
Melihat seorang wanita yang tidak dia kenal masuk ke dalam ruang perawatannya, Fitri pun mengernyitkan keningnya. "Siapa kau?" tanya Fitri pada Kayla yang saat ini berjalan mendekat ke arahnya.
Kayla kemudian tersenyum. "Perkenalkan saya Kayla, menantu dari Bu Rahma, ibu kandung Kak Dea."
"Jadi kau menantu dari Rahma? menantu dari pencuri itu? Wanita yang sudah mencuri cucu kandungku? Cihhh!"
Mendengar perkataan sinis dari Fitri Kayla pun hanya tersenyum getir. "Apa maksudmu datang kemari? Mau apa lagi kau?"
"Saya hanya mampir sebentar, Nyonya. Kebetulan Mama Rahma juga sedang dirawat di rumah sakit ini."
"Dirawat di rumah sakit ini? Kenapa dia? Sakit apa wanita terkutuk itu? Apa dia sedang mendapat karma?"
"Tidak Nyonya, dia tidak sedang sakit. Mama sebenarnya sedang dirawat untuk menyembuhkan lukanya, beberapa hari yang lalu dia sempat terluka di salah satu bagian tubuhnya."
"Dia terluka? Terluka kenapa?"
"Emh, sebenarnya dia terluka akibat perbuatan Kak Dea."
"Perbuatan yang dilakukan oleh Dea? Memangnya apa yang telah Dea lakukan pada orang tua kandungnya sendiri?"
"Beberapa malam yang lalu Kak Dea mengunjungi Mama Rahma, saat itu mama sendirian karena aku dan suamiku sedang melakukan kontrol kandungan. Di saat itulah Kak Dea mencoba melukai mama."
"Astaga kakak iparmu itu memang benar-benar kriminal!"
Kayla hanya mengulas senyum tipis di bibirnya. "Lalu sebenarnya apa maksud kedatanganmu ke sini? Kau pasti memiliki tujuan tertentu kan? Kau tidak mungkin menemuiku kalau tidak memiliki maksud tertentu karena aku tidak ada urusannya denganmu apalagi dengan mamamu itu! Apa kau tahu aku sangat membencinya karena dia telah mengambil cucuku! Karena dialah cucuku jadi hidup menderita dan kekurangan! Apalagi setelah mendengar jika ternyata saat dia hidup dengan keluarga kalian, Luna lah yang menjadi tulang punggung dari keluarga kalian! Aku benar-benar tidak terima dengan sikap keluarga kalian! Kalian pikir siapa Luna? Dia bukanlah berasal dari kalangan sembarangan!"
__ADS_1
"Aku tahu itu Nyonya."
"Lantas apa tujuanmu kemari?"
"Maaf kalau saya sudah mengganggu anda. Saya hanya mau memberikan ini!" ucap Kayla sambil memberikan sebuah ponsel pada Fitri.
"Apa ini? Aku tidak memerlukan ini!" sahut Fitri.
"Nyonya, ini ponsel milik Kak Dea. Tadi aku mengunjunginya di penjara, dan dia menitipkan ponsel ini agar aku menyerahkannya pada anda, nyonya."
"Aku benar-benar tidak mengerti."
"Nyonya, Kak Dea berpesan padaku kalau Nyonya disuruh membuka salah satu rekaman suara di ponsel itu."
"Membuka rekaman suara?"
Fitri menganggukkan kepalanya, sambil merasakan perasaan yang begitu berkecamuk di dalam hatinya. Dia kemudian menatap benda pipih itu, menimang benda pipih yang ada di tangannya, sambil mengernyitkan keningnya.
"Apa maksud Dea melakukan semua ini? Tadi malam dia memang mengirimkan pesan padaku, dan mengatakan kalau Viona telah banyak melakukan kesalahan pada Luna. Tapi, aku memang tidak terlalu percaya padanya. Bukankah selama ini Viona yang kukenal sangat baik dan juga lembut? Sangat aneh kalau dia sampai bersikap kasar pada Luna. Lalu, sekarang apakah ini artinya Dea sudah memiliki bukti kalau Viona telah melakukan perbuatan yang tidak baik pada cucuku?"
Fitri tampak menghembuskan nafas panjangnya. "Ah, sebaiknya aku cek saja rekaman suara ini," ujar Fitri. Dia kemudian mengutak-atik ponsel milik Dea lalu memutar beberapa rekaman suara yang ada di ponsel tersebut.
Setelah Fitri selesai mendengarkan rekaman suara tersebut, tiba-tiba raut wajahnya berubah. Raut wajahnya terlihat diselimuti oleh kemarahan, wajahnya pun kini terlihat memerah menahan emosi yang begitu berkecamuk di dalam hatinya.
"Jadi benar perkataan Dea semalam kalau ternyata Viona telah menyakiti Luna? Dasar brengsekk kau Viona! Tidak akan kubiarkan semua ini terjadi! Aku harus melakukan sesuatu! Aku tidak mungkin membiarkan Luna hidup menderita karena tingkah Viona!" Fitri kemudian mengutak-atik ponsilnya lalu menghubungi Dimas.
__ADS_1
Sementara itu di dalam tahanan tampak Dea sudang tertawa terbahak-bahak. "Kayla memang benar-benar bodoh dan mata duitan! Cukup kuberi uang satu juta yang masih tersimpan di dompetku dia sudah mau menuruti perintahku begitu saja!"
"Hahahaha! Pasti saat ini Oma Fitri sudah mendengar rekaman suara yang telah kurekam beberapa hari yang lalu saat aku berkunjung ke rumah Tante Viona. Dan dalam rekaman suara itu Viona mengatakan kalau beberapa kali dia telah melakukan kejahatan pada Luna, yang saat itu berpacaran dengan Devano. Dia juga mengatakan kalau dia tidak pernah berhenti menghinanya! Aku tahu Oma Fitri sangatlah menyayangi Luna. Luna cucunya yang sempat hilang karena kesalahan yang dilakukan oleh mamaku! Aku tahu dia pasti tidak ingin hidup Luna tersakiti lagi! Dan Oma Fitri pasti tidak akan tinggal diam! Pasti dia akan balas dendam pada Viona dan menghancurkan hubungan Luna dan Devano. Dan, kunci dari semua penyelesaian masalah itu ada padaku! Hahahahahhaha!" ucap Dea sambil tertawa dengan begitu lebar.
***
Setelah menerima telepon dari Fitri, raut wajah Dimas kini terlihat begitu cemas dan dipenuhi dengan tanda tanya, bahkan keringat dingin pun mulai keluar dari tubuhnya. Melihat perubahan pada raut wajah Dimas, Delia kemudian mendekat padanya.
"Dimas, kau kenapa? Kenapa kau terlihat cemas? Siapa yang baru saja meneleponmu?"
"Mama."
"Mama? Memangnya apa yang sudah mama katakan padamu hingga membuatmu tampak cemas seperti itu?"
"Mama minta kita memikirkan kembali hubungan Luna dan Devano. Dia bahkan meminta Luna agar menceraikan Devano saat anak mereka sudah lahir."
"Astaga, bagaimana mungkin? Mereka sudah menikah, Dimas. Tidak mungkin mereka bercerai begitu saja, lalu bagaimana dengan anak mereka? Apa mama mau cicitnya kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya?"
"Entahlah Delia, mama hanya mengatakan kalau sampai kapanpun dia tidak akan pernah terima jika harga diri Luna sudah diinjak-injak oleh Viona."
"Astaga."
NOTE:
Mampir juga ya ke karya bestie othor ibu peri kita tercinta yang ginuk-ginuk, dijamin baper abis deh.
__ADS_1