
Keesokan hari nya, Dion tak pergi ke sekolah karena merasa tak enak badan. Melisa mengurus nya dengan baik, ya meskipun mungkin dengan setengah hati karena dia sudah banyak merasakan rasa sakit yang di berikan oleh pria yang berstatus suami nya itu.
Selain rasa sakit secara fisik yang di lakukan nya, Dion juga memberikan luka batin yang sangat menyakitkan. Seperti nya, pria itu tak puas jika hanya menyakiti secara fisik saja. Jadi, dia juga menambahkan luka secara batin Melisa agar membuat nya semakin menderita.
Tapi, sayang nya Melisa lebih dulu memulai percikan api. Dia dulu yang berselingkuh dengan Arvin, tapi perselingkuhan nya bukan tanpa alasan. Semua yang dia dapat dari Arvin, tak pernah dia dapat dari sosok suami nya, Dion.
Pria itu memperlakukan nya jauh lebih baik dari pada Dion. Arvin memberikan kasih sayang, perhatian pada Melisa. Namun, harga yang di berikan oleh Melisa juga cukup mahal, yakni harus merelakan tubuh nya di sentuh pria lain yang bukan suami nya. Namun, rasa nya itu setimpal dengan apa yang dia perbuat oleh Dion juga. Jadi, mereka imbang sekarang satu sama alias sebelas dua belas.
"Mel.."
"Iyaa, kenapa Mas?" Tanya Melisa sambil memeras sapu tangan yang baru saja dia kenakan untuk mengompres suami nya.
"Tidak, aku ingin makan bubur."
"Bubur ayam?" Tanya Melisa, Dion menganggukan kepala nya.
"Tapi, dimana yang ada?"
"Di jalan dekat ke sekolah, ada yang jualan bubur ayam."
"Tapi, jarak nya jauh kalau aku harus jalan kaki, Mas."
"Minta Arvin untuk membelikan nya." Ucap Dion tak tau malu.
"Uang nya, sekalian sama ongkos nya." Jawab Melisa, dia menengadahkan tangan nya pada Dion.
"Tapi, semua uang nya kan udah aku kasih ke kamu, Mel."
"Itu buat kebutuhan rumah, yang lain nya itu terserah kamu, Mas."
"Astaga, tau begitu uang nya gak aku kasih semua." Ucap Dion, dia merogoh saku celana nya lalu mengambil uang dari dompet nya.
"Ini, uang nya."
"Makasih, aku ke rumah Arvin dulu. Kali aja dia udah bangun." Ucap Melisa, dia pun keluar dari kamar dan pergi ke rumah Arvin. Melisa mengetuk pintu rumah Arvin dengan lirih, membuat Arvin yang masih tertidur langsung terbangun seketika.
"Iya, sebentar.." Ucap nya dari dalam, tak lama kemudian Arvin membuka pintu dengan wajah bantal nya.
"Lho, sayang.."
"Hehe, aku bangunin kamu ya?" Tanya Melisa sambil tersenyum kecil.
"Hmmm, enggak kok, sayang. Ada apa? Pagi-pagi sudah kesini." Tanya Arvin.
"Mas Dion sakit, dia pengen makan bubur ayam. Aku males bikin nya, yang. Beli juga jauh, jadi aku minta tolong kamu buat beliin ya?"
__ADS_1
"Dihh, sebenarnya aku malas. Tapi, karena kamu yang minta nya, boleh deh." Jawab Arvin sambil tersenyum.
"Ini uang nya, sekalian sama ongkos nya."
"Uang buat bubur nya aja, sisa nya buat kamu aja, yang. Aku gak mau rugi, kalau bubur nya buat kamu aku beliin aja, tapi kalo buat suami kamu aku males." Celetuk Arvin membuat Melisa terkekeh.
"Lucu ya?"
"Enggak sih, yaudah aku pulang dulu ya. Gak bisa lama-lama soalnya, nanti dia curiga." Ucap Melisa.
"Kamu mau bubur nya juga?"
"Enggak, aku udah masak. Kamu makan di rumah aku aja ya, aku masak ayam bumbu pedas. Karena Mas Dion lagi sakit, jadi dia gak bakalan mau makan itu."
"Oke, baiklah sayang." Jawab Arvin, Melisa pun pulang ke rumah nya, sedangkan Arvin langsung mengeluarkan sepeda motor nya dan pergi untuk membelikan bubur. Kalau saja bukan Melisa yang meminta nya, dia pasti akan menolak. Enak saja, dia lagi enak-enak nya tidur malah di bangunin.
Tadi nya, dia akan marah saat membuka pintu. Tapi, begitu melihat kalau orang nya adalah sang kekasih, dia langsung menyambut nya dengan senyum manis. Dia merasa senang jika di butuhkan oleh wanita cantik itu, meskipun meminta pertolongan untuk suami nya, tapi tak masalah.
Melisa pulang dan menyajikan makanan nya di meja. Dion keluar dari kamar dan melirik makanan di atas meja.
"Kau memasak ayam pedas, kau tau kan aku sedang sakit?"
"Ya kalau kamu gak mau, aku kasih Arvin aja. Itung-itung buat permintaan maaf karena udah ngerepotin dia pagi-pagi." Jawab Melisa sedikit ketus.
"Kan sudah biasa kalau hidup bertetangga."
"Yaudahlah, terserah kamu saja." Ucap Dion, dia pun kembali masuk ke dalam kamar, kepala nya terasa sangat pusing, perut nya juga terasa kembung dan mulut nya mual.
"Permisi, mbak Mel.." Melisa langsung keluar dari rumah begitu mendengar suara Arvin memanggil nya.
"Ini bubur nya."
"Makasih ya, Vin. Sini, makan dulu."
"Eehh, gak usah mbak."
"Ayo, makan dulu." Ajak Melisa, kedua nya berdrama agar tak ada satu pun orang yang curiga akan hubungan mereka.
"Hehe, ya sudah deh mbak." Arvin pun mengekor di belakang Melisa.
"Bang Dion kenapa, mbak?"
"Pusing kata nya terus demam, perut nya juga kembung. Kayak nya sih masuk angin." Jelas Melisa, kedua nya pun duduk di meja makan. Tak lama kemudian, Dion juga ikut ke dapur. Dia duduk berhadapan dengan Arvin seperti biasa nya, tanpa sepatah kata pun langsung memakan bubur nya dengan lahap.
Setelah menghabiskan nya, dia langsung kembali ke kamar, lagi-lagi tanpa sepatah kata pun. Membuat Arvin kesal, tapi begitu melihat Melisa yang nampak biasa saja, Arvin juga berpikir kenapa dia harus kesal? Harus nya dia senang kan, karena Dion seolah memberi nya kesempatan untuk berduaan bersama Melisa.
__ADS_1
"Kenapa? Ayo makan lagi, yang." Ucap Melisa pada Arvin. Pria itu pun mengangguk dan makan dengan lahap, masakan buatan Melisa selalu enak.
"Sayang, kamu udah biasa ya di gituin sama suami kamu?"
"Harus nya, kamu udah tahu jawaban nya dari ekspresi aku, sayang." Jawab Melisa sambil melanjutkan makan nya. Terbukti, kalau Melisa tidak alergi daging, karena sekarang dia makan dengan ayam buatan nya dan tidak terjadi apa-apa.
"Hmm, aku aja merasa tersinggung. Apalagi kamu?"
"Udah biasa kok, udahlah gak usah di bahas. Ayo makan, ayam nya masih banyak nih." Melisa menambahkan sepotong ayam lagi ke piring Arvin.
"Kamu juga, ayo makan ayam nya yang banyak mumpung suami kamu gak ada." Melisa menganggukan kepala nya, dia juga mengambil satu potong ayam lagi dan memakan nya dengan lahap.
Setelah selesai makan, Arvin pun melakukan kebiasaan yang biasa dia lakukan, yakni merecoki Melisa yang sedang mencuci piring dan beberapa perabotan lain nya.
"Isshh, kamu bikin aku kesulitan, sayang." Ucap Melisa, karena Arvin terus saja memeluk nya dari belakang sambil menyandarkan dagu nya di pundak Melisa dengan manja.
"Habis nya, kamu hangat terus wangi." Jawab Arvin.
"Hmm, tapi aku sedang mencuci piring, sayang."
"Gak mau tahu, aku pengen peluk kamu pokoknya." Jawab Arvin, tetap kekeuh memeluk Melisa dengan erat. Tapi, seperti biasa tangan nya selalu nakal dan merayap kemana pun yang dia inginkan. Saat ini pun, tangan Arvin sudah berada di dada nya, merabaa buah kenyal kesukaan nya.
"Ssshh.." Melisa mendesis pelan karena perlakuan Arvin, tapi ternyata desisan Melisa terdengar ke kamar Dion.
"Mel, ngapain?" Tanya Dion sambil berjalan perlahan mendekat ke dapur. Arvin langsung berpura-pura mencuci piring.
"Lagi nyuci piring, di bantuin Arvin." Jawab Melisa.
"Ohh, ya sudahlah." Jawab Dion sambil berlalu kembali masuk ke dalam kamar nya.
"Isshh kamu tuh ya.."
"Apaan, aku gak ngapa-ngapain."
"Itu tadi, ngapain?" Tanya Melisa kesal, membuat Arvin terkekeh.
"Ya, siapa suruh kamu nya bersuara."
"Tapi kan itu karena ulah tangan nakal kamu."
"Iya, tapi tangan aku gak bersuara, sayang." Jawab Arvin, dia tak mau di salahkan membuat Melisa mendengus kesal.
"Emang nya sejak kapan tangan bisa bersuara?" Gumam Melisa sambil cemberut.
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻