SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 60 - SANG PEBINOR


__ADS_3

"Sayang, bangun.." Bisik Arvin di telinga Melisa, dia membelai lembut wajah cantik sang wanita lalu mengecup nya beberapa kali dengan mesra.


"Hmmm, lima menit lagi. Aku masih kangen, sayang."


"Sshhttt, ada suami kamu. Jangan keras-keras bicara nya." Bisik Arvin lagi, membuat Melisa mengangguk, namun dia masih enggan untuk bangun. Dia masih sangat nyaman berada di pelukan Arvin, pelukan hangat yang tidak pernah dia dapatkan dari siapapun, termasuk suami nya. Hanya Arvin lah yang memberikan nya pelukan hangat ini. 


"Dia sudah pulang ya?" Tanya Melisa, namun kedua mata nya masih tertutup, seakan mata nya terasa sangat berat untuk terbuka. 


"Sudah, tadi dia manggil-manggil kamu. Tapi sekarang hening, mungkin dia tidur." 


"Ohh, kamu gak pulang?" Tanya Melisa, kali ini dia membuka kedua mata nya, namun tanpa melepas pelukan nya.


"Jadi, kamu ngusir aku nih ceritanya?" Tanya Arvin dengan suara berat nya.


"Bukan gitu, sayang."


"Terus?"


"Ya heran aja, kamu udah tahu ada suami aku disini, tapi masih gak pulang juga." Jawab Melisa.


"Ya kamu nya tidur nyenyak banget disini, aku mana tega biarin kamu tidur sendirian."


"Hmmm, yaudah deh. Tapi, tumben Mas Dion pulang jam segini ya? Tadi, kita juga sempet debat." 


"Mana aku tahu, yang. Tapi, aku laper pengen makan nih."


"Makan aja, yuk." Ajak Melisa, dia bersiap bangun dari tiduran nya.


"Enggak, ada suami kamu. Bahaya sayang, nanti bisa ketahuan. Aku pulang aja ya? Nanti malam, kamu kabarin bisa gak kita anu. Kalo gak bisa, ya gapapa."


"Tumben pasrah amat? Biasa nya kamu kan kalo ada mau nya pasti ambisi banget."


"Aku gak tega kalo harus nerkam kamu, yang. Kamu baru aja mendingan, masa udah aku pake aja sih? Lagian, aku agak capek sih habis perjalanan jauh." Jawab Arvin.


"Ohh, yaudah. Besok malam aja gimana?"


"Oke, sayang. Berikan aku pelayanan yang terbaik, ya." 


"Iya, sayang." Jawab Melisa, Arvin pun bersiap untuk keluar dari kamar bersama Melisa. Wanita itu berjalan santai seolah tanpa beban sambil meminum es jeruk nya yang masih tersisa cukup banyak.


Sebenarnya, mau ketahuan oleh Dion pun dia sudah tak peduli lagi. Perasaan takut nya pada pria itu telah hilang sejak dia mengetahui kalau Dion juga menghianati nya, ya meskipun dia lebih dulu berhianat dengan Arvin. Tapi itu cukup beralasan, siapa sih wanita yang tahan bersama dengan pria sepelit dan ringan tangan seperti Dion? Hanya Melisa saja, dia kuat bertahan dengan pria itu selama 3 tahun.


Arvin mengecup kilas bibir dan kening Melisa, lalu pergi dari rumah wanita itu lewat pintu belakang. Melisa membuka tudung saji, raib tak bersisa. Artinya, Dion makan tadi. 

__ADS_1


"Kebiasaan." Gumam Melisa, dia pun mengambil bahan-bahan dari kulkas, dia akan memasak mie instan saja untuk makan sore hari nya. Tadi, dia melewatkan makan siang karena terlalu rindu tidur di pelukan Arvin.


"Lagi bikin apa, Mel?"


"Mie instan, kenapa?" Tanya Melisa, membuat Dion menggelengkan kepala nya. Dia sedang tertidur tadi, namun begitu mendengar suara kompor yang di nyalakan, dia langsung terbangun dan melihat ke dapur ternyata ada Melisa yang berdiri di depan kompor nya. 


"Enggak.."


"Tumben pulang cepet, biasa nya malem baru pulang, atau malahan gak pulang semaleman." Sindir Melisa. 


"Ya, gapapa sih. Pengen pulang cepet aja." Jawab Dion.


"Kamu bertengkar dengan selingkuhan mu itu, Mas?" Tanya Melisa, dia tersenyum sinis saat melihat wajah Dion yang kusut. 


"Maksud kamu apa sih, Mel? Siapa juga yang selingkuh."


"Gak usah pura-pura gak tahu, Mas. Aku dah tahu hubungan kamu sama Gia, wanita yang kata mu teman sepekerjaan itu." Jawab Melisa ketus membuat wajah Dion memucat. 


"Mel.."


"Cukup, Mas. Kamu tahu gak sih aku tuh capek gini terus? Kamu gak pernah hargain aku sebagai istri. Kalau memang kamu udah gak tahan sama aku, ngapain kita masih bertahan?" Tanya Melisa datar, tanpa menoleh sedikit pun ke arah Dion.


"Sejak kapan kamu jadi berani begini, Mel?"


"Apa maksud kamu, Mel?"


"Hanya laki-laki lemah yang selalu menyakiti istri nya dengan perbuatan juga dengan kata-kata nya, sekarang kamu masih bertanya?" 


"Melisa, kau sangat membuat aku kesal."


"Lalu, apa kamu pikir aku tak kesal dengan mu, Mas?" 


"Cukup Melisa, aku capek jadi jangan memancing emosi ku."


"Aku kan tadi hanya bertanya, kamu ribut ya sama selingkuhan kamu itu? Cuma gitu doang, harus nya kalau pun kamu gak merasa kalau udah selingkuh, ngapain kamu sampe marah segitu nya, Mas?" Ucap Melisa, dia tersenyum kecut menatap wajah Dion yang sudah memerah menahan amarah. 


Biasa nya, dia akan takut saat melihat pria itu menunjukkan wajah seperti itu, tapi sekarang tidak lagi. Rasa nya, dia malah takut kehilangan Arvin dari pada suami nya sendiri sekarang ini. 


"Dengan ekspresi dan reaksi kamu saat ini, itu menunjukkan kalau kamu memang ada hubungan lain dengan wanita itu, Mas. It's okey, kalau kamu memang ingin dengan nya, aku takkan melarang." 


"Mel.."


"Pergilah, jangan merusak nafssu makan ku, Mas." Ucap Melisa mengusir Dion, dia meletakan semangkuk mie instan kuah dengan telur setengah matang dan sayuran, aroma kuah nya menguar membuat perut siapapun keroncongan.

__ADS_1


Dion pun pergi dari dapur dengan perasaan gondok, biasa nya dia lah yang mengatakan hal itu pada Melisa, tapi sekarang malah berbalik padanya. Ternyata rasa nya cukup menyakitkan, apalagi Melisa yang merasakan itu selama tiga tahun berturut-turut?


Sekarang, Dion merasakan apa yang di rasakan oleh Melisa selama ini. Tapi aneh nya, dia tak bisa lagi sekejam dulu. Jika dulu, sedikit saja Melisa membuat kesalahan maka tangan nya yang bicara, tapi sekarang dia tak bisa melakukan hal itu lagi. 


Karma di bayar kontan, itulah kata yang pas untuk Dion saat ini. Dulu, dia memperlakukan Melisa dengan kejam, kini Melisa membalas perbuatan jahat nya itu juga.


Sedangkan di dapur, Melisa sedang asik menikmati mie instan nya, kuah nya yang pedas dan panas membuat nafssu makan nya bertambah, tak tanggung-tanggung dia memasak dua bungkus mie instan sekaligus. Padahal, dia biasa nya akan kenyang hanya dengan satu bungkus, tapi kali ini berbeda. 


"Huhh, enak banget mie nya." Gumam Melisa, dia menyeruput kuah pedas nya beberapa kali. Lalu memakan mie nya dengan lahap, beberapa kali dia berdecak saking enak nya. 


Sedangkan di rumah nya, Arvin tengah bicara di telepon dengan Jo, orang kepercayaan di kota. 


"Jadi, bagaimana Jo?"


'Mandor yang baru sudah mulai bekerja hari ini, Tuan. Kasus Ares juga sudah memasuki tahap penyelidikan dan pengumpulan barang bukti.' 


"Ya, kau pastikan tua bangka itu mendekam di penjara, Jo. Aku tak mau, katakan ini pada Mario." Tegas Arvin, pokoknya apapun yang terjadi penghianat harus mendapatkan hukuman yang setimpal.


'Baik, Tuan muda.' 


"Ya, kau memang bisa di andalkan, Jo. Gaji mu aku transfer lebih awal bulan ini dengan bonus nya sekalian."


'Terimakasih, Tuan muda.' 


"Bekerja lebih giat lagi, Jo."


'Baik, Tuan muda.' Jawab pria itu, Arvin pun menyudahi panggilan telepon nya, lalu dia memilih untuk duduk di sofa, tempat dimana dia biasa melihat Melisa yang sedang beraktivitas biasa nya. Karena sofa itu berhadapan langsung dengan jendela dapur Melisa. 


Arvin tersenyum kecil saat dia melihat siluet Melisa yang tengah duduk di meja makan dengan sebuah mangkuk yang entah berisi apa.


"Ayangku lagi makan apa ya? Keliatan enak banget." Gumam Arvin, dia juga belum makan saat ini. Tadi, setelah pulang dari rumah Melisa dia langsung mengambil laptop dan tas kerja nya, hingga melupakan rasa lapar nya.


Bertepatan dengan itu, Melisa menoleh ke arah Arvin. Kedua nya saling melempar senyuman, lalu Arvin bertanya melalui pesan. 


"Lagi makan apa, yang?"


"Makan mie instan pedas, pake telur sama sayur." Jawab Melisa lalu menunjukan mangkuk yang tinggal kuah nya saja.


"Wahh, kayaknya enak sih. Aku juga mau bikin, udah dulu ya." 


Melisa menganggukan kepala nya, lalu mengirim stiker cium pada Arvin, setelah itu dia pun kembali menyimpan ponsel nya ke dalam saku celana nya. Bisa berabe nanti kalau sampai Dion mengetahui kalau dirinya punya ponsel, dia malas di tanya-tanya seperti seorang tersangka.


.......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2