SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 68 - SANG PEBINOR


__ADS_3

Melisa kembali masuk ke dalam rumah dengan wajah yang datar, dia tak peduli saat Dion menatap nya dengan tatapan sendu. 


"Mel.."


"Apa? Sudah puas bermain nya, Mas?" Tanya Melisa, Dion terdiam tak menjawab pertanyaan istri pertama nya itu. Melihat hal itu, Melisa hanya berdecih pelan lalu pergi ke dapur dan langsung mencuci piring dan mangkuk bekas nya makan di wastafel.


"Kak Mel.."


"Hmm, apa lagi?" Tanya Melisa sedikit ketus. Mata nya memutar jengah pada sosok wanita yang kini menjadi madu nya. 


"Kakak habis dari mana?"


"Dari luar, makan bareng ibu-ibu sini." Jawab Melisa, membuat Gia manggut-manggut.


"Kenapa sih?"


"E-ehh, enggak kok kak." 


"Kalau gak mau bantuin, seenggaknya kamu jangan ngalangin jalan." Ucap Melisa sedikit sinis, membuat Gia menyingkir dari jalan yang akan di lewati oleh Melisa. 


"Kalian bisa gak sih akur?" Ucap Dion, sedari tadi dia mendengarkan percakapan antara Gia dan Melisa. Gia sih biasa-biasa saja, tapi Melisa nya yang berkata sinis dengan sindir-sindiran halus yang dia lontarkan. 


"Emang kita berantem?"


"Ya enggak, tapi nada bicara kamu ketus terus sama Gia." Ucap Dion, sedangkan Melisa terlihat memutar mata nya dengan jengah. Tentu, dia muak dengan suami nya ini, benar-benar muak. Memang nya ada ya, wanita yang akan memperlakukan madu nya dengan baik? Rasa nya tidak ada, apalagi mereka menikah setelah di gerebek oleh warga karena ketahuan sedang berbuat sesuatu.


"Otak kamu masih berfungsi gak sih, Mas? Coba ya kamu pikirin, sedikit aja perasaan aku! Bagaimana bisa, aku bersikap baik pada wanita yang menjadi istri baru suami nya, Mas?" Tanya Melisa ketus, mata nya memerah menahan amarah. Gia juga benar-benar melihat kalau Melisa sekuat tenaga menahan emosi nya.

__ADS_1


"Iya, tapi setidak nya bersikap baiklah sama Gia, dia kan madu kamu sekarang."


"Lalu, aku harus bersikap baik seperti apa, Mas? Sudah untung ya, pas kalian datang gak aku jambak istri baru mu ini." Ketus Melisa. 


"Melisa.."


"Apa, Mas? Kalau setidaknya kalian sudah tidak berkepentingan, sebaiknya pergi lah. Aku juga manusia, yang butuh waktu menenangkan diri setelah di permalukan oleh kelakuan bejat mu itu, Mas!" Tegas Melisa, membuat wajah Dion memerah karena amarah. Rahang nya mengetat, terlihat jelas kalau dia marah karena ucapan Melisa. 


Kalau Gia, dia hanya diam saja. Merasa bersalah, ada sedikit. Tapi ada untung nya juga, karena perbuatan nya ini Melisa akan bisa lepas dari pria semacam Dion. Tapi berbalik, dia yang malah masuk ke dalam jeratan seorang Dion. 


"Melisa, lancang sekali kau.." Dion bersiap untuk menampar Melisa, tapi tangan nya melayang di udara. Sudah lama dia tak melakukan hal seperti ini, tapi ucapan Melisa sangat menyinggung nya. Meskipun apa yang di katakan nya itu benar sepenuhnya.


"Apa, Mas? Mau tampar, silahkan. Dari dulu juga kau tak pernah memperlakukan aku dengan baik." 


Plakk..


"Aku membalas tamparan mu berkali lipat lebih menyakitkan, Mas."


"Kenapa kau berubah, Melisa?" Tanya Dion sambil mengusap wajah nya yang terasa perih setelah kena tampar oleh istri tua nya. Ini adalah kedua kali nya dia di tampar oleh Melisa. 


"Karena kau sudah kehilangan rasa hormat ku sebagai istri pada suami nya." Jawab Melisa, wanita itu tersenyum getir. Apalagi saat melihat wajah terkejut Gia saat dia menampar Dion.


"Harusnya, aku menampar mu kemarin. Tapi, aku khawatir kau akan malu jika aku melakukan nya di depan banyak orang. Jadi, aku melakukan nya sekarang mumpung hanya ada kau, aku dan istri baru mu ini." 


"Jika sudah paham dengan apa yang aku katakan, sebaiknya kalian pulang. Aku muak melihat wajah mu, Mas." Ucap Melisa membuat Dion langsung menatap wajah cantik istri pertama nya dengan sendu.


"Jangan menatap ku seperti itu, aku jijik melihat nya, Mas. Lusa, aku akan mengajukan gugatan cerai ke pengadilan."

__ADS_1


"Kenapa, Melisa? Aku tak mau bercerai."


"Lalu, alasan apa yang membuat aku harus bertahan dengan pernikahan ini? Maaf, tapi aku tak mau berjuang sendirian lagi, aku lelah." Jawab Melisa, nada suara nya melemah. 


"Kita pulang saja ya, Mas." Ajak Gia.


"Ya, bawalah suami mu ini pulang." Ucap Melisa acuh, dia pun membiarkan suami dan istri baru nya itu pergi dari rumah nya, meskipun terlihat jelas kalau Dion seperti tak ingin beranjak dari rumah ini. Langkah kaki nya terasa berat untuk melangkah, nyata nya sekarang rumah ini terasa lebih nyaman dari pada di rumah lain.


Tapi, Melisa sudah tak mau melihat nya. Bahkan dia mengatakan muak secara terang-terangan. Artinya dia sudah tak punya kesempatan lagi bukan? Kesempatan apa? Untuk balikan? Jangan mimpi. 


Melisa menghembuskan nafas nya dengan kasar, untunglah kedua nya sudah pergi. Sekarang dia tinggal menyiapkan hati nya untuk melayangkan gugatan cerai ke pengadilan esok hari. 


"Sayang.." Arvin masuk dari pintu belakang dengan membawa sebuah map yang cukup besar di tangan nya.


"Iya, sayang. Itu apa?" Tanya Melisa sambil menunjuk map yang di bawa oleh Arvin.


"Ini dari temen aku, baca dan pelajari dulu. Kalau sudah yakin, besok kita mengajukan gugatan perceraian nya." Ucap Arvin sambil mengulurkan berkas-berkas yang dia bawa. Melisa membaca nya dan mempelajari nya dengan baik, sedangkan Arvin sudah menggelayut manja di ceruk leher Melisa, memberikan kecupan-kecupan basah disana.


Tentu saja, perbuatan Arvin itu membuat fokus Melisa terbagi, antara membaca berkas-berkas nya atau malah melayani tingkah Arvin. 


"Isshh, sayang. Diamlah sebentar, setelah ini kita bermain."


"Hmmm, baiklah sayang." Akhirnya, Arvin pun hanya memeluk Melisa dari belakang dengan erat. Menghirup aroma shampoo yang menguar dari rambut Melisa, terasa menyegarkan bagi pria bucin seperti Arvin saat ini.


..,...


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2