
Seketika jantung Luna pun seakan berhenti berdetak melihat Devano yang sudah beridiri tak jauh darinya. Hatinya terasa begitu berkecamuk, apalagi saat melihat Devano yang menatapnya dengan begitu tajam.
Wajahnya yang kini memerah menunjukkan sebuah kemarahan yang begitu besar. Namum, tidak hanya wajahnya, tapi juga sorot matanya yang juga tampak memerah. Sorot matanya bahkan terlihat begitu menakutkan, bola mata itu memerah tapi juga tampak sedikit berembun.
"Devano!" panggil Luna lirih. Dia kemudian mencoba mendekat kearah Devano. Namun, sebelum Luna melangkahkan kakinya, Devano sudah kembali berteriak.
"STOPPP! Jangan mendekat! Jangan pernah mencoba mendekat lagi padaku!"
"Devano, aku bisa menjelaskan semua ini. Tolong dengarkan penjelasanku."
"Aku tidak butuh penjelasan darimu!"
"Tapi Devano, ini benar-benar tidak seperti yang kau pikirkan."
"Tidak seperti yang aku pikirkan bagaimana Luna? Ini bahkan sudah sangat jelas! Aku melihatnya sendiri dengan kedua mataku kalau kalian berjalan dengan begitu mesra, lalu hampir saja masuk ke dalam sebuah kamar hotel! Apalagi yang harus kau jelaskan? Aku tidak butuh penjelasan darimu, dasar wanita munafik!"
"Devano tolong dengarkan dulu penjelasan dari kami. Ini benar-benar tidak seperti yang kau pikirkan. Tadi aku tidak sengaja menyerempet Luna, lalu aku mengantarnya ke kamar ini untuk beristirahat, karena dia benar-benar kesulitan untuk berjalan. Aku juga tahu, kau ada di sini. Jadi, aku minta Luna agar dia beristirahat di dalam kamar, dan setelah kau menyelesaikan urusanmu, kau bisa menjemputnya di kamar ini."
"TIDAK USAH BANYAK ALASAN!"
"Devano, aku benar-benar tidak memiliki niat buruk apapun pada Luna. Kita tidak memiliki hubungan apapun."
"Cihhhh, tidak punya hubungan apapun tapi bertemu di hotel yang sama? Benar-benar alasan yang tidak logis!"
"Devano, aku ada di hotel ini karena Pak Kenzo menyuruhku mengantarkan berkasnya yang tertinggal. Kau bisa menanyakan pada Pak Kenzo jika kau tidak percaya padaku."
"Iya Devano, sungguh kami tidak berbuat apapun. Ini benar-benar tidak seperti yang kau pikirkan," sambung Brian.
Devano kemudian menatap Brian dengan sorot mata yang begitu menakutkan, tatapan mata yang seolah ingin menerkam siapa saja yang ada dihadapannya. Dia kemudian menarik salah satu sudut bibirnya ke atas.
"Tuan Brian, bukankah seharusnya kau ada di acara di bawah bersamaku? Tapi, kau lebih memilih bersenang-senang dengan seorang wanita disini? Lalu setelah aku menangkap basah kalian berdua, kalian menceritakan hal yang di luar nalar bagiku? Lalu apa kau pikir, aku bisa begitu mudahnya percaya pada cerita bodoh itu? Cihhhhh!"
"Devano ini benar-benar tidak seperti yang kau pikirkan..."
"CUKUP!" bentak Devano. Dia kemudian membalikkan tubuhnya, lalu berjalan meninggalkan Luna dan Brian dengan langkah yang begitu cepat, meskipun sayup-sayup terdengar suara Luna yang memanggilnya. Dia kemudian mengambil ponselnya lalu tampak menelepon seseorang.
"Halo, Mama. Katakan pada Oma Fitri, besok pagi aku sudah ada di Jogja untuk bertunangan dengan Shakila," ucap Devano pada seseorang di ujung sambungan telepon.
Sementara Luna, kini hanya bisa terisak menatap kepergia Devano. "Luna, maafkan aku. Maaf jika ternyata niatku untuk menolongmu berubah menjadi musibah seperti ini."
Luna hanya bisa terdiam, isak tangisnya pun terdengar semakin kencang. "Luna!" panggil Brian.
"Tolong tinggalkan, aku."
"Luna..."
"Tolong tinggalkan aku, Tuan Brian. Aku mohon, tolong tinggalkan aku sendirian."
Melihat Luna yang begitu kacau, Brian kemudian meninggalkan Luna, meskipun hati kecilnya tak tega meninggalkan wanita itu sendirian di saat dirinya merasa begitu hancur. Setelah Brian tak lagi terlihat, Luna kemudian mencoba berdiri dan berjalan di koridor hotel tersebut, meskipun dengan langkah yang begitu tertatih karena menahan sakit di kakinya. Dia kemudian menuju ke acara yang semula akan dihadiri Devano, tapi setelah menanyakan ke bagian penerima tamu, Devano juga tidak ada di acara tersebut.
Akhirnya Luna keluar dari hotel tersebut setelah bersusah payah melangkahkan kakinya yang masih sakit. Luna kemudian menaiki sebuah taksi menuju ke gedung kantor Devano. Namun, setelah sampai di gedung kantor itu, dia juga tidak menemukan Devano di ruangannya.
Luna kemudian bertanya pada salah satu staf yang ada di kantor tersebut. Namun, staf kantor tersebut mengatakan jika Devano belum kembali sejak dia pergi ke hotel tempat mereka tadi bertemu.
"Astaga di mana Devano? Sebenarnya kau ada di mana Devano?" ujar Luna Luna. Dia kemudian keluar dari kantor tersebut, lalu pergi ke apartemen milik Devano.
CEKLEK
Pintu apartemen Devano terbuka, Luna kemudian memanggilnya. "Devano! Devano!" panggil Luna, namun tak ada sahutan. Apartemen itu juga tampak kosong.
"Astaga ternyata Devano juga tidak pulang ke apartemen," ujar Luna. Dia terlihat begitu panik. "Kalau begitu, lebih baik aku tunggu saja dia disini sambil mengobati kakiku," ujar Luna kembali.
Dia kemudian menunggu kedatangan Devano di apartemen tersebut, sambil mengobati kakinya dengan meminum obat pereda nyeri dan mengoleskan krim pada bagian kakinya yang terkilir.
Waktu berganti, detik berubah menjadi menit, menit berubah menjadi jam, dan terangnya sinar matahari telah tenggelam berganti dengan gelapnya malam yang bertabur bintang. Namun, Devano tak juga memperlihatkan batang hidungnya.
__ADS_1
"Astaga, dimana kau sebenarnya Devano?" ucap Luna. Dia pun sudah berulang kali menghubungi ponsel Devano, namun tampaknya Devano tidak mau mengangkat panggilan darinya. Bahkan dia juga sudah memblokir nomernya.
"Kau ada di mana sebenarnya Devano?" ucap Luna sambil meneteskan air matanya.
"Oh iya.., ke kantor! Mungkin dia ada di kantor," ucap Luna. Dia kemudian melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul delapan malam, namun tak menyurutkan langkahnya menuju ke gedung kantor milik Devano.
Beberapa saat kemudian, Luna pun sudah sampai di gedung kantor yang dia tuju. Dia bergegas menuju ke ruangan milik Devano, dan saat melihat ruangan itu masih menyala, senyum pun tersungging di bibirnya.
"Jadi Devano masih ada di kantor?" ucap Luna. Dia kemudian mempercepat langkahnya ke ruangan tersebut dan membuka pintu ruangan milik Devano.
CEKLEK
Saat pintu ruangan itu terbuka, tampak Devano yang sedang duduk di atas kursi kerjanya sambil memainkan sebuah pena di atas meja kerjanya, dan menatap pena itu dengan tatapan mata yang begitu tajam.
"Devano!" panggil Luna. Mendengar suara Luna, Devano lalu mengangkat kepalanya dan melihat Luna yang sudah berdiri di ambang pintu.
Luna kemudian berjalan mendekat kearah Devano dan memeluk tubuhnya. "Devano, tolong jangan marah padaku. Devano, sungguh kami tidak melakukan apapun, tolong kau percaya padaku."
Devano hanya terdiam, sedangkan Luna kini kian erat mendekap tubuh Devano dan menangis di atas pundaknya. "Devano, tolong jangan diam, katakan sesuatu padaku Devano! Tolong jangan bersikap seperti ini! Aku sangat mencintaimu, sangat mencintaimu!"
Devano masih terdiam, hingga beberapa saat kemudian, dia membalikkan tubuhnya, lalu menatap tajam ke arah Luna. Dengan gerakan yang begitu cepat, tiba-tiba Devano menempelkan bibirnya pada bibir Luna, lalu melummat bibir merah itu dengan begitu rakus.
NOTE:
Mampir juga ya ke karya bestie othor, novelnya Kak Samy Noer judulnya Jangan Ganggu Istriku.
"Siapa yang telpon? kenapa tidak di angkat? Angkat sekarang dan nyalakan speakernya!" perintah Kabir pada Istrinya.
"Bu--bukan siapa-siapa, sudah ya, Bang, aku pergi dulu, aku sudah di tunggu oleh teman-teman,"
"Tidak, bisa! Angkat dulu handphone kamu, sekarang!!" Kabir mulai hilang kesabaran. Sementara Sasti tetap pada pendiriannya. Tetap membiarkan handphone nya berdering.
"Jangan, Abang! Itu privasi aku. Abang gak boleh sembarangan main ambil saja dong!" Sasti dengan suara yang keras meminta handphonenya agar dikembalikan.
"Sejak kapan kamu memberi batasan padaku, aku ini suamimu, apa kamu lupa? Aku suamimu, Sasti!" Suara Kabir lantang. membuat beberapa pekerja rumahnya diam-diam mengintip dari celah pintu dapur.
"Pokoknya, jangan, Bang! balikin handphone aku, Bang!" Sasti terus mencoba merebut kembali handphonenya yang telah berpindah tangan. Percuma saja, usaha Sasti untuk mendapatkan handphone nya kembali. tinggi badannya tak sebanding dengan tinggi badan Kabir.
"Sastra, siapa Sastra?" Tanya Kabir pada Sasti. Sasti tampak gugup, raut mukanya tegang.
"Siapa Sastra! jawab aku, Sasti!"
"Dia--dia, temanku, Bang. Iya, temanku Bang."
"Teman? Dia pria atau wanita?"
"Pria eh ... wanita,"
"Yang betul yang mana, pria atau wanita?"
"Pria, Bang. Tapi hanya teman, Bang. Dia teman yang suka bantuin buat konten aku, Bang."
"Lalu?"
"Iya, aku mau ketemuan sama teman-teman yang lain sekarang. Mereka pasti sudah menungguku. Aku pergi dulu ya, Bang."
"Angkat!"
"Ba-- baik, Bang." Sasti menatap ragu-ragu Handphonenya sejenak menatap ke arah Kabir.
"Kenapa? Kamu ragu? Dia bukan 'teman' biasa mu?"
"Bukan begitu, Bang. Iya aku angkat, sekarang." Sasti menerima handphonenya kembali.
__ADS_1
"Ha-halo ...,"
"Halo, sayang kamu kemana aja sih, aku telponin kenapa gak di angkat-angkat. Kita jadi kan hunting fotonya?"
Kabir terkejut dengan suara penelpon nya. Si penelpon itu memanggil Sasti, istrinya dengan sebutan sayang. Dahi Kabir berkerut. meminta penjelasan pada Sasti. Sasti
menatap Kabir takut. Tangannya bergetar.
"Hai, sayang! kamu ada di sana kan? jadi ketemu gak. Kita udah sampai di tempat loh, halo?"
"Iya--iya jadi setengah jam lagi ak--aku sampai."
"Ok di tunggu ya, sayang. Bye see u " sambungan telepon berakhir. Sorot mata Kabir sudah tidak bisa di hindari lagi. Menatap tajam ke arah Sasti.
"Teman? Itu yang kamu panggil teman biasa? Panggil sayang?" Kabir berkata sinis, menatap tajam mata Sasti. Sasti membuang pandangannya.
"Kita memang hanya berteman, Bang!"
"Teman macam apa yang panggil sayang?"
"Sungguh, Bang. Kita hanya berteman."
"Pria dan wanita berteman? Aku tidak percaya! kesini kan handphone kamu, biar aku telepon balik 'teman sayang' kamu itu,"
"Bang, apa-apa an sih, jangan buat malu aku, Bang! Di antara kita sudah biasa memanggil sayang dalam berteman."
"Apa! Kamu bilang sudah biasa? Mana pembeda nya? panggilan antara untuk teman pria mu dengan untuk suamimu?"
"Abang gak akan ngerti, karena Abang tidak pernah bergaul."
"Jadi kamu anggap aku ini bod*h, begitu? Sasti, ada apa denganmu?" Kabir meraih handphone yang ada di tangan Sasti.
"Abang yang kenapa, kenapa Abang selalu mengekang ku. Menekan ku, aku lelah Bang. Aku lelah!"
Tangan Kabir terkepal. Ingin rasanya dia menonjok apapun sampai hancur. Gemuruh dalam dadanya seperti ingin meledak saja. Istri tercintanya, istri tersayangnya. Wanita mungil yang dulu dia jaga sepenuh hatinya. Akhir-akhir ini bersikap aneh dan cenderung lupa diri.
"Kamu benar-benar menguji kesabaran ku, Sasti. Masuk ke kamar. Cepat!"
"Gak mau, Bang! Aku mau pergi, mereka sudah menungguku, Abang paham gak sih yang aku katakan."
"Kamu istriku, kamu mau melakukan apapun harus dengan ijinku, jika aku tidak mengijinkan mu, maka kamu juga tidak bisa pergi,"
"Kalau aku tetap memaksa pergi, bagaimana?"
"Kamu menantang ku?"
"Bang, aku mau pergi. Tolong, aku sudah berjanji dengan mereka."
"Kamu lebih memilih temanmu, daripada aku? aku suamimu!" Kabir membanting handphone milik Sasti. Hancur berkeping-keping. Sasti menatap nanar handphone yang Barus satu Minggu dia gunakan.
"Abang! Kenapa kamu rusak handphone ku?"
"Kapan kamu beli? Kamu tinggal ambil di Etalase milikku, jadi itu milikku. Aku bebas mau banting atau mau aku bakar pun, mau apa kamu?"
"Kamu gila, Bang. Mereka itu temanku, kalau Abang cemburu jangan begini,"
"Aku cemburu, wajar. Kamu istriku. Aku tidak mau kamu bergaul dengan sembarang orang."
"Abang jahat, Abang selalu saja bertindak semaunya. Aku sudah besar, sudah dewasa, Bang. Bukan gadis kecil lagi yang kemana-mana musti di kawal,"
"Iya, jika kamu sudah merasa dewasa. Maka bersikaplah Dewasa kamu. Jangan begini, kamu sudah menikah. Punya anak, punya suami. Tidak pantas kamu begini terus,"
"Bang, aku bosan di rumah terus. Aku ingin juga bergaul dengan teman-teman yang lain, Bang. Abang ngerti gak sih apa yang aku mau?"
"Aku sudah mengerti kamu sejak dulu, aku paham betul siapa kamu, aku tahu semua tentang kamu. Aku tahu yang terbaik untuk kamu,"
__ADS_1