SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 53 - SANG PEBINOR


__ADS_3

Arvin keluar dari mobil sedan nya dengan sepatu mengkilat dan kacamata hitam nya, dia melangkah tegap dan langsung di ikuti bawahan nya. Pria tampan itu memasuki kawasan kantor dengan wajah super duper datar, aura dingin terasa begitu mendominasi kedatangan nya.


"Selamat datang, Tuan Muda.." Sapa Irfan, dia adalah mata-mata yang Arvin tugaskan untuk memantau keadaan di perusahaan dengan cara menyamar sebagai karyawan biasa. Dia juga yang pertama kali mengutarakan kecurigaan nya pada Ares. 


Irfan langsung mengikuti Arvin di belakang nya, begitu juga Jo dan beberapa orang lain yang menjadi anak buah seorang Arvino Sanjaya. Tak terkecuali Mira, dia adalah asisten Ares yang beberapa kali di goda oleh pria paruh baya itu bahkan di iming-imingi dengan yang ratusan juta asal mau bermalam bersama nya. 


Tentu nya, Ares tak mengetahui kalau Mira adalah salah satu anak buah Arvin. Kalau dia tahu, mungkin dia takkan bertindak se gegabah itu.


"Selamat datang, Tuan Muda.." Sapa Ares sambil membungkukan setengah badan nya, Arvin hanya menatap kilat pria paruh baya itu. Lalu kembali berjalan tegap dengan wajah datar nya, dia masuk ke dalam ruangan yang selama ini di tempati oleh Ares. Yaps, ruangan CEO yang harusnya di tempati oleh Ares. 


Arvin duduk di kursi kebesaran milik nya, beberapa karyawan langsung berbaris di depan pria tampan itu. 


"Maaf, saya datang terlambat, Tuan Muda." Ucap seorang pria paruh baya yang baru saja datang dengan menenteng tas kecil di tangan nya. Dia adalah pengacara pribadi keluarga Sanjaya, Pak Mario. 


"Tak apa, masuklah." Mario mengangguk, dia mengambil posisi di belakang Arvin. Pria itu berdiri tegap, dengan kedua tangan yang dia letakan di belakang tubuh nya. 


Arvin menatap tajam seseorang yang nampak menunduk di ujung barisan. 


"Ares, kemarilah.." Ares nampak terkejut, namun dengan cepat dia menetralkan ekspresi nya, dia maju dan berdiri lebih dekat dengan Arvin. 


"Iya, Tuan muda."


"Bagaimana keadaan perusahaan sekarang?"


"Seperti yang anda lihat, Tuan. Semua nya baik-baik saja, saham kita juga berada di angka normal." Jawab Ares, membuat Arvin menyeringai. Apa katanya? Saham tetap berada di angka normal? Apa dia pikir kalau membohongi Arvin semudah itu? Tidak, Arvin tidak sebodooh itu. 


"Lalu, jelaskan apa ini?" Arvin melempar sebuah berkas ke wajah Ares. Membuat pria itu sedikit terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Arvin. 


"M-aksud nya, Tuan muda?" Tanya Ares, masih berani dia menanyakan hal itu. Sudah jelas-jelas kecurangan sudah dia lakukan dengan bukti-bukti yang sudah di pegang oleh Arvin. 


"Ambil berkas nya, baca! Kau bisa membaca kan?" Tanya Arvin tegas, membuat pria itu ketakutan. 


Ares melakukan nya, lalu membaca dengan seksama, beberapa kali mata nya di buat melotot saat melihat hasil laporan yang di tunjukan oleh Arvin.


"Laporan ini tidak benar, Tuan muda." Pria itu masih bisa menyangkal, padahal bukti tertuju padanya, benar-benar memberatkan dirinya.

__ADS_1


"Mira.." Ucap Arvin, Mira mengangguk lalu berjalan mendekat dan membuka berkas yang sedari tadi dia pegang.


"Pada tanggal sebelas, tuan Ares mengambil dana sebesar empat milyar dengan alasan untuk membeli fasilitas kantor, namun sampai saat ini tak ada apapun yang di beli untuk fasilitas kantor."


"Lusa nya, tanggal tiga belas beliau juga menarik dana perusahaan sebesar tiga milyar tanpa alasan. Dan beberapa hari lalu, dia juga mengambil uang sebanyak satu milyar, Tuan muda." Jelas Mira, membuat Arvin menatap tajam Ares. Sedangkan pria itu sudah menunjukkan ketakutan nya, wajah nya sudah pucat dengan kening yang berkeringat.


"Bukti ini sudah cukup membuktikan kecurangan mu, Ares!"


"Tapi tuan, saya.."


"Cukup, kau sudah ketahuan Ares! Aku punya semua bukti-bukti nya."


"Pak Mario." Panggil Arvin, pengacara itu langsung membacakan tindak pidana gelap pencucian uang atau korupsi, dengan hukuman yang cukup berat. 


"Dengan ini, Tuan Ares harus mengembalikan uang perusahaan sebanyak delapan milyar dalam tenggang waktu jatuh tempo dan hukuman penjara seumur hidup." Ucap Mario membuat Arvin menyeringai. Sedangkan Ares melotot, hampir saja kedua mata nya keluar dari tempat nya.


"T-tuan.."


"Jangan berkata apapun lagi, besok semua uang yang kau ambil harus di kembalikan ke perusahaan. Aku tak mau mendengar alasan apapun lagi." 


"Selamat bertemu di pengadilan."


"Jo, bawa dia ke sel." Perintah Arvin, membuat Ares meronta saat tangan besar Jo menangkap tubuh nya. Meskipun tubuh nya terbilang cukup besar, namun jika di seret oleh Jo, Ares tetap kalah. 


"Pak, apa sidang dan semua nya bisa selesai dalam waktu satu minggu?" Tanya Arvin.


"Akan saya usahakan, Tuan muda. Kenapa terlihat sangat terburu-buru?" Tanya Mario.


"Tidak, aku hanya tak bisa berjauhan dengan pujaan hatiku." Jawab Arvin datar, dia pun kembali menatap bawahan nya yang masih berbaris di depan nya.


"Irfan.."


"Saya, Tuan muda." 


"Aku menunjuk mu sebagai kepala cabang yang baru, menggantikan Ares dan Mira akan aku tugaskan sebagai asisten mu." Ucap Arvin tegas. 

__ADS_1


"Tuan.."


"Aku harap, kecurangan semacam ini tak terjadi lagi. Kalau pun terjadi, kalian harus siap dengan konsekuensi nya. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab, ingat aku takkan mengampuni kalian jika seandainya kalian melakukan hal semenjijikan itu!" Tegas Arvin.


"Baik, tuan.."


"Anda masih ingin bersembunyi dari Tuan Darren?" Tanya Pak Mario.


"Ya, karena aku punya alasan yang cukup kuat." 


"Kenapa, Tuan muda?"


"Sudah aku katakan, jangan berpura-pura tidak tau tentang aku dan papa, Mario." Ucap Arvin ketus, membuat Pak Mario terkekeh pelan.


"Baiklah, Tuan muda." 


"Keluarlah, mulai tugas kalian masing-masing. Selama seminggu, aku akan berada disini. Setelah itu, Irfan akan menggantikan posisi ku sementara waktu sampai aku siap memimpin kembali perusahaan." 


"Baik, Tuan." Jawab Mira dan Irfan bersamaan, kedua nya pun keluar dari ruangan Arvin, meninggalkan Arvin hanya berdua dengan Pak Mario.


"Pak.."


"Iya, Tuan.."


"Usahakan, semua nya harus selesai dalam waktu yang sudah aku tentukan. Aku tak mau tahu apapun."


"Baik, tuan muda. Kalau begitu, saya akan mulai memproses tuntutan anda."


"Ya, bekerja keraslah." Ucap Arvin, Pak Mario menganggukan kepala nya, dia juga keluar dari ruangan Arvin dan menutup pintu nya dengan perlahan.


"Kira-kira, Melisa lagi ngapain ya?" Gumam Arvin sambil tersenyum kecil, secepat itu amarah nya hilang ketika dia mengingat tentang sang kekasih, Melisa. 


"Aaah, aku lupa mengabari nya kalau aku sudah sampai." Gumam pria itu lagi dengan panik, dia pun mengambil ponsel dari saku jas nya dan mencoba menghubungi Melisa.


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2