SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 62 - SANG PEBINOR


__ADS_3

"Sayang.." Panggil Melisa, dia masuk ke rumah pria itu. Sedangkan Dion, lagi-lagi dia menghilang. Namun bukan ke rumah Gia, karena hubungan Dion dengan wanita itu juga sedang tak baik-baik saja. 


Kalau saja hubungan Dion dengan Gia baik-baik saja, pasti pria itu akan pergi ke rumah kedua nya. Tapi sekarang Dion memilih bergabung dengan bapak-bapak ronda, dia melupakan sejenak semua masalah yang menimpa nya dengan bermain kartu bersama bapak-bapak yang ada disana. 


Sedangkan istrinya malah sibuk bersama selingkuhan nya, tak masalah lah ya karena Dion juga seperti itu. Lagipun, Melisa masih merasa rindu pada Arvin karena pria itu baru saja pulang dari pekerjaan di luar kota nya.


"Iya, sayang.." Jawab Arvin dari arah kamar mandi, Melisa terlonjak saat merasakan tangan pria itu yang terasa dingin melingkar di perut nya. 


"Kamu kesini? Suami kamu kemana?" Tanya Arvin sedikit berbisik, dia bahkan mengecup basah leher Melisa. 


"Kayak nya ke pos ronda sih, soalnya gak pake motor, yang."


"Tadi, aku denger ada keributan. Ada apa, dia nyakitin kamu lagi? Sini, aku lihat."


"Apa sih, aku gapapa kok. Dia tak nyakitin aku, sayang." Jawab Melisa, namun Arvin tak percaya begitu saja dia harus memastikan nya sendiri. 


"Syukurlah kalau dia gak nyakitin kamu, yang. Terus, kalian berdebat kenapa?" Melisa terkekeh, lalu menjelaskan semua nya dari awal. Awal mula perdebatan antara dirinya dengan Dion tadi, sungguh penjelasan yang di katakan oleh Melisa membuat Arvin menganga. 


Dia tak menyangka kalau wanita di depan nya saat ini sudah berani melawan suami nya sendiri. Dia bangga, jujur saja dia bangga dengan perubahan yang di lakukan oleh sang wanita. 


"Kamu beneran lawan suami kamu itu, sayang?" Tanya Arvin, Melisa menganggukan kepala nya mengiyakan.


"Bagus, kenapa gak dari dulu kamu lawan tuh suami laknat kamu, yang?" Tanya Arvin lagi. 


"Gak tau, yang. Dulu aku cuma diam aja saat dia menyiksa ku paling hanya menangis dalam diam, tapi sekarang aku merasa tersakiti, makanya aku melawan."


"Jadi, dulu kamu gak merasa tersakiti, sayang?"


"Ya, bukan gitu sih." 


"Terus?" 


"Hmm, gak tau yang." 


"Ya sudah, ayo pakein aku baju." Ajak Arvin, dia pun menarik tangan Melisa ke kamar nya. 


Tanpa ragu, Arvin membuka handuk yang sedari tadi membalut junior miliknya. Hingga terpampang sudah sang junior yang setengah menegang.


Wajah Melisa menghangat, dia merona melihat senjata milik pria itu, padahal ya ini bukan yang pertama kali nya dia melihat benda itu, sudah sering bahkan sering juga merasakan nya keperkasaan nya. 


"Sayang ihhh.." 


"Kenapa, sayang?" Tanya Arvin sambil memainkan alis nya menggoda. 


"Malu aku, yang."


"Kok malu, biasa nya juga kamu suka mainin kan?" Ucap Arvin.


"Gak kuat, yang. Cepet pake baju nya." 


"Pakein dong." Pinta Arvin membuat wajah Melisa semakin memerah saja di buat nya. 


"Ayang.."


"Ciee, wajah nya merona." Goda Arvin membuat Melisa mendelikan mata nya.


"Iya iya, gak usah mendelik kek gitu. Nakutin tau, kalo kamu udah kek gitu."


"Nakutin apa?"

__ADS_1


"Hehe, nakutin nya soal jatah. Aku takut gak di kasih jatah." Jawab Arvin membuat Melisa refleks menggeplak manja lengan Arvin. 


"Galak amat deh, padahal kamu juga doyan." 


"Cepetan pake baju, gak malu apa telanjaang gini." 


"Iya, issshh galak nya." Ucap Arvin, namun dia sempat-sempatnya mencium pipi Melisa, lalu membuka lemari dan memakai pakaian nya di hadapan wanita cantik nya itu tanpa malu sedikit pun, toh mereka sudah sering melihat tubuh masing-masing. Tapi ya bukan berarti Arvin bisa bersikap seolah tanpa malu di depan Melisa, iya kan?


Melihat hal itu, Melisa hanya bisa menggelengkan kepala nya melihat kelakuan pria itu, tapi ya bukan nama nya Arvin kalau tidak melakukan hal absurd semacam ini.


Setelah selesai berpakaian, Arvin mendudukan tubuh nya di samping Melisa, lalu merangkul pundak wanita itu.


"Kenapa melamun, yang?" Tanya Arvin.


"Bingung aku, yang."


"Bingung kenapa lagi?"


"Bagaimana kelanjutan aku sama Dion."


"Kalau udah sama-sama gak cocok, kenapa gak di udahin aja sih, yang?" Usul Arvin.


"Aku juga mikir nya kek gitu, yang. Tapi aku gak tau, kalau misalnya Dion malah nolak perceraian nya."


"Hmmm, itu sih urusan nya dia. Kalau kamu nya pengen cerai kan ada hukum nya, gapapa."


"Terus, kalau aku udah cerai sama Dion. Kamu mau apa?" Tanya Melisa.


"Aku bakalan kamu ketemu orang tua aku, setelah itu aku akan menikahi kamu."


"Segampang itu? Gimana kalo ternyata papa kamu gak setuju sama kamu?"


"Kalau kamu mau, mari kita berjuang sama-sama, sayang. Aku akan berjuang tentang restu, dan kamu harus berjuang untuk bisa lepas dari Dion." 


"Kamu serius? Ini bukan cuma omong kosong kamu aja kan, yang?"


"Apa wajah aku gak nunjukin kalau aku serius, sayang?" Balik tanya Arvin, raut wajah nya memang terlihat sangat serius saat ini. 


"Kamu beneran cinta sama aku?"


"Aku sebenarnya gak suka mengungkapkan perasaan aku lewat kata-kata, aku lebih suka membuktikan nya. Apa kamu merasa selama ini aku memperlakukan dengan baik dan penuh cinta?" Tanya Arvin. 


"Iya." Melisa mengangguk, dia memang merasa kalau Arvin memperlakukan nya dengan sangat baik, bahkan dia meratukan nya. 


"Kalau begitu, harus nya kamu percaya dengan semua yang aku katakan ini bukanlah kebohongan semata, sayang." 


"Hmmm, baiklah aku percaya."


"Memang seharus nya begitu, kamu harus percaya sama perasaan aku."


"Aku disini, selalu disini. Kalau kamu memerlukan dukungan, datanglah padaku sayang. Aku akan selalu mendukung apapun keputusan kamu."


"Janji?"


"Ya, aku berjanji." Jawab Arvin sambil tersenyum. Melisa juga membalas senyuman pria itu, lalu dia menyandarkan kepala nya di pundak lebar Arvin.


"Kamu sudah makan?"


"Tadi, aku cuma makan mie instan dua bungkus."

__ADS_1


"Hah, dua bungkus? Habis?" Tanya Arvin keheranan.


"Habis kok, malahan aku kasih telur setengah matang sama sayur."


"Kok tumben? Biasa nya satu aja suka nyisa, sekarang makan dua kok habis." 


"Ya mana aku tahu, mungkin lagi pengen aja. Sayang, waktu itu kamu pernah ngajakin aku ke pantai." 


"Iya, aku gak lupa kok, yang." Jawab Arvin sambil tersenyum manis.


"Kapan?"


"Kamu mau main ke pantai, sayang?" Tanya Arvin, Melisa menganggukan kepala nya dengan cepat. Dari dulu, dia memang menyukai tempat yang bernama pantai itu. 


"Lusa?"


"Wahh, boleh tuh."


"Tapi, kita nginep dua hari disana." 


"Ngapain?" Tanya Melisa polos, padahal Arvin sudah menyiapkan rencana mesuum nya.


"Bulan madu dong, jadi kita bakalan sering di kamar nanti."


"H-ahh? Bukan main di pantai dong kalo lebih sering di kamar." Keluh Melisa lirih.


"Yaudah iya, malam aja kita di kamar nya, siang nya kamu boleh main air di pantai atau main pasir."


"Yes, makasih ayang."


"Sama-sama, kita tidur yuk? Atau mau makan dulu?"


"Enggak ahh, masih kenyang. Kamu mau makan apa? Biar aku masakin." Ucap Melisa.


"Nasi goreng, boleh?"


"Boleh banget, yaudah aku masak dulu."


"Iya, sayang." Jawab Arvin, Melisa pun pergi ke dapur lebih dulu. 


Sedangkan Arvin, dia mengambil ponsel nya dan menghubungi seseorang.


"Hallo.."


'Iya, Tuan Arvin.' 


"Lakukan rencana dengan baik, aku ingin secepatnya status mereka selesai." Tegas Arvin.


'Baik, Tuan Arvin. Saya akan melakukan nya dengan baik esok hari.' Jawab nya.


"Bagus, lakukan dengan rapi agar tak memancing kecurigaan."


'Itu keahlian saya, Tuan Arvin.'


"Ya, bayaran mu akan aku transfer besok begitu tugas yang aku berikan selesai." 


'Siap Tuan.' Jawab nya, Arvin pun menyudahi panggilan telepon nya. Lalu menyusul Melisa ke dapur. Pria itu menggelayut manja di pelukan Melisa yang sedang memasak, tapi sejauh ini wanita itu tak terlihat keberatan sama sekali, dia malah sangat menyukai tingkah manja pria itu pada nya.


.......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2