
Devano mengentikan mobilnya di depan sebuah gedung kantor. Dia tampak mengamati pintu keluar gedung itu dengan gestur tubuh yang begitu gusar, dinginnya AC di dalam mobil itu pun tak dapat meredam tubuh dan hatinya yang kini terasa begitu membara.
Berulangkali dia tampak melirik ke arloji yang ada di tangannya, berdecak kesal, lalu mengusap wajahnya dengan kasar sambil menghembuskan nafasnya.
"Lama sekali, ini sudah hampir pukul lima sore," ujar Devano. Matanya tak berpindah sedikitpun dari pintu keluar kantor tersebut. Saat sedang menggerutu, tiba-tiba, netranya tertuju pada sosok wanita cantik yang baru saja keluar dari gedung itu. Sudut bibirnya kini pun tertarik, membentuk lengkungan yang membuat wajah tampannya semakin mempesona.
"Luna," ujarnya lirih sambil menatap seorang wanita cantik yang mengenakan blazer dan stelan line skirt warna hitam, dengan dalaman tanktop warna hijau mint. Namun, tiba-tiba senyumnya memudar takkala melihat seorang laki-laki yang kini mendekat, dan tampak sedang merayu Luna.
"Brengsekkk!" umpat Devano. Dia kemudian keluar dari dalam mobil lalu menghampiri mereka berdua. Luna seketika terkejut saat melihat Devano yang saat ini ada di hadapannya sambil menatap tajam pada laki-laki di samping Luna.
"Jangan pernah sekali-kali dekati dia atau akan kupatahkan lehermu!" bentak Devano pada laki-laki berkemeja biru di samping Luna.
"Devano!" ucap Luna sambil menatap tajam pada Devano.
"KALAU KAU MASIH SAYANG NYAWAMU CEPAT PERGI SEBELUM KUHABISI KAU SEKARANG JUGA!"
Mendengar ancaman Devano, laki-laki berkemeja biru itu pun bergegas meninggalkan mereka. Sedangkan Luna, saat ini menatap tajam ke arah Devano.
"Mau apa kau?"
"Luna, kita harus bicara!"
"Sepertinya tidak ada yang harus kita bicarakan! Urusan kita sudah selesai, Devano!"
"Ikut aku!" kata Devano sambil mencengkram erat tangan Luna lalu menariknya ke dalam mobil.
"Devano lepaskan! Lepaskan aku Devano!" teriak Luna. Namun Devano hanya diam, dan semakin erat mencengkram tangan Luna. Dia akhirnya hanya bisa pasrah, apalagi saat ini Devano mulai menghempaskan tubuhnya ke dalam jok mobil, lalu mengunci mobil itu.
__ADS_1
"Kau mau apa Devano? Urusan kita sudah selesai! Bukankah kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan dariku!" bentak Luna saat Devano sudah duduk di sampingnya. Namun Devano hanya diam, dan begitu tenang mengendarai mobilnya dengan kecepatan begitu tinggi meskipun sepanjang perjalanan Luna terus mengumpat dan membentaknya tanpa henti.
Bebebrapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di gedung apartemen milik Devano.
"Ayo turun!" ucap Devano setelah memarkirkan mobilnya di dalam basemen.
"Tidak!"
"Luna, ada yang harus kita bicarakan. Kau telah salah paham padaku, Luna. Aku tidak seperti yang kau pikirkan."
"Sudah cukup Devano! Tidak ada yang perlu dijelaskan, dan tidak ada kesalahpahaman! Aku sudah tahu siapa kau yang sebenarnya! Bukankah kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan? Urusan kita sudah selesai, Devano! Cepat antar aku pulang!"
"Luna, kau benar-benar sudah salah paham padaku! Tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan kesalahpahaman ini padamu!"
"Aku tidak mau mendengar penjelasan dari mulut kotormu Devano! Kau terlalu menjijikan bagiku!"
"Bohong! Kau tidak usah membela diri! Aku sudah mendengar semuanya, Devano! Semua itu adalah sandiwara! Sandiwara agar aku memberikan kesucianku untukmu! Dan kau sudah mendapatkan semua itu kan? Lalu apa yang ingin kau minta lagi dariku? Aku sudah sangat muak pada laki-laki menjijikan sepertimu, Devano!"
"Luna, aku mohon dengar dulu penjelasanku."
"Sudah cukup, aku tidak mau mendengar penjelasan apapun darimu! Aku mau pulang! Aku mau pulang Devano! Tolong antarkan aku pulang!" rancau Luna terus menerus. Sedangkan Devano hanya menatap bibir mungil itu yang terus bergerak dengan begitu lincah.
'Ah,' batin Devano yang sudah tak mampu lagi menahan hasrat di dalam hatinya. Dengan gerakan begitu cepat, Devano kemudian menarik tengkuk Luna, dan detik kemudian dia langsung mencium bibir itu dengan begitu ganas.
"Hmmmph," ucapan Luna seketika terhenti, ketika dia menyadari Devano telah melummat habis bibirnya.
Luna berusaha memberontak, namun Devano semakin menekan kepala belakang Luna untuk memperdalam ciuman mereka. Dia akhirnya tak dapat berbuat apa-apa saat merasakan lidah Devano yang sudah menerobos masuk ke dalam mulutnya, sedangkan kedua tangan Devano mencengkram erat lengan Luna agar tubuhnya terkunci dan tidak bisa bergerak sedikitpun.
__ADS_1
Bak kesetanan, Devano terus melummat habis bibir Luna, bahkan sesekali mengigit bibir tipis itu takkala dia berusaha memberontak. Suara deccapan bibir basah pun terdengar begitu nyaring di dalam mobil mewah itu. Devano akhirnya menghentikan ciumannya saat melihat Luna yang terlihat sudah kehabisan nafas.
"Dasar brengsekkk, laki-laki messum!" umpat Luna saat Devano melepaskan bibirnya. Devano kemudian mencengkram rahang Luna.
"Tatap aku! Lihat mataku! Apakah aku terlihat berbohong padamu?"
"Kau memang pemain sandiwara yang handal! kau hanyalah laki-laki busuk yang tidak bermoral yang dengan entengnya mengobral kata cinta padahal aku hanyalah sebagai sekedar pelampiasan! Hanya sekedar pelampiasan nafsumu, Devano!"
"Luna aku tidak main-main denganmu! Aku tidak berbohong! Aku sangat mencintaimu, Luna!"
"Aku juga tidak berbohong padamu kalau saat ini aku sangat membencimu! Sangat membencimu karena bagiku kau adalah laki-laki yang sangat menjijikan! Kau sangatlah menjijikan!"
Devano pun hanya bisa terdiam menahan sakit yang merasuk ke dalam hatinya, semua kata-kata Luna terasa begitu menyakitikan baginya, tapi dia sadar semua yang Luna katakan karena dia masih dalam pengaruh emosi dan kebencian padanya. Melihat Devano yang kini terdiam, perasaan bersalah pun mulai merasuk ke dalam hati Luna. Namun, dia buru-buru menangkis rasa bersalah itu.
'Jangan terpengaruh lagi, Luna. Jangan terpengaruh lagi pada laki-laki busuk sepertinya. Dia adalah pemain sandiwara yang handal. Jangan terpengaruh lagi dan terjebak dalam rayuan busuknya,' batin Luna. Sejenak, keheningan pun tercipta diantara keduanya.
"Baik Luna, baik jika di matamu aku begitu menjijikan. Aku terima jika kau hanya menganggapku laki-laki busuk yang tak bermoral, pemain sandiwara yang handal dan hanya bisa mengobral kata-kata cinta. Baik jika bagimu kau hanyalah sekedar pelampiasan nafsuku, aku terima itu."
"Ya karena semua yang kukatakan tentangmu itu benar kan, Devano?"
Devano kemudian memejamkan matanya, sambil mengatur irama nafasnya, menahan sakit yang kini terasa begitu menyesakkan dadanya.
"Baik Luna, baik kuakui kau memang hanyalah sekedar pelampiasan bagiku. Sekarang tolong lakukan pekerjaannu dengan baik."
Luna pun menatap Devano sambil mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu, Devano?"
"Lakukan tugasmu! Bukankah tadi kau mengatakan kau adalah sekedar pelampiasan bagiku? Sekarang lakukan tugasmu sebagai sekedar pelampiasan nafsuku karena bagiku tugasmu belum selesai, Luna!" ucap Devano sambil melonggarkan celananya dan melepaskan ikat pinggangnya.
__ADS_1