
"Brenggsek, aku benar-benar harus membalas permainan dari Devano! Bisa-bisanya dia menyuruh seorang office boy untuk menciumku? Aku benar-benar telah dipermainkan dan aku tidak terima dipermainkan seperti ini oleh laki-laki bajjingan seperti Devano! Ini tidak bisa dibiarkan! Dia pikir aku ini siapa?" ujar Dea.
Dia kemudian duduk di atas lantai, lalu berpura-pura memegang dadanya sambil sedikit berteriak. "Tolong! Tolong!" teriak Dea. Beberapa saat kemudian, seorang polisi mendekat ke arahnya.
"Kenapa kau berteriak?" tanya polisi tersebut.
"Pak polisi, tolong aku, dadaku sakit sekali," rintih Dea.
"Ada-ada saja kau ini! Sebentar aku ambilkan obat pereda rasa nyeri dulu! Tunggu di sini!"
Saat polisi itu akan meninggalkan Dea, tiba-tiba dia memanggilnya kembali. "Pak polisi, tunggu sebentar!"
"Kau mau apalagi? Bukankah tadi kau mengatakan kalau dadamu sakit? Mungkin kau masuk angin karena tidur di lantai. Sebentar, aku ambilkan obatnya dulu! Aku tidak mau direpotkan seperti ini!"
__ADS_1
"Tapi pak polisi, sakit yang aku alami bukan sakit biasa, apalagi hanya sekedar masuk angin."
Polisi tersebut kemudian mengernyitkan keningnya. "Bukan sakit biasa? Apa maksudmu?"
"Iya Pak. Emh, begini sebenarnya saya menderita penyakit jantung, jadi kalau saya tertekan, jantung saya sakit seperti ini. Kalau anda tidak percaya saya menderita penyakit jantung, anda bisa tanyakan itu pada orang yang sudah memenjarakan saya, bahkan kalau saya sudah tidak bisa menahan rasa sakit ini biasanya saya pingsan," ujar Dea sambil meringis, disertai raut wajah kesakitan.
"Apa katamu? Sakit jantung? Pingsan?"
"Iya Pak, kalau saya sudah merasakan sakit di dada, biasanya saya pingsan karena saya tidak bisa menahan sakit ini, rasanya sangat sakit," ujar Dea kembali.
"Hai, kami akan membawamu ke rumah sakit. Tapi, tolong jangan coba-coba melarikan diri ataupun mengambil kesempatan!"
Dea kemudian menatap ketiga orang polisi tersebut dengan tatapan mengiba. "Pak polisi, bagaimana aku mau mengambil kesempatan? Anda kan bisa lihat, keadaanku saja seperti ini. Bagaimana mungkin seorang yang menderita penyakit jantung bisa melarikan diri dari kalian?"
__ADS_1
"Baiklah, kami percaya padamu, sekarang ayo kita ke rumah sakit!" ujar polisi tersebut. Ketiga polisi itu, lalu membawa Dea keluar dari ruang tahanan itu. Dea kemudian masuk ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, dia tampak mengamati ketiga orang polisi yang ada di dalam mobil tersebut, dua orang polisi berada di bangku depan, salah seorang diantaranya menyetir mobil, sedangkan satu orang duduk di samping Dea, menjaga Dea yang saat ini diborgol.
Saat mereka berada di jalan yang sepi, Dea melihat polisi yang duduk di sampingnya tampak lengah, dia lalu menendang alat vital polisi yang ada di sampingnya, lalu mengigit pundak dua orang polisi yang duduk di depannya.
Seketika, polisi yang sedang mengendarai mobil itu pun menghentikan laju mobil tersebut. Saat mobil itu terhenti, Dea kemudian keluar dari mobil itu. Namun, baru beberapa langkah Dea berlari meninggalkan mobil itu, tiba-tiba suara letusan pistol pun terdengar.
DOR DOR DOR
NOTE: Maap othor up dikit, lagi sibuk banget, see you tommorow 😁
Mampir juga ya ke karya bestie othor, novelnya Kak Vita Zhao dijamin keren banget n baper abis deh.
__ADS_1