
"Mas, pulang yuk.." Rengek Gia pada suami nya, sambil menggoyangkan lengan suami nya.
Sarah yang melihat hal itu memutar mata nya dengan jengah, dia tersenyum sinis saat melihat anak nya terlihat datar, wajah nya kusut karena masalah yang dia alami mungkin. Di tambah lagi, istri nya yang manja berlebihan pasti membuat nya pusing.
"Iya, sebentar lagi kita pulang. Kopi nya belum habis."
"Isshh, ayolah. Aku gak betah disini, kamu kenapa sih betah banget disini, Mas? Apa karena ada Melisa ya?" Tanya Gia.
"Cukup, Gi. Kenapa kau sangat rewel hah? Diamlah, jangan ganggu aku dulu bisa?" Ucap Dion dengan nada tinggi nya.
"Jangan bentak istri kamu, Dion. Masa pengantin baru udah main bentak-bentak sih?" Sarah tersenyum sinis saat melihat wajah asam Gia.
"Eehh, lupa. Dari dulu, kamu gak suka kan sama wanita yang manja, lalu sekarang kamu malah memperistri wanita yang manja nya kebangetan kayak gini. Pasti kesel kan?" Sindir Sarah sambil tersenyum smirk. Wanita paruh baya itu pun pergi kembali ke kamar nya.
Benar, dari dulu Dion paling anti dengan wanita yang punya sifat manja berlebihan, tapi sekarang dia punya istri yang manja seperti itu, jelas saja membuat nya muak. Padahal dulu, Gia tidak semanja dan serewel ini.
Dia ingat benar, apakah pernah Melisa bermanja pada nya? Atau dia pernah berpikir untuk memanjakan wanita itu? Seperti nya tidak sama sekali. Melisa juga tidak pernah menuntut nya untuk memanjakan nya, dia adalah sosok wanita yang mandiri juga sabar. Saking sabar nya, dia tak pernah bicara pada siapapun tentang perilaku nya yang buruk selama ini.
Tapi nama nya juga manusia, mereka punya batas kesabaran, seperti Melisa. Dia sudah menyerah dan kesabaran nya sudah habis untuk Dion. Dia selalu bersabar selalu tiga tahun, berharap suami nya akan berubah dan menerima nya sebagai istri. Tapi, nyatanya Dion tak pernah menganggap nya sama sekali.
Tapi, giliran wanita itu meminta cerai dirinya lah yang mempersulit semua nya karena dia merasa berat jika harus melepaskan Melisa. Mustahil sebenarnya, jika kebersamaan mereka selama tiga tahun tidak membuahkan bulir-bulir kasih sayang, hanya saja Dion selalu menolak dan mengatakan dalam hati kalau dia tidak jatuh cinta pada Melisa.
"Mas, hey kok malah bengong. Ishh bikin bete deh." Ucap Gia yang membuat Dion kesal dan hampir saja memukul Gia kalau tak melihat Melisa keluar dari kamar dengan wajah datar nya.
"Kalian masih disini?" Tanya nya, membuat Dion mengurungkan niat nya untuk memukul Gia.
"Kamu berharap kami pulang, Mel?"
"Iya, tentu saja. Kipas di rumah ini seakan tak berfungsi sama sekali saat kalian berada disini, panas." Jawab Melisa sambil berlalu ke dapur. Tujuan nya adalah kulkas, aneh sekali beberapa hari ini dia sering sekali haus dan ingin minum minuman yang menyegarkan, ya seperti es jeruk misalnya.
"Permisi.." Arvin melongokan kepala nya ke dalam rumah, Dion yang melihat hal itu pun mengernyitkan kening nya.
"Ada apa, Vin?" Tanya Dion sambil beranjak, Melisa juga datang dengan membawa secangkir besar air putih dingin.
"Ini, mbak Mel tadi nitip es jeruk." Ucap Arvin yang membuat wajah Melisa berbinar seketika begitu mendengar kata es jeruk. Tapi, dia tak mengerti kenapa Arvin bisa dengan peka nya langsung membawakan es jeruk, padahal dia tidak meminta nya.
Seperti ada kontak batin antara Melisa dan Arvin, saat sang wanita ingin minum yang segar-segar, Arvin datang dan tanpa di duga membawa kan nya es jeruk. Benar-benar di waktu yang tepat.
"Ohh iya, makasih banget Arvin."
"Sama-sama, Mbak. Kalo gitu Arvin balik dulu."
"Ehh, ini uang nya." Ucap Melisa, kedua nya pintar dalam hal berdrama.
"Gapapa, mbak. Gak usah, buat jajan mbak Mel aja. Saya pulang dulu."
"Makasih ya, Arvin. Maaf udah ngerepotin."
"Gapapa kok mbak." Jawab Arvin, dia pun pulang ke rumah. Seketika wajah nya yang tadi di penuhi senyuman, kini berubah datar seketika. Dia kesal, sekesal-kesal nya. Dia merasa cemburu pada Dion karena bisa setiap saat datang ke rumah Melisa dan bebas keluar masuk, tanpa harus khawatir dengan tanggapan para tetangga, berbeda dengan nya. Kalau pun ingin bermain atau bermanja-manja dengan Melisa, harus secara sembunyi-sembunyi agar tak ada yang tahu.
Melisa pun tersenyum dan dengan segera dia meminum es jeruk nya, terasa sangat menyegarkan. Seketika rasa haus nya hilang.
"Mas, pengen es jeruk juga.." Rengek Gia seketika, yang membuat Melisa langsung menyembunyikan es jeruk nya di belakang tubuh nya.
"Iya, nanti beli."
"Gak mau, aku mau nya yang ada di tangan kak Melisa." Jawab Gia yang membuat Melisa memutar mata nya dengan jengah. Kenapa Gia jadi menyebalkan begini? Padahal, saat pertama kali mereka datang kesini, Gia tak semenyebalkan ini. Bahkan, Melisa sempat berpikir kalau Gia itu sebenarnya adalah wanita yang baik. Tapi sekarang, sikap wanita itu malah berbanding terbalik dengan penilaian nya waktu itu.
__ADS_1
"Mel.."
"Enggak, ini aku dapet nitip dari Arvin. Kalau mau, beli aja sendiri." Jawab Melisa ketus, dia tahu arti saat suami nya memanggil nya. Pasti tujuan nya dia ingin meminta es jeruk milik nya yang sudah jelas-jelas dia juga menginginkan nya.
"Ayolah Mel, jangan egois."
"Hah, aku egois? Masih mengatakan hal seperti itu, kamu gak sadar diri atau gimana?" Tanya Melisa dengan ketus.
"Mel, ayolah. Cuma es jeruk doang, nanti bisa beli lagi." Bujuk Dion, dia tak tega saat melihat Gia menangis hanya karena menginginkan es jeruk milik Melisa.
"Kalau cuma es jeruk doang, kenapa gak kamu aja yang beliin istri kamu itu tanpa merebut milik ku. Seperti nya, istri mu memang tukang rebut ya? Setelah merebut suami ku, sekarang ingin merebut apa yang aku punya juga? Ckk, menjijikan." Ucap Melisa yang membuat Gia malah semakin kejer menangis.
"Mas, mau es jeruk punya kak Melisa. Pokoknya aku gak mau tahu, aku mau es itu!"
"Dihh, najiis!" Cibir Melisa, dia pun berlalu tanpa peduli dengan Gia atau pun Dion yang terlihat cukup frustasi menangani istri muda nya yang merengek karena menginginkan es jeruk milik Melisa.
"Diamlah, Gia. Kau membuat aku semakin pusing."
"Isshh, Mas jahat banget sama aku." Rajuk Gia, tapi seperti nya Dion sudah tak peduli. Bahkan Sarah pun hanya tersenyum mengejek ke arah sang putra, sudah di kasih sosok istri idaman, malah nyari yang modelan kayak gitu.
"Ada rasa nya, Dion?"
"Mama kok jadi gini sih? Aku putra Mama, bukan musuh. Kenapa mama seolah puas melihat aku begini?"
"Kalau saja kamu menurut dan bisa menerima Melisa sebagai istri mu, Mama pasti takkan seperti ini, Dion." Jawab Sarah, lalu pergi ke arah dapur. Dimana ada Melisa disana, dia sedang bersenda gurau dengan sang kekasih, Arvin.
Begitu melihat kedatangan Sarah, Melisa pun langsung mematikan panggilan secara sepihak. Dia tak mau di cap buruk juga oleh mama mertua nya, belum resmi cerai tapi sudah punya laki-laki lain.
"Lagi ngapain, Mel?" Tanya Sarah sambil tersenyum manis.
"Lagi dinginin otak aja, Bu. Lagian itu dua orang kenapa ya? Kok gak pulang-pulang, aku udah sebel banget liat keberadaan mereka."
"Hmm, gak tahu lah. Aku capek liat mereka, Bu."
"Sabar ya, Nak. Maafin Ibu, demi apapun Ibu menyangka kalau hubungan kalian baik-baik saja. Ibu menyangka, kalau Dion meminta ibu datang kesini untuk membujuk kamu, ibu kira hanya masalah sepele, bukan masalah sebesar ini." Ucap Sarah yang membuat kening Melisa berkerut.
"Jadi, Ibukesini karena di hubungi Mas Dion, Bu?" Tanya Melisa lirih.
"Iya, katanya kalian berdua lagi ada masalah. Jadi ibu mau bantu bujuk kamu biar baikan lagi sama Dion, Nak. Tapi, setelah yang Ibu tahu ternyata semua nya sangat membuat ibu terkejut."
"Entahlah, Bu. Tapi yang jelas, aku sudah lelah dengan semua ini."
"Langkah mu untuk meminta cerai dengan Dion sudah benar, Nak. Ibu akan mendukung apapun keputusan kamu, karena ini adalah kesalahan putra ibu." Ucap Sarah lirih, dia mengusap kepala Melisa dengan lembut.
Sarah memang sangat menyukai Melisa dari awal, hingga saat ayah tiri Melisa tidak mampu membayar hutang nya, Sarah langsung mengajukan Melisa untuk menikah dengan Dion dan semua hutang nya lunas sudah.
Ayah tiri Melisa yang notabene nya suka dengan uang, tentu nya tak tahu diri dan meminta tambahan uang untuk modal usaha, karena Melisa adalah tulang punggung keluarga. Dengan Melisa menikah, tentu nya dia takkan punya uang begitu juga istrinya. Orang tua Dion pun setuju dan memberikan uang seratus juta rupiah dengan imbalan nya Melisa harus menikah dengan Dion.
"Maafin Melisa menyerah ya, Bu."
"Gapapa, sayang. Kamu berhak bahagia juga kan, jika nanti kalian sudah resmi bercerai, jangan menganggap ibu sama bapak asing ya? Kami sudah menganggap kamu sebagai anak." Sarah tersenyum lalu mengusap pipi Melisa yang sekarang terasa sedikit tirus dari terakhir kali dia melihat wanita itu.
"Bu, mau makan?"
"Tidak, ibu belum lapar."
"Tapi, sedari tadi Ibu belum makan lho."
__ADS_1
"Gapapa kok, Nak. Ibu bakalan makan kalau sudah lapar, sayang." Jawab Sarah, Melisa hanya menganggukan kepala nya. Dia tak pantas jika harus memaksa ibu mertua nya untuk makan bukan?
Malam hari nya, barulah Dion dan Gia pulang. Mereka berpamitan, Melisa pun mengiyakan. Sarah juga mengiyakan, tanpa menjawab sedikit pun, hanya menatap sekilas tanpa bicara. Kecewa? Jelas, dia kecewa dengan putra nya itu.
"Aku pulang dulu ya, Mel."
"Ya, hati-hati." Jawab Melisa datar, sedangkan Sarah hanya bisa terdiam. Bukan Dion yang membuat nya jengah, tapi pada istri muda nya, Gia. Dia muak melihat sikap manja nya yang terlalu berlebihan bagi Sarah.
"Selamat menikmati kemanjaan istri baru mu, Dion." Ucap Sarah yang membuat Dion menatap ibu nya dengan sendu.
"Isshh, Mas ayo pulang!" Rengek Gia, akhirnya kedua nya pun pulang, tentu nya dengan Gia yang memeluk erat pinggang suami nya.
Melisa menghembuskan nafas nya dengan kasar, lalu masuk ke dalam rumah di ikuti oleh Sarah.
"Kamu baik-baik saja, Nak?"
"Memang nya aku kenapa, Bu? Aku baik-baik saja kok, sangat baik malah."
"Syukurlah kalau begitu, Ibu senang mendengar nya. Kamu harus baik-baik saja kita ibu sudah pulang nanti."
'Tentu, Bu. Aku akan baik-baik saja, karena ada Arvin yang akan selalu menjaga ku setiap saat.' Batin Melisa. Secara langsung, dia sudah sangat bergantung pada kehadiran Arvin. Bagi Melisa, kehadiran Arvin bagai cahaya yang menerangi kehidupan gelap nya. Dia yang memberikan nya semangat untuk melawan suami nya dengan cara yang elegant.
Suami nya selingkuh, dia juga bisa selingkuh dengan Arvin. Dia bisa membalas rasa sakit yang Dion berikan pada nya berkali-kali lipat. Sekarang, dia kembali harus berjuang tapi tidak sendirian, ada Arvin di sisi nya.
"Kamu malah melamun, ayo makan. Ibu sudah lapar sekarang." Ucap Sarah, Melisa pun tersenyum kikuk lalu mengangguk. Kedua wanita itu pun makan malam dengan lahap.
Tok.. tok.. tok..
Suara ketukan di pintu depan, membuat Melisa langsung beranjak dari duduknya untuk melihat kira nya siapa yang datang. Tapi, harus nya Melisa sudah tahu siapa yang datang. Memang nya siapa lagi kalau bukan Arvin.
"Hai.." Sapa Arvin sambil melambaikan tangan nya, pria itu tersenyum penuh arti yang membuat Melisa langsung berbalik untuk melihat situasi.
"Ngapain kesini?"
"Lho, memang nya kenapa, yang? Gak boleh?" Tanya Arvin dengan tenang.
"Bukan gak boleh, tapi sekarang lagi ada Ibu nya Dion disini. Aku gak enak kalau harus ngajak kamu mampir."
"Siapa, nak?" Tanya Sarah, dia ikut menyusul saat Melisa tak kunjung kembali juga.
"Eehh, Bu. Ini ada Arvin."
"Kenapa?" Tanya Sarah yang membuat Arvin tersenyum kecil, namun tidak terlihat canggung sama sekali. Raut wajah nya justru terlihat sangat tenang, berbeda dengan Melisa yang sudah ketar ketir sendiri.
"Maaf, Bu. Niat nya mau minta sambel, biasa nya Mbak Mel punya stok sambel, terus sambel buatan nya enak, hehe." Jawab Arvin berbohong, padahal dia merindukan Melisa, itu saja.
"Yaudah, sekalian aja makan malam disini yuk. Barengan." Ajak Sarah.
"Boleh?"
"Tentu saja, mari masuk." Arvin pun mengangguk lalu mengekor di belakang Sarah, pria itu berbalik dan tersenyum penuh kemenangan ke arah sang wanita. Melisa hanya menggelengkan kepala nya melihat tingkah sang kekasih yang menurut nya cukup ke kanak-kanakan. Pakai drama segala katanya mau minta sambel, padahal ada udang di balik batu yang lain.
'Pria itu terlalu pintar berakting dan berdrama, ada-ada saja tingkah nya yang membuat aku sendiri heran, kenapa bisa kepikiran buat alasan mau minta sambel ya?'
Pake acara segala minta sambel, sumpah demi apapun pria itu terlalu pintar mencari-cari alasan yang bahkan dia sendiri tidak tahu, tapi Arvin bisa berdrama dan melakukan nya.
....
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻