
"Luna sayang, kenapa kau menamparku?" gerutu Devano.
"Dasar messum!" bentak Luna sambil memelototkan matanya.
"Aku tidak mesum Luna! Bukankah itu hal yang wajar, aku laki-laki normal. Sudah sepantasnya aku bersikap seperti ini pada Neng Luna, awwww. Hahahaha.. "
"Kau memang punya seribu alasan agar terlihat selalu benar, Devano."
"Luna, apa kau lupa? Di dunia ini selain ada maha benar netijen, dan maha benar pembaca, juga ada maha benar Devano. Kau harus ingat itu! Catat baik-baik, Luna!"
"Ck, huh terserah kau saja! Devano sekarang lepaskan aku! Pekerjaanku masih banyak!" ucap Luna seraya mendorong dada Devano yang sedang memeluknya erat.
"Sebentar lagi, tanggung."
"Devanoooo..."
"Kerjakan di ruanganku saja! Temani aku di sini!"
"Apa?"
"Kerjakan di ruanganku! Ayo cepat ambil!" Devano kemudian melepaskan pelukannya, Luna lalu berjalan keluar dari ruangan itu untuk mengambil pekerjaannya.
Beberapa saat kemudian, Luna pun masuk ke dalam ruangan itu kembali sambil membawa setumpuk berkas yang ada di tangannya.
"Kerjakan di sini sayang!" perintah Devano sambil menepuk sofa.
Luna kemudian menaruh tumpukan berkas itu di meja. Namun, saat akan duduk di samping Devano. Tiba-tiba Devano menarik tubuh Luna hingga terjatuh ke atas pangkuannya, lalu melingkarkan tangannya ke perut Luna dan mendekap tubuhnya.
"Neng Luna!" kekeh Devano.
"Apa-apaan ini Devano?"
"Kerjakan di sini saja!"
"Astaga! Bagaimana mungkin aku mengerjakan pekerjaannku di atas pangkuanmu seperti ini?"
"Aku yakin, kau pasti bisa Luna! Cepat kerjakan pekerjaanmu!"
__ADS_1
"Devanoooo! Turunkan aku!"
"Elus dulu, Luna."
"ELUS APANYA?"
"Astaga, galak sekali kau. Aku hanya ingin mengelus punggungmu."
"Baiklah! Elus sebentar saja!"
Devano kemudian terkekeh, lalu mengelus punggung Luna dan menyenderkan kepalanya di bahu Luna.
"Lunaaa..."
"Apaaa?"
"Nen... "
"Apaaaa?"
"Tidak apa, bukan apa-apa! Cuma salah ngomong! Galak bener!" gerutu Devano.
"Baiklah, baiklah Neng Luna sayangku. Ayo kita selesaikan pekerjaan kita lalu pulang."
"Ya! Cepat selesaikan pekerjaanmu lalu pulang, hari ini aku sangat lelah Devano."
"Aku juga lelah pengin geli-gelian sama Neng Luna," ujar Devano sambil terkekeh.
"Geli-gelian? Apa itu geli-gelian?"
"Salah ngomong, Luna!" gerutu Devano.
'Polos sekali!' batin Devano.
Dia pun membuka dekapan tangannya pada perut Luna. Luna kemudian bangkit dari pangkuan Devano lalu duduk di sampingnya, dan larut dalam pekerjaannya. Sedangkan Devano menatap Luna sambil tersenyum kecut. Dia kemudian berjalan menuju ke meja kerjanya dan mengerjakan pekerjaan miliknya sambil sesekali menatap Luna.
'Cantik sekali, polos sekali, aw benar-benar menggairahkan, huft Neng Luna!'
__ADS_1
Devano kemudian menatap ke arah bawah. 'Joni kau masih bisa sabar kan? Tunggu nanti malam, Joni. Are you okay? Okay fine,' batin Devano kembali. Dia kemudian menatap Luna, namun kali ini dengan tatapan dalam yang begitu sendu.
'Maafkan aku Luna, maaf kalau aku harus menyembunyikan identitasmu. Maaf aku harus menyembunyikan semua ini darimu karena aku tidak mau kau terluka, kalau kau tahu jika kau bukan anak kandung dari orang tuamu. Aku tidak ingin kau sedih dan terpuruk karena memikirkan identitasmu. Tapi, kau tenang saja. Aku akan menyelidiki semua ini, dan aku janji padamu, aku tidak akan berhenti sampai kau tahu jati dirimu yang sebenarnya,' batin Devano sambil melihat Luna yang begitu sibuk mengerjakan pekerjaannya.
Matahari hampir tenggelam di ufuk barat, berganti cahaya senja yang temaram. Devano yang sudah menyelesaikan pekerjaannya, menatap Luna yang juga membereskan pekerjaannya.
"Sudah Devano, ayo kita pulang sekarang!" ucap Luna beberapa saat kemudian, setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Bagus, ayo kita pulang sekarang!"
Luna pun menganggukan kepalanya. Mereka lalu berjalan keluar dari ruangan itu.
'Joniii, kau siap bertempur kan Joni? Geli-gelian malam ini pasti sangat menyenangkan,' batin Devano sambil meringis dan melirik Luna yang berjalan di sampingnya.
***
Arka tampak menghentikan laju sepeda motornya di depan sebuah panti asuhan yang ada di dekat stasiun.
"Jadi ini panti asuhan yang dimaksud Devano?" ujar Arka sambil berjalan memasuki halaman panti asuhan tersebut.
TOK TOK TOK
Pintu panti asuhan itu pun dibuka oleh seorang wanita yang kira-kira berusia dua puluh tahun.
"Selamat sore. Ada yang bisa saya bantu?" kata wanita itu pada Arka.
"Oh iya, bisakah saya bertemu dengan penanggung jawab panti?"
"Oh Ibu Panti?"
"Iya Ibu Panti."
"Tunggu sebentar, saya panggilkan Ibu Panti sebentar. Silahkan masuk!"
Arka kemudian masuk ke dalam panti tersebut, lalu duduk di sofa yang ada di ruang tamu panti asuhan tersebut. Dia kemudian mengamati sekeliling panti sambil bergumam.
"Wanita yang membuka pintu itu, pasti seumuran sama Mba Luna."
__ADS_1
"Selamat sore," sapa sebuah suara yang membuyarkan lamunan Arka.