
Setelah selesai dengan permainan nya, Arvin pun kembali duduk dengan tenang di depan Dion. Seolah tak terjadi apapun, padahal beberapa menit yang lalu dia menjarah sarang kepemilikan istri dari pria yang saat ini tengah duduk di depan nya dengan tenang.
"Ngapain aja di kamar mandi, Vin? Lama bener, berak tangga kah?" Tanya Dion sambil melirik sekilas ke arah Arvin yang nampak tersenyum canggung sambil menggaruk kepala nya.
"Hehe, iya nih bang. Semalam kebanyakan makan sambel, jadi nya sakit perut." Jawab Arvin, padahal dia mana ada sakit perut. Dia hanya sakit di bagian bawah nya karena jatah nya di tahan oleh wanita nya. Setelah meledaak barulah dia merasa ringan, karena beban nya sudah berkurang.
"Gak usah kebanyakan makan sambel makanya."
"Iya, bang. Tapi nanti ada yang kurang kalo makan gak ada yang pedes-pedes nya." Jawab Arvin.
"Ya susah juga sih kalo udah suka, tuh si Melisa juga kek gitu. Dia kalo udah makan sambel pasti habis satu mangkok." Jelas Dion sambil tertawa.
"Mbak Mel suka pedes gitu, bang?" Tanya Arvin seolah tak tahu, padahal dia tahu benar kalau wanita nya suka dengan makanan yang pedas. Terbukti, dari beberapa kali mereka makan bersama dan Melisa selalu punya stok sambal di rumah nya. Itu cukup membuktikan kalau Melisa menyukai makanan yang pedas bukan?
"Iya, suka dia tuh. Di rumah pasti selalu ada sambel, kapan pun."
"Wahh, lain kali bisa minta dong sama mbak Mel." Celetuk Arvin sambil tertawa kecil membuat Dion melirik ke arah Arvin.
"Minta aja, toh rumah kita berdekatan begini." Ucap Dion dengan tenang.
"Iya deh, bang." Jawab Arvin sambil terkekeh.
"Ngerokok gak?" Tanya Dion sambil menyodorkan rokok ke arah Arvin. Tapi Arvin hanya cengengesan sambil mendorong pelan.
"Enggak bang, aku gak ngerokok." Jawab Arvin.
"Cemen Lu, masa laki kagak ngerokok."
"Gak aja bang, gak suka aja sama rasa nya. Ngapain makan asap, gak bikin kenyang." Arvin terkekeh, membuat Dion hanya mendelik.
__ADS_1
"Minum juga gak suka?"
"Enggak juga, bang. Ngapain minum-minum, bikin pusing aja. Nyari-nyari penyakit, orang yang sakit pengen sembuh, lah ini yang sehat malah pengen sakit." Jawab Arvin bijak, membuat Dion kembali mendelik sebal ke arah Arvin.
"Lu kerja apa sih, perasaan gak pernah lihat lu kerja, atau pake seragam gitu?"
"Bisnis lewat online gue, bang. Ngapain pake seragam, toh kerja nya dari rumah doang. Bisa sambil rebahan, tapi cuan nya tetap mengalir ke dalam kantong." Jawab Arvin datar.
"Wahh, ajarin dong?"
"Susah bang, ini juga gue di masukin sama temen gue. Entar deh, kalo ada lowongan gue kabarin." Jelas Arvin. Padahal, dia tak mau lah punya karyawan semacam Dion.
Baru jadi PNS dengan gaji pas-pasan saja sudah belagu, apalagi jadi pegawai kantoran? Pasti dia akan lebih semena-mena untuk menindas istri nya, dan dia takkan pernah membiarkan hal itu terjadi. Karena bagi nya, Melisa adalah wanita yang harus dia lindungi sepenuh hati.
Ingin nya, Melisa segera bercerai dengan Dion. Dia tak sabar untuk menikahi wanita pujaan nya, ini bukan sekedar obsesi untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, tapi ini lebih ke misi penyelamatan karena Melisa adalah korban.
"Kenapa di tahan, bang? Gaji perbulan nya berapa sih, bang?" Tanya Arvin sambil menyeruput kopi buatan Melisa, rasa nikmat nya bertambah berkali-kali lipat karena yang membuat kopi nya adalah Melisa.
"Dua juta setengah, yang bisa di ambil cuma sejuta doang." Jawab Dion membuat Arvin tersenyum jahat.
'Satu juta sebulan? Aku ngasih nafkah sama istri mu segitu tuh seminggu, bang! Maka nya jangan heran kalau sekarang istri mu lebih glowing dari pada selingkuhan mu itu karena aku yang memodali nya.' Batin Arvin.
"Bengong Lu, gaji sebulan kerja online berapa?" Tanya Dion pada Arvin.
"Tiga kali lipat gaji abang." Jawab Arvin asal. Dia lah yang memberi gaji sebenar nya, tapi tak ada yang mengetahui hal ini. Bahkan Melisa pun tak mengetahui hak ini karena dia benar-benar merahasiakan identitas nya yang asli dari siapa pun hingga saat nya nanti, biarkan orang tau seiring berjalan nya waktu, mereka akan tahu sendiri nanti.
"Wahh, gede juga ya." Ucap Dion, wajah nya seketika berbinar.
"Lumayan lah, biarpun belum punya anak istri, tapi harus mulai nabung buat masa depan dari sekarang." Jelas Arvin, membuat Melisa tersenyum kecil. Ya, sedari tadi dia menguping obrolan kedua pria itu dari balik jendela nya.
__ADS_1
"Hmm.." Dion hanya berdehem saja sebagai jawaban, dia sudah bingung akan menjawab apa.
"Bang, saya pulang dulu ya. Belum masak buat makan malam."
"Makan malam aja disini, Vin." Ajak Melisa yang berpura-pura baru saja keluar dari rumah sambil membawakan sepiring kue untuk teman minum kopi.
"Nah, bener tuh. Melisa masak enak malam ini, Vin."
"Hehe, yaudah deh, bang." Jawab Arvin sambil cengengesan, sedangkan Melisa sudah kembali masuk ke dalam rumah untuk bersiap memasak makan malam.
Kedua pria itu melanjutkan obrolan mereka, meskipun beberapa kali Arvin terlihat curi-curi pandang ke arah rumah untuk melihat Melisa, namun sama sekali tak terlihat.
"Duh, habis pulsa." Gumam Dion sambil meletakan ponsel nya di atas meja.
"Pulsa, bang?"
"Iya, Abang ke warung dulu lah beli pulsa." Jawab Dion, Arvin pun mengangguk dan membiarkan Dion pergi dengan sepeda motor nya menjauhi rumah nya. Kesempatan yang bagus untuk Arvin menggoda wanita cantik istri tetangga nya itu.
"Sayang.." Ucap Arvin sambil memeluk Melisa dari belakang, dia menumpukkan dagu nya di pundak Melisa dengan manja.
"Isshh, apa lagi sih? Nanti Mas Dion curiga lho, sanaan ihhh." Melisa mencoba membuka tautan tangan Arvin di perut nya, tapi seperti biasa tenaga nya kalah jauh dengan tenaga Arvin yang notabene nya seorang pria.
"Diem, sayang. Suami kamu lagi beli pulsa buat nelpon selingkuhan nya." Bisik Arvin, membuat Melisa berhenti meronta. Meskipun sedikit khawatir, tapi dia juga tak bisa menolak keinginan Arvin saat ini. Toh, dia suka saat memasak di peluk dari belakang seperti ini.
Dion mana pernah melakukan hal ini, namun sekarang dia sedikit berubah. Yaps, tidak pernah memukul nya lagi. Entah kenapa, tapi janganlah di harapkan karena itu menyakitkan. Bukan hanya fisik, tapi juga batin nya yang tersiksa.
......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1