SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 91 - SANG PEBINOR


__ADS_3

Ayah dan anak itu saling menatap dengan tajam, lebih tepatnya hanya Arvin saja yang menatap Darren dengan tatapan setajam mata elang. Tak lama kemudian, Melisa datang dengan membawa dua cangkir kopi lalu meletakan nya di meja. 


"Ini kopi nya, silahkan di minum, pah."


"Hmm, ya terimakasih. Siapa nama mu?" Tanya Darren datar.


"Bukankah aku sudah memperkenalkan nya pada mu?" Tanya Arvin dengan ketus, membuat Melisa hanya tersenyum menanggapi perkataan Arvin. 


"Melisa Prameswari, pah." Jawab Melisa. Dia akan membiasakan diri untuk memanggil pria paruh baya di depan nya ini dengan panggilan Papah, meskipun mungkin dia tahu kalau Darren tidak akan menyukai nya.


"Duduklah, aku ingin bicara." Melisa pun mengangguk dan duduk di samping Arvin, pria itu langsung merangkul pundak Melisa dari samping. Tangan nya, langsung berada di perut Melisa, seolah memberi kode pada Darren kalau Melisa sedang mengandung. 


Hal itu, tentu nya sukses membuat Darren keheranan. Benar-benar keheranan, tak mungkin putra nya menghamili wanita yang bukan istri nya kan?


"Dia sedang hamil?" Tanya Darren.


"Ya, dia sedang mengandung anak ku." Jawab Arvin yang membuat Darren terhenyak, bisa-bisa nya Arvin melakukan hal semacam ini sebelum dia resmi menikah. 


"Apa yang sudah kamu lakukan, Arvin?"


"Memang nya kenapa? Kami saling mencintai." Jawab Arvin, masih dengan wajah datar nya.


"Astaga, Arvin." Darren menggelengkan kepala nya, ternyata di luar sana putra nya benar-benar liar.


"Berapa usia kandungan nya sekarang?" Tanya pria itu lagi.


"16 minggu, pah."


"H-ahh? Itu artinya sudah empat bulan?" Kedua nya menganggukan kepala, tentu saja hal itu membuat Darren menggeleng, lalu memijit pelipis nya yang terasa pusing secara tiba-tiba. Dia benar-benar tidak menyangka kalau putra nya bisa melakukan hal semacam ini.


"Kalian harus segera menikah, secepatnya."


"H-ahh?" Tanya kedua nya dengan wajah penuh keterkejutan yang kentara. 


"Ya, keburu kandungan Melisa semakin membesar. Kalian harus segera meresmikan status kalian." Ucap Darren.


"Tunggu, kau pasti punya niat terselubung bukan?" Tuduh Arvin, jangan salahkan kenapa dia mencurigai papah nya sendiri ya karena ucapan nya di awal saat dia membawa Melisa ke rumah, tapi sekarang kenapa tiba-tiba sekarang dia meminta mereka segera menikah? Bukankah itu aneh?


"Kau selalu saja curiga pada ku, Arvin. Tidak, aku tidak punya niat apapun. Sama sekali, tapi papah hanya berpikir ulang tentang kebahagiaan mu. Maaf, kalau selama ini papah terlalu mengekang dan mengatur semua tentang hidup mu, Arvin. Sekarang, papah sadar kalau kebahagiaan mu lebih penting."

__ADS_1


"Apa yang membuat mu bisa berpikir seperti ini, Tuan?" Sinis Arvin sambil menyedekapkan kedua tangan nya di dada.


"Dara dan Richard datang ke rumah, mereka mengatakan kalau kalian sangat mencintai dan meminta papah untuk mempertimbangkan semua nya."


"Ohh, kalau orang lain yang bicara baru papah menurut? Tapi, kalau aku yang bicara tanggapan papah hanya seperti itu? Ckkk, memuakkan!" 


"Pesta seperti apa yang kamu inginkan, Nak?" Tanya Darren. 


"Kau serius?" Tanya Arvin lagi, dia benar-benar tidak percaya saat papah nya menanyakan hal ini.


"Ya, tentu saja aku serius."


"Tapi, masa Iddah ku belum selesai." Lirih Melisa.


"Kapan akan berakhir, Nak?" Tanya Darren. 


"Seminggu lagi." Jawab Melisa.


"Ya, kita akan melakukan pesta pernikahan nya setelah masa iddah mu selesai, Nak." 


"T-api.."


"Biar aku tebak, ala Cinderella?" Tanya Darren membuat wajah Melisa merona seketika.


"Iya, dia menginginkan hal itu. Kau bisa memenuhi nya bukan? Anggap saja itu untuk menebus semua kesalahan mu padaku." Jawab Arvin, namun wajah nya masih terlihat sangat datar. 


"Tentu saja, baiklah aku akan memberikan pesta yang terbaik untuk putra dan menantu ku." Darren tersenyum ke arah Melisa dan wanita itu membalas nya dengan senyuman juga. 


"Baguslah kalau begitu."


"Kapan kamu akan pulang ke rumah, Arvin? Papah kesepian."


"Entahlah, tapi mungkin tidak sekarang atau dalam waktu dekat." Jawab Arvin.


"Bagaimana menurut mu, Mel? Dia sangat keras kepala, bujuk dia ya agar mau pulang." 


"Baiklah, pah. Aku akan membujuk nya." Jawab Melisa sambil tersenyum kecil.


"Sayang.."

__ADS_1


"Apa hmm? Lagian, apa enak nya sih jauh-jauhan sama orang tua? Padahal, aku kalau orang tua aku masih ada dan mereka menyayangi ku, aku ingin selalu berdekatan dengan mereka." Lirih Melisa yang membuat Arvin langsung menoleh, dia menatap wajah cantik Melisa yang terlihat sendu. Kepala nya tertunduk sambil meremaas jemari nya.


"Sayang, ada aku sekarang. Jangan merasa seperti ini? Kamu gak sendirian, aku bakalan selalu ada di samping kamu, sayang." Ucap Arvin, Melisa mendongak lalu tersenyum.


"Iya, aku percaya akan hal itu. Terimakasih, Arvin."


"Tidak perlu berterimakasih, sayang. Aku melakukan nya dengan tulus, karena aku mencintaimu." Arvin meraih Melisa ke dalam pelukan nya, menyandarkan kepala nya di dada bidang nya, dia mengusap puncak kepala wanita itu dengan lembut. Sesekali melayangkan kecupan mesra di puncak kepala nya.


"Aduh, baper.." Celetuk Darren, sambil menutup mata nya dengan kedua tangan. Tapi, jemari nya tidak rapat jadi percuma saja, masih bisa melihat pemandangan uwu yang tersaji di depan mata itu dengan jelas.


"Duda kesepian." Celetuk Arvin yang membuat sang papah mendelik. 


"Siapa yang larang papah nikah lagi? Itu kamu, jadi nya papah kesepian." Jawab Darren.


"Ogah banget punya ibu tiri."


"Sayang.."


"Iya iya iya, maafin sayangku." Jawab Arvin sambil mendusel di pundak Melisa dengan manja.


"Dihh, manja gitu."


"Udah kebiasaan dia tuh, mendusel-dusel kayak anak kucing." Jawab Melisa yang membuat Darren terkekeh kecil. Seperti nya, Melisa adalah wanita yang baik dan ramah. 


"Mel, papah minta maaf ya. Kata-kata papah waktu itu pasti sangat menyakiti mu."


"Tidak apa-apa, pah. Lupakan saja, aku sudah memaafkan papah." Jawab Melisa, dia pun tersenyum ke arah Darren. Pria itu juga membalas nya, namun hal itu malah membuat Arvin terlihat cemburu.


"Gak usah senyum semanis itu pada pria lain, sayang!"


"Heh, dia itu papah kamu lho."


"Tetap saja dia pria, sayang." Jawab Arvin dengan ekspresi yang sangat lucu, bibir nya mengerucut seperti bebek. Menggemaskan sekali. 


"Astaga, kamu ini.."


"Putra ku sangat posesif ternyata." Gumam Darren saat melihat betapa pencemburu nya seorang Arvin pada Melisa, itu artinya dia benar-benar mencintai wanita itu bukan? Tak masalah apapun status nya, sekarang yang dia pikirkan adalah kebahagiaan putra nya.


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2