
Sementara itu, Dea yang melihat kepergian Delia dan Shakila dengan begitu terburu-buru, kini merasa begitu cemas. Dia tampak berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya.
"Kenapa Mama Delia dan Kak Shakila tampak mencurigakan sekali? Mereka pergi begitu saja tanpa memberitahuku, seolah-olah mereka tidak ingin aku tahu kalau mereka pergi berdua," ujar Dea sambil mengerutkan keningnya.
"Apakah Mama Delia terpengaruh oleh omongan Kak Shakila, dan mulai curiga padaku setelah melihat hasil pemeriksaan darah yang menunjukkan kalau golongan darah kami yang berbeda? Oh tidak, ini benar-benar sangat berbahaya. Posisiku sangat tidak aman jika sampai Mama curiga padaku. Aku harus bertindak sesuatu agar posisiku aman di dalam rumah ini, dan tetap menjadi bagian dari keluarga mereka."
Kepala Dea rasanya seakan mau pecah saat memikirkan semua itu. Dia kini tampak memijit keningnya, sambil mengatur irama detak jantungnya yang berdegup begitu kencang saat memikirkan kalau harus menghadapi kenyataan pahit jika mereka tahu yang sebenarnya.
"Aku tidak bisa membayangkan jika sampai mereka tahu kalau aku bukan anak kandung dari Papa dan Mama. Ah, itu begitu menyeramkan bagiku. Sebaiknya untuk saat ini setidaknya aku harus bisa mengamankan posisiku. Dan satu-satunya cara adalah aku harus bisa menikah dengan Devano. Aku harus berfikir, ya aku harus berfikir bagaimana caranya agar aku bisa menikah dengan Devano secepatnya."
Dea kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, sambil memejamkan matanya. "Ayo berfikir Dea, ayo berfikir! Kalau tidak, aku bisa kembali hidup miskin dan hidup di panti asuhan kumuh itu," ujar Dea. Beberapa saat kemudian, dia pun membuka matanya disertai mata yang terlihat begitu berbinar.
"Sekarang aku tahu, aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku harus pergi ke rumah Devano secepatnya, dan berkenalan dengan orang tua Devano. Aku tidak mau hidup miskin lagi, jadi sebelum tes DNA itu keluar, aku harus menikah dengan Devano secepatnya," ujar Dea. Dia kemudian menelepon Fitri untuk mencari tahu alamat orang tua Devano, dan setelah dia mendapatkan alamat itu, dia bergegas keluar dari rumah itu menuju ke rumah Viona.
Benerapa saat kemudian, Dea pun sudah sampai di depan sebuah rumah mewah tiga lantai dengan halaman yang begitu luas.
"Jadi, ini rumah Devano? Wow sangat mewah, tidak kalah mewah dengan rumah milik Papa Dimas," ucap Dea sambil mengamati rumah mewah yang ada dihadapannya saat ini.
"Devano, kau memang benar-benar orang kaya. Dan aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini. Aku harus bisa menikah dengan Devano," sambung Dea. Dia kemudian turun dari mobil lalu berjalan ke arah pintu rumah tersebut.
TETTT TETTTT
Pintu rumah mewah itu pun terbuka. Seorang pembantu rumah tangga, tampak berdiri di depan Dea sambil tersenyum.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Ya, tentu saja. Katakan pada Nyonya Viona kalau Sachi ingin bertemu dengannya."
"Sachi?"
"Ya, namaku Sachi."
****
"Apa Devano?"
__ADS_1
"Aku ingin sensasi yang berbeda Luna," bisik Devano di samping telinga Luna dan membisikkan dengan begitu sensual.
Devano lalu menurunkan tubuh Luna tepat di atas sofa, seolah paham apa yang diinginkan oleh suaminya, Luna tersenyum dengan begitu menggoda.
Devano lalu mengecup dengan lembut leher Luna hingga terdengar desisan dari bibir mungil istrinya itu. Kecupan itu berjalan menuju ke rahang Luna hingga akhirnya, Devano berhenti tepat di depan bibir mungil yang selalu membuatnya candu. Dengan gerakan kilat, dia mencium bibir Luna secara kasar, lalu melahapnya, menggigit dan melilitkan lidahnya di dalam sana.
Di saat bibir mereka saling bertautan, tangan Devano tak tinggal diam, kini tangan nakalnya mulai melepaskan pakaian yang menempel di tubuh Luna. Dia tidak mau sehelai benang pun menjadi penghalang kenikmatannya.
Setelah Devano melepaskan seluruh pakaian Luna, tangan lalu Devano merremas-remmas gundukan kenyal itu, memainkannya persis seperti sebuah squishy, sesekali dia juga memilin chery di atas gundukan kenyal itu yang sudah mengeras.
Ciuman mereka terlepas, kini bibir Devano menjelajahi leher Luna, menjillatnya bahkan meninggalkan beberapa gigitan merah di sana. Rintihhan yang keluar dari bibir mungil Luna, menjadi penyemangat untuk Devano dengan nafsu yang sudah menguasai dirinya.
Dia kembali menuntun bibirnya sendiri ke arah dada Luna, pria itu berhenti sebentar lalu menatap dua gunung kembar milik Luna yang terlihat indah, dam semakin membesar akibat efek kehamilan. Tidak ingin mengulur waktu, dia ******* habis gunung kembali itu dengan ganas.
"Ahhhh... " Rintihan kembali keluar dari bibir Luna. Rintihan itu benar-benar membuat Devano semakin menjadi-jadi.
Beberapa saat kemudian Devano menyudahi aktivitasnya di dada Luna. Setelah itu, dia menarik diri dan menatap wajah Luna yang sudah memerah dipenuhi dengan gairah.
"Kau terlihat seksi Luna," ucapnya dengan senyum menggoda. Namun, tidak menghentikan gerakan jarinya membelai wajah serta meraba seluruh tubuh Luna.
"Argggg Devano, give to me... Argh!" dessah Luna. Beberapa saat kemudian tubuhnya terlihat mengeliat bak cacing kepanasan, menyadari hal itu Devano semakin mendorong tubuhnya, yang tadinya lembut, perlahan hingga cepat keluar dan masuk kemudian menghentakkan kakinya hingga Luna menjerit, mencengkram lengan kokoh Devano.
"Ohhhh, shhiiitttt...."
"Oughhhh Devanooooo...."
Suara dessahan dan errangan kini memenuhi seluruh bagian kamar, membuat Devano semakin bersemangat untuk mendorong miliknya agar lebih masuk kedalam dan menghentakkan kakinya kembali dan membuat Luna beberapa kali menjerit.
Akhirnya, lolongan kenikmatan keluar dari kedua bibir mereka. Devano kemudian memeluk tubuh Luna yang tampak terkulai lemas, lalu mencium pundaknya. Masih terdengar jelas rintihan kecil akibat kelelahan dari bibir Luna.
Setelah melepaskan lelahnya, Devano kemudian bangkit dari tubuh Luna, lalu duduk di sofa. Sementara Luna memempelkan kepalanya di atas dada bidang Devano sambil mengumpulkan tenaga.
"Aku mandi dulu," ujar Luna sambil berjalan ke kamar mandi.
"Mau abang mandiin, Neng?"
__ADS_1
"Ga usah, nanti kamu minta lebih!"
"Bukannya enak kalau nambah, Neng?"
"Tidak Devano, cukup. Ini masih sore!"
"Berarti nanti malem lagi, tiga kali sehari ya Neng kaya minum obat. Biar sehat."
"Devano!" teriak Luna sambil melempar bantal padanya.
"Iya, iya, galak bener, padahal kalo udah masuk juga, cuma mau, ah, ah Devano, kau luar biasa Devano," ucap Devano dengan bibir menye-menye.
Tiba-tiba, ponsel milik Devano berbunyi, dia lalu mengambil ponsel itu dan membaca sebuah pesan yang berasal dari Viona.
MAMA:
Devano mama baru saja bertemu dengan Sachi, tadi siang Sachi datang ke rumah ini, besok kau harus bertemu dengan Sachi secepatnya, Devano.
Devano begitu terperanjat membaca pesan dari Viona. "Sachi datang ke rumah Mama? Siapa yang dimaksud? Apakah itu Dea?"
NOTE:
Mampir juga ya ke karya bestie othor novelnya Kak Arandiah, dijamin ceritanya keren abis deh
Blurb :
Arka (30) adalah seorang pria tampan yang gagah dan berwibawa. Sifatnya yang lembut dan kenyal sekenyal jelly, membuat pria itu disukai para wanita. Mempunyai impian untuk menjadi seorang pengusaha sukses di kota besar.
Namun, impiannya harus tertunda karena Pak Burhan memintanya untuk segera pulang ke kampung, dan mengambil alih Empang perikanan sementara waktu saat sang ayah sedang sakit.
Hingga ia bertemu dengan Lela (21), wanita semok, bohay, dan pecicilan, sebagai salah satu orang yang mengurus Empang milik pak Burhan. Kesalahpahaman Terjadi saat dua orang asing itu tengah mengalami tragedi memalukan sejagat raya negara api di seluruh alam semesta.
Bagaimana kah Kisah pernikahan yang dibina oleh dua orang yang bertolak belakang tersebut?
__ADS_1