Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Siapa Aku Sebenarnya?


__ADS_3

"Luna!" panggil Devano saat melihat Luna yang termenung saat melihat sosok Dea yang sedang berjalan masuk ke dalam ruang staf.


"Oh Devano. Kau sudah di sini?"


"Ya, ini minyak aromatherapynya."


"Terima kasih."


"Kau kenapa, Sayang? Apa sakit lagi?"


"Tidak apa-apa."


Seorang pelayan lalu datang mendekat ke arah mereka, keduanya kemudian memesan makanan yang ada di daftar menu yang diberikan pelayan itu.


"Permisi, apa Dea sudah lama bekerja di sini?" tanya Luna pada pelayan food court yang sedang mencatat pesanannya.


"Oh Dea. Dia sudah lama bekerja di sini. Sejak lulus SMA, dan saat ini dia sedang mengambil kuliah sore hari."


"Oh iya, terima kasih banyak."


Pelayan tersebut lalu masuk ke dalam dapur, sedangkan Devano tampak menatap Luna yang saat ini masih termenung.


"Luna, siapa yang kau tanyakan pada pelayan itu? Dea? Siapa itu, Dea?"


"Oh tadi sebelum kau datang ada seorang pelayan yang bernama Dea. Dia mengatakan jika dia tinggal di panti di dekat stasiun."


"Memangnya kenapa? Bukankah banyak anak-anak atau orang dewasa yang tinggal di panti karena kondisi mereka, Luna."


"Ya, aku tahu. Tapi bukan itu masalahnya Devano. Panti asuhan tempat Dea tinggal adalah panti asuhan yang sering Mama kunjungi."


"Apa? Mamamu sering mengunjungi panti asuhan itu?"


"Iya Devano. Sebenarnya ada suatu rahasia, emh..."


"Rahasia? Rahasia apa Luna?"


"Emh begini Devano, sebenarnya adikku Arka seringkali memanggilku dengan sebutan anak pungut."


BRAK


"Benarkah? Akan kucabik-cabik mulutnya!"


"Devanoooo jangan marah seperti itu karena bukan itu yang terpenting yang ingin kubicarakan, tapi dari panggilan Arka padaku. Dia tidak mungkin mengatakan seperti itu jika tidak tahu sesuatu tentangku."


"Jadi kau pikir kau adalah seorang anak angkat?"


Luna tampak mengerutkan keningnya sambil menghembuskan nafas panjangnya. "Entahlah, aku bingung Devano."


"Apa perlu kucium dulu agar kau tidak bingung?" ujar Devano sambil meringis.

__ADS_1


"Aku sedang serius Devanooo..."


"Aku juga serius Luna sayang. Apa kau tidak pernah membaca jurnal ataupun penelitian para ahli jika ciuman dan pelukan itu bisa menghilangkan stres."


"Tapi ini di tempat umum, Devano."


"Sedikiiiiittt..."


"Astaga."


"Please."


"Baiklah, tapi di pipi saja."


"Siap sayang."


CUPPP


"Dasar mesum," gerutu Luna.


"Biarpun mesum tapi Neng Luna suka, ecieee cieee, iya kan?" ucap Devano sambil memainkan matanya.


Luna pun tersenyum. "Coba lihat Luna, padahal aku baru mencium pipimu, tapi sepertinya kadar stresmu sudah menurun. Lihat, bahkan senyummu sangat manis. Lebih manis daripada susu chery."


"Susu chery, apa itu?"


Luna pun mengangguk. "Kalau begitu cium lagiii... "


"Devanoooo!!!"


"Iya, iya, astaga pelit sekali."


"Kau mau dengar ceritaku tidak? Aku belum selesai Devano!"


"Astaga, maafkan aku Luna. Cepat lanjutkan ceritamu. Lalu kau curiga jika kau ternyata anak angkat?"


"Entahlah, karena seluruh saudara dan tetanggaku mengatakan jika aku adalah anak kandung Mama. Bahkan aku pernah melihat foto Mama saat sedang mengandung dulu. Ini benar-benar membingungkan, seperti dua sisi yang berbeda dan sulit disatukan dalam sebuah persepsi yang sama."


"Kau benar Luna. Tidak mungkin Arka mengatakan hakbsembarangan seperti itu jika tidak tentang sebuah kebenaran."


"Ya, kau benar."


"Tapi, foto-foto tentang kehamilan Mamamu serta penuturan saudara dan tetanggamu juga bisa merupakan sebuah bukti jika kau adalah putri kandung mamamu."


"Lalu bagaimana dengan panti asuhan itu, Devano?"


Devano kemudian menghembuskan nafas panjangnya. "Luna, berarti ada dua kemungkinan."


"Apa?"

__ADS_1


"Kemungkinan pertama, kau adalah anak kandung Mamamu, sedangkan mamamu pergi ke panti asuhan hanya untuk memberikan sumbangan sekedarnya saja. Dan kemungkinan kedua, ini sebenarnya menakutkan, tapi bagaimana jika ternyata kau memang benar-benar bukan anak kandung mamamu, sedangkan anak kandung mamamu yang asli ada di panti asuhan tersebut. Mungkin mamamu memiliki sebuah alasan hingga menitipkan putrinya ke panti asuhan tersebut. Misalnya, putri kandung dari orang tuamu mengidap suatu penyakit tertentu, sedangkan orang tuamu tidak punya kemampuan finansial yang cukup untuk membawanya berobat."


"Tapiii Devano, jika mama menitipkan putri kandungnya di panti, mengapa dia lebih memilih untuk mengasuhku? Lalu siapa aku sebenarnya, Devano?"


"Kalau alasan itu aku tidak tahu, Luna."


"Jadi, artinya aku memang benar-benar anak angkat?"


"Luna, tolong kau jangan berkata seperti itu. Jangan pikiran kata-kataku, itu hanya pikiran liarku saja," ucap Devano sambil terkekeh.


"Tidak, mungkin apa yang kau katakan benar Devano."


"Luna sayang, jangan terlalu banyak berfikir."


"Tapiiiii..."


Devano kemudian merengkuh wajah Luna dengan kedua tangannya. "Lihat mataku, aku janji. Aku janji padamu untuk membantumu mencari tahu tentang semua ini. Aku akan mencari tahu alasan mengapa mamamu sering pergi ke panti dan alasan mengapa Arka sering menyebutmu dengan sebutan anak pungut."


Devano menatap manik mata cokelat milik Luna dengan tatapan begitu dalam. "Kau percaya padaku, kan? Aku akan membantumu mencari tahu tentang semua itu."


"Ya, aku percaya padamu, Devano."


"Permisi, ini pesanannya."


Suara seorang pelayan yang mengantarkan makanan pun mengagetkan mereka.


"Oh iya," jawab Devano dan Luna.


"Kita makan dulu, setelah itu aku akan menemanimu belanja."


"Belanja? Belanja apa Devano? Aku belum ingin membeli barang apapun."


"Tapi kau harus membelinya, Luna!"


"Membeli apa?"


"Lingerie..."


"Apa???"


"Yaaa, lingerie. Setiap hari kau harus memakai lingerie Luna..."


"Dasarrr messuummm!!"


"Aku tidak messumm, aku hanya ingin melihat sussu kenyal, pahha mulus, dan buah chery yang ranum Lunaaaa...."


"DEVANOOOO!"


PLAK

__ADS_1


__ADS_2