SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 50 - SANG PEBINOR


__ADS_3

Arvin tersenyum manis, begitu dia keluar dari kamar mandi, dirinya melihat pemandangan yang membuat hati nya menghangat. Melisa tengah menyapu dapur, sambil memasak. Dia memasak untuk makan malam atas permintaan Arvin. 


"Sayang.." Bisik Arvin di telinga Melisa, dia langsung memeluk wanita nya dari belakang. Bahkan dia belum berpakaian, masih bertelanjaang dada dengan rambut yang masih basah.


"Apa, sayang? Pake baju dulu, sana." 


"Pengen pelukan dulu sama ayang." Jawab Arvin, dia mengecupi pipi Melisa. Saking gemas nya dia sampai menggigit pelan pipi cabi wanita nya.


"Isshh, kamu tuh ya suka banget gigitin pipi aku. Sakit tau!" Rajuk Melisa, bukan nya berhenti, Arvin malah semakin gencar menggoda wanita nya.


"Sayang, tangan nya nakal banget deh."


"Hehe, tangan aku tuh tau tempat berpegangan hidup, sayang." Jawab Arvin membuat Melisa hanya terkekeh dan membiarkan saja tangan Arvin berada di atas dada nya. 


"Sudah matang, kamu pake baju dulu terus kita makan." Arvin pun langsung menurut pada Melisa, dia melerai pelukan nya dan pergi ke kamar untuk berpakaian. 


Tak lama kemudian, pria tampan itu sudah kembali keluar dengan kaos dan celana kolor selutut nya, tadi dia hanya memakai boxer saja. Arvin duduk di kursi yang berdampingan dengan Melisa, wanita itu langsung menyajikan makanan yang baru saja matang di depan Arvin. Sedangkan dirinya, dia makan dengan makanan dan nasi yang tadi dia bawa dari rumah.


"Sayang, ganti nasi nya." Ucap Arvin saat menyentuh nasi di piring Melisa sudah dingin dan agak mengeras. 


"Kenapa memang nya?"


"Nasi nya sudah dingin, sayang." 


"Tapi, ini masih layak makan. Gak baik kalau buang-buang makanan, ayang." Jelas Melisa, toh makan nasi dingin seperti ini sudah seperti kebiasaan nya. Bahkan pernah, dia memakan nasi yang hampir basi karena Dion marah kalau dia membuang nya. Akhirnya, mau tak mau Melisa pun memakan nya dan keesokan hari nya, wanita itu jatuh sakit. 


Bukan nya di rawat dengan baik, Dion malah mengata-ngatai istrinya dengan kata-kata kasar yang tak pantas di katakan oleh seorang suami pada istri nya. Tapi Arvin, hanya karena nasi nya dingin saja langsung meminta Melisa mengganti nya. Perbedaan sikap dan perilaku kedua pria itu sangat besar. 


"Ada ayam tetangga yang makan, sekarang kamu ganti nasi nya atau aku lempar piring mu itu, sayang?" Tanya Arvin, dia menatap Melisa dengan tatapan yang cukup tajam, hingga mampu membuat Melisa tertekan karena tatapan itu. 


"Ya sudah iya, sayang." Melisa pun mengganti nasi nya, dia mengambil piring dan mengisi nya dengan nasi yang hangat dari magic com. 


"Selamat makan, sayang." Ucap Arvin, Melisa pun mengangguk dan kedua nya pun makan malam dengan lahap. 


Sesekali, Arvin menatap Melisa yang makan dengan lahap, tak terasa dia mengangkat sudut bibir nya. Sangat membahagiakan sekali melihat wanita nya makan dengan lahap seperti ini, tidak ada raut ketakutan atau tertekan jika Melisa makan bersama Arvin. Justru sebaliknya, Melisa merasa seperti itu jika makan bersama suami nya. 


"Sayang.."


"Iya, sayang. Ada apa? Mau nambah lagi nasi nya?" Tanya Melisa, Arvin menggeleng karena nasi di piring nya pun masih tersisa. 


"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu nanti."


"Tentang apa?" Tanya Melisa heran.


"Nanti saja, selesaikan makan nya dulu. Boleh kah aku minta di buatkan kopi setelah makan, seperti suami mu sayang?" Tanya Arvin, Melisa mengangguk mengiyakan.


"Tentu, aku akan membuatkan kopi nya untukmu." 

__ADS_1


"Terimakasih, sayang." Melisa hanya menjawab dengan senyum manis nya. Setelah menyelesaikan makan malam nya, Melisa pun membuatkan kopi untuk Arvin. Sedangkan pria itu, kini berada di ruang tamu dengan laptop hitam kesayangan nya..


Tak lama kemudian, Melisa datang menyusul dengan membawa secangkir kopi hitam yang masih mengepul, menandakan kalau kopi nya masih sangat panas. 


"Yang, tadi katanya ada yang mau kamu bicarakan."


"Duduk, sayang." Pinta Arvin, Melisa menurut dan duduk di samping Arvin. Pria itu menutup laptop nya lalu menatap wajah cantik Melisa yang terlihat keheranan, mungkin dia penasaran dengan apa yang akan dia bicarakan. 


"Sayang.."


"Iya, apa yang mau di bicarakan nya? Keliatan nya ini serius." 


"Besok, aku akan pergi untuk beberapa hari." Ucap Arvin membuat Melisa terkejut. Kedua mata nya membulat begitu mendengar kalau pria itu akan pergi. 


"Maksud kamu?"


"Aku ada urusan pekerjaan selama beberapa hari di luar kota, itu saja."


"Bohong, kamu mau ninggalin aku kan? Kenapa kamu bikin aku nyaman kalo akhirnya kamu ninggalin aku, Vin?" Tanya Melisa, jujur saja Arvin tak menyangka kalau respon Melisa akan seperti ini. 


"Bukan begitu, sayang. Sumpah demi apapun, aku gak berniat buat ninggalin kamu. Aku cuma ada urusan kerjaan disana, paling lama semingguan. Setelah semua nya selesai, aku pasti balik lagi kesini." 


"Enggak, kamu bohong kan? Kamu.." 


Cup.. 


"Arvin.."


"Jangan manggil nama, aku gak suka denger nya."


"Sayang.." Ralat Melisa, dia bersandar di dada bidang Arvin.


"Iya, sayang. Kenapa?"


"Apa gak bisa di wakilkan, atau biar temen kamu aja yang kesana?" Tanya Melisa, dia tak mau di tinggalkan oleh Arvin. Dia takut kalau pria itu tak kembali lagi kesini, lalu bagaimana dengan nya? Kalau saja dia tak punya suami, mungkin saja dia akan ikut bersama Arvin. Tapi, dia punya suami disini. Meskipun suami nya lebih sering bersama selingkuhan nya saat ini.


"Maaf, sayang. Tapi kali ini harus aku yang turun tangan sendiri." 


"Terus, aku gimana? Kalau aku kangen, aku gimana, yang?" Rengek Melisa membuat Arvin langsung mendekap nya erat. 


"Aku kasih ponsel aku ke kamu, nanti di kota aku beli ponsel baru, biar kita bisa video call atau sekedar bertukar pesan, ya?"


"Tapi, rasa nya bakalan beda sama ketemu langsung, sayang." 


"Tentu saja akan berbeda, sayang. Tapi dari pada gak ada komunikasi sama sekali, apa kamu bakalan sanggup? Aku sih enggak." Ucap Arvin membuat Melisa terdiam. Arvin melerai pelukan nya, lalu menangkap wajah Melisa, dia mengusap ujung mata wanita itu yang sudah mengembun. 


"Aku juga gak mau ninggalin kamu, aku gak mau berjauhan sama kamu, yang. Tapi ini pekerjaan penting yang gak bisa di wakilkan, jadi aku mohon kamu ngerti ya?" Bujuk Arvin.

__ADS_1


"Tapi, aku takut. Gimana kalau kamu punya cewek lain nanti sepulang dari kota, terus aku gimana?"


"Kok pikiran kamu kesana terus sih, yang? Buang jauh-jauh pemikiran kamu itu, sayang. Nyata nya, dapetin kamu itu susah jadi aku gak bakalan semudah itu ngelepasin kamu, sayang." Ucap Arvin, tangan nya membelai wajah Melisa dengan kelembutan nya.


"Kan kamu nya ganteng, gak menutup kemungkinan kamu bisa berpaling dari aku, yang."


"Gak bakalan, sayang. Kamu cuma perlu percaya sama aku." 


"Janji ya? Kamu udah nanam bibit kamu di rahim aku, kalau mereka tumbuh gimana? Aku gak mau anak kita lahir tanpa sosok ayah, sayang."


"Astaga, apa kamu sedang hamil? Makanya mengatakan hal itu, sayang?" Tanya Arvin lembut, Melisa menggelengkan kepala nya. Dia memang tidak hamil, tapi setiap mereka berhubungan Arvin tak pernah menggunakan pengaman apapun. Jadi, bisa saja kecebong yang dia lepaskan berkembang biak di dalam tubuh nya.


"Hmm, aku kira kamu sedang hamil."


"Memang nya kenapa?"


"Tidak, aku hanya akan sangat bahagia jika benaran kamu hamil, sayang." Jawab Arvin.


"Kamu menginginkan anak, sayang?"


"Tentu saja, aku menginginkan buah hati yang lahir dari rahim kamu, sayang." Jelas Arvin.


"Baiklah, aku akan melahirkan nya untukmu." 


"Benarkah?" Melisa mengangguk yakin, keputusan nya sudah sangat final sekarang. Kalau suami nya saja bisa melakukan hal itu, kenapa dia tidak? Dia akan membalas rasa sakit yang selama ini suami nya berikan berkali-kali lipat dari yang dia dapatkan dulu.


Ini bukan hanya sebagai ajang balas dendam. Tapi dia memang ingin melahirkan anak untuk Arvin, pria yang dia cintai. 


"Terimakasih, sayang." Arvin kembali memeluk Melisa dengan erat. Begitu juga dengan Melisa, kedua nya berpelukan erat. 


"Sayang, baik-baik selama aku pergi ya."


"Jangan lama-lama pergi nya, aku bakalan kangen banget sama kamu, Ay."


"Tentu saja, semakin cepat pekerjaan nya selesai, semakin cepat juga aku pulang." Jawab Arvin. 


"Pulang?"


"Iya, kamu adalah tempat aku pulang, sayang." 


"Kalau begitu, kita bermain untuk yang terakhir sebelum kamu pergi, bagaimana?" Ajak Melisa, membuat Arvin tersenyum aneh. Tak biasa nya Melisa mengajak bermain lebih dulu, biasa nya selalu dirinya lah yang memulai permainan. 


"Ayo, kamu yang memimpin. Oke?"


"Boleh, sayang." Jawab Melisa. Arvin pun mengangguk, lalu tanpa aba-aba langsung menggendong Melisa ke kamar.


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2