Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Selidiki Sachi


__ADS_3

"Tidak apa-apa Devano, cuma tiba-tiba terasa sedikit nyeri, sekarang sudah tidak apa-apa."


"Benar kau tidak apa-apa?"


"Tidak apa-apa, ayo kita turun, Devano."


"Benar tidak apa-apa Luna?"


"Tidak apa."


"Kau sudah siap?"


"Aku siap." Devano kemudian menggenggam tangan Luna sambil tersenyum. "Everything always be okay honey."


"Yeah."


"I will always beside you."


"Thanks," jawab Luna, kemudian mengecup bibir Devano. Mereka lalu turun dari mobil tersebut.


TOK TOK TOK


Beberapa saat kemudian, pintu rumah itu pun terbuka. Tampak Rahma sedikit terkejut melihat kedatangan Luna dan Devano.


"Luna, Devano!" sapa Rahma. Devano dan Luna lalu tersenyum.


"Selamat malam, Ma."


"Selamat malam, ayo cepat masuk ke dalam!"


Devano dan Luna lalu mengikuti perintah Rahma masuk ke dalam rumah tersebut. "Luna, Devano, ada apa? Kenapa kalian malam-malam ke sini? Bukankah kau sedang hamil, Nak? Lebih baik kau istirahat saja di rumah."


Luna terdiam, semua pertanyaan yang dia siapkan pada Rahma seolah-olah hilang begitu saja. Kini, lidahnya terasa begitu kelu dan bibirnya kaku, bahkan untuk membuka mulut terasa begitu sulit.


Manik mata coklat itu kini terlihat berembun, dan mulai meneteskan tetesan-tetesan bening dari kedua sudut matanya.


Melihat Luna yang menangis, Rahma kemudian menggenggam tangan Luna. "Luna, kau kenapa?Kenapa kau tiba-tiba menangis? Apa sesuatu telah terjadi padamu?"


Luna hanya terdiam, Rahma kemudian menatap Devano yang juga menatapnya dengan tatapan begitu dalam. "Devano, apa yang sebenarnya terjadi?"


Saat Devano akan menjawab pertanyaan Rahma, tiba-tiba Luna membuka suaranya. "Biar aku saja, Devano," ujar Luna.


Rahma tampak semakin bingung dengan sikap Devano dan Luna. Namun, tak dapat dipungkiri kalau perasaannya kini begitu tak menentu, bahkan degup jantungnya pun terdengar begitu kencang.


"Ma--" ucap Luna tertahan, tapi dia berusaha menegarkan hatinya.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu, Ma?"


"Kau mau tanya apa Luna?" jawab Rahma, sambil menahan perasaan yang kini terasa begitu campur aduk. Rasa khawatir dan cemas mulai merasuk ke dalam hatinya yang mulai dipenuhi oleh tanda tanya. Rahma memiliki firasat, kalau Luna sudah tahu tentang rahasianya.


"Mama, aku sudah tahu yang sebenarnya, Ma."


"Sudah tahu yang sebenarnya? Apa maksudmu, Luna?"

__ADS_1


"Mama tidak usah berpura-pura lagi. Aku sudah tahu semuanya, Ma. Aku sudah tahu kalau aku bukanlah anak kandung Mama kan? Mama menemukanku di dalam gerbong kereta api kan?"


"Maaf Luna. Maafkan aku," jawab Rahma. Dia kemudian menjatuhkan tubuhnya di hadapan Luna sambil menggenggam tangannya.


"Luna, mama terima kalau kau tidak memaafkan mama, mama terima kalau kau membenci mama. Memang mama layak dibenci. Dulu mama hanyalah seorang wanita egois yang tidak tahu diri. Memanfaatkan kesempatan, hanya untuk kepentingan pribadi. Mama minta maaf Luna, maaf karena kau harus hidup menderita karena menanggung keegoisanku," ucap Rahma dengan begitu terisak.


"Kenapa? Kenapa mama melakukan semua ini?"


"Mama takut diceraikan..."


"Diceraikan? Kenapa? Apa yang membuat mama berfikir kalau papa akan menceraikan Mama?"


"Mama menukarmu dan Dea, karena Dea menderita penyakit jantung, mama takut papa marah karena saat itu keadaan ekonomi kami sangat pas-pasan. Saat itu di kereta yang sama, mama duduk tidak jauh dengan mamamu yang membawa seorang anak kecil berumur sekitar dua tahun, dan seorang bayi baru lahir dan dia adalah kau. Saat di dalam kereta, ibumu tampak begitu ketakutan dan cemas. Sampai akhirnya kereta api tersebut berhenti dan dia meninggalkanmu di dalam kereta api itu."


Kata-kata Rahma terhenti, sesak itu yang dia rasakan mengingat kejadian dua puluh tahun silam. Begitupula dengan Luna yang saat ini hanya bisa terdiam sambil meremmas dadanya.


"Awalnya mama memang akan menitipkanmu ke pihak stasiun atau puskesmas terdekat. Tapi mama terbujuk rayuan setan hingga menukarmu dan putri kandung mama, Dea. Karena saat itu mama yakin, di panti asuhan itu, pasti mereka bisa mengobati Dea, karena panti asuhan itu memiliki donatur tetap yang selalu membantu mereka merawat anak-anak panti."


"Lalu, siapa sebenarnya orang tua kandungku, Ma? "


Rahma terdiam raut wajahnya pun menunjukkan sebuah kebingungan, perlahan dia pun menggelengkan kepalanya.


"Entahlah," jawab Rahma lirih.


"Jadi, Mama tidak tahu siapa orang tua kandungku?"


"Tidak Luna karena mama hanya bertemu dia di kereta, bahkan mama juga tidak mengenalnya."


Devano kemudian merengkuh Luna ke dalam pelukannya. "Sabar Luna, aku pasti akan membantu mencari kedua orang tuamu."


"Emh..., begini mama ingat sesuatu Luna."


"Ingat sesuatu apa, Ma?"


"Mama ingat, saat itu ibumu naik dari sebuah stasiun besar di kota Yogyakarta, Nak. Jadi mungkin orang tuamu berasal dari Yogyakarta.


DEG


Mendengar perkataan Rahma, jantung Devano pun seakan terhenti. 'Yogyakarta? Bukankah itu adalah kota asal Om Dimas dan Tante Delia? Apakah Tante Delia ada kaitannya dengan masa lalu Luna? Jangan-jangan mereka adalah keluarga terdekat dari Luna? Atau bahkan malah orangtua Luna yang sebenarnya? Ah tidak, bukankah Om Dimas dan Tante Delia hanya memiliki dua orang putri, yaitu Shakila dan Sachi yang saat ini masih ada di luar negeri?' batin Devano.


***


Hampir setengah jam lamanya Shakila, Darren, dan Aini melalui perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah milik Vallen.


TETTTT TETTTT


"Bisakah kami bertemu dengan Vallen?" tanya Aini saat pintu rumah itu terbuka.


"Oh iya, silahkan masuk. Saya panggilkan Nyonya Vallen dulu," jawab seorang asisten rumah tangga yang membuka pintu tersebut.


Mereka lalu masuk ke dalam rumah itu, dan duduk di sofa ruang tamu hingga sebuah suara menyapa mereka.


"Aini!" panggil sebuah suara dari dalam rumah.

__ADS_1


"Vallen, maaf mengganggu. Apa kau sedang sibuk?"


"Tidak, hari ini aku libur. Kalian Darren dan Shakila kan?"


"Iya Tante," jawab Darren dan Shakila bersamaan. Vallen lalu tersenyum, dan membelai wajah mereka. "Kalian sudah besar. Aku tidak menyangka jika saat kalian dewasa, kalian jatuh cinta satu sama lain. Hubungan yang kalian tahu selama ini jika kalian adalah kakak beradik, tentu sangat menyiksa kan?"


Darren dan Shakila lalu tersenyum. "Ya, dan akhirnya semua sudah berlalu, Tante. Kami bahagia karena akhirnya kami bisa segera menikah."


"Ya, tante juga ikut bahagia. Lalu, apa kalian sengaja datang ke sini untuk mengundang tante ke pesta pernikahan kalian?"


Mereka pun tersenyum mendengar perkataan Vallen. "Tentu saja, Vallen. Tentu kami akan mengundangmu ke pesta pernikahan mereka, tapi bukan itu yang ingin kami bicarakan di sini," jawab Aini.


"Bukan itu yang ingin kalian bicarakan? Lalu?"


"Emh begini Aini. Ini tentang Dea."


"Tentang Dea?"


"Ya, kami merasa jika tindakan Dimas dan Delia mengambil kesimpulan jika Dea adalah anak mereka itu terlalu terburu-buru."


"Terlalu terburu-buru? Astaga, sepertinya kita punya pemikiran yang sama," jawab Vallen.


"Jadi, kau berpikiran hal yang sama dengan kami?"


"Tentu saja, menarik kesimpulan seketika tanpa data yang jelas itu adalah bentuk suatu kecerobohan, Aini."


"Maksudmu, dengan tes DNA kan?"


"Iya, tentu saja. Delia dan Dimas langsung menganggap jika Dea adalah putri mereka tanpa adanya sebuah data yang jelas adalah sebuah kecerobohan besar. Aku bahkan sudah mengatakan itu pada Kenzo dan Cleo saat sedang dalam perjalanan pulang dari panti."


"Iya benar Tante, ini adalah sebuah kecerobohan besar yang dilakukan oleh Papa dan Mama. Lalu, apakah Tante mau membantu kami?" tanya Shakila.


"Tentu saja, aku akan membantu kalian melakukan tes DNA secara sembunyi-sembunyi, kan?"


"Iya kami memang ingin melakukan tes DNA secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui oleh Papa dan Mama," jawab Shakila.


"Baik, Shakila. Besok datanglah ke rumah sakit dengan membawa sampel dari bagian tubuh dari Dimas dan Dea. Apa kau bisa?"


"Tentu saja, Tante. Aku akan berusaha mengambil sampel bagian tubuh mereka agar bisa dilakukan tes DNA secepatnya."


"Iya, Shakila."


***


Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, tapi Devano belum bisa tidur. Pikirannya kini begitu berkecamuk, memikirkan tentang foto Luna saat masih bayi yang dimiliki oleh Delia, dan kota asal dari orang tua Luna, yang sama dengan kota asal Dimas dan Delia.


Devano lalu melihat wajah polos Luna yang kini tidur dengan begitu lelap, dia kemudian membelai wajah cantik itu, kemudian mengambil ponselnya, dan tampak menelpon seseorang.


"Tolong selidiki wanita yang bernama, Sachi. Dia adalah anak kedua dari Om Dimas," ucap Devano pada seseorang di ujung sambungan telepon.


NOTE:


yang udah follow othor baik di fb ato ig bisa dm othor ya, soalnya banyak banget, othor ga tau siapa aja, takutnya ga ke follback 😀

__ADS_1


__ADS_2