
"Selamat malam, sayangku." Ucap Arvin sambil memeluk Melisa dari belakang, membuat wanita itu cukup terhenyak, baru saja beberapa menit dia pulang dari rumah Arvin, sekarang pria itu malah menyusul nya ke rumah.
"Malam kembali, kenapa nyusulin? Belum ada satu jam lho aku pulang dari rumah kamu."
"Kangen, sayang." Jawab Arvin manja, wajah nya tersuru di ceruk leher wanita nya, menghirup aroma nya seperti biasa, bahkan beberapa kali mengecup basah leher Melisa membuat nya kegelian.
"Isshh, geli sayang.."
"Habis nya kamu wangi, sayang. Jadi aku makin suka nyium-nyium kamu kayak gini." Jawab Arvin, dia malah menyesap leher Melisa hingga meninggalkan bekas kemerahan.
"Sayang, jangan sampai berbekas dong."
"Memang nya kenapa?" Tanya Arvin sambil menjauhkan sedikit wajah nya dari leher Melisa.
"Ya, aneh aja gitu leher aku ada tanda kepemilikan gini, padahal aku gak punya suami."
"Gapapa, sayang. Bilang aja kalau kamu di gigit nyamuk." Ucap Arvin dengan nada santai nya.
"Mana ada di gigit nyamuk, yang ada aku di gigit drakula."
"Iya, drakula nya tampan kayak aku." Jawab Arvin yang membuat Melisa mendengus kesal.
"Dih, narsis. Kamu kepedean." Cibir Melisa yang membuat Arvin gemas dan langsung mencium bibir Melisa, bahkan melumaat nya dengan mesra. Awal nya Melisa terkejut dengan kelakuan Arvin yang selalu saja tiba-tiba seperti ini, tapi kelamaan dia menikmati nya. Melisa pun membalas setiap lumaatan yang di lakukan oleh Arvin, hingga beberapa menit kemudian dia mencium aroma gosong.
Melisa langsung menyudahi ciuman nya dan melihat ke arah wajan yang sudah mengepulkan asap.
"Yaahhh, gosong.." Keluh Melisa sambil mengangkat bakwan jagung yang menghitam karena gosong.
"Isshh, ini gara-gara ulah kamu. Aku lagi masak juga, malah dia ajakin ciuman. Jadi nya gosong!" Ketus Melisa yang membuat Arvin tersenyum kecil, dia merasa bersalah juga.
"Mana lagi pengen makan bakwan jagung, malah gosong gini. Sebel."
"Iya iya, aku salah. Maafin ya? Sini, biar aku gorengin lagi."
"Tau ahhh, bete." Jawab Melisa, lalu pergi ke ruang tamu tanpa menghiraukan ekspresi Arvin.
"Arvin, Arvin, harus nya kamu tak mencium nya tadi, kalau sudah merajuk gini gimana bujuk nya ya?" Gumam Arvin, dia pun menggaruk pelipis nya yang tak gatal, lalu memutuskan untuk menggoreng sisa adonan yang masih ada di dalam mangkuk.
Arvin menggoreng nya dengan api sedang, setelah beberapa menit bakwan jagung pun matang. Pria itu memindahkan bakwan nya ke dalam piring, lalu mematikan kompor dan membawa nya ke ruang tamu, tempat dimana ada Melisa yang sedang duduk sambil bersedekap dada, karena masih kesal pada Arvin mungkin.
"Sayang, ini bakwan nya udah aku goreng. Di coba dulu, udahan merajuk nya dong." Melisa melirik ke arah piring berisi bakwan jagung nya, lalu memalingkan wajah nya.
"Astaga, sayang. Aku minta maaf ya? Janji deh, gak bakalan nakal lagi."
"Janji?" Tanya Melisa.
"Iya, aku janji sayang."
"Hmmm, yaudahlah. Duduk sini." Ajak Melisa, Arvin pun mendudukan pantaat nya di kursi kosong samping Melisa. Wanita itu mengambil bakwan jagung nya, lalu memakan nya dengan lahap.
"Kamu gak mau makan apa?"
"Enggak, aku udah kenyang lihatin ayang makan nya lahap gini." Jawab Arvin sambil mencubit pelan pipi Melisa yang nampak menggembung, lucu sekali bagi Arvin.
"Dihh, gombal."
"Siapa yang gombal sih?"
"Ya kamu, masa aku sih? Aku paling gak bisa nahan lapar, hehe." Jawab Melisa yang membuat Arvin tersenyum kecil.
Arvin pun menarik Melisa ke dalam pelukan nya, lalu mengusap-usap puncak kepala wanita cantik itu dengan lembut, mengecup nya berkali-kali.
Beberapa menit kemudian, ketika kedua nya masih asik bermesraan, tiba-tiba saja pintu utama terbuka dan menampilkan wajah terkejut Dion.
"Mel.." Panggil nya, suara nya bergetar saat melihat pemandangan di depan nya. Bagaimana tidak? Dia melihat Melisa tengah berada di pelukan Arvin, pria itu memeluk nya dengan posesif dan Melisa terlihat nyaman-nyaman saja dengan perlakuan pria itu.
Begitu mendengar suara Dion, Melisa melotot dan langsung menjauh dari posisi nya semula, sedangkan Arvin hanya tersenyum kecil. Dia sudah menduga hal ini akan terjadi, yaa lambat laun perselingkuhan ini akan ketahuan juga.
__ADS_1
"Apa-apaan ini, Mel?" Tanya Dion, wajah nya terlihat memerah, menahan amarah yang berkobar di dalam diri nya.
Melisa terlihat hanya tersenyum kecil, tak ada raut ketakutan sedikit pun dari wajah nya, dia sudah tahu hari dimana hubungan nya dengan Arvin akan ketahuan. Tapi, dia tak menyangka kalau hari itu akan datang saat ini.
"Kamu terkejut, Mas?"
"Sayang.." Panggil Arvin lirih, dia menatap sendu wajah Melisa. Jujur saja, dia khawatir saat ini. Bukan mengkhawatirkan kelanjutan hubungan nya, tapi mengkhawatirkan keadaan hati Melisa.
"Aku baik-baik saja, kamu pulang saja. Urusan ini biar aku selesai kan."
"Tapi, sayang.."
"Tak apa-apa, aku akan baik-baik saja. Aku berjanji." Jawab Melisa, Arvin pun mengangguk lalu pergi dari rumah Melisa. Meskipun sebenarnya, dia tak sepenuh nya pergi dari rumah itu, tapi bersembunyi di dapur. Tujuan nya adalah, dia tak percaya jika Dion takkan melukai wanita nya, dia khawatir kalau pria itu akan menyakiti Melisa seperti yang sudah-sudah.
"Jadi ini alasan mu menggugat cerai aku, Mel? Karena kamu sudah punya pria lain di belakang ku hah?"
"Iya, aku memang memiliki pria lain. Bukankah waktu itu sudah aku katakan padamu dengan jelas? Tapi, kamu pasti gak nyangka kalau pria itu adalah Arvin, tetangga kita sendiri." Jawab Melisa yang membuat wajah Dion semakin memerah.
"Kenapa kau bisa melakukan hal serendah ini, Mel? Selingkuh dengan tetangga sendiri?"
"Lalu, apa yang kamu lakukan Mas? Bukankah yang kamu lakukan lebih rendah dari apa yang aku lakukan?" Tanya Melisa dengan senyum kecil yang menghiasi bibir nya, tapi terlihat seolah mengejek bagi Dion.
"Tapi, untuk perceraian yang aku lakukan, itu seratus persen bukan karena Arvin."
"Lalu, kalau bukan karena bocah tengil itu, lalu apa, Melisa?" Tanya Dion dengan nada tinggi nya. Niat hati dia kemari untuk mendinginkan pikiran karena dia di pusingkan oleh sikap Gia yang rewel. Tak tahu malu memang, mau apa dia kesini? Padahal, status nya dengan Melisa saat ini sudah di ambang perceraian.
"Kamu masih bertanya, Mas? Selama tiga tahun aku membina rumah tangga bersama mu, pernahkah kamu menganggap aku sebagai istri, sekali saja? Tidak bukan?"
"Lalu, pernahkah kamu memperlakukan aku dengan baik? Tidak juga. Kamu menghargai perasaan aku sebagai istri? Pernahkah, sedikit saja? Tidak pernah, Mas. Jadi, bukankah ada wajar nya aku menyerah dengan hubungan rumah tangga kita, Mas?" Tanya Melisa, nada suara melemah membuat hati Dion terasa sakit saat mendengar ucapan Melisa. Benarkah selama ini dia sudah sangat abai pada Melisa? Ckk, dia masih belum menyadari apa kesalahan nya. Benar-benar pria egois!
"Tapi, bukan artinya kau bisa berselingkuh di belakang ku, Melisa! Memalukan sekali kelakuan mu itu."
"Lalu, apa yang kamu lakukan Mas? Hingga di arak keliling desa, bukankah itu jauh lebih memalukan? Setidaknya, aku selingkuh dengan cara yang elegant, tidak terbuka seperti dirimu." Jawab Melisa, lagi-lagi dia menyunggingkan senyuman mengejek nya.
"Melisa!"
"Apa saja yang sudah kau lakukan dengan pria itu, Mel?"
"Hmmm, apa ya? Mungkin tidur bersama." Jawab Melisa yang menyulut amarah seorang Dion, dia bersiap untuk memukul Melisa, tapi dengan cepat Melisa mencekal tangan Dion.
"Lepaskan, Melisa."
"Kenapa harus? Dengan tangan ini, kau biasa nya menyakiti aku dengan pukulan-pukulan yang kau layangkan hanya karena aku melakukan kesalahan kecil, bukan? Dulu, aku diam saja. Tapi sekarang, tidak lagi. Perlu kamu ketahui, Melisa yang sekarang bukanlah Melisa yang dulu." Melisa mengencangkan cekalan tangan nya, menancapkan kuku-kuku panjang nya di pergelangan tangan Dion, membuat pria itu meringis kesakitan.
"Sakit, Mel."
"Kamu pernah mendengarkan aku, saat aku menjerit kesakitan saat tangan mu ini mengenai tubuh ku? Tidak kan? Jadi kenapa aku harus mendengarkan mu juga?" Jawab Melisa, membuat Dion terkejut. Melisa yang saat ini berada di depan nya, benar-benar sangat berbeda dengan Melisa yang dulu. Dia seperti orang lain.
"Maafkan aku, Mel. Aku menyesali semua nya."
"Penyesalan memang sudah biasa, datang nya akan di akhir. Jadi, penyesalan mu itu tidak ada apa-apa nya bagiku." Jawab Melisa lagi. Kuku nya malah semakin dalam menancap di pergelangan tangan Dion.
"Lepaskan, Mel. Kuku mu menyakiti ku."
"Aku tak peduli, ini baru sedikit balasan yang kau dapat. Kau ingat memberi ku banyak luka di sekujur tubuh?"
"Mel, aku minta maaf.."
"Aku tidak akan pernah memaafkan semua kesalahan mu, Mas. Rasa sakit di hati dan juga fisik ku takkan pernah sembuh, jelas?"
"Apa yang harus aku lakukan agar kau mau memaafkan aku lagi?"
"Talak aku, dan jangan pernah muncul di hadapanku."
"Tidak, aku takkan pernah mau bercerai dari mu, Melisa."
"Kalau begitu, aku sendiri yang akan melakukan nya." Jawab Melisa, dia menghentakkan tangan Dion dan pergi ke kamar, membawa berkas-berkas yang harus Dion tandatangani agar Melisa bisa bebas.
__ADS_1
Dion melihat pergelangan tangan nya, bekas kuku terlihat jelas disana, bahkan hingga mengeluarkan darah saking dalam nya. Sakit dan perih begitu terasa di luka itu, tapi benar kata Melisa kalau ini belum ada apa-apa nya dari pada banyak luka yang dia berikan pada Melisa.
"Tanda tangani berkas ini, Mas."
"Mel, tidak!"
"Kau serius? Tapi aku sudah muak dengan semua ini. Aku muak dengan hubungan ini, aku juga muak pada mu, Mas!" Tegas Melisa.
"Itu karena kau punya Arvin."
"Bukankah kau juga punya Gia, Mas? Lalu, aku dengan mu apa beda nya? Kita sama-sama punya orang lain." Jawab Melisa.
"Tapi, sekarang aku tak menyukai Gia. Dia terlalu manja dan rewel, tidak seperti mu, Mel."
"Lalu?"
"Aku akan menceraikan nya secepat mungkin, lalu kita akan memperbaiki semua nya dari awal." Jelas Dion yang membuat Melisa terkekeh geli. Dia benar-benar geli dengan ucapan Dion yang terdengar seperti orang bodooh. Apa dia menganggap kalau pernikahan itu bahan candaan?
"Terus, jika kamu melepaskan Gia, kamu pikir aku mau kembali padamu? Tidak, bahkan tidak akan pernah. Aku takkan membuat keputusan yang salah untuk kedua kali nya." Jawab Melisa.
"Mel, ayolah jangan begini. Aku berjanji akan melupakan semua nya, termasuk apa yang sudah aku lihat antara kamu dan Arvin tadi."
"Aku tak peduli, aku tetap ingin bercerai dari mu, Mas." Jawab Melisa lagi, keputusan nya sudah sangat bulat. Dia ingin berpisah dari Dion, setuju atau tidak setuju dia akan tetap berpisah dengan pria itu.
"Melisa.."
"Aku lelah, Mas. Aku benar-benar lelah, jika kamu memang ingin memperbaiki semua nya, maka lepaskan aku dan jangan menghambat sidang perceraian kita, aku mohon."
"Tapi, apakah tak ada lagi kesempatan untuk ku, Mel?"
"Tidak ada, aku sudah terlalu banyak memberi mu kesempatan, tapi kau sendiri yang menyia-nyiakan nya. Jadi, semua nya sudah aku anggap selesai."
"Tidak Mel, kita belum selesai." Jawab Dion, dia berusaha menggenggam tangan Melisa, tapi wanita itu beringsut mundur. Dia benar-benar tak ingin lagi bersentuhan dengan Dion.
"Maaf, jika selama kita berumah tangga, aku belum bisa menjadi sosok istri yang kamu inginkan, Mas."
"Tidak, kamu istri yang baik dan sempurna. Hanya saja aku yang tidak pernah bersyukur karena sudah di berikan istri sebaik dirimu, Mel."
"Baguslah, jika kamu sudah menyadari nya sekarang. Pergilah, jangan datang lagi kemari. Aku akan sangat senang, jika kamu memulai hidup baru bersama Gia, Mas." Ucap Melisa yang membuat Dion menunduk.
"Apa aku benar-benar tak punya kesempatan lagi?"
"Iya, aku sudah terlalu lelah." Jawab Melisa.
"Maafkan aku, Mel."
"Mungkin seiring berjalan nya waktu, aku akan bisa memaafkan mu, tapi aku takkan pernah melupakan semua nya yang sudah terjadi di antara kita berdua."
Dengan perlahan, Dion mengambil pena yang tergeletak di atas meja dan membubuhkan tanda tangan nya di berkas-berkas itu.
"Aku sudah menanda tangani berkas nya, Mel."
"Terimakasih, selamat bertemu di sidang putusan nanti."
"Ya." Jawab nya lesu, lalu mendongak dan menatap wajah Melisa yang terlihat sangat cantik sekarang.
'Sial, kenapa aku baru menyadari kalau Melisa sangat cantik setelah kami akan bercerai?' Batin Dion.
"Kalau begitu, pulanglah. Jangan berlama-lama disini, kita sudah tak ada ikatan apapun lagi. Jadi, kedatangan mu kesini akan memancing banyak opini masyarakat."
"Baiklah, selamat malam." Jawab Dion lesu, dia pun melangkah gontai keluar dari rumah itu. Dion berbalik dan menatap sendu saat Melisa menutup pintu rumah dan terdengar memutar anak kunci nya.
Perpisahan ini terlalu berat bagi Dion, tapi ini semua adalah kesalahan nya. Kesalahan yang terlambat dia sadari, saat ini semua nya sudah sangat terlambat bagi Dion. Harus nya, dia menyadari semua ini dari awal. Sekarang hanya tinggal penyesalan yang tak berguna.
'Aku menyesal karena sudah menyia-nyiakan mu, Melisa. Aku menyesal, harus nya kau memberi aku kesempatan kedua untuk memperbaiki semua nya dari awal.'
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻