
Sebulan berlalu, kini pasangan yang tengah menikmati peran baru mereka sebagai orang tua terlihat semakin bahagia melihat tumbuh dan kembang sang buah hati setiap hari nya.
Bayi yang kini berusia satu bulan itu nampak sangat menggemaskan, meskipun kerjaan nya hanya tidur, paling dia merengek kalau ingin menyusu, atau rewel kalau popok nya telat di ganti. Arvin juga menjadi ayah yang siaga, dia tak pernah membangunkan istrinya kalau sang putra bangun di tengah malam karena tak nyaman.
Seperti malam ini, Arvin mendengar putra nya merengek kecil, dia langsung beranjak dari tidur nya, dia melepaskan pelukan sang istri di pinggang nya dengan hati-hati agar dia tak terbangun. Arvin berjalan ke arah box bayi yang ada di dekat ranjang mereka.
"Uuhhh, cup cup sayang nya papah. Pipis ya? Jagoan papah jangan nangis ya? Kasian mama lagi bobo." Ucap Arvin, dia menggendong putra nya dengan penuh kelembutan. Dia menimang-nimang nya sebentar, sambil menyiapkan popok baru untuk putra nya.
Pria itu mengganti nya dengan perlahan, hingga membuat bayi kecil itu anteng. Arvin tersenyum, setelah memberi nya susu, putra nya pun kembali tertidur dengan nyenyak.
Narendra Aksa Sanjaya, nama yang Arvin berikan pada putra pertama nya, tentu nya dengan persetujuan sang istri. Naren sangat anteng, jika tidak lapar atau popok nya basah, dia tidak pernah rewel sama sekali.
"Sayang.." Panggil Melisa membuat Arvin langsung mendekat ke arah sang istri yang masih berbaring di ranjang.
"Iya, kenapa bangun?"
"Dingin, sayang. Soalnya yang bisa hangatin aku kan cuma kamu, hehe. Naren kenapa, sayang?" Tanya Melisa, Arvin menarik selimut dan kembali memeluk tubuh sintal sang istri.
"Biasa, popok nya basah."
"Kenapa kamu gak bangunin aku?" Tanya wanita itu, sudah satu bulan mereka menjadi orang tua, tapi sekalipun Melisa tak pernah bangun untuk mengganti popok atau karena Naren rewel, semua nya Arvin yang menangani nya.
"Untuk apa? Hanya mengganti popok saja, aku juga bisa."
"Sayang, tapi kan aku.."
"Kamu istirahat saja, sayang. Seharian kamu pasti kelelahan ngurusin Naren, nah malam nya biar aku saja yang mengurus nya, istriku."
"Tapi, kamu juga pasti kelelahan setelah seharian bekerja, sayang." Ucap Melisa, dia merasa tidak enak pada suami nya. Dia sudah bekerja seharian di kantor, belum lagi malam nya dia malah sering terbangun karena putra mereka. Satu malam, Naren bisa bangun tiga sampai empat kali.
"Tidak masalah, lagipun Naren tidak rewel. Setelah popok nya di ganti lalu minum susu, dia kembali tertidur." Jawab pria itu dengan lembut, dia mengusap kepala sang istri dengan lembut, lalu mengecup nya dengan mesra.
"Terimakasih, suamiku. Kamu suami dan ayah yang sangat baik."
"Tentu saja, aku harus seperti itu kan? Agar aku tidak kehilangan rasa cinta dari istri ku."
"Astaga, itu semua takkan pernah terjadi." Jawab Melisa sambil terkekeh. Arvin hanya mengeratkan pelukan nya, lalu kedua nya pun kembali tertidur karena jam masih menunjukkan pukul sebelas malam.
Keesokan pagi nya, Melisa baru saja terbangun begitu dia mencium aroma menyegarkan yang menguar memenuhi Indra penciuman nya.
"Wangi sabun bayi.." Gumam Melisa sambil membuka kedua mata nya. Wanita itu tersenyum kecil, lalu beranjak dari tidurnya. Dia melihat suaminya tengah memandikan Naren.
"Sayang.."
"Aaahh, iya. Sudah bangun, sayang?" Tanya Arvin sambil mengusapkan minyak telon di tubuh putra nya.
"Maaf, aku bangun kesiangan."
"Tidak apa-apa, sayang. Lihatlah, baby Naren sudah mandi, dia terlihat sangat tampan."
"Kamu memandikan nya sendiri?" Tanya Melisa, harusnya dia tak perlu bertanya lagi karena di kamar ini hanya ada Arvin dan dirinya. Jadi, sudah pasti Arvin lah yang melakukan nya.
"Tentu, kenapa sayang?"
"Wahh, suami tampan ku sudah bisa memandikan putra nya."
__ADS_1
"Hmmm, aku takkan bisa melakukan nya kalau tidak mencoba nya." Jawab Arvin sambil tersenyum manis. Pria tampan itu menoleh ke arah sang istri yang berdiri di samping Arvin, dia mengecup kening nya dengan mesra.
"Terimakasih, sayang."
"Sama-sama, cantikku."
"Jadi, hari ini jadi ke kampung, yang?"
"Tentu saja, kita harus mengambil barang-barang kita disana bukan?" Tanya Arvin. Ya, hari ini mereka akan berkunjung ke kampung tempat mereka bertemu. Tentu nya dengan di antar oleh Jo.
"Tak apa-apa membawa baby Naren kesana ya? Soalnya disana kan dingin, sayang."
"Tentu saja tidak apa-apa, bawa saja banyak pakaian hangat." Jawab Arvin, pria itu tersenyum manis sambil mengelus wajah cantik sang istri.
"Hmmm, baiklah."
"Sebaiknya kamu mandi terlebih dulu, lalu siap-siap. Setelah itu kita akan pergi."
"Oke, sayang." Jawab Melisa, dia menurut dan pergi ke kamar mandi. Wanita itu terlihat sangat antusias saat Arvin mengajak nya untuk berkunjung ke kampung, tempat mereka di pertemukan oleh takdir.
Beberapa saat kemudian, kini mereka tengah dalam perjalanan dengan Jo yang mengemudikan kendaraan roda empat nya itu dengan kecepatan sedang. Mereka membawa banyak baju bayi dan peralatan-peralatan nya sekalian, kalau bawa bayi ya begini, rempong.
Naren tertidur pulas di pelukan sang ayah, Arvin menimang-nimang putra nya. Dengan kelembutan, hingga membuat bayi nya merasa nyaman dan aman. Melisa sendiri tak bisa menghentikan senyuman manis nya, dia benar-benar bahagia karena bisa menikah dengan Arvin dan di cintai sebesar ini oleh pria yang awalnya dia sendiri tidak menyangka kalau dia akan nekat.
Tapi nyatanya, kini Arvin adalah pria yang dia cintai. Dia adalah pria yang membuat nya kuat untuk menghadapi hidup, bahkan dialah yang membimbing nya untuk tetap tegar, dia juga yang mengajarkan Melisa untuk melawan Dion. Karena, jika tidak melawan maka pria itu akan semakin semena-mena pada nya. Dan berkat Arvin pula, akhirnya dia bisa bebas dari jeratan pria bernama Dion.
Singkatnya, mereka pun sampai di kampung saat pagi hari, mereka mendapat sambutan dari para masyarakat, termasuk Bu Ratmi dan Bu Amel.
Melisa keluar dari mobil sedan berwarna hitam itu sambil menggendong Naren, di susul oleh Arvin yang nampak gagah dengan balutan kemeja berwarna hitam dan celana bahan nya.
"Apa kabar, Neng?" Tanya Bu Amel sambil mengusap wajah Melisa.
"Baik, Bu." Jawab Melisa, seperti biasa dia menjawab pertanyaan dengan senyum manis nya.
"Syukurlah."
"Waah, ini baby Naren yang ada di televisi itu kan? Lucu sekali." Celetuk Bu Amel sambil menatap bayi laki-laki yang terlihat nyaman di dalam dekapan sang ibu. Saat Melisa melahirkan, tentu saja banyak awak media yang meliput dan menjadikan nya sebagai berita di televisi. Karena ini adalah kelahiran putra pertama sekaligus cucu pertama dari Darren Sanjaya.
"Iya, di televisi udah keliatan ganteng dan lucu kan ya? Liat secara langsung makin keliatan ganteng nya."
"Iya dong, siapa dulu yang bikin nya? Dia berasal dari bibit unggulan." Celetuk Arvin yang membuat para ibu-ibu itu tertawa.
"Hahaha, bener sih ya. Hidung nya mirip sekali sama bapaknya."
"Iya, tapi wajah nya mirip sama Neng Melisa." Jawab Bu Amel.
"Sayang, aku bawa Naren ke rumah ya? Kamu ngobrol-ngobrol aja dulu."
"Iya, sayang." Jawab Melisa sambil tersenyum manis, dia mengambil alih Baby Naren dari dekapan sang istri lalu membawa nya ke dalam rumah. Karena angin pagi disini cukup sejuk, Arvin khawatir kalau putra nya akan masuk angin. Lagi pun, dia pasti kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh.
"Neng, ngobrol dulu disana yuk?" Ajak Bu Ratmi, Melisa pun mengiyakan. Mereka duduk di teras rumah yang dulu di tinggali oleh Melisa. Sekarang, rumah itu kembali di kosongkan karena tak ada yang mau mengontrak disana sejak Melisa pergi.
"Ibu-ibu semua apa kabar?"
"Baik kok, kita semua kangen banget sama Neng Melisa. Katanya pergi nya gak lama, tapi kok udah hampir setahun."
__ADS_1
"Iyaa, soalnya Arvin kan kerja di kantor. Jadi susah buat ngambil cuti nya." Jawab Melisa sambil tersenyum.
"Penampilan Neng Meli jauh berubah ya, beda banget. Tapi sifat nya masih sama."
"Iya, keliatan cantik sekali."
"Jelas lah, Arvin pasti biayain istrinya dong." Jawab Bu Amel sambil mencubit gemas pipi Melisa yang terlihat sangat cerah dan glowing, jauh berbeda saat dia masih menjadi istri Dion.
"Jadi, disana Neng Meli tinggal sama siapa?"
"Sama papa mertua aja, Bu."
"Pasti bahagia banget ya punya suami kayak Arvin, udah ganteng, baik lagi."
"Iya, kehidupan aku tuh kayak jungkir balik. Dari yang gak punya apa-apa, bahkan gak pernah di hargain sama orang, sekarang justru kebalikan nya."
"Itulah kehidupan, Neng. Tapi, jujur aja kita tuh kaget pas liat berita di televisi kalau kalian menikah."
"Haha, maafin ya? Sebenarnya, kami memang sudah menjalin hubungan." Jawab Melisa sambil tertawa pelan.
"Maksudnya, pas masih sama Dion?" Dengan perlahan, Melisa menganggukan kepala nya.
"Aku tak sebaik yang kalian pikirkan."
"Tapi baguslah, kamu membalas perselingkuhan Dion." Ucap Bu Ratmi.
"Iyalah, dia mah selingkuh nya sama jendes matre, lah kamu selingkuh nya sama bujangan yang ternyata kaya raya." Celetuk Bu Amel juga.
"Kalian tidak menyalahkan?"
"Tidak, karena menurut ibu sih kamu juga pantes bahagia dan Dion juga wajib di beri pelajaran." Jawab Bu Amel.
"Kita tahu, kalau kamu sering mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Tapi, selama ini kami diam karena tak berani."
Melisa nampak terkejut, dia benar-benar tak menyangka kalau ibu-ibu disini mengetahui bagaimana perlakuan mantan suami nya terhadapnya dulu.
"Kamu tahu, sekarang dia menduda. Pernikahan nya dengan Gia hanya bertahan selama empat bulan, Neng."
"H-aahh?" Melisa benar-benar terkejut di buatnya. Sesingkat itu hubungan mereka bertahan?
"Sesingkat itu?" Tanya Melisa, ibu-ibu disana menganggukan kepala mereka mengiyakan.
"Gia pergi dari kampung ini setelah dia meminta Dion menandatangani surat cerai nya."
"Seperti itukah? Sekarang dia tinggal dimana?"
"Di rumah nya Gia, mungkin. Kami gak pernah melihat nya lagi." Jawab Bu Ratmi lagi.
Melisa masih terkejut, ya dia benar-benar terkejut. Dia tak menyangka kalau Dion sudah kembali menduda, astaga. Tapi ya itulah karma hidup, tak selama nya akan bahagia tapi akan ada saat dimana semua nya di balas.
Ingat, setiap perbuatan pasti ada balasan nya. Selamat menikmati balasan dari semua perbuatan mu, Dion.
.....
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1