
Keesokan hari nya, Arvin sudah pulang ke rumah nya. Nanti siang, dia akan mengantarkan Melisa ke pengadilan untuk mengajukan surat-surat untuk menggugat cerai suami nya. Jadi, dia langsung bersiap-siap sedangkan Melisa dia akan memasak makanan yang enak untuk sarapan nya, tentu nya saat sarapan Arvin akan kemari untuk ikut sarapan.
"Sayang.." Panggil Arvin sambil tersenyum, dia sudah rapih dengan kemeja berlengan pendek berwarna hitam dan celana hitam panjang juga.
"Udah rapih aja, yang."
"Gapapa, sayang. Siap-siap aja, biar nanti kamu gak nungguin terlalu lama."
"Kebalikan nya, kamu yang bakal nungguin aku, sayang. Aku belum mandi, belum ganti baju."
"Gapapa, aku akan menunggu. Wanita kan seneng nya di tungguin, bukan nya nungguin." Jawab Arvin sambil terkekeh.
"Yaudah, ayo sarapan dulu." Ajak Melisa, Arvin pun duduk bersampingan dengan wanita cantik itu, Melisa langsung mengambilkan nasi dan lauk nya ke piring. Setelah itu, kedua nya pun sarapan.
"Yang, aku kok gugup ya?"
"Bukan nya itu biasa, sayang?" Balik tanya Arvin membuat kening Melisa mengernyit.
"Hmmm, tetap saja."
"Sayang, kamu yakin ingin bercerai dengan suaminya mu?" Tanya Arvin sekali lagi, dia ingin meyakinkan Melisa dengan mendengar jawaban nya sekali lagi.
"Yakin, sudah tidak ada lagi yang harus aku pertahankan dengan Dion, sayang."
"Baiklah, kalau begitu."
"Memang nya kenapa, sayang?" Tanya Melisa, Arvin menatap wajah cantik Melisa lalu menyunggingkan senyum kecil nya.
"Tidak, aku hanya memastikan."
"Ohh, aku sudah yakin dengan keputusan yang aku ambil, sayang."
"Syukurlah, aku senang mendengar nya."
"Senang?" Tanya Melisa dengan kening yang berkerut heran.
"Iya, aku senang karena kamu akan menjanda. Setelah itu, aku yang akan maju untuk berjuang mendapatkan mu, sayang."
"Bukan nya sudah tidak perlu berjuang lagi? Nyatanya, aku sudah jadi milik mu." Jawab Melisa.
"Iya, setelah kamu bercerai, kita hanya perlu meresmikan hubungan kita." Ucap Arvin, dia mengulas senyuman manis nya. Lalu mengusap lembut wajah cantik Melisa.
"Ayo habisin dulu makan nya, Ayy. Setelah ini aku mau beres-beres dulu, terus mandi."
"Iya, sayang. Mau aku bantuin beres-beres nya?" Tanya Arvin dengan serius.
"Gak usah, biar aku sendiri aja, yang."
"Hmmm, yaudah deh." Pasrah Arvin, mereka pun melanjutkan makan dengan lahap. Setelah menyelesaikan makan nya, Arvin pun pulang terlebih dulu, Melisa juga mengerjakan pekerjaan nya. Dia mengepel lantai lebih dulu, mencuci piring dan mencuci baju lalu menjemur nya. Setelah itu, barulah dia mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke pengadilan bersama Arvin.
Setelah selesai, Melisa pun memakai pakaian yang bagus, Arvin yang membelikan nya. Tak lupa dia memoles sedikit make up agar wajah nya tidak terlalu pucat.
"Mbak Mel.." Panggil Arvin dari depan rumah nya. Melisa keluar dengan membawa berkas-berkas berisi persyaratan untuk dia ajukan ke pengadilan.
"Iya, sebentar ya."
"Mau kemana, neng?" Tanya Bu Ratmi.
"Mau ke pengadilan, Bu." Jawab Melisa lirih, membuat Bu Ratmi membulatkan kedua mata nya.
"Neng serius mau mengajukan berkas gugatan perceraian?"
"Serius, Bu. Lagi pun, sudah tidak ada lagi yang bisa aku pertahankan lagi bersama Mas Dion." Jawab Melisa, sempat-sempatnya dia tersenyum kecut saat menjawab hal itu.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan nya ya, neng? Mau sama Nak Arvin pergi nya?"
"Iya, Bu. Soalnya saya gak tau apa-apa, jadi nya minta Arvin buat nganterin." Ucap Melisa.
"Ya sudah, hati-hati ya."
"Iya, Bu." Jawab Melisa, dia pun naik ke atas motor milik Arvin dan pergi meninggalkan rumah nya.
"Kamu keliatan cantik banget, deh." Ucap Arvin, sambil tersenyum.
"Biasa aja kok."
"Tumben pake eyeliner, biasa nya gak pernah." Ucap Arvin, dia tau benar ada yang berubah dengan kelopak mata Melisa. Biasa nya, Melisa hanya mengenakan maskara, tapi kali ini ada garis hitam di atas bulu mata nya. Cantik dan membuat penampilan nya semakin menarik bagi Arvin yang sudah cinta mati dengan wanita itu.
"Kenapa memang nya? Apa terlihat aneh, sayang?" Tanya Melisa.
"Tidak, justru kamu terlihat lebih cantik."
"Benarkah?"
"Iya, sayangku." Jawab Arvin lagi, membuat Melisa tersenyum, hati nya berbunga karena pujian yang di lontarkan oleh Arvin. Hanya dengan cara sederhana seperti ini saja, mampu membuat hati nya senang.
"Apa menurut kamu tidak terlalu tebal, sayang? Aku kan baru belajar."
"Tidak, sudah sangat bagus. Besok-besok, pake lagi ya. Kamu cantik kalo pake eyeliner, aku beliin lagi nanti. Skincare yang aku beliin, udah habis?" Tanya Arvin.
"Masih ada sih, dikit lagi, yang."
"Yaudah, kita mampir di toko skincare nya ya, beli buat stok. Paket yang kemarin udah cocok, sayang?" Tanya Arvin lagi, membuat Melisa mengangguk. Paketan skincare itu sudah sangat cocok di wajah nya.
"Cocok kok, yang."
"Gak timbul beruntusan kan, atau jerawat?"
"Enggak, sayang. Aku boleh minta beliin masker lagi gak? Di rumah cuma ada satu lagi." Ucap Melisa lirih.
"Mall?" Tanya Melisa, dia tak tahu seperti apa yang disebut mall itu, hanya sering mendengar nya saja dari televisi tapi belum pernah berkunjung ke tempat seperti itu.
"Iya, mall. Kamu sudah pernah ke mall apa belum?" Tanya Arvin, Melisa menggelengkan kepala nya.
"Belum, sayang."
"Ya sudah, kita kesana sekarang sekalian jalan-jalan."
"Hehe, aku seneng lho."
"Sudah tugas aku buat bikin kamu seneng, yang." Jawab Arvin. Melisa pun tersenyum manis, dia bahagia jika bersama Arvin.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya motor yang di kendarai oleh Arvin sampai di pengadilan, Melisa memberikan berkas-berkas nya pada pengacara yang sudah di sewa oleh Arvin untuk di periksa lebih dulu, setelah di pastikan semua informasi nya akurat, pengacara itu pun meminta Melisa untuk pulang.
"Berkas nya sudah komplit, saya akan mengabari kalau sudah waktu nya sidang, Nona."
"Baik, pak." Jawab Melisa, dia pun pergi bersama Arvin dengan sepeda motor nya.
"Kita isi bensin dulu ya."
"Iya, sayang." Jawab Melisa, dia mengeluarkan uang untuk Arvin membeli bensin.
"Ini uang nya, sayang."
"Gak usah, aku ada kok." Jawab Arvin sambil menunjukan dompet nya yang terlihat sangat tebal.
"Yaudah deh." Uang nya kembali Melisa masukan ke dalam tas kecil yang dia bawa. Tas yang di berikan Arvin sebagai hadiah karena dia sudah membuat masakan yang enak hari itu.
__ADS_1
Setelah selesai mengisi bensin motor nya, Arvin dan Melisa pun kembali melanjutkan perjalanan mereka ke mall. Melisa nampak sangat senang padahal hanya di ajak ke mall.
"Kamu seneng?"
"Banget, makasih ayang."
"Sama-sama, yuk kita jalan-jalan. Kalau ada yang kamu suka, bilang aja." Ucap Arvin, Melisa menganggukan kepala nya dengan cepat. Kedua nya pun berjalan-jalan di mall dengan tangan yang saling bertautan mesra.
"Kesini dulu, sayang." Ajak Arvin ke salah toko skincare yang cukup terkenal.
Arvin pun membeli satu paket skincare yang biasa nya di gunakan oleh Melisa, setelah membeli nya Arvin pun mengajak wanita nya berkeliling.
"Mau beli pakaian? Celana, atau yang lain?"
"Eemm, enggak deh. Kamu udah terlalu sering beliin aku baju, lagian baju aku udah banyak. Yang kamu kasih aja, belum aku pake semua." Jawab Melisa.
"Sepatu?"
"Enggak juga deh, yang. Aku mau makan aja, boleh?"
"Boleh, ayo sayang. Mau makan sushi?"
"Makanan apa itu?" Tanya Melisa.
"Makanan khas Jepang."
"Gak mau, aku mau nya ramen."
"Yaudah, ayo sayang." Ajak Arvin, dia pun mengajak Melisa ke restoran ramen yang menjadi langganan nya jika ke mall. Melisa terlihat kebingungan memilih menu, karena semua nya terlihat enak.
"Bingung ya?"
"Iya nih, sayang. Menu nya banyak banget, terlihat enak semua."
"Yaudah, kamu mau nyobain ramen kesukaan aku gak?"
"Boleh deh, biar aku gak perlu pusing-pusing milih, hehe." Jawab Melisa sambil cengengesan.
"Oke." Arvin pun memesan dua porsi ramen, satu untuknya dan satu lagi untuk Melisa.
"Sayang, aku baru tahu lho kalo ramen itu ternyata banyak jenis dan nama nya." Celetuk Melisa yang membuat Arvin tergelak.
"Haha, kamu ini ada-ada saja. Ya jelas banyak dong."
"Ya kan aku baru tahu, sayang."
"Lucu nya calon istri." Gumam Arvin pelan, bahkan saking pelan nya Melisa tak bisa mendengar gumaman pria tampan itu.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya ramen pesanan Arvin pun sampai. Aroma nya sangat enak, membuat perut Melisa meronta seketika.
"Silahkan di coba, sayang." Melisa mengangguk, dia pun memakan nya dengan perlahan karena kuah nya masih panas.
"Enak gak?"
"Enak banget ini mah, sayang."
"Kalo mau pedes, ini boleh di tambahkan bubuk cabe. Tapi, jangan banyak-banyak soalnya pedes banget." Peringat Arvin, Melisa pun mengangguk. Dia hanya menambahkan sedikit bubuk cabe agar rasa ramen nya tidak hanya gurih saja.
"Kalau masih mau, kamu bisa nambah lagi."
"Ini aja belum habis, yang."
"Ya kali aja gitu, kamu mau makan dua porsi." Melisa hanya menggeleng, peka sih peka tapi nawarin nya pas ramen nya masih banyak, bahkan Melisa baru memakan ramen nya satu suapan saja. Tapi, ya ada bagus nya juga sih. Jadi dia takkan malu kalau seandainya masih belum kenyang memakan ramen nya.
__ADS_1
.......
🌻🌻🌻🌻