Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Sebuah Janji


__ADS_3

Devano mengikuti langkah Dea masuk ke dalam kamar Viona. Di kamar itu, tampak Viona yang ada di atas ranjang dengan kedua tangan yang terluka. Melihat Viona, Devano hanya tersenyum kecut sambil mengangkat salah satu alisnya.


'Dasar, drama queen,' batin Devano. Dia kemudian mendekat ke arah ranjang itu, lalu duduk di samping ranjang milik Viona.


"Mama!" panggil Devano pada Viona yang saat ini tampak memejamkan matanya. Namun, Viona masih memejamkan matanya. Devano kemudian menatap Dea yang kini berdiri di sampingnya.


"Kenapa Mama seperti ini, Sachi?" tanya Devano.


"Aku juga tidak tahu Devano, tadi saat aku datang ke rumah ini, mamamu sudah seperti ini. Dia juga tampak menangis, katanya beberapa kali dia menghubungimu, tapi kau tidak menjawab panggilan dirinya. Mamamu juga mengatakan sedikit frustasi karena kau tidak mau menuruti kata-katanya."


"Benarkah seperti itu, Saci?"


"Ya, aku tidak mungkin berbohong padamu, Devano. Tadi saat aku baru datang ke rumah ini, mamamu terlihat sangat frustasi sampai melukai dirinya sendiri."


"Astaga aku jadi merasa berdosa, mama tolong maafkan aku," ucap Devano di samping Viona yang saat ini masih memejamkan matanya.


Viona yang hanya berpura-pura tidak sadarkan diri, hanya bisa membatin bahagia di dalam hatinya. 'Akhirnya kau percaya pada semua kepura-puraan ini, Devano,' batin Viona.


Devano lalu menatap Dea. "Jadi kau yang tadi mengirim pesan padaku?"


"Iya Devano, aku yang mengirim pesan padamu. Aku tidak tega melihat keadaan Tante Viona yang terlihat begitu hancur dan terpuruk. Sejak tadi, dia menangis dengan tangan yang terluka, lalu saat aku mengobati luka tersebut tiba-tiba Tante Viona tidak sadarkan diri."


"Astaga, maafkan aku mama, maaf, maaf kalau ternyata aku begitu meyakitimu. Maaf ma, selama ini aku tidak sadar telah menjadi anak yang durhaka. Maafkan aku, Ma," ucap Devano dengan begitu terisak.


Melihat Devano yang terlihat menyesal, perlahan Viona pun membuka matanya. "Devano!" panggil Viona lirih. Mendengar suara Viona, Devano kemudian menatap Viona yang saat ini juga sedang menatapnya.


"Mama sudah ada sadarkan diri?"


"Iya," jawab Viona.


"Ma, tolong maafkan aku, Ma. Maaf kalau selama ini, ternyata aku sudah menyakiti Mama. Sungguh, aku tidak bermaksud melakukan semua itu Ma."


"Iya Devano, tidak apa-apa. Mama bisa memahami itu."


"Sekali lagi tolong maafkan aku, Ma. Sekarang, tolong Mama katakan padaku, apa yang harus kulakukan untuk menebus semua rasa bersalahku pada Mama?"


Mendengar perkataan Devano, Viona lalu menatap Dea sambil mengedipkan matanya. 'Yes akhirnya jebakanku berhasil,' batin Viona.

__ADS_1


Tidak hanya Viona yang terlihat bahagia, Dea pun juga bersorak di dalam hatinya. 'Ya akhirnya Devano jatuh ke dalam pelukanku,' batin Dea.


"Benarkah apa yang kau katakan Devano?"


"Iya, aku akan menuruti apa saja perintah Mama."


"Janji.."


"Iya aku janji akan menuruti semua perintah mama."


"Kalau begitu, berjanjilah agar kau menikahi Sachi secepatnya."


"Iya, aku janji. Aku akan menikahi Sachi secara resmi, secepatnya. Memangnya kapan aku harus menikah dengan Sachi?"


"Besok, besok kau harus menikah dengan Sanchi, Devano."


"Oh baiklah, aku akan menepati janjiku untuk menikah dengan Sachi."


"Sachi yang sebenarnya," sambung Devano.


"Iya Ma, tentu saja. Besok aku akan menikah dengan Sachi, aku janji," jawab Devano sambil menyakinkan Viona.


"Kalau begitu, lebih baik kau antar Sachi pulang sekarang. Sepertinya kalian butuh waktu untuk berdua, dan mengenal satu sama lain. Lebih baik kalian pergi berkencan saja sekarang, aku sudah baik-baik saja setelah mendengar janji dari mulutmu. Itu sudah cukup membuatku bahagia, Devano. Aku baik-baik saja," ujar Viona.


'Dasar ratu drama, udah mau jadi nenek-nenek aja masih suka main drama,' batin Devano.


"Baik kalau seperti itu, aku akan pergi dengan Sachi sekarang juga. Iya kan Sachi? Ayo kita pergi sekarang juga!" ujar Devano pada Dea. Mendengar ajakan Devano Dea pun bergegas menganggukkan kepalanya.


"Iya Devano kita pergi sekarang," jawab Dea sambil menahan perasaan bahagia di dalam hatinya.


Devano dan Dea lalu keluar dari rumah itu. "Kita mau pergi kemana, Devano?"


"Tentu saja kita pergi ke tempat yang indah seperti dirimu, Sachi."


Mendengar perkataan Devano, Dea pun tersipu malu. "Kau bisa saja Devano."


"Memang kau terlihat sangat indah Sachi, bahkan dunia ini pun insecure melihat keindahan yang ada pada dirimu."

__ADS_1


"Kau ada-ada saja."


"Memang Sachi, bahkan tidak ada kata yang pantas untuk melukiskan keindahan yang ada pada dirimu. Kau manusia terindah, Sachi."


"Terindah di dunia ghaib," sambung Devano lirih.


"Devano cukup kau sudah membuatku melayang."


"Kau bahkan sudah membuatku hatiku bergetar, sejak kau mengirimkan pesan itu. Ponselku yang bergetar tapi getarannya sampai ke dalam hatiku, ea ea ea."


"Devano kau bisa saja," jawab Dea tersipu malu.


'Tapi bohong, yang ada di dalam hati Abang cuma ada Neng Luna seorang, cie cie cie. Ah kok jadi kangen nih sama Neng Luna. Lebih baik aku anterin aja Si Bidadari Empang alias Mimi Peri ini pulang, terus nyeruduk Neng Luna deh. Siapa tau, Neng Luna juga kangen karaoke punya Abang. Joni, kamu juga udah kangen sama Dora kan? Dari tadi kalo gue sebut Luna, kamu berkedut terus,' batin Devano sambil terkekeh di dalam hati.


"Devano, kau kenapa?" tanya Dea yang sejak tadi melihat Devano hanya melamun, namun belum juga melajukan mobilnya.


"Sachi, kita langsung pulang ke rumahmu, ya. Aku mau ketemu sama Om Dimas dan Tante Delia."


"Oh baiklah," jawab Dea.


Devan kemudian mengendarai mobilnya. Tak berapa lama, mereka pun sudah sampai di rumah milik Dimas. Devano dan Dea kemudian turun dari mobil yang sudah terparkir di halaman rumah itu.


Saat mereka memasuki rumah itu, tampak Shakila yang sedang duduk di ruang tamu. "Hai Shakila!" sapa Devano.


"Akhirnya kau datang ke sini."


"Iya Shakila."


"Devano, ayo kita masuk ke dalam!" tegur Dea yang tidak suka Devano berbicara dengan Shakila, takut Shakila membocorkan rahasianya.


Devano lalu mengedipkan matanya, memberi kode pada Shakila. "Kita kerjain dia di dalam!" bisik Devano pada Shakila yang dijawab anggukan serta senyum nakal dari bibir Shakila.


NOTE:


Mampir juga dong ke novel terbaru othor yang super absurd, dijamin ngakak abis. Judulnya Dibalik Cadar Romlah 😭😭😭😩😩😅😅


__ADS_1


__ADS_2