SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 77 - SANG PEBINOR


__ADS_3

"Ibu, mau bertemu dengan Mas Dion?" Tanya Melisa setelah drama termehek-mehek nya selesai. Sarah terlihat menganggukan kepala nya pelan, bagaimana pun juga Dion adalah putra nya, putra satu-satu nya yang dia punya.


"Sebentar ya, Bu. Melisa telepon dulu."


"Iya, Nak."


"E-eemm, apa Ibu juga ingin bertemu dengan Gia?" Tanya Melisa lagi dengan lirih. 


"Gia, siapa dia?"


"Istri nya Mas Dion, Bu." 


Sarah terlihat seperti berpikir, lalu sedetik kemudian dia pun menganggukan kepala nya. Dia penasaran dengan sosok perempuan yang mampu membuat putra nya berpaling dari Melisa, wanita yang nyaris sempurna yang sudah dia pilih untuk mendampingi nya.


"Baiklah, Bu." 


Melisa pun mengambil ponsel dan menghubungi nomor Dion, beberapa detik kemudian suara pria itu terdengar, entah kenapa sekarang mendengar suara Dion saja membuat nya merinding. 


'Hallo, Mel. Ada apa? Kau merindukan aku?' Tanya Dion, nada suara nya terdengar sangat ceria. Tapi, dia salah paham. Melisa menghubungi nya bukan karena rindu, tapi karena ada ibu nya datang. Kalau bukan ibu mertua nya yang datang, dia takkan mau menghubungi Dion. 


"Di rumah ada ibu, datanglah sekalian bersama Gia." Jawab Melisa. 


'H-ahh, ibu siapa?'


"Apa kamu tak ingat kalau masih punya ibu, Mas? Tentu saja ibu mu, tak mungkin ibu ku." Jawab Melisa sedikit ketus.


'Ngapain dia kesini?" Tanya Dion lagi membuat Melisa mendengkus lalu memutar mata nya dengan jengah. Pria ini kenapa jadi banyak tanya begini? Membuat nya sebal saja. 


"Mana aku tahu, tanyain aja sendiri. Sudah, aku menghubungi mu hanya untuk memberitahukan itu saja." Ucap Melisa, lalu mematikan telepon nya secara sepihak.


Kemarin, Dion sudah tahu kalau Melisa punya ponsel. Dia pun mendesak wanita itu untuk menyimpan nomor nya, meskipun sebenarnya Melisa tak mau menyimpan nomor nya karena buat apa tak penting juga, tapi biarlah siapa tahu nanti butuh ya kan. Dan terbukti, saat ini dia menghubungi nya duluan, meskipun karena terdesak keadaan, bukan keinginan nya sendiri. 


Dion juga menanyakan dari mana dia punya ponsel, Melisa hanya menjawab seadanya saja tapi dengan nada ketus yang membuat Dion yakin kalau ponsel itu adalah salah satu barang pemberian pria yang saat ini sudah menghuni hati seorang Melisa. 


Setengah jam kemudian, suara motor Dion terdengar cukup nyaring. Melisa memalingkan wajah nya saat melihat Dion dan Gia datang dengan saling bergandengan tangan. Sarah yang melihat hal itu tentu saja merasa bersalah pada Melisa, dia menyangka kalau Melisa masih menaruh perasaan terhadap putra nya. Padahal nyata nya, Melisa melakukan hal itu karena dia terlalu muak saat melihat wajah kedua nya. 


"Ma.." Panggil Dion yang membuat Sarah langsung menatap putra nya yang sudah menampilkan senyum manis nya, berbanding terbalik dengan Gia yang nampak acuh.


"Dia siapa?"


"Aku istri nya, Mas Dion. Salam kenal." Jawab Gia sedikit ketus, tanpa mengulurkan tangan nya sama sekali. Di pertemuan pertama saja, Gia sudah bersikap seperti ini. Kok bisa Dion melepaskan Melisa hanya demi wanita yang terlihat cukup.. muraah?


"Dia benar istri mu, Dion?"


"Eemm, i-iya Ma." Jawab Dion sambil menggaruk tengkuk nya. Merasakan suasana yang cukup canggung, Melisa pun memutuskan untuk pergi ke dapur dengan alasan akan membuatkan minuman untuk kedua tamu kehormatan yang baru saja datang.

__ADS_1


"Mama rasa, kita harus bicara berdua." 


"Baiklah, Ma."


"Mas.." Rengek Gia, padahal tak biasa nya dia bersikap seperti ini. Tentu ada alasan di balik sikap Gia yang berubah menjadi menyebalkan seperti ini, iyaps agar Ibu nya Dion tak menyukai dirinya, tentu saja itu alasan nya.


"Sebentar, kamu tunggu disini sama Melisa." 


"Gak mau.."


"Gak usah manja bisa gak sih, Gi? Sebentar doang, sana duduk." Ucap Dion dengan sedikit meninggikan suara nya, yang membuat Gia langsung menurut dan duduk di kursi yang ada di ruang tamu dengan tenang. Sedangkan Dion mengikuti sang ibu keluar rumah.


"Duduk." Pinta Sarah saat melihat putra nya datang dan berjalan mendekat. 


"Iya, Ma."


"Kenapa kau bisa bertindak seceroboh ini, Di?"


"Maksud, Mama?" Tanya Dion yang membuat kening Sarah mengernyit.


"Kamu masih nanya? Setelah apa yang kamu lakukan pada Melisa? Mempermalukan nya di depan semua orang yang ada disini hmm?" 


"Ckkk, aku tak pernah mempermalukan Melisa sama sekali. Justru aku yang di permalukan di depan warga sini."


"Karena ulah siapa? Ulah kau sendiri bukan? Rasa nya, mama menyekolahkan mu selama belasan tahun itu percuma dan sia-sia saja." Ucap Sarah. 


"Kamu bodooh, Dion. Sangat boddoh."


"Apa maksud Mama?" Tanya Dion dengan kedua tangan yang terkepal erat di sisi tubuh nya, kalau saja dia sedang berhadapan dengan orang lain, pasti dia sudah menghajar nya secara membabi buta karena dia sudah berani mengatai dirinya boddoh, tapi ini adalah ibu nya. Tak mungkin dia menyakiti ibu nya sendiri bukan? Bisa-bisa dia jadi anak durhaka dan di kutuk menjadi kerikil di atas kotoran.


"Kamu membuang istri sebaik Melisa? Mama heran sama kamu, kurang nya Melisa apa sih?" Tanya Sarah yang membuat Dion terdiam. Benar, Melisa memang tidak ada kurang nya. Dia sosok wanita yang sempurna, tapi entahlah. 


Jika di bandingkan dengan Gia, Melisa jauh lebih unggul. Gia tak bisa memasak, kerja nya hanya bermalas-malasan, menghamburkan uang dengan membeli barang-barang tak berguna. Dia sama sekali tidak pandai mengatur keuangan, uang satu juta habis tak bersisa hanya dalam waktu lima hari. Kalau di berikan pada Melisa, uang itu bisa untuk makan satu bulan.


Tapi, itulah yang nama nya manusia, selalu saja merasa kurang. Padahal sudah di berikan wanita spek impian, malah nyari wanita yang standar nya lebih di bawah istri pertama. Mengherankan tapi itulah realita nya.


"Apa sih bagus nya wanita itu, Di? Ini pertama kali nya Mama ketemu sama dia, tapi kesan mama buat istri baru mu itu sangat buruk bagi standar penilaian Mama." Jawab Sarah yang membuat Dion mendongak, lalu kembali menundukan kepala nya. 


"Mama jamin, kamu akan menyesal karena sudah melepaskan wanita sebaik Melisa, Dion. Kau takkan pernah bisa mendapatkan wanita seperti Melisa lagi, Mama jamin itu." Ucap Sarah yang membuat Dion terhenyak.


"Mama kok ngomong nya gitu sih? Bukan belain anak nya, malah belain Melisa."


"Mama bakal belain kamu, kalau kamu gak salah. Mama gak bakalan belain pria pengecut yang tau nya hanya menyakiti hati wanita, sekarang sudah sangat terlambat, percepat saja perceraian kalian. Melisa juga berhak bahagia, tapi bukan dengan mu." Sarah berkata dengan nada suara yang cukup tinggi. Emosi nya meledak-ledak saat mendengar sendiri jawaban dan sangkalan putra nya yang tak sesuai dengan kenyataan. 


Apa kata nya? Dia harus membela nya? Tidak akan pernah, Dia hanya akan membela pihak yang benar, bukan yang salah. 

__ADS_1


"Ma, tapi Melisa juga sama-sama selingkuh."


"Jangan mencari perlindungan di bawah kesalahan orang lain, Dion. Yang salah disini sudah jelas itu kau, jadi jangan membuat pembelaan dengan mengatas namakan kesalahan orang lain. Kau mengerti?" 


"Tapi, Ma.."


"Sudah, mama gak mau dengar apapun lagi dari kamu, Mama kecewa sama kamu, Dion. Lainkali, jadilah pria yang bertanggung jawab." Ucap Sarah, lalu masuk ke dalam rumah tanpa menatap sang putra yang sudah mengacak rambut nya dengan frustasi. 


Niat hati ingin meminta pembelaan sang ibu agar Melisa mencabut gugatan cerai nya, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Ya, Dion lah yang menghubungi ibu nya agar datang dan meminta nya untuk membujuk Melisa. Dia tak bisa melepaskan Melisa begitu saja, dulu dia ingin membuat wanita itu menderita, sekarang dia malah ingin tetap mempertahankan rumah tangga nya dan memperbaiki nya.


Tapi, sudah sangat terlambat. Hubungan yang dari awal memang sudah rusak takkan bisa di perbaiki lagi, meskipun kau berusaha semaksimal mungkin. Itulah yang terjadi pada Melisa, hati nya sudah sangat terluka oleh perlakuan juga perkataan seorang Dion. 


Pria itu sudah keterlaluan saat memperlakukan Melisa, dia tak pernah menganggap nya, juga menghargai nya sebagai istri. Tapi, saat wanita itu menyerah justru yang terjadi malah sebaliknya, dia yang bersikukuh tak mau bercerai dan melepaskan Melisa bahkan mempersulit semua nya.


"Bu, mau makan? Melisa udah siapin."


"Terimakasih, Nak. Tapi Mama belum lapar sekarang, Mama capek. Bisakah Mama menumpang beristirahat? Besok pagi mama akan pulang." 


"Tentu, Ma. Silahkan." Jawab Melisa, untung saja tadi dia memang membereskan kamar belakang dan memindahkan barang-barang nya ke kamar depan, jadi Mama mertua nya bisa tidur di kamar belakang dan dia akan tetap tidur di kamar depan. 


Tak lama kemudian setelah Sarah masuk ke dalam kamar, Dion juga ikut masuk dengan wajah kusut nya. 


"Mau minum kopi?" 


"Boleh." Jawab Dion, Melisa pun pergi ke dapur dan menyiapkan secangkir kopi. Sedangkan Gia, dia asik sendiri menonton televisi yang sedang menayangkan drama Korea. 


Dion mendengus melihat kelakuan istri nya, semakin lama dia semakin menyadari kalau Melisa jauh lebih baik dalam segala hal, berbeda jauh dengan Gia. Seketika dia menyesal karena sudah menyia-nyiakan Melisa, dia menyangka kalau Gia lebih baik, tapi nyatanya tidak sama sekali. 


Pria itu pun menyusul Melisa ke dapur dan duduk di salah satu kursi yang kosong, mata nya menatap Melisa yang sedang mengelap kompor dengan nanar. Rasa sesal nya semakin meradang. 


"Mel.."


"Ya, ada apa Mas?" Tanya Melisa datar, tanpa melirik sekilas pun ke arah pria itu. 


"Perceraian kita, apakah tak bisa di undur?"


"Aku tak suka mengundur waktu, Mas. Ada apa memang nya?"


"Bisakah kita memperbaiki semua nya? Aku akan menceraikan Gia kalau kamu bersedia." Bujuk nya yang membuat Melisa memutar mata nya jengah. Dia berbalik dan menatap Dion dengan tajam.


"Semudah itu? Kamu pikir pernikahan itu sebuah mainan, Mas? Kamu sudah menyakiti aku, lalu sekarang akan menyakiti Gia juga? Jangan bertindak gegabah, semua ada konsekuensi nya. Aku menyerah Mas, aku lelah. Aku harap, kamu tidak mempersulit jalan nya sidang perceraian kita berdua." Jawab Melisa, dia menyeduh kopi dan meletakan nya di depan Dion cukup keras. Lalu pergi dari dapur dengan langkah tergesa-gesa. Berdekatan dengan Dion membuat hati nya mendidih, beda lagi urusan nya kalau dia berada di dekat Arvin. Bawaan nya pengen manja-manjaan aja terus.


"Udah lagi menstruasi hari kedua, malah di suguhi beginian, adehh. Bikin darah tinggi aja, sial." Gumam Melisa sambil melangkah dan masuk ke kamar nya.


.......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2