SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 97 - SANG PEBINOR


__ADS_3

"Sayang.." Panggil Melisa saat tak menemukan keberadaan sang suami dimana pun. Wanita itu celingukan mencari suami nya, kira-kira kemana dia pergi?


"Kebiasaan deh suka ilang-ilangan gini, sekarang kemana itu bapak-bapak." Kesal Melisa. Dia cukup kesal, karena ini bukanlah pertama kalinya suami nya itu menghilang, dia pergi tanpa izin terlebih dulu. Kemarin, dia juga bermain catur bersama tetangga komplek. Sekarang? Entahlah, hal apa yang di lakukan oleh Arvin.


"Baby.." Tak lama kemudian, Arvin masuk ke kamar sambil menenteng beberapa kresek berisi jajanan. Arvin suka sekali jajan jajanan kaki lima akhir-akhir ini.


Pria itu tersenyum manis saat melihat istri cantiknya itu menatap nya dengan tajam.


"Dari mana hmm?"


"Hehe, dari perempatan beli jajanan." Jawab Arvin, dia berjalan perlahan lalu menyimpan kantong kresek itu di atas meja nakas. 


"Kebiasaan kalo pergi gak izin dulu. Jangan di biasain dong, aku takut kamu di gondol tante-tante nanti." Ucap Melisa yang membuat Arvin tergelak.


"Kamu ini, ada-ada aja, Bby."


"Hehh, kesel banget sama kamu."


"Iya-iya, aku minta maaf sayang." Arvin meraih Melisa ke dalam pelukan nya, dia mengusap-usap punggung wanita hamil itu dengan lembut, beberapa kali juga dia melayangkan kecupan-kecupan mesra di puncak kepala sang istri.


"Janji gak di ulangi lagi deh."


"Kamu mah ngomong doang, kemarin juga bilang nya gitu." Ketus Melisa sambil mencubit perut rata sang suami.


"Aaasshh, ayang sakit.."


"Rasain tuh, siapa suruh nakal jadi laki." 


"Iya iya, aku minta maaf ya? Besok, aku izin dulu sama kamu kalo mau kemana-mana."

__ADS_1


"Bener ya? Awas aja kalo kamu gitu lagi, aku gak bakalan ngasih kamu jatah." Ucap Melisa yang terdengar seperti ancaman mematikan bagi Arvin. Kalau sudah berurusan dengan jatah, sudah pasti Arvin akan kalah. Mana bisa dia tidur sebelum menerima jatah malam nya, tahu sendiri seperti apa candu nya pria itu pada tubuh Melisa. 


Dia bisa melakukan nya semalaman penuh kalau istrinya mengizinkan, tapi sayang nya tenaga Melisa tidak seperti dulu. Sekarang, dia sering kelelahan mungkin karena efek kehamilan nya yang seringkali membuat hormon nya naik turun. 


"Sayang.."


"Iya, kenapa istri cantik ku?"


"Wangi telur gulung, kamu beli itu kan?"


"Haha, iya sayang."


"Mau ya, boleh?" Tanya Melisa dengan tatapan yang membuat pria itu gemas sendiri melihat wajah istrinya.


"Boleh, tentu saja boleh, istriku." Jawab Arvin, dia pun membiarkan istrinya memakan telur gulung itu dengan lahap. Dia memang menyukai makanan itu, sangat menyukai nya. 


Mood seorang ibu hamil harus benar-benar di jaga sebaik mungkin, karena kalau bumil nya bersedih maka itu juga akan mempengaruhi perkembangan janin di perutnya. Jadi, sebisa mungkin Arvin akan membujuk istrinya agar mau memakan yang lain. Selain telur gulung, Melisa juga menyukai salad buah, jadi Arvin akan menggantikan telur gulung itu dengan salad atau yang lain nya.


Arvin mengusap lembut perut Melisa yang sudah mulai membuncit, hari ini tepat usia kehamilan Melisa menginjak usia ke lima bulan. Perut nya membuncit, seringkali Melisa juga merasakan gerakan-gerakan halus di perut nya. 


"Sayang.."


"Hmmm, ada apa?"


"Kira-kira, adek bayi lagi apa ya di dalam sana?" Tanya Arvin sambil meletakan kepala nya di perut Melisa. Wanita itu tersenyum, lalu mengusap lembut kepala suami nya. 


"Entah, mungkin sedang tidur?"


"Aku gak sabar pengen lihat adek bayi deh, yang."

__ADS_1


"Kamu pikir aku enggak? Aku juga sama, sayang. Aku yang mengandung nya, tentu saja aku juga ingin segera melihat putra kita lahir." 


"Hai, jagoan ayah. Kamu lagi apa disana, sayang? Jangan rewel ya, kasian Bunda." Ucap Arvin, dia berbicara dengan janin yang berada di perut Melisa. Entahlah, apa dia bisa mendengar ucapan Arvin atau tidak. 


"Iya ayah, adek gak bakalan nakal kok." Bukan sang bayi yang menjawab, tapi Melisa yang menirukan suara anak kecil. 


Pasangan suami istri itu tengah menikmati kebahagiaan mereka, menantikan kehadiran seorang bayi di tengah-tengah mereka. Sosok malaikat yang akan menjadi penyempurna kisah cinta mereka. 


Keesokan pagi nya, Arvin berangkat ke kantor seperti biasa. Melisa mengantar suami nya hingga ke teras, lalu kembali masuk setelah memastikan suami nya pergi bersama Jo. 


"Sayang.." Panggil Darren, Melisa menoleh. Dia melihat wajah papa mertua nya sedikit pucat, apa dia sakit?


"Iya, Pah. Wajah papah pucat, papa sakit?" Tanya Melisa khawatir, dia yang sedang mencuci piring langsung mencuci tangan nya dan mengeringkan nya dengan lap tangan. 


"Papa merasa tidak enak badan, kamu bisa membuatkan papa teh jahe?"


"Bisa, sebentar ya pah." Melisa pun langsung saja membuatkan teh jahe untuk papa mertua nya. 


Hanya butuh beberapa menit saja, satu gelas teh jahe selesai. Melisa memberikan nya pada pria itu dan Darren langsung meminum nya selagi hangat. 


"Seperti nya papah masuk angin." Gumam Melisa. 


"Mungkin."


"Mau Melisa pijat?" Tanya Melisa tapi Darren menolak, dia tidak mau membuat menantu nya terbebani atau kelelahan karena mengurus nya, dia sedang hamil muda saat ini. Kehamilan nya masih bisa di bilang rentan, jadi Darren tak mau mengambil resiko yang akan membahayakan menantu juga cucu nya.


......


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2