
"Sayang.."
"Jelaskan semua nya, sayang." Ucap Melisa. Kedua nya sedang duduk di sofa, sedangkan Dion sudah pergi tadi di usir oleh Jo.
"Maaf, aku memang membayar Gia untuk menghancurkan rumah tangga kalian berdua." Lirih Arvin, membuat Melisa geleng-geleng kepala. Kenapa bisa pria yang selama ini dia puja puji karena kebaikan nya bisa securang ini?
"Aku gak nyangka kamu bisa selicik ini. Padahal, selama ini aku selalu menilai kamu adalah pria yang baik."
"Sayang, maaf. Tapi aku melakukan ini karena aku ingin memiliki mu, maaf aku sudah egois." Ucap Arvin, dia berlutut di depan sang istri sambil memegang kedua tangan nya.
"Iya, kamu egois. Tapi kalau aku marah hanya karena hal ini, maka aku lebih egois."
"Maksud nya?"
"Tidak, apa-apa. Kalau pun seandainya kamu tidak datang saat itu, aku juga tidak yakin kalau sekarang aku masih bertahan dengan Dion." Jawab Melisa, dia membelai wajah tampan Arvin.
Marah? Tentu saja, dia marah sekaligus kecewa begitu mengetahui semua ini. Tapi, dia juga tidak bisa menyalahkan Arvin karena pria itu tahu benar bagaimana kehidupan rumah tangga nya dengan Dion. Justru, dia datang dan menyelamatkan hidupnya. Dia membantu nya memperbaiki hidup nya, meskipun berawal dari sebuah kesalahan.
"Maafkan aku, sayang. Aku melakukan semua itu agar bisa bersamamu."
"Iya, aku memaafkan kamu kok. Lagian itu semua sudah terjadi, tak baik jika masalah ini terus di ungkit. Tak apa-apa, aku paham."
"Terimakasih, sayang."
"Sama-sama, jangan melakukan hal selicik itu lagi, sayang."
"Tidak akan, untuk apa? Sekarang aku sudah mendapatkan mu dan itu adalah tujuan ku melakukan hal selicik itu." Jawab Arvin sambil tersenyum.
"Kamu ini, benar-benar tak terduga ya." Melisa mencubit gemas pipi sang suami. Pria ini benar-benar menggemaskan, Melisa tak peduli meskipun cara Arvin mendapatkan nya dengan cara yang tak bisa di benarkan sama sekali. Tapi itulah kekuatan cinta, orang-orang bisa melakukan cara apapun untuk mendapatkan sosok yang dia cintai.
"Ya sudah, kamu jagain Naren ya? Aku mau liwetan sama ibu-ibu."
"Iya, istriku sayang." Jawab Arvin, dia pun kembali tersenyum. Melisa pergi ke rumah Bu Amel, sedangkan Arvin tetap di rumah menjaga putra nya yang masih tertidur.
"Tuan muda.."
"Iya, Jo.." jawab Arvin, kedua nya tengah mengobrol di teras saat ini.
"Itu tadi mantan suami nya, Nyonya muda?" Tanya Jo. Arvin menganggukan kepala nya, toh memang benar kalau pria itu adalah mantan suami istrinya.
__ADS_1
"Kenapa memang nya?"
"Keliatan dari wajah nya sangar gitu ya?"
"Hmmm, lihat saja luka-luka di tubuh Melisa, itu semua karena ulahnya." Jawab Arvin. Ini bukan pertama kali nya mereka berbicara empat mata secara serius seperti ini.
"Artinya, saya boleh melihat tubuh nyonya muda?" Tanya Jo yang membuat Arvin langsung memukul lengan pria itu cukup kuat hingga membuat Jo meringis.
"Enak saja!"
"Tapi tadi tuan muda bilang.."
"Di tangan, kaki, kan keliatan. Nyari kesempatan aja, gue tampol juga Lo ya!" Ucap Arvin yang membuat Jo tertawa.
"Maaf, tuan muda. Saya hanya bercanda, lagipun saya sangat mencintai istri saya."
"Hmm, aku dengar istri mu tengah hamil lagi, Jo?"
"Hehe, iya benar tuan."
"Subur banget kamu, Jo."
"Itulah, kalo udah di percaya ya mau pake apapun, tetep aja jadi."
"Benar, tuan muda." Jawab Jo sambil tersenyum.
"Jadi anak mu tiga dong?"
"Iya, Tuan."
"Hmmm, jadi kau harus lebih ekstra bekerja ya, Jo. Menghidupi tiga anak dan satu istri."
"Iya, Tuan muda. Maka dari itu naikan lah gaji saya." Celetuk Jo membuat Arvin melirik sinis ke arah pria itu. Jo cengengesan, dia merasa tidak salah apapun saat mengatakan nya.
"Baiklah, mulai bulan depan aku naikan gaji mu dua kali lipat, Jo."
"A-anda serius, tuan muda?"
"Tentu, aku serius Jo." Jawab Arvin.
__ADS_1
"Terimakasih, Tuan. Tadinya saya hanya bercanda saja."
"Bercanda berhadiah, iya kan Jo?"
"Iya, Tuan." Jo terkekeh mendengar ucapan Arvin.
Sedangkan di rumah Bu Amel, ibu-ibu itu sedang makan-makan sambil sesekali mengobrol.
"Liwet nya enak ya, cuma agak sedikit asin." Ucap Bu Amel sambil terkekeh.
"Bukan saya lho yang masak, soalnya sekarang kan saya udah punya suami." Jawab Melisa membuat ibu-ibu itu langsung tertawa. Katanya, kalau masak suka keasinan berarti yang masak nya ingin menikah. Mitos saja, tapi sudah populer di kalangan ibu-ibu.
"Ehh, tadi saya lihat ada Dion. Ngapain dia?" Tanya Bu Ratmi.
"Hmmm, biasalah nyari gara-gara, Bu. Kayaknya mau bikin hubungan saya sama Arvin renggang gitu." Jawab Melisa pelan di sela suapan nya.
"Keliatan banget dia gagal move on nya ya?"
"Haha, iya. Dia yang nyakitin Neng Meli, yang gagal move on siapa, lawak sekali." Celetuk ibu-ibu yang lain nya.
"Keliatan banget dia gak suka lihat Neng Meli bahagia, iya gak sih?"
"Iya, soalnya kan pernikahan dia cuma bertahan beberapa bulan doang." Jawab Bu Ratmi.
"Ya begitu lah, kalo dapetin nya hasil bermain di belakang ya pasti gak bakalan bertahan lama. Ingat, karma masih berlaku."
"Iya betul, soalnya Dion kan dapetin Gia itu nyakitin Neng Meli, makanya gak bisa bertahan lama itu pernikahan nya." Jelas Bu Amel.
"Sudahlah, Bu. Biarkan saja, sekarang kan kita sudah punya kehidupan masing-masing."
"Iya, Neng. Yang penting sekarang, Neng harus bahagia sama Arvin ya?"
"Iya, Bu. Saya sudah bahagia dengan Arvin saat ini." Jawab Melisa sambil tersenyum.
"Saya bersyukur bisa kenal kalian semua." Lirih Melisa.
"Apalagi kami, Neng." Jawab ibu-ibu itu membuat Melisa tersenyum. Rasa ke keluargaan di desa ini begitu terasa, Melisa merasa sangat nyaman tinggal disini. Semua orang nya baik dan tulus.
......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻