
"Ka-kau? Kenapa kau ada disini?" tanya Viona sambil mengerutkan keningnya. Luna kemudian bangkit dari tempat duduknya, lalu mendekat ke arah Viona.
"Selamat pagi, Ma!" sapa Luna.
"Shakila, katakan padaku kenapa dia ada di sini? Bukankah putraku akan menikah dengan Sachi? Kenapa dia yang ada di sini?"
"Tante, kenapa Tante berkata seperti itu pada Sachi? Dia adalah Sachi! Luna adalah Sachi!" ucap Shakila. Mendengar ucapan Shakila jantung Viona pun seakan berhenti berdetak, seluruh tubuhnya bergetar seakan dialiri arus listrik yang membuat kepalanya berdenyut begitu hebat.
"A-apa? Apa? Luna adalah Sachi?" ucap Viona lirih sambil mengerutkan keningnya, dan memiringkan kepalanya, mengamati Luna yang saat ini berdiri di depannya sambil menyunggingkan senyuman yang begitu manis.
"Iya Tante, Luna adalah Sachi adikku."
"Tidak, kalian tidak sedang becanda kan?"
"Kami tidak pernah becanda, Viona!" sahut sebuah suara wanita yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tersebut. Wanita itu lalu berdiri di samping Viona.
"Delia, apa maksud dari semua ini? Aku benar-benar tidak mengerti."
"Viona, sebelumnya maafkan aku dan keluargaku. Maaf jika kami berbohong pada keluarga kalian. Sebenarnya Sachi tidak pernah hidup di luar negeri, tapi dia hilang. Karena kecerobohan yang kulakukan, Sachi kami hilang pada saat dia berusia tiga bulan. Viona, maafkan kami, kami hanya tidak ingin memberikan harapan palsu pada kalian jika kami mengatakan yang sebenarnya. Sekali lagi tolong maafkan kami."
Viona hanya diam termenung mendengar penuturan Viona. "Viona, sekali lagi atas nama keluargaku, aku minta maaf."
"Tidak apa-apa Delia, aku bisa memahami posisi kalian. Ta-tapi, aku masih tidak mengerti bagaimana ini bisa terjadi? Lalu siapa wanita yang ke rumahku kemarin? Dia mengaku kalau dirinya adalah Sachi. Sebelum wanita itu datang, Tante Fitri juga mengatakan kalau dia adalah Sachi."
"Maksud Tante Dea?" sambung Shakila.
"Dea? Siapa itu Dea?"
"Yang datang ke rumah Tante adalah Dea. Ya, saat itu memang sempat terjadi kesalahpahaman dan kami mengira kalau Dea adalah Sachi. Tapi, setelah kami tarik benang merahnya dan mengumpulkan beberapa bukti, serta melakukan tes DNA, ternyata dia bukanlah Sachi. Dan, Sachi yang sebenarnya adalah Luna!"
DEG
Jantung Viona seakan kembali berhenti berdetak, hatinya pun seakan dihujam pisau, rasanya begitu sakit dan menyesakkan dada, bahkan seluruh tubuhnya ikut bereaksi, hingga raga itu terasa begitu lemas. Viona kemudian memundurkan kakinya beberapa langkah sambil memegang kepalanya yang terasa begitu berdenyut.
"Mama Viona!"
__ADS_1
"Viona!"
"Tante Viona!"
Luna, Delia, dan Shakila panik melihat wajah Viona yang kini terlihat memucat. Apalagi setelah melihat Viona memundurkan langkahnya, tubuh itu terlihat gontai. Shakila kemudian memegang tubuh Viona. "Tante, ayo kita duduk dulu!" ujar Shakila sambil menuntun Viona untuk duduk di atas sofa yang ada di dalam kamar tersebut.
Delia kemudian memanggil salah seorang pembantu rumah tangga dan menyuruhnya untuk membuatkan teh hangat untuk Viona. Viona kini duduk di atas sofa sambil menyandarkan tubuh dan kepalanya, tatapan matanya terlihat kosong.
"Viona minum dulu tehnya!" ucap Delia sambil memberikan secangkir teh hangat pada Viona.
Viona kemudian meminum teh hangat tersebut. Beberapa saat kemudian, setelah dia menata hatinya sampai terlihat sedikit tenang. Dia menatap Luna yang saat itu juga duduk di sampingnya.
"Jadi kau adalah Sachi? Jadi kau adalah Sachi, Luna?" tanya Viona, mengesampingkan rasa malu dan takut di dalam hatinya.
Luna pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Iya Ma, aku adalah Sachi," jawab Luna. Viona kemudian bangkit dari atas sofa lalu bersimpuh di hadapan Luna.
"Luna, maafkan aku. Maafkan aku, Luna!" ujar Viona dengan begitu terisak.
Shakila dan Delia yang melihat tingkah Viona hanya bisa berpandangan. "Viona apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau harus minta maaf seperti itu? Memangnya kesalahan apa yang telah kau perbuat pada putriku?"
Luna kemudian menatap Delia. "Tidak ada apa-apa, Ma. Mama Viona dulu hanya tidak menyetujui hubunganku dengan Devano karena Devano sudah dijodohkan dengan Sachi, dan menurutku itu adalah wajar karena dia sedang mempertahankan komitmennya untuk menjodohkan putranya sesuai dengan janji yang telah disepakati."
"Benar hanya itu saja, Luna? Tidak ada yang kau tutupi?"
"Iya Ma, tidak ada yang kututupi, Ma."
"Baiklah kalau begitu."
Delia kemudian menggenggam tangan Viona. "Viona sudahlah, jangan menangis lagi. Ayo kita keluar, akad nikahanya akan dimulai!" ujar Delia. Viona lalu menganggukkan kepalanya, lalu bangkit dari atas lantai.
Mereka kemudian berjalan keluar dari kamar itu. Delia dan Dimas menuntun Luna untuk duduk di samping Devano yang sudah menunggunya di sebuah meja akad tempat mereka akan melangsungakan ijab qabul.
Luna kemudian duduk di samping Devano. Devano menatap istrinya sekilas lalu mengedipkan matanya. "Neng cantik banget, kiss bentar ya!"
"Devano malu banyak orang!"
__ADS_1
"Kan udah nikah neng cuma nunggu resmi bentar lagi!"
"Ya udah nanti aja kalau udah resmi."
"Janji ya, Neng!"
"Janji," gerutu Luna.
Acara akad nikah kemudian dimulai, Devano mengucapkan ijab qabul dengan satu tarikan nafas, dan disambut teriakan SAH dari orang-orang yang menghadiri pernikahan tersebut. Devano lalu memalingkan wajahnya pada Luna, dan tanpa aba-aba dia langsung mencium bibir itu yang membuat semua orang yang menghadiri pernikahan itu berteriak.
"Devano! Malu tau!"
"Katanya boleh kalo udah resmi."
"Tapi tidak sekarang, Devano! Maksudnya nanti malam."
"Kalo nanti malem jatahnya Joni ketemu Dora, Neng."
"Astaga, memang susah ngomong sama kamu, ya."
"Maha benar, Devano Neng!"
"Terserah kau saja!" gerutu Luna yang tak bisa berkelit karena keluarga mereka saat ini tampak mendekat untuk mengucapkan selamat.
****
Fitri yang saat ini masih terbaring di rumah sakit tampak mengambil ponselnya yang ada di nakas samping tempat tidurnya.
"Pasti pesta pernikahan Sachi dan Devano saat ini sedang berlangsung, sebaiknya aku hubungi Dimas untuk meminta foto-foto pernikahan mereka,"ujar Fitri.
Namun, saat dia baru saja mengambil ponsel itu, netranya tertuju pada sebuah pesan yang masuk ke ponsel itu sejak tadi malam.
"Dea?" ujar Fitri.
"Untuk apa Dea mengirim pesan padaku?" ujar Fitri kembali. Dia kemudian membuka pesan dari Dea dan membaca pesan itu, seketika raut wajah Fitri pun memerah, menahan emosi yang kini berkecamuk di dalam hatinya.
__ADS_1
"Vionaaaaa, awas kau Viona!"