bahkan saat tertidur pun Melisa terlihat sangat cantik. 


'Aku berjanji demi diriku sendiri, aku takkan pernah membiarkan mu merasakan rasa sakit sendirian. Aku akan selalu berada di samping mu, kapanpun itu.' 


.....

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2