
Arvin menutup kembali kancing dress yang di kenakan Melisa, lalu dia memeluk nya dengan erat, seolah takut kehilangan. Melisa juga selalu merasa nyaman saat pria itu memeluk nya, hingga akhirnya dia tertidur lelap di pelukan Arvin.
"Tuan muda, kita jadi berhenti di rest area?" Tanya Jo.
"Ya, ada beberapa barang yang harus di beli. Tapi, aku tak bisa turun karena Melisa tertidur nyenyak. Jadi, kau yang turun dan belikan barang itu, Jo." Ucap Arvin, Jo pun menghela nafas nya lalu mengiyakan perintah Arvin. Mau tidak mau, karena kalau dia menolak, sama saja dengan meminta di pecat, bukan?
"Baik, Tuan muda."
Jo pun kembali fokus melajukan kendaraan beroda empat itu menembus padat nya jalan raya, hingga di rest area dia pun menghentikan laju kendaraan nya.
"Apa yang harus saya beli, Tuan?" Tanya Jo lirih, karena Arvin memberi nya kode. Melisa bergerak-gerak seperti gelisah dalam tidur nya, membuat Arvin khawatir kalau suara Jo akan membangunkan wanita nya.
"Beli air minum, susu stroberi, cemilan dan beberapa makanan lain, Jo. Kalau kau ingin sesuatu, beli saja." Ucap Arvin.
"Baik, tuan."
Arvin pun memberikan kartu debit nya pada Jo dan membiarkan pria itu pergi ke dalam minimarket untuk membelikan kebutuhan nya. Jo terlihat kebingungan, disini ada banyak jenis dan macam-macam cemilan, dia mana tahu cemilan seperti apa yang di inginkan oleh tuan muda nya.
"Aku bingung, cemilan kayak mana yang harus di beli?" Gumam Jo, jadi sambil memikirkan cemilan apa yang harus dia beli, Jo pun membeli susu dan air mineral terlebih dulu, karena ini yang paling mudah. Nah, setelah mengambil susu dan air minum dia kembali kebingungan memilih cemilan. Jo menggaruk tengkuk nya, dia tak tahu harus membeli cemilan yang mana.
"Astaga, tuan muda. Kau membuat aku kesulitan, harus membeli yang mana aku ya?" Gumam pria itu sambil menggaruk tengkuk nya yang padahal tidak gatal sama sekali.
"Oke, jangan salahkan aku kalau aku menghabiskan banyak uang dari kartu mu, tuan muda." Akhirnya, Jo pun mengambil beberapa cemilan yang menurut nya kelihatan enak. Setelah merasa cukup, dia pun membayar nya di kasir.
Setelah selesai, dia pun kembali keluar minimarket dan kembali ke dalam mobil. Pria itu duduk dengan nyaman di balik kemudi.
"Ini cemilan dan air minum, juga susu nya tuan muda."
"Apa kau membeli seluruh isi minimarket, Jo?" Tanya Arvin dengan wajah datar nya.
"Hehe, saya tadi kebingungan mencari cemilan nya, karena Tuan tidak menyebutkan nama cemilan nya. Jadi, saya asal ngambil aja cemilan yang kelihatan enak, tuan muda." Jawab Jo sambil tersenyum kecil. Arvin menggelengkan kepala nya mendengar jawaban anak buah kepercayaan nya ini. Tapi, dia tak bisa menyalahkan Jo karena ini juga kesalahan nya karena tak menyebutkan cemilan yang sedang dia inginkan.
Arvin membongkar belanjaan Jo dan dia tersenyum sambil mengambil salah satu bungkus cemilan dan membuka nya. Inilah cemilan yang dia inginkan, tapi sayang Jo hanya membeli satu bungkus.
"Ini cemilan yang aku mau, lain kali belikan cemilan yang ini, Jo." Ucap Arvin sambil menunjukkan bungkus cemilan nya pada Jo. Pria itu menganggukan kepala nya, kalau dia tahu nama dan jenis cemilan nya kan enak, tinggal ambil saja. Kalau tadi, dia kan harus berpikir berulang kali karena dia lupa bertanya juga cemilan seperti apa yang tuan muda nya inginkan.
Arvin fokus makan, sesekali dia tersenyum saat merasakan wanita yang tertidur dalam pelukan nya itu bergerak-gerak.
"Sayang, bangun. Lihatlah, Jo membelikan banyak cemilan, kamu gak mau makan?" Tanya Arvin lembut, dia mengecup kening Melisa dengan mesra.
"Enghh.." Melisa melenguuh pelan, lalu merenggangkan otot nya yang terasa kaku karena tidur sambil duduk.
"Sayang.."
"Hmmm.." Melisa hanya menoleh sekilas, seperti nya nyawa nya belum sepenuh nya terkumpul. Wajah bantal wanita itu terlihat sangat menggemaskan di mata Arvin.
"Mau cemilan?" Tanya Arvin.
"Nanti saja, aku masih ngantuk." Jawab Melisa dengan suara serak nya.
"Haha, sayangku. Wajah mu sangat menggemaskan." Ucap Arvin, sambil kembali memeluk wanita cantik itu dengan erat.
"Isshh, aku gak bisa nafas lho ini."
"Habis nya kamu gemesin gini deh." Jawab Arvin sambil mengunyel-unyel pipi cabi wanita cantik itu, hingga memerah.
"Sayang.." Rengek Melisa sambil mengusap-usap pipi nya yang memerah karena ulah tangan nakal Arvin.
"Maaf-maaf, sayang ku. Nih, aku beliin susu stroberi buat kamu." Arvin memberikan susu stroberi dingin pada Melisa.
"Kamu yang beli nih?" Tanya Melisa sambil menatap Arvin dengan tatapan menggoda.
"Hehe, Jo sih yang beli tapi kan aku yang nyuruh."
"Iya deh gapapa, makasih sayang."
"Sama-sama, cantik." Arvin pun kembali fokus dengan cemilan nya, Melisa bersandar manja di pelukan Arvin sambil meminum susu stroberi nya.
__ADS_1
"Masih lama gak sih, Bby?" Tanya Melisa.
"Paling tiga atau empat jam an lagi, sayang."
"Yaahh, masih lama dong. Aku laper!"
"Nanti kita berhenti dulu kalau kamu laper, mau makan apa, sayang?" Tanya Arvin.
"Ayam goreng krispi sama sambel, boleh?"
"Boleh, tapi sambel nya jangan banyak-banyak ya? Nanti kamu sakit perut."
"Oke, makasih sayang." Jawab Melisa, dia senang karena Arvin membolehkan nya makan sambel, sudah dua hari ini Melisa jarang makan sambel karena Arvin melarang nya dengan keras. Boleh makan, hanya saja jangan terlalu banyak.
Mobil pun berhenti di rumah makan yang terkenal akan kelezatan nya, Melisa nampak makan dengan lahap begitu juga dengan Arvin. Jo juga ikut makan bersama mereka, hanya saja berbeda meja karena Arvin tak ingin di ganggu.
Setelah selesai makan dan membayar, mereka kembali melanjutkan perjalanan yang masih cukup panjang, ini baru setengah jalan saja Melisa sudah mengeluh pegal karena kelamaan duduk mungkin.
"Mau nonton drama aja di ponsel?" Tanya Arvin.
"Ihhh mau, kebetulan ada drama yang belum aku tonton."
"Kenapa gak kamu tonton, Bby?" Tanya Arvin, dia tak pernah melarang Melisa mau menonton apapun.
"Hehe, kuota nya abis."
"Kok gak bilang? Tau gitu aku isiin, sayang." Jawab Arvin.
"Malu aku kalo minta, yang."
"Malu malu, terus aja malu. Sama suami sendiri aja malu, gimana kalau sama orang lain hmm? Ada-ada aja kamu tuh, Bby. Yaudah, WiFi aja dari ponsel aku." Arvin pun memberikan ponsel nya pada Melisa.
"Dari ponsel kamu aja boleh gak?"
"Tentu saja boleh, sayang. Tapi, jangan buka-buka email sembarangan ya?"
"Ya kali aja gitu, kamu curiga sama aku."
"Enggak, aku percaya sama kamu kok." Jawab Melisa, dengan seulas senyum yang membuat hati Arvin berdebar. Melisa sudah sangat percaya padanya, dia tak mungkin mengecewakan nya. Lalu, dengan semua kebohongan tentang identitas nya ini apakah akan membuat Melisa marah? Tiba-tiba saja dia khawatir akan hal itu.
Bagaimana kalau Melisa kecewa lalu dia marah akan kebenaran yang sebenarnya tentang kehidupan nya?
"Kok diem, kenapa sayang?" Tanya Melisa, membuat Arvin terlihat sedikit terkejut dengan ucapan Melisa.
"Hmmm, ada pikiran, Bby."
"Jangan terlalu banyak berpikir, sayang. Apalagi yang berat-berat, aku gak mau kamu sakit ya."
"Iya, sayang." Jawab Arvin, dia pun kembali memeluk Melisa.
Beberapa jam kemudian, akhirnya Jo pun menghentikan laju kendaraan nya di sebuah bangunan di kawasan apartemen elit. Dimana, salah satu unit nya adalah milik Arvin.
"Wahh, tinggi sekali." Ucap Melisa, dia terlihat takjub saat melihat bangunan yang berdiri megah di depan nya. Kokoh dan tinggi menjulang, membuat Melisa terlihat seperti debu jika di lihat dari lantai yang paling tinggi.
"Ayo masuk, kita istirahat dulu disini malam ini. Besok, kita baru ke rumah utama buat ketemu papah." Ajak Arvin, Melisa pun menggandeng lengan sang pria lalu kedua nya pun berjalan dengan perlahan. Di ikuti oleh Jo di belakang dengan kantong kresek berisi aneka makanan untuk makan malam pasangan bucin itu nanti malam.
"Selamat beristirahat Tuan muda." Ucap Jo, sambil tersenyum. Dia meletakan kresek di meja dekat ruang tamu.
"Tuan muda?" Tanya Melisa yang membuat Jo terkejut, sial dia keceplosan lagi. Mulut nya memang suka lolos rem begini.
"T-idak, anda salah paham." Ucap Jo.
"Kamu terlihat pucat, apa kamu menyembunyikan sesuatu?" Tanya Melisa lagi, membuat wajah Jo semakin pucat.
"Sudah selesai? Pulanglah Jo, ada anak dan istri mu yang menunggu di rumah."
"Baik, Tuan muda. E-ehh, maksud nya Arvin." Malah latah begini, sebelum kena semprot dan tatapan tajam oleh tuan muda nya itu, memang lebih baik dia pergi dari apartemen ini.
__ADS_1
Setelah kepergian Jo, Melisa menatap Arvin dengan tatapan memicing nya. Dia penasaran, kenapa Jo memanggil Arvin dengan panggilan Tuan muda dan ini bukan yang pertama kali nya. Saat di mobil tadi pun, sebenarnya dia mendengar nya karena dirinya belum sepenuh nya tertidur.
"Sayang, kok natap aku kayak gitu?" Tanya Arvin, meskipun dalam hati nya dia sudah ketar ketir sendiri saat melihat tatapan Melisa yang menatap nya dengan tajam.
"Jelaskan! Kamu menyembunyikan sesuatu dari aku, Bby?" Tanya Melisa, membuat Arvin menghela nafas nya. Kalau sudah begini, ya jalan satu-satunya adalah jujur pada wanita cantik itu bukan? Agar urusan nya tidak semakin runyam.
Arvin pun menjelaskan semua nya dari awal, tentang dia yang menentang keputusan sang papah dan nekat minggat dari rumah besar nya dan memilih tinggal di desa agar tak ada yang bisa menemukan nya.
Melisa terlihat mendengarkan dengan seksama, beberapa kali dia membulatkan mata nya saat mendengar cerita Arvin yang menurut nya sangat mengejutkan. Bagaimana tidak mengejutkan? Selama ini dia mengira kalau Arvin adalah orang yang sama seperti yang dia lihat, tapi nyatanya tidak. Arvin bukanlah sosok sesederhana itu.
Seketika rasa ragu yang tadi sempat menghilang, kini kembali. Dia ragu, sangat ragu dengan dirinya sendiri. Dia merasa tak pantas jika di bandingkan dengan sosok wanita yang di jodohkan dengan Arvin.
"Ya, seperti itu kurang lebih, sayang. Maafkan aku, aku menyembunyikan semua ini dari mu karena aku tak mau kamu kecewa."
"Kamu pikir dengan menyembunyikan fakta tentang dirimu dari ku itu akan membuat aku tidak kecewa?" Tanya Melisa lirih.
"Sayang, jangan begini. Aku mohon.."
"Aku ragu, jika di bandingkan dengan gadis itu, aku tidak apa-apa nya."
"Tidak, kamu sempurna, sayang. Kamu memiliki apa yang tidak dia miliki, sayang." Ucap Arvin, dia menggenggam tangan Melisa dan menatap wanita itu dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Apa papah kamu akan berpikir demikian? Seperti nya tidak, jadi lebih baik aku mundur saja, maaf tapi aku ingin pulang."
"Sayang, jangan merasa seperti itu. Kamu mencintai ku kan? Jadi, ayo kita berjuang bersama, sayang."
"Tapi.."
Brukk..
Arvin memeluk Melisa dengan erat, dia menangis sesenggukan di pelukan wanita itu. Sungguh demi apapun, dia tak menginginkan hal ini. Dia ingin bersama Melisa, apapun akan dia usahakan agar bisa bersama wanita pujaan nya. Dia tak mau mengalah lagi, dia akan berjuang demi Melisa dan kebahagiaan nya sendiri. Dia tak mau lagi di monopoli oleh papah nya sendiri.
"Aku mohon.." Lirih Arvin membuat hati Melisa berdenyut, Arvin benar-benar menunjukkan ketulusan nya.
"Baiklah, kita lihat besok bagaimana respon orang tua kamu. Kalau memang seandainya beliau tidak setuju, kamu jangan memaksa nya."
"Tidak, kalau dia memang tidak setuju aku akan tetap akan menikahi mu karena aku sudah melakukan apa yang tidak seharus nya kita lakukan sebelum kita sah menjadi suami istri." Jawab Arvin, Melisa terhenyak. Arvin benar-benar serius dengan ucapan nya, dia tahu lewat tatapan mata nya.
"Lalu bagaimana dengan restu papah kamu, sayang? Aku gak mau kita menikah tanpa ada nya restu dari orang tua kamu."
"Tak perlu di pikirkan, aku yang akan melindungi kamu. Ingat semua yang sudah kita lewati bersama, sayang. Kamu ingin menyerah? Jangan pernah berpikir seperti itu." Tegas Arvin sambil kembali memeluk erat tubuh Melisa. Setelah beberapa menit memeluk nya, Arvin melerai pelukan nya dan meraih dagu Melisa membuat wanita itu mendongak menatap nya.
Sedetik kemudian, Arvin mencium bibir Melisa dengan lembut. Wanita itu cukup terkejut dengan perlakuan Arvin, tapi akhirnya dia pun menikmati nya. Melisa memejamkan mata nya, dia juga membalas setiap lumaatan yang di lakukan oleh Arvin. Dia juga melingkarkan kedua tangan nya di leher kokoh Arvin.
Akhirnya kedua nya pun terbawa suasana dan terjadilah penyatuan yang mereka lakukan di ruang tamu. Awalnya, Arvin berniat takkan melakukan nya sebelum dia berhasil menikahi wanita pujaan nya, alasan nya? Karena dia tak mau kalau sampai Melisa berpikir dia hanya menginginkan tubuh nya saja.
"Terimakasih, aku mencintai mu, sayang." Bisik Arvin di telinga Melisa, kedua nya baru saja menyelesaikan permainan mereka di malam hari yang cukup sejuk ini.
"Aku juga, semoga saja ada keadilan untuk kita berdua."
"Aku akan memperjuangkan keadilan untuk kita berdua, sayang." Jawab Arvin, dia pun kembali memeluk Melisa dengan erat dan tidur dengan saling memeluk satu sama lain.
Keesokan hari nya, pagi-pagi Jo sudah menjemput pasangan bucin itu. Dia membulatkan mata nya saat melihat ruang tamu yang berantakan, bahkan ada beberapa pakaian yang berserakan. Dia menggelengkan kepala nya, sudah pasti tuan muda nya habis melakukan ritual makanya ruangan ini terlihat berantakan seperti kapal pecah.
'Astaga, tuan muda sudah ambil start duluan sebelum sah. Sial sekali aku datang kesini pagi-pagi begini.' Pria itu membatin, lalu membereskan kekacauan yang di buat oleh kedua sejoli itu.
Selang beberapa menit kemudian, kedua nya keluar dengan saling bergandengan tangan, rambut kedua nya kompak basah karena habis keramas.
"Sudah lama, Jo?" Tanya Arvin seolah tanpa dosa.
"Lumayan, Tuan. Saya sudah membereskan ruang tamu dan membuat kopi hingga habis setengah nya sambil menunggu." Jawab Jo, dengan nada yang terdengar seperti sindiran bagi Arvin.
"Baiklah, sudah selesai? Ayo pergi, nanti kita berhenti di warung makan. Aku dan Melisa belum sarapan."
"Baik, tuan muda." Jawab Jo, dia pun dengan sigap mengikuti langkah pasangan itu keluar dari apartemen. Cukup kesal juga ternyata saat punya majikan yang agak tidak tahu malu seperti Arvin. Tapi gaji bekerja disini sangat besar, membuat Jo harus betah tidak betah untuk bekerja disini. Demi uang ya kan, dia hanya harus menebalkan telinga nya saja. Kalau tidak bekerja bersama Arvin, anak istrinya di rumah mau di beri makan apa?
.....
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻